Istri Ke Tiga Tuan

Istri Ke Tiga Tuan
Bab 27 - Kehilangan


__ADS_3

"Mas angkat telponnya!" geram Azzah


Dr. Badar hanya mengantar Azzah sampai rumah sakit. Karena Ia juga ada dinas malam.


Di bangku tunggu Azzah terus berkeringat dingin, mencemaskan keadaan Charlotte.


Selang beberapa jam lampu medis turn off.


Perawat memindahkan Charlotte ke ruang rawat inap di klas pertama.


"Dok bagaimana, bayi dan ibunya?" tanya Azzah


"Bisa ikut ke ruangan saya sebentar," ucap Dokter.


Azzah menggenggam tangannya erat, mendengar fakta yang barusan keluar dari mulut Dokter. Azzah tak bisa membendung air matanya.


"Dengan berat hati kami harus mengatakan, proses kuret terpaksa kami lakukan, untuk mengeluarkan janin demi keselamatan si Ibu, dan selama penyembuhan Kami melarang pasien hamil lagi dalam waktu dekat. Karena resikonya. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi tuhan berkehendak lain, sebagai keluarga tolong berikan dukungan moril terhadap pasien agar tabah dan mengikhlaskannya," ucap Si Dokter.


Azzah mengangguk kepala lemah


"Terimakasih, Dokter," ucap Azzah berlalu.


Azzah memasuki ruangan dengan jubah medis memandang sendu Charlotte. Charlotte yang biasa ceria kini terbaring membuat Azzah kemelut.


"Mbak aku harap setelah bangun nanti kamu tegar menghadapinya, Mbak," ucap Azzah seraya mengusap tubuh Charlotte yang kurusan belakangan ini.


Azzah mengambil air wudhu, menunaikan solat isya dan mengaji untuk di samping menunggu Charlotte sadar.


"Eugh," lenguh Charlotte.


"Azzah ..." ucap lirih Charlotte


"Mba, sudah sadar tunggu dulu Mbak, aku panggilkan suster dulu,"


"Sus pasien ruangan 205 sudah siuman," ucap Azzah


"Mari biar saya cek, dulu kondisinya," ucap Si Perawat.


🥀🥀🥀


Di apartemen.

__ADS_1


"Ayo pulang Esme, kenapa aku tiba - tiba kepikiran Charlotte," kata Ronald.


"Iya, iya," Esme bergegas.


"Tutupi leher mu jangan pamer," tandas Ronald menginstruksi agar Esme menggunakan syal.


"Ponsel ku, mana Esme, aku lupa mematikannya seharian," ujar Ronald.


Ronald menghidupkan handphone nya dan mata tak berkedip, melihat panggilan masuk sepuluh kali dari nomer rumah dan tujuh kali dari Azzah.


"Astaga apa aku melewatkan sesuatu, Esme coba kamu hubungi Azzah, Aku akan menghubungi nomer pribadi rumah," perintah Ronald.


"Halo," di dalam mobil.


"Nih Azzah kamu saja yabg ngomong aku males," limpah Esme.


Ronald fokus menyetir, sambil di bantu Esme yang menempelkan gawai nya ke telinga Ronald.


"Halo Azzah, kamu di mana di rumah, ada apa sebanyak itu menelpon?" tanya Ronald


"Kamu nggak usah balik ke rumah, langsung ke rumah sakit Bhayangkara," tandas Azzah


Deg


"Jika Aku yang sakit mana sempat menerima telpon Mas,"


"Terus siapa?"


Berharap firasatnya tidak benar. Ronald menguatkan hatinya.


"Mbak Charlotte, dia dirawat di rumah sakit,"


"Hah, apa kenapa, apa yang terjadi, Zah," panik Ronald mengerem mobil dadakan.


"Mas," pekik Esme jidatnya terbentur kaca mobil.


"Maaf,"


"Kamu sedang bersama, Mbak Esme Mas, cepat kemari Mbak Charlotte membutuhkan mu, Mas nanti Azzah jelaskan," ujar Azzah


"Iya, Zah Mas ke sedang di perjalanan," jawab Ronald.

__ADS_1


"Charlotte maafkan Suamimu ini, saat hamil muda yang tidak siaga. jika sampai ada apa apa aku tidak akan memaafkan diriku sendiri," batin Ronald


Menyetir mobil kesetanan.


Esme terus memegangi sabuk pengaman dengan perasaan was - was.


Sesampainya.


"Cepat Esme, turun!" seru Ronald.


"Iya iyah, astaga!" balas Esme.


Ronald langsung menuju ke tempat resepsionis.


"Kamar 205 kelas pertama Mbak, atas nama Charlotte Edwin, benar di rawat di rumah sakit ini?" tanya Ronald.


"Maaf dengan Bapak siapa?"


"Saya Suaminya, Ronald Edwin," jawab Ronald.


"Silahkan Pak Ronald, tapi Ibu Charlotte sedang menjalani pemeriksaan lanjut, mungkin beberapa jam baru bisa di jenguk,"


"Baik, terimakasih," ucap Ronald.


Di depan ruangan tersebut Ronald melihat Azzah menangis.


"Kamu kenapa Zah, apa yang membuatmu menangis, jelaskan," kata Ronald


"Mbak Charlotte tadi sempet bangun. Dia syok karena bayinya tidak selamat," ujar Azzah


Duar


"Anakku kenapa, apa ada apa sebenarnya ini." Ronald luruh, dengan rasa bersalah Ronald membenturkan kepalanya ke dinding dan menyayangkan kebodohannya.


"Maafkan papi sayang," ucap Ronald berlinang air mata.


"Ya tuhan sekian lama aku menantinya, kenapa engkau memberikan kebahagiaan begitu singkat lalu mengambilnya kembali, begitu penuh dosa kah Aku?" tanya Ronald.


"Mas sudah, dia bukan milik siapa - siapa, anakmu milik - NYA. bersabarlah ini sudah takdir yang maha kuasa," ucap Azzah berusaha menguatkan Ronald.


Esme yang keras kepala berhati batu pun meneteskan air mata. Esme merasa bersalah juga atas kejadian ini karena sifat egoisnya pergi dari rumah membuat Charlotte lengah dari pengawasan. Esme tahu Charlotte adalah periang tapi Ia tidak menyangka. Ke kurang tahuan Charlotte kadang membuatnya bertingkah ceroboh karena pengetahuan minimnya itu.

__ADS_1


Untuk kejadian ini akhirnya Ronald kembali mengambil air wudhu lagi. Dan menyerahkan semuanya kepada Allah, hanya perasaan yang tidak bisa Ia pungkiri. Beban mendalam atas kepergian buah hatinya yang belum lahir, membuat Ronald takut akan kesehatan mental Charlotte. Pasti tidak mudah, Ronald akan berusaha sebisa mungkin menyembuhkan luka batin Charlotte.


__ADS_2