Istri Ke Tiga Tuan

Istri Ke Tiga Tuan
Bab 56 - Harta yang paling berharga


__ADS_3

Setelah kepergian Charlotte satu dua bulan. Esme kembali bisa berjalan seperti biasa. Dengan mendominasi keluarga, Esme seakan berada di atas awang -awang.


Zero dan Zarina semakin Chubby menggemaskan. Membuat siapa saja ingin menggendongnya.


Di tempat lain


Azzah sudah melahirkan putra pertamanya.


"Zayn A.R Edwin," gumam Ronald


"Terserah Papahnya saja!" seru Ronald.


Tiga hari di rumah sakit. Azzah mencium bau obat yang membuatnya jenuh.


"Akhirnya kita kembali ke rumah." ucap Azzah


Karena Azzah melahirkan secara normal, yang berbeda dengan ketika di posisi Esme.


"Badan boleh kecil, Istriku sungguh hebat," peluk Ronald.


"Sayang, dimana Zayn?" tanya Azzah sembari menatap Suaminya.


"Ada sama suster susi," kata Ronald


"Aku tidak ingin tidur terpisah dari putraku. Kamu yang ngalah Mas," tandas Azzah.


"Kok, gitu sih sayang." Ronald terlihat kecewa.


Azzah menjulurkan lidah meledek Ronald. Ronald menepuk jidatnya. Karena tak punya kuasa melawan Azzah yang memberikannya putra setampan Zayn. Dalam proses normal pula yang Ronald patut salut.


"Mas Aku lapar mau makan sambel ikan tuan kayaknya enak deh, pake nasi anget, di swalayan banyak Mas yang udah kemasan, beliin," ucap Azzah memohon.


"Pesen online saja, Mas capek mau istirahat," tandas Ronald


"Lah kan yang melahirkan Aku, kok jadi kamu yang kecapean," jawab Azzah


"Iya juga, yah nggak tahu mungkin nyetrum," balas Ronald.


"Jangan banyak alesan Mas, buruan ih," ucap Azzah


"Iya iyah ini sayang, cium dulu," ucap Ronald

__ADS_1


Cup


Sekilas Azzah mengecup rahang Ronald. Ronald membalas dengan ******* bibir Azzah beberapa detik.


"Jorok Aku belum sikat gigi," kata Azzah


"Biarin, jamu" tandas Ronald


"Mas sekalian ke depan panggil Suster susi suruh bawa Zayn ke sini. Aku mau kasih Zayn Asi," ujar Azzah


Ronald berbalik arah mendekati Azzah dan menutup kembali gagang pintu, yang baru di bukanya.


"Mas boleh nggak cicip - mencicipi penasaran sama rasanya," ucap Ronald mendapatkan tepukan pantat yang cukup keras dari Azzah.


"Bayi besar." Azzah tersenyum samar sambil mengatakan.


"Nanti sebulan lagi baru jamah!" seru Azzah


Ronald merasa pusing tujuh keliling. Setelah sadar Azzah mengalami nifas. Ronald mundur alon - alon menutup pintu dengan wajah memelas.


Azzah menahan rasa ingin tertawa karena masih merasakan sakit.


"Dasar Suami," pekik Azzah


Zayn sayang, anak mamah


Tidur oh tidur putra mama sayang


Zayn sayang mamah, mamah sayang zayn


Zayn anak manis, kalau tidak tidur nanti di gigit semut.


Usapan lembut dari Azzah membuat Zayn pulas. Azzah teringat Abah dan Uminya akan mengunjungi Azzah. Setelah mendengar Azzah pulang dari rumah sakit.


"Sus, tolong bilang ke Mbok iyem suruh masak opor sama hidangan lainya, soalnya mau ada tamu," kata Azzah


"Iya Bu," jawab Suster Susi.


🥀🥀🥀


Sore hari

__ADS_1


Rombongan keluarga Akbar datang menjenguk Azzah.


"Azzah ... " ucap lirih Umi


"Umi," sahut Azzah memeluk Umi.


Ronald mencium tangan Abah dan umi bergantian, begitupun pada Mirza dan istrinya.


"Aduh ... cucu Umi tampan sekali," puji Umi menggendong alih Zayn


"Lihat Abah, hidungnya seperti ayahnya, mata dan bibirnya persis Azzah," kata Umi


"Rambutnya mirip Abah," tandas Azzah


"Nantang langit," celetuk Ronald


Seketika semuanya terbahak - bahak.


Mirza mendekat sembari menggendong Reno.


"Namanya Zayn nanti kalau sudah besar kalian bisa main bersama," ucap Mirza pada Reno


"Dek Zayn," ucap Reno jelas


"Wah Reno, sudah lancar berbicaranya, Kak," kata Azzah


"Iya Reno sudah ikut Play grup," balas Mirza


"Anak papah mau nggak gabung play grup," ucap Ronald mendapatkan cubitan dari Azzah.


"Zayn satu bulan saja belum ada," pekik Azzah


"Heh kamu ini ketinggalan jaman, sekarang dua tiga bulan saja sudah diajarin berenang, biar jadi atlet," tandas Ronald


"Atlet atau pesepak bola?" tanya Azzah


Ekspresi Ronald bimbang.


"Sudah - sudah, masalah membesarkan dan mendidik anak itu tanggung jawab bersama," saran Umi.


"Tuh dengerin," sela Uci menyenggol Mirza.

__ADS_1


"Hehe." Mirza yang sering sibuk, kadang tidak sempat bermain bersama Reno.


Kehangatan keluarga semakin hidup, saat di meja makan. Mereka saling membicarakan hal - hal konyol lainnya.


__ADS_2