
Saat di jam makan siang, tepat pukul dua belas siang.
Pranggg
"Argh!" teriak Azzah yang kala itu membaca tabloid muslimah edisi bulan baru.
Kaca jendela pecah karena bunyi lemparan benda keras dari luar rumah.
"Ya allah siapa yang melakukan ini," gumam Azzah mengamati serpihan yang berserakan di lantai depan ruang tamu.
Sementara Esme dan Charlotte segara turun dari kamar begitu mendengar suara memekik tersebut.
"Apa yang kamu lakukan Azzah, kamu mengamuk, kenapa kaca rumah sampai pecah begitu?" tanya Esme
"Bukan Azzah Mba, tapi orang luar," kata Azzah
"Orang luar bagaimana, jangan bersilat lidah, jelas hanya kamu yang di sini," ucap Esme.
"Mba kali ini Aku serius bukan Azzah, lagian mana mungkin menghancurkan rumah kalian," ungkap Azzah
"Trus kenapa kamu di sini, bukannya nungguin rumah sendiri. Rumah kamu, kan sekarang di belakang!" seru Esme
"Sudah jangan ribut, ini jelas, kok serangan dari luar, lihat ada batu, ini sengaja ditujukan untuk kita, tapi siapa yang berbuat gila seperti ini. Apa Rival bisnis Ronald," gumam Charlotte.
"Bi .... Bi Inah!" teriak Esme
"Iya Nyonya," jawabnya
"Bersihkan kekacauan ini Bi," tandas Esme
"Aku akan menghubungi Ronald tentang kejadian ini, kalian lebih baik tetap di kamar, terutama kamu Mba," ucap Charlotte pada Esme.
"Azzah sementara kamu di sini dulu, naiklah ke lantai atas kamar suamiku," ujar Charlotte.
"Iya Mba,"
Di kamar
"Aku mau tahu kronologinya," ucap Charlotte.
"Yang pasti Azzah lagi nyantai Mba di ruang tamu, tiba tiba ada yang melempar benda keras itu dari luar. Azzah takut Mba," ungkap Azzah.
"Apa ini lawan Ronald, atau seseorang yang menuntut balas," batin Charlotte.
__ADS_1
"Kamu jangan terbawa perasaan yang sama perkataan Esme dia lagi hamil, pasti moodnya naik turun," kata Charlotte.
"Iya Mba,"
"Dia sedang hamil, di situasi macam ini kita harus lebih melindunginya, kejadian nggak jauh dari musuh Ronald mungkin yang iri," ungkap Charlotte.
Ting
Ponsel Charlotte mendapat balasan dari Ronald.
[ Kalian tenang jangan panik, orang Ku sedang datang. Mereka Bodyguard yang akan menjaga kalian ]
[ Iya Suamiku ]
[ Aku usahakan pulang lebih cepat ]
[ Iya sayang ]
🍃🍃🍃🍃
Sore hari
Azzah memilih berendam aromatik mawar di bathub sambil merenungkan kepulangan Uminya.
"Umi pulang, jaga diri baik - baik Zah, dan lagi ingat jangan berani sama Suami. Kamu punya kewajiban mengurus Suami kamu, tapi kamu juga punya Hak sebagai seorang Istri, paham, kan maksud Umi?" tanya Umi
"Iya Umi,"
"Umi pulang, Nak nanti kalau Suamimu mengizinkan pulang lah ke kampung," kata Umi.
"Iya Umi, umi Abah jaga kesehatan di sana," kata Azzah
"Jemputan Umi udah dateng," menyodorkan telapak tangan untuk Azzah salami.
Azzah memeluk Umi dan mencium tangan Uminya.
"Maafin Azzah, yah Umi," ucap Azzah.
"Minta maaf untuk apa, Putri umi kamu kaya nggak biasa - biasanya, sih"
"Hehe." Azzah berusaha menyelimuti rasa bersalahnya.
"Umi berangkat, Nak Esme dan Charlotte Umi titip Azzah, yah"
__ADS_1
Di angguki oleh ke duanya.
"Loh -loh Umi mau pulang?" sambar Ronald yang baru masuk ke gerbang rumah dan turun dari mobil.
Ronald mencium tangan Umi Fatma.
"Umi nggak betah di sini, atau pekerja Ku tidak melayani dengan baik?" tanya Ronald
"Bukan, Nak hanya saja Umi tidak tenang meninggalkan Abah lama - lama," ungkap Umi.
"Hm ... romantisnya," gumam Charlotte.
"Iyah," tambah Esme tak biasanya tersenyum simpul.
"Esme kamu lebih cantik kalau sering senyum," sela Umi Fatma menjinjing tas.
"Umi biar Ronald bantu," kata Ronald.
"Lihat Ronald Suamimu gagah, mapan dan baik hati. Kamu beruntung Zah," bisik Umi.
"Amin," gumam Azzah.
Selepas mengantar Umi Fatma ke depan.
FLASH ON
Di ruang tengah
"Kamu di mana saat peristiwa itu, hah?" marah Ronald pada penjagaan pos satpam.
"Kami mendapatkan pembagian makanan gratis Tuan dari luar gerbang, mereka bilang sedang ada jumat bagi - berkah, ternyata mereka diam diam, masuk ke halaman rumah," jelasnya
"Berapa orang?" tanya Ronald.
"Dua laki - laki dan satu perempuan yang tidak turun dari mobil," terangnya.
"Ciri - ciri wajahnya apa masih ingat?" tanya Ronald
"Mereka yang laki - laki memakai masker, untuk yang wanita dia berkacamata saya kurang jelas melihatnya karena kaca itu setengah tertutup," ungkapnya.
"Lain kali lebih jeli, jika sampai terjadi apa apa dengan Istri - istriku tangan kalian yang aku potong," geram Ronald.
"Berani mengusik ketenangan Ku." Ronald mengepalkan tangan.
__ADS_1
Secara langsung Ronald peka jika teror ditujukan untuknya, atau mungkin Diva yang masih menyimpan dendam sejak pertemuan kemarin, apa mantan kekasihnya senekat itu. Entahlah Ronald masih mengira, yang pasti Ronald tidak akan membiarkan orangnya terluka.