
Di dalam mobil. Ronald menyetir fokus di samping Esme yang terus bersolek.
Cekittt
"Ada apa Ronald?" tanya Esme karena Ronald mengerem mendadak.
Esme kesal, lipstik yang sedang di aplikasikan keluar dari jalur bibir.
"Ponselku bergetar, aku angkat dulu siapa tahu penting," jawab Ronald
Panggilan masuk dari Azzah beberapa kali, membuat Ronald mengernyit.
"Dia menelpon ku," batin Ronald sambil berniat menghubungi Azzah balik.
"Kenapa tidak di angkat," gumam Ronald.
Keduanya tak menyadari, mereka saling bentrok melakukan panggilan. Sementara itu Azzah tak kehabisan akal di kala cemas mendera. Azzah mengirim voice note pada Ronald.
[ Mas, aku mohon pulang sekarang, tolong aku mas ] pesan suara Azzah.
"Nona, menyerah saja buka pintunya sekarang," ucap satpam sambil terus menggedor pintu.
"Ya allah, lindungi Azzah," batin Azzah merasakan melilit di perutnya.
Azzah yang ketakutan semakin bergetar hebat. Karena si Satpam berhasil menjebol pintu kamarnya.
"Hah, mau lari kemana Nona manis," katanya seraya membasahi bibir, tak sabar memuaskan gairah.
Si Satpam menarik Azzah. Namun Azzah terus melawan berusaha tak ingin di sentuh, membuat si Satpam marah.
Pyarrrr
Lampu di tempat tidur jatuh ke lantai, seiring dengan terbenturnya kepala Azzah di ujung runcing meja.
"Eugh." Azzah meringis memegang kepala yang terasa berdenyut nyeri.
"Astaga Nona, maaf saya menyakiti anda, makanya kalau saya bilang nurut, yah nurut saja," ujar Si Satpam.
__ADS_1
Si Satpam mendekati Azzah, dengan lancang menyentuh wajah Azzah dan mencengkeramnya.
"Sungguh cantik bidadari Ronald ini, masih muda, tapi sayang bodoh kenapa mau - mau nya di jadikan istri ke tiga Ronald," ujarnya lagi
"Menyingkir dari hadapanku, menjijikan!" seru Azzah
"Apa kamu bilang, saya menjijikan, baiklah akan saya buat kamu mengerang dengan orang menjijikan ini," seringai Si Satpam.
"Tidak ... minggir!" teriak Azzah mendorong Si Satpam.
Tenaga Azzah yang kalah telak, malah membuatnya terjatuh di atas ranjang. Dengan posisi tertindih di bawah kungkungan Si Satpam.
"Mas Ronald," gumam Azzah
"Sebut nama suamimu itu, Dia tidak akan datang!" sentak Si Satpam.
Azzah memalingkan wajah karena Si Satpam akan melecehkannya.
Geram Si Satpam menarik kerudung Azzah. Hingga memamerkan keindahan helaian rambut Azzah.
"Ya allah, apa begini akhirnya," batin Azzah pasrah.
Saat hendak menyingkap rok Azzah. Si Satpam di kejutkan dengan kedatangan Ronald.
"T - tuan!" seru Si Satpam gugup
"Berani menyentuh wanitaku!" bentak Ronald
melayangkan bogem mentah di wajah Si Satpam bertubi - tubi.
Azzah menangis tersedu - sedu, hari ini adalah hari yang tak akan Azzah lupakan. Hari dimana Azzah juga melihat Ronald membelanya tulus.
Sedangkan Esme berpura khawatir sembari menyelimuti Azzah yang terlihat pucat dan lemas.
"Tenanglah, Ronald akan mengatasinya, lelaki itu akan berakhir di jeruji besi," ucap Esme.
"Mbak." Azzah memeluk Esme
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁
Tak ingin sandiwaranya di ketahui Ronald. Esme membalas pelukan Azzah. Di dalam hati sungguh Esme tak sudi merengkuh madunya. Bagaimanapun Esme ingin menjadi Ratu satu - satunya yang mendampingi Ronald.
"Azzah," panggil Ronald
Azzah menoleh ke arah Ronald. Lelaki yang membawa hidupnya ke dalam jurang kepahitan, sekaligus orang yang telah menyelamatkannya saat ini.
"Esme bisa kamu ambilkan minum untuknya," kata Ronald.
Esme mengangguk.
Ronald duduk menatap sendu wajah Azzah. Meski Ronald belum mencintai Azzah, tapi Ia sadar status Azzah sebagai Istri yang butuh perlindungan suami. Jika saja dia tadi terlambat datang, entah penyesalan seperti apa yang akan Ronald hadapi.
Ronald melihat kening Azzah yang terluka, membuat Ronald menyibak selimut yang menutupi tubuh Azzah. Ronald ingin mengecek apa ada luka lain, sejenak kepala Ronald seperti berputar pening. Karena melihat noda darah di sela rok putih yang tembus ke seprei itu.
"Azzah apa dia sudah?" batin Ronald.
Ronald menyangka Azzah tak suci lagi, bukan lagi gadisnya, apakah Ronald kecewa jangan ditanya. Ronald mengusap wajahnya kasar.
"Pergilah ke kamar mandi, bersihkan dirimu," ucap Ronald.
Kepala Ronald menunduk menghadap bawah lantai, sambil mengepalkan tangan. Ronald menggertak gigi melihat Azzah yang ada di dalam toilet kamar mandi.
Sebelum keluar dari kamar Azzah. Ronald merasakan sesak di ulu hatinya.
"Aku gagal," batin Ronald dibarengi dengan bulir bening yang jatuh dari pelupuk matanya.
Ronald memutuskan untuk menenangkan dirinya. Ia pergi ke kamar Charlotte walaupun Ia tahu Charlotte sedang ada di luar kota.
"Aku yang mengucapkan ikrar, tapi bahkan belum menyentuhnya, orang lain sudah mengambilnya," gumam Ronald.
Dengan bantuan Esme, Ronald memenjarakan Si Satpam. Ronald tertipu karena sebenarnya dalang di balik semua itu adalah Esme.
Esme menjanjikan kehidupan cukup bagi keluarga Si Satpam, dengan mengirimkan sejumlah uang setiap bulan untuk menghidupi mereka. Si Satpam pun tak punya pilihan lain dan tetap bungkam. Karena notabennya Dia hanya di suruh menjalankan tugas dan kini dijatuhi hukuman 5 tahun penjara. Mau tidak mau mendapat ancaman keselamatan. Si Satpam menunggu hingga sampai hari kebebasannya tiba.
Sejak itu, Ronald berubah dingin kepada Azzah bahkan untuk sekali menyapa pun jarang. Ronald pergi pagi pulang petang. Azzah tak berharap nafkah batin dari Ronald, tapi Ia ingin Ronald tetap memperhatikan Azzah seperti dulu, bersikap selayaknya seorang suami. Azzah merasakan perubahan pada diri Ronald belakangan ini.
__ADS_1
Kesalahpahaman meruntuhkan ikatan, melunturkan kepercayaan, membiarkan luka merambah luas, memberikan jarak diantara keduanya. Dari situlah cerita Azzah sesungguhnya akan di mulai.
Terimakasih yang sudah dukung dan like Karya Author .... terus dukung yah 🤗.