
Seharian Ronald menemani Azzah, di kamar istri ke tiganya itu. Ronald terpaut dengan wajah Azzah, meski sakit sama sekali tak mengurangi kecantikan alaminya. Hingga Si empu pemilik menggerakkan mata.
"Eugh ... badan Ku ngilu rasanya sakit semua." Azzah mengeluh.
Azzah masih ingat dia menggunakan pakaian apa sebelum pingsan. Tapi kenapa sekarang beda dengan apa yang melekat menutupi auratnya.
Ronald mengamati Azzah dari sofa kamar. Ia melihat Azzah celingukan kebingungan.
"Kamu sudah bangun, gimana sudah mendingan?" tanya Ronald mendekati Azzah.
"Mas kamu, kok di sini?" tanya Azzah
Ronald duduk di samping Azzah. Ia membenarkan posisi duduk istrinya, yang di beri tatapan haru Azzah.
"Kamu yang merawat ku, Mas?"
"Hm,"
"Makan, yah kamu pasti lapar dari kemarin hanya tidur, tubuh kamu butuh asupan!" tegas Ronald
Azzah mengangguk kepala.
"Jangan sakit lagi, kamu merepotkan banyak orang kalau sakit," ujar Ronald
"Iya mas,"
"Habis makan mandi, kamu masih kuat berjalan sendiri, biar Mas Ronald bantuin," kata Ronald
"Azzah bisa, Mas cuma masih lemes aja dikit," jawab Azzah yang mendapat gendongan dari Ronald.
"Mas," pekik Azzah saat Ronald menaruh Azzah dengan pelan di kubangan air hangat di bathub.
"Gosok sendiri, tubuh orang sakit banyak kuman, biar cepet sembuh mandi akan membuat kamu lebih bugar. Jangan mau kalah sama penyakit," ujar Ronald bijaksana.
"Mas kenapa masih berdiri di situ?" tanya Azzah memegang kancing baju akan melepaskan pakaian.
"O - Oh iya, Aku keluar dulu," gugup Ronald.
"Mas," panggil Azzah sebelum Ronald raib.
"Siapa yang menggantikan baju Azzah kemarin, Mas?" Tanya Azzah
__ADS_1
"Yang jelas bukan Aku," dalih Ronald.
Ronald tersenyum samar.
Di halaman rumah.
Mobil Charlotte baru terparkir di depan. Charlotte melihat mobil Ronald masih ada di bagasi mobil.
"Suamiku belum berangkat ke kantor, sedang apa Dia," keluh Charlotte.
Charlotte berpapasan dengan Esme.
"Mbak," sapa Charlotte cipika - cipiki.
Mendengar perkataan Esme. Charlotte buru - buru naik ke lantai atas.
"Azzah," ucap Charlotte sambil mengetuk pintu.
KLEK
Jreng jreng jreng
"Kapan pulang, kenapa tidak menghubungi dulu Charlotte," ucap Ronald
Tanpa menjawab Charlotte memaksa masuk ke kamar Azzah.
"Kata Mbak Esme sakit, lalu di mana sekarang Suamiku?" tanya Charlotte.
"Dia sedang mandi," balas Ronald.
CILUK BA'
Charlotte dan Ronald teralihkan, dengan Azzah yang baru keluar toilet.
"Mbak," ucap Azzah sambil mengulurkan tangan. Kemudian sambut hangat oleh Charlotte.
"Aku titip Azzah padamu Charlotte. Aku mau berangkat kantor." Ronald bergegas.
"Dia aman bersama ku, Suamiku," tandas Charlotte.
Ronald mengecup lama kening Charlotte. Azzah diam tanpa berharap Ronald memperlakukan yang sama.
__ADS_1
Ronald beralih mengecup kening Azzah.
"Aku tidak ingin ada keributan," sela Ronald sebelum pergi.
🍁🍁🍁
"Mbak sudah bilang, kamu jaga diri sendiri, lihat Azzah Ronald menunda pekerjaan demi kamu, apa kamu masih kekeh tidak mau melayani Ronald, memberikan hak Ronald, dan melaksanakan kewajiban mu," ujar Charlotte.
"Aku belum bisa hamil, setidaknya kalau kamu hamil. Aku tidak perlu melahirkan," jengah Charlotte.
"Yang Aku lihat dia mulai memberikan perhatian kepadaku, tapi kenapa Aku masih ragu dan hatiku menolak untuk mempercayainya!" batin Azzah.
"Cantik, kenapa melamun, yuk turun ke bawah masih pagi udara begitu segar, kamu rugi kalau di kamar terus," celoteh Charlotte.
"Iya Mbak,"
Di ruang tamu
Esme sama sekali tak menatap Azzah. Esme tak menganggap keberadaan Azzah. Saat ini Esme sedang kalut, sosok Azzah menganggu pikirannya.
Seolah pilihan Ronald untuk membawa Azzah adalah bumerang. Esme takut jika posisinya terancam karna kehadiran Azzah. Walaupun ucapan Ronald ketus dan berkata tidak, tapi Esme bisa melihat ketulusan di mata Ronald.
Esme menaikan alis melihat Charlotte dan Azzah.
"Gadis desa memang susah di atur, senggol sedikit saja. Kamu lihat sendiri Ronald sampai kesiangan hanya untuk menunggumu lekas bangun, cepat pulih jangan menyusahkan orang lain," ketus Esme.
Sebelum menjawab Azzah menarik napas dalam.
"Mbak, siapa sih yang mau sakit, semua juga maunya sehat, lagian saya tidak berharap Mas Ronald peduli," ungkap Azzah.
"Saya tahu posisi saya hanya sebagai Istri ke tiga, tapi bukan berarti Mbak, sesuka hati menindas saya," ujar Azzah.
"Sampai kapan pun Ronald tidak akan mencintai kamu, jangan berharap jadi nyonya di rumah ini, karena Aku yang akan melahirkan pewaris untuk keluarga ini!" seru Esme kolot.
"Esme keterlaluan, Aku memang tak menyukai Azzah, tapi perkataan Esme lebih tajam dari parang!" batin Charlotte.
"Wanita ini begitu tinggi hati, jangan salah menilai ku. Aku bukan gadis lemah," batin Azzah.
"Sudah - sudah, sarapan ayok, jangan ribut berantem trus, pusing pala! " seru Charlotte.
Esme mendelik tak suka, karena Charlotte sok menengahi dirinya yang sedang meluapkan kekesalan pada Azzah.
__ADS_1