Istri Ke Tiga Tuan

Istri Ke Tiga Tuan
Bab 70 - Kamu ketahuan


__ADS_3

"Kamu tahu kesalahanmu?" tanya Esme pada Asisten rumah tangga yang mengurus rumah belakang. Yup rumah milik Azzah.


"Maaf Nyonya Saya tidak sengaja," katanya pasrah


"Enak sekali kamu bicara, maaf nyonya Saya tidak sengaja, heh!" sentak Esme.


"Siapa pengusaha di sini. Nyonya mu itu sudah lama pergi dari sini. Saya pikir untuk apa masih memperkerjakan mu," ketus Esme.


"T - tapi Tuan bilang," kata Art memberanikan diri.


"Tuan mu itu suamiku, perintahku barti perintahnya juga, jangan lancang kamu!" bentak Esme meradang.


"Maaf sebelumnya Nyonya, tapi Tuan menyuruh saya tetap bekerja di sini, untuk merawat barang - barang milik Nyonya Azzah. Agar sekembalinya Nyonya - " terputus


Tak kala Esme langsung menggebrak meja.


"Dia tidak akan kembali. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!" seru Esme geram


Esme tidak menyadari bahwa semua kejadian telah terekam. Oleh salah satu kamera ponsel milik penjaga rumah suruhan Ronald.


"Wanita sinting, Dia sepertinya perlu ke psikiater!" batin perekam tersebut.


Ting


Ronald mendapatkan rekaman video dari orangnya.


"Jadi tambah memburuk saja kelakuannya," batin Ronald.


"Esme jika begini terus Aku tidak yakin bisa melanjutkan pernikahan ini. Kamu pandai bersandiwara, dan berbuat onar di belakangku," gumam Ronald.


Kendaraan Ronald sedang terjebak macet di kota Y menuju perjalanan pulang. Tapi lagi - lagi Esme terus membuat kejutan. Perubahan Esme di depan dan di belakang layar.


Ronald mengusap wajahnya kasar.


"Tuan, Anda baik - baik saja?" tanya Supir pribadi Ronald.


"Saya tidak apa - apa, Pak, apa selama Saya tidak di rumah Esme membuat keributan?" tanya Ronald


"T - tidak, Pak," sahutnya gugup


"Menepi dulu sejenak, Pak, Saya ingin merokok," perintah Ronald


"Sejak kapan Tuan kembali merokok," batin Supir.


Kendaraan roda empat tersebut memasuki rest area.


"Tuan maaf sebelumnya, Apa tuan ada masalah?" tanyanya

__ADS_1


"Tidak, " jawab Ronald acuh


"Balik ke pertanyaan yang sebelumnya. Saya rasa Tuan berhak tahu. Kalau sebenarnya Nyonya Esme sempat menyekap pembantu rumah belakang tiga hari Tuan," ungkapnya


"Apa!" seru Ronald


"Kita pulang sekarang," ucap Ronald mendapat anggukan Si Sopir.


"Keterlaluan Kamu Esme. Aku harus bertindak tegas kali ini," batin Ronald


TIT


Bunyi klakson terdengar


Zero dan Zarina berlari ke arah Ronald


"Ayah!" teriak Zarina


"Yah," panggil Zero


Zero tumbuh menjadi anak tampan dan terkesan dingin. Karena Esme mendidiknya dengan sangat disiplin. Sedangkan Zarina lebih menjadi diri sendiri, sebab Esme tidak terlalu mengatur anak perempuannya.


Keceriaan Zarina membuat gadis kecil Itu makin terlihat manis di mata Ronald.


"Putri kecil ku, hem," peluk Ronald


"Ayah bawa mainan pesanan Zero di bagasi belakang," ucap Ronald


"Makasih, Ayah," ucap Zero


"Zarina di bawain apa Ayah?" manja Zarina


"Oopss ... buat Zarina Ayah lupa, kayaknya," kata Ronald pura - pura sedih


Zarina memberengut.


"Ayah," rengek Zarina


"Bercanda princess,"


"Yuk buruan masuk, nanti urusan mainan biar Pak Amar yang taruh di kamar kalian masing - masing," ujar Ronald


"Siap, komandan!" balas Zarina.


Di ruang tengah


"Ayah Kak Zero kemarin sempat sakit karena Mamah banyak kasih Ex school, Kak Zero," tutur Zarina berbisik

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Ronald sembari menyembunyikan emosinya yang mulai mendidih.


"He' eh, Yah," kata Zarina mengangguk.


"Baiklah Ayah naik ke atas dulu. Anak pintar Ayah tinggal dulu sebentar, yah Mommy kalian di dalem, kan?" tanya Ronald sudah tak sabar.


"Di dalem, Yah," ucap Zero.


Di dalam kamar


Sebisa mungkin Ronald menahan amarah.


Klek


Ronald mengunci pintu kamar.


"Kamu kalau didik anak tuh, jangan terlalu keras. Zero masih anak - anak. Kamu mau dia Stress?" tanya Ronald menyindir sambil melepas sepatu.


"Kamu dateng dateng, kok ngomongnya nggak enak banget, Ada apa sebenernya?" tanya Esme menyisir rambut.


"Aku nggak suka basa - basi Esme. Aku muak, kamu apakan pembantu di rumah belakang. Dia itu lebih tua dari kamu seharusnya kamu hargai yang lebih sepuh. Kamu ini wanita, tingkah mu -" jeda Ronald.


"Tuan Ronald yang terhormat, bisa bicara yang tenang. Saya tidak mengerti yang Anda maksud." Esme mengelak


"Jangan berdalih, lebih baik jujur dan akui kesalahan, berubah Esme. Jika tidak dengan sangat terpaksa lebih baik kita sudahi semua ini," ujar Ronald melenggang ke kamar mandi.


"R- ronald." Esme mulai serius.


"Apa ada yang menghasut mu?" tanya Esme mengejar Ronald.


"Cukup, Aku sudah tahu semuanya Esme," tandas Ronald masih membelakangi Esme.


Hingga Ronald berbalik Dan Esme menyipitkan mata, pandangannya tertuju pada kemeja putih Ronald.


"Baiklah, lalu lipstick siapa yang ada di jas mu?" tanya Esme tak kalah membuat Ronald terkejut.


"Ahh ... kamu menemui wanita lain di belakang ku, siapa dia?" tanya Esme


"Kamu bilang ada pertemuan klien di luar negeri, siapa, Azzah?" selidik Esme menaikan alisnya.


Esme mulai menahan emosinya, mengepalkan tangan.


"Dasar perempuan sundal, belum kapok juga dia ternyata," batin Esme


Esme begitu pintar membalikan keadaan dan benar saja sekarang Ronald yang tersudut.


"Kenapa kamu tegang begitu sayang, tenanglah," ucap Esme menepuk pundak Ronald.

__ADS_1


Ronald menghela napas kasar.


__ADS_2