Istri Ke Tiga Tuan

Istri Ke Tiga Tuan
Bab 50 - Sesak!


__ADS_3

..."Cepat Charlotte, minggir awas kalian minggir!" seru Esme...


Esme meneriaki orang yang berlalu lalang, memperlambat Charlotte mendorong Esme.


"Atas nama Ronald Edwin benar di rawat di rumah sakit ini, Mba?" tanya Charlotte pada resepsionis.


"Benar, Dengan ibu siapa, apakah anda keluarganya?" tanya Si resepsionis wanita.


"Kami Istrinya!" seru Esme dan Charlotte bersamaan.


Mendengar pengakuan Keduanya. Si resepsionis dan satu teman wanitanya diam kebingungan.


"Suami anda mengalami kecelakaan beberapa saat yang lalu, sedang di tangani dokter di unit gawat darurat, mohon ketenangannya ibu, demi keselamatan pasien," kata Si resepsionis.


Esme berkaca tak sadar air matanya luruh, pemandangan langka bagi Charlotte melihat Esme menangis. Kelemahan Esme adalah Ronald.


Dua jam berlalu


"Ronald mereka mau membawa Ronald ke mana?" tanya Esme


"Kami akan memindahkan pasien ke ruang ICU, tolong kerja samanya ibu," mau tak mau Esme dan Charlotte mundur.


Kondisi Ronald yang di pasang alat bantu pernafasan. Dengan berbagai selang dan juga infus yang menggantung membuat hati Esme tercabik.


"Sesakit inikah Charlotte, hatiku tak terima!" seru Esme


Di ruang ICU


"Ronald apa yang dia lakukan kepadaku, kenapa dia begitu lemah hingga terbaring seperti itu!" seru Esme di balik kaca sekat.


Perasaan Esme yang berkecamuk. Esme bergumul dengan pikirannya sendiri. Antara Ronald dan perasaan takut menjadi janda.


"Dengan Istri Pak, Ronald bisa ikut kami sebentar," kata perawat.


"Baik, Sus," jawab Charlotte.


Sementara Esme tak henti meneteskan air mata, sambil meremas tangannya yang gemetar dingin.

__ADS_1


"Saya sudah berusaha semaksimal mungkin, pasien sempat kritis saat penanganan awal," kata Dokter


"Lalu bagaimana sekarang kondisinya, Dok?" tanya Esme sesenggukan.


Charlotte sudah menahan napasnya.


"Dengan berat hati saya katakan kemungkinan Beliau koma," tandas Dokter


"Hah .... tidak mungkin, Dok suamiku tidak selemah itu. Ronald - " Esme tercekat hingga tergolek pingsan.


Charlotte menangis, melihat kelemahan saat ini mengoyak hatinya.


Esme di tangani Suster jaga. Sedangkan Charlotte bingung sebenarnya apa, yang membuat Ronald sampai kecelakaan, dan bagaimana kronologinya.


Setengah jam kemudian Esme sadar. Esme berteriak memanggil nama Ronald, hingga Charlotte datang menenangkan Esme.


"Mbak tenanglah, jika kamu tidak tenang mereka akan membius kamu," kata Charlotte.


"Ronald Charlotte Ronald, bagaimana dengan Zero dan Zarina," ucap Esme tak kuasa.


"Aku ingin melihatnya Charlotte," kata Esme memohon.


"Maaf ibu sebaiknya untuk sekarang kami tidak mengijinkan ibu membuat keributan lagi," ucap Perawat.


"Tidak Aku berjanji, Sus, kasihani Istri lumpuh ini, Sus. Suamiku - " terpotong


Esme kembali tak sanggup.


"Baiklah, tapi jika Ibu bisa kooperatif, jika tidak kami terpaksa bertindak tegas demi pasien juga Bu," kata perawat.


Mendapat anggukan dari Esme.


Di rumah


Azzah mendadak kram perut. Azzah memanggil Uminya berteriak dari arah ruang tamu.


"Umi!" teriak Azzah

__ADS_1


"Abah," teriak Azzah lagi.


"Perut Azzah Umi rasanya tidak enak sekali," ujar Azzah


"Kita bawa ke rumah sakit," tandas Mirza segera membopong Azzah.


"Pasien hanya mengalami Kram perut, itu wajar bagi ibu hamil muda, karena masa penyesuaian," kata Dokter


"Jangan terlalu banyak pikiran, yah Bu, karena usia janin di masa hamil muda masih tergolong rentan," kata Dokter


"Iya Dok," jawab Azzah


"Kak," pekik Azzah


"Iya Dek, Kak Mirza di sini," balas Mirza


"Perasaanku tidak enak, Kak tentang Mas Ronald, kenapa belum juga sampai, ini sudah hampir sore," jelas Azzah


"Biar Abah coba telpon," sahut Abah


"Nomornya tidak aktif," kata Abah


Azzah semakin tak kahruan hingga berniat menyusul Ronald.


"Kak kita ke kota sekarang," ajak Azzah


Raut gusar terlihat jelas di wajah Azzah.


"Bagaimana Umi, Abah?" tanya Mirza


"Hati - hati, Nak antar Adik kamu," balas Abah


Umi memeluk Azzah. Azzah mencium tangan Abah


"Azzah pamit, Abah, Umi," kata Azzah.


Umi mengusap air matanya, melihat kepergian Azzah dan di rangkul oleh Abah.

__ADS_1


__ADS_2