
Saat Esme masih tertidur pulas, Ronald turun dari ranjang membuka tirai jendela kamar.
"Kelihatannya embun begitu sejuk hari ini," batin Ronald.
Ronald berjalan keluar dari rumah menuju taman belakang. Di jam enam pagi Ronald melihat Azzah sudah rajin menyapu teras.
"Dia tidak lemah, justru kelembutan hatinya memang sudah mendarah daging, hanya saja Aku merasa sebelumnya kami pernah dekat," gumam Ronald memegangi kepalanya.
Azzah mendekat senyum terpampang jelas di wajah Azzah, saat melihat Ronald berkunjung.
"Mas kamu datang, ikut Aku buatkan kopi favoritmu?" tanya Azzah.
"Apa kita dulu punya hubungan?" tandas Ronald
"Jangan terlalu di pikirkan Mas, Azzah tahu di dalam sini ada nama Azzah," ucap Azzah menyentuh dada bidang Ronald.
Ronald terkejut, hanya dengan sentuhan Azzah, Ronald seperti tersengat listrik. Tubuh Ronald meresponnya di luar dugaan.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Ronald
"Bahkan bayangan wajahmu semalam ada di mimpiku!" seru Ronald.
"Dia, Kita yang buat," jawab Azzah frontal menuntun tangan Ronald menyentuh perut Azzah.
"Apa jadi begitu kurang ajar, kah aku hingga menghamili pembantu rumah?" tanya Ronald.
Azzah menipis langsung tangan Ronald.
"Enak saja dia bilang!" batin Azzah kesal.
"Duduk," ucap Azzah
Ronald menyeruput sedikit demi sedikit, menikmati kopi buatan Azzah.
"Lidahku bahkan tidak asing dengan rasa ini, sungguh membuatku gila," batin Ronald.
__ADS_1
"Jawab Aku sekarang, apa benar perkataan mu sebelumnya di rumah sakit, bahwa kamu adalah Istri ke tiga ku?" tanya Ronald pada Azzah.
"Mungkin," jawab Azzah cuek.
"K - Kau aku serius!" sentak Ronald.
"Gunakan feeling dan firasat itu, jangan hanya emosional dan logikanya mana ada seorang pembantu menjadi penghuni rumah sebesar ini, di belakang sendirian lagi," ungkap Azzah.
"Aku yang membuatkannya untukmu?" tanya Ronald
Azzah mengangguk.
"A - azzah, jadi benar perut itu membesar karena aku?" tanya Ronald cengo.
"Iyah Mas," balas Azzah
"Baiklah, bolehkan aku memelukmu Azzah?" tanya Ronald.
"Kenapa tiba - tiba ?" tanya Azzah
"Walaupun Aku belum mengingatmu, setidaknya aku harus bertanggung jawab sebagai kepala keluarga dan ayah bayi ini," usap Ronald pada perut Azzah.
"Terimakasih Mas," batin Azzah
"Sungguh nyaman berdekatan dengannya. Aku sangat piawai memilih Istri muda, dia cantik dan lemah lembut," batin Ronald
🤍💙🤍💙🤍💙🤍💙
Ronald tersenyum samar kemudian melepaskan pelukan.
"Dimana kamar kita?" tanya Ronald membuka kerudung Azzah.
"Mas kamu?"
"Tenang saya tidak akan menyentuh kamu selagi kamu tidak menginginkannya, lagi pula Aku masih belum terbiasa saat ini," ujar Ronald
__ADS_1
"Aku ingin mengingatmu jadi bantu Aku mengenalmu lagi," ucap Ronald.
Azzah berkaca - kaca dan mengambil inisiatif menyentuh rahang Ronald yang sedikit brewokan saat ini.
"Terimakasih." Azzah mengecup pipi Ronald.
Ronald mendadak kaku dan bulu kuduknya serasa berdiri.
"Azzah Ku," ucap Ronald
Azzah teringat panggilan sayang Ronald dulu kepadanya. Kini kembali keluar dari mulut Ronald.
"Mas kamu mengingatnya?"
"Barusan kamu manggil Aku apa?" tanya Azzah
"Kenapa?" tanya Ronald bingung dengan situasi.
Azzah kembali kandas, ternyata Ronald hanya mengingat sebagian dari kebiasaannya. Bukan karena ingatannya pulih.
"Baiklah, sepertinya aku harus memulai pelan - pelan, supaya Suami nakal Ku mengingat Istri malangnya," batin Azzah
"Kamu kenapa mau menjadi Istri Ku?" tanya Ronald menggandeng tangan Azzah.
"Aku terpaksa," gumam Azzah
"Apa!" tegas Ronald.
Ronald menaikan sudut bibirnya.
"Kamu mau bohong, yah!" seru Ronald.
"Aku serius Mas, jelas - jelas kamu yang melamar secara mendadak, lagian Abah sudah merestui. Aku yakin restu mereka akan membuat kita bahagia," ujar Azzah
Kata terakhir Azzah yang membuat Ronald serasa di hujani banyak bunga api.
__ADS_1