Istri Ke Tiga Tuan

Istri Ke Tiga Tuan
Bab 63 - Jodoh


__ADS_3

Setibanya di rumah, Ronald langsung membawa Zayn ke rumah sakit.


Azzah cemas melihat Zayn bayi mungilnya sedang di tangani Dokter.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Azzah?" tanya Ronald


"Azzah nggak tahu, Mas, tapi Zayn sempat nggak kaya biasanya, pas Aku cek suhu tubuh Zayn mendadak dingin, dan banyak ruam merah di kulitnya," jawab Azzah


"Sudah jangan menangis sayang, Zayn pasti baik - baik saja," ucap Ronald


"Bagaimana Aku bisa tenang, Mas dia masih bayi," kata Azzah gemetar


Azzah mondar - mandir Ke sana ke mari. Sedangkan Ronald mengesampingkan rasa letih, karena baru pulang kantor.


Dokter memanggil Ronald dan Azzah ke ruangan


"Dengan Bapak Ronald dan Ibu Azzah, jadi begini, putra kalian mengalami alergi pada bahan kimia tertentu, kemungkinan ini terjadi karena imun Zayn juga sedang tidak stabil, apalagi bayi seusia Zayn masih dalam masa mengenal lingkungannya,"


"Bahan kimia apa, yah Dok?" tanya Ronald.


Azzah berfikir mungkin Zayn alergi penggunaan deterjen pada pakaiannya, atau memang faktor ketidaktahuan Azzah, tentang putranya.


Setelah Dokter memberikan penjelasan. Ronald merasa janggal dengan kejadian yang menimpa Putranya Zayn.


Tanpa sepengetahuan Azzah Ronald meletakan cctv di setiap sudut ruangan. Dan menyuruh Asisten rumah tangganya untuk lebih menjaga Zayn.


Azzah tidak bisa jauh dari Zayn. Ia memilih Zayn rawat instensif di rumah.


"Baiklah, tapi saya akan menyuruh Dokter spesialis untuk mengecek keadaan Zayn beberapa hari ke depan," kata Dokter


"Iya, Dok," balas Ronald.


Di rumah


Azzah menidurkan Zayn dengan menepuk paha Putranya dengan penuh kelembutan. Tak terasa bulir bening membasahi pipinya.


"Maafkan mama sayang, kamu jadi begini." Azzah mengecup kening Zayn


Ronald mendekati Azzah dan ikut berbaring di tempat tidur.


"Jangan selalu merasa bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi." Ronald mengelus pundak Azzah.


"Tapi Mas - "


"Syuttt ... tidurlah sayang Mas juga ngantuk."


Mereka tidur dengan posisi saling memeluk.


Di tempat lain


"Kenapa kamu senyum - senyum, Div?" tanya Ibu yang sudah mulai beruban.

__ADS_1


"Diva kemarin ke kantor, Ronald, Bunda," jawab Diva.


"Ronald, mantan pacarmu dulu itu?" tanya Ibunda Diva memastikan.


Diva mengangguk.


"Masa lalu ya yang sudah ya sudahlah, Nak, Bunda berharap kamu menikah dengan lelaki yang masih bujangan, bukan lelaki beristri!" tekan Ibunda Diva


"Kamu nggak lupa, kan besok ada janji ketemu sama anak kolega bisnis Bunda, namanya Badar, dia Dokter sekaligus pebisnis muda, Div," ungkap Rena.


"Iya - iya, Bund cuma ketemu aja, Diva nggak janji bakal setuju sama perjodohan ini," balas Diva.


"Mengenal lebih dekat apa salahnya, sih Div, Bunda juga ingin segera menimang cucu. Temen - temen Arisan Bunda sudah pada punya dua tiga cucu, sayang," sendu Rena.


"Mulai, deh dramanya Si Bunda," batin Diva.


🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Di Cafetaria xx.


"Bray kapan, luh nyusul kita bertiga," ucap teman Badar.


"Sabar, lah Bro ini lagi proses," jawab Badar


"Cari yang montok, bohay, tuh gampang jaman sekarang. Gue cari yang baik -baik buat jadi ibu dari anak- anak gue," tambah Badar lagi.


"Yaelah, Bro cewe baik di @ kali jodo banyak!" seru Arif mendapat kekehan dari ke dua sahabatnya. Sedangkan Badar menimpuk Arif dengan tisu makan.


"Temen gesrek!" batin Badar


Ting


Di pintu masuk cafe tersebut


"Widih, ada bidadari nyasar Bro, sabet, Dar sonoh!" seru Doni menyikut Badar.


"Ogah," ucap Badar lirih mendapat lirikan dari wanita cantik tersebut .


Diva sekilas menatap Badar, ke duanya saling melihat beberapa detik. Kemudian netra ke duanya teralihkan dengan tingkah kacau pelayan Cafe.


"Maaf Mbak, saya nggak sengaja," ucapnya pada diva


"Hm." Diva sedikit menarik napas dan


"Okay, nggak papa," ucap Diva


Diva ke toilet membersihkan tumpahan Jus yang mengotori dress nya.


"Sabar, Div," katanya sembari bercermin dan sedikit menata rambutnya kembali.


Akibat kalah bermain tebak tebakan. Badar mau tak mau memberanikan diri. Diva yang baru keluar dari toilet wanita terkejut menatap heran Badar.

__ADS_1


"Ngapain kamu, di depan toilet cewek?" tanya Diva


Sungguh Badar merutuki dirinya sendiri.


"Boleh minta nomer mu, Nona?" tanya Badar menahan malu


"Nomer apa, nih sandal, sepatu atau ?" Diva menggoda Badar, karena Badar yang terbilang cukup atletis.


"No - nomor," gagap Badar menggaruk tengkuknya.


Diva mengambil kartu namanya dari tas slempang nya.


"Diva hana santika," gumam Badar.


"Iya." Diva mengulurkan tangan.


Badar mengernyit karena wanita di depannya sangat ramah lingkungan.


"Badar," ucap Badar.


Kemudian ke obrolan ke duanya terhenti, karena nomer ponsel Diva berdering.


Diva melambaikan tangan ke arah Badar. Sementara Badar masih kaku di tempat.


"Manis," gumam Badar


"Haish ... otakku," geleng Badar.


"Iyah Bund, ini Diva udah di cafe, mana anak temen Bunda. Jadi cowo nggak on time banget, niat janjian sama cewek, kok gitu gimana, sih," gerutu Diva.


Badar kembali duduk bersama teman - temannya.


"Gimana?" tanya Si Boy


Badar mengedikan bahu.


"Payah," timpal Si Boy.


Selang beberapa menit handphone Badar berdering.


"Dar, kamu udah ketemu sama anak temen mamah, kan?" tanya Morita


"Astaga, Mah!" seru Badar mendapat lirikan dari teman - temannya.


"Kenapa?" tanya Morita.


"Badar lupa." Badar menepuk jidatnya.


"Siapa, yah Mah namanya Badar lupa," tanya Badar lagi


"Diva Dar, Di - Va," eja Morita.

__ADS_1


"Diva?" tanya Badar melirik ke sudut meja, di mana Diva sedang mengecek jam tangannya.


"Apa itu Dia?" tanya Badar dalam hati.


__ADS_2