
Ronald telah mengingat masa - masa indahnya dulu dan sekarang. Semua itu berkat terapi yang Ia rutin jalani dan Doa orang yang mencintai Ronald.
Pagi hari
Ronald berangkat ke kantor dengan senyum lebar, tak lupa Ia mencium Zero dan Zarina yang semakin lucu.
"A ... a," ucap cadel Zero
"Iya sayang papah berangkat, yah?"
"T- ta uu," sambung Zarina
Ronald terkekeh geli dengan kelakuan zero dan Zarina, yang sudah menginjak usia sepuluh bulan.
Sementara Zayn muncul dari belakang rumah di gendong oleh Azzah.
"Mas udah mau berangkat, yah?" tanya Azzah
"Iyah, Zah memangnya kenapa sayang," gumam Ronald seraya mengambil tas kerja dari Esme.
Esme melirik Azzah tidak suka. Ronald segera mendekati Esme.
"Kamu kalau cemberut nanti cepet keriput, mau?" bisik Ronald.
Esme menarik sudut bibirnya ke atas.
"Sayang, jaga diri kalian baik - baik, Mas berangkat dulu," ucap Ronald pada Azzah dan Esme.
Ronald mencium Zayn gemas sebelum pergi. Membuat bayi Zero dan Zarina memperhatikan papahnya.
Zarina menggeleng tak beraturan membuat Esme menyadari, kalau Putrinya tidak nyaman dengan pemandangan tersebut. Seakan menginginkan pelukan juga dari Ronald. Ronald yang peka langsung mengangkat Zarina dari gendongan Esme.
"Wah, cantiknya putri siapa kamu?"
"T - ttu," gumam Zarina sambil menyenderkan kepalanya di bahu Ronald.
Sementara Zero mengucek matanya terus mungkin karena bayi Zero mengantuk.
__ADS_1
Setelah kepergian Ronald Esme memanggil Suster untuk menidurkan Zero dan Zarina.
Hanya dengan melihat Zayn. Esme sangat membencinya, sebab wajah Zayn begitu mirip dengan Azzah.
"Boleh aku menggendong anakmu?" tanya Esme pada Azzah
Azzah menelisik raut wajah Esme.
"Apa kau takut aku berbuat yang tidak - tidak pada Putramu?" tanya Esme lagi
"Bukan begitu Mba tapi Zayn sepertinya haus aku harus menyusuinya dulu, maaf Mba aku kebelakang dulu," pamit Azzah mengeratkan pelukannya pada Zayn.
Azzah beralasan karena sejengkal pun tidak akan membiarkan siapapun melukai Zayn. Biarlah dulu dia menderita, tapi tidak untuk Putranya. Azzah mawas diri apalagi menyangkut Esme yang susah untuk di tebak.
Di rumah belakang
"Zayn sayang." Azzah mengusap lembut rambut Zayn sambil menyusui
"Zayn, bagus kamu mirip mama sayang," bangga Azzah
Azzah mengatakan itu karena wajah Zero dan Zarina sangat mirip dengan Ronald.
Tringg
Ronald mengangkat telpon kantornya.
"Maaf Presdir menganggu waktunya sebentar," kata Si Resepsionis.
"Presdir, ada tamu yang ingin bertemu. Ia di depan sedang menunggu anda, sejak rapat berlangsung tadi saya menyuruhnya untuk menunggu anda dulu,"
"Siapa?" tanya Ronald
"Seorang wanita, Presdir," jawab Resepsionis.
"Suruh dia masuk ke ruangan saya," kata Ronald
"Baik, Presdir," balas Resepsionis.
__ADS_1
Krek
"Diva?" ucap Ronald terheran - heran.
"Masih ingat Aku?" ucap Diva
"Duduklah," ucap Ronald
Wanita cantik berambut pirang sepanjang pinggang, itu sangat mempesona. Berkulit putih bak porselen dengan wajah glow dan tubuh yang tinggi semampai.
Wanita yang di panggil Diva itu mengulurkan tangan, tak ingin di katakan angkuh. Ronald profesional menghadapi mantan kekasihnya.
"Bukannya kamu di Australia?" tanya Ronald datar, sambil mengecek fokus laptopnya.
"Aku baru wisuda bulan lalu, apa ada posisi yang bisa aku tempati di sini?" tanya Diva dengan suara sehalus sutra.
"Kamu ini sarjana genius. Kenapa harus di perusahaan ku?" balas Ronald
Diva memindai postur tubuh Ronald yang bidang dan tetap seperti dulu, tidak ada yang berubah sama sekali. Walaupun Diva sudah mendengar kabar Ronald sudah beristri.
"Aku akan menetap di sini beberapa bulan ke depan. Bunda ada bisnis di negara ini. Dia mengajakku berlibur. Aku mendengar perusahaan mu cukup mahsyur, jadi bagaimana?" tanya Diva mendekatkan kursi dan mencondongkan wajah ke arah Ronald.
"Fa ... dengarkan ini baik - baik. Jika kamu memang berniat bekerja di perusahaan ku, ikuti aturan yang ada," ujar Ronald.
"Baiklah, tampan," kata Diva memundurkan kursi dan menjauhkan wajahnya.
Diva menyodorkan ponsel genggamnya ke arah Ronald
"Apa?" tanya Ronald acuh
"Masukan nomer ponselmu, bukankah kita masih bisa berteman," kata Diva
Ronald mendengus kesal.
"Minta saja pada Asistenku, tanganku sedang sibuk, kamu lihatlah sendiri," ucap Ronald mengatakan Fakta.
Diva menyunggingkan senyum
__ADS_1
"Apa pernikahanmu bahagia Ronald," batin Diva.