
Begitu saja kau pergi
Dan membuatku terluka
Tidakkah kau mendengar
Rasa sedihku
Bisakah kau tak hilangkan
Aku dari ingatanmu
Bila ini semua salahku
Maafkan Aku
Andai kau tahu ku tak pernah mampu tuk lupakan mu
Tak bisa ku paksa hati ini tuk membencimu
Tak sadarkah dirimu
Ku selalu rindu
Kan ku sembunyikan luka sampai kau tak melihatnya
Meski ku tak tahu mungkinkah aku bertahan
Adakah kesempatan memulai kembali
🎶 🎶 🎶
...Azzah tiba di rumah Ronald....
Satpam membukakan pintu, karena melihat kedatangan Azzah.
"Maaf Nyonya, rumah sedang sepi, Nyonya Esme dan Charlotte sedang di rumah sakit," kata Satpam
"Siapa yang sakit, Pak?" tanya Azzah
"Tuan Ronald kecelakaan Nyonya, apa nyonya belum tahu?" tanya Satpam
"M - maksudnya?" tanya Azzah
"Nyonya ke rumah sakit medika hospital, di sana Tuan di rawat dari kabar yang saya dengar," tandas Satpam
Sebelum menjawab kembali Azzah sudah menarik Mirza.
"Kak, buruan tunggu apa lagi." Azzah meminta Mirza segera tancap gas.
Di dalam mobil
__ADS_1
Azzah menggosok ke dua tangan menghalau rasa cemas, sambil terus berusaha untuk tidak menangis tapi rasanya sulit. Tanpa Azzah bisa kontrol air matanya membasahi pipi begitu saja.
"Kak, ini gara - gara Azzah, kalau saja dia tidak menjemput Azzah ini tidak akan terjadi," kata Azzah
"Sut ... apa yang kamu bicarakan,"
"Mas Ronald, dia pasti merasakan sakit dan aku tidak berada di sisinya," batin Azzah menyalahkan diri sendiri.
Di rumah sakit medika hospital
FLASH BACK
"A ... makan dulu, yah Suamiku?" tanya Charlotte.
"Suami, apa aku sudah menikah?" tanya Ronald
"Hm, Suamiku kamu punya dua orang anak kembar, namanya Zero dan Zarina mereka ada di rumah mu," kata Charlotte.
Esme kalang kabut mengetahui Ronald sadar, tapi dengan keadaan amnesia sementara. Akibat benturan & cidera di kepalanya.
"Dia siapa?" tanya Ronald menunjuk Esme pada Charlotte.
"Dia Istri pertama mu," jawab Charlotte.
"Berapa istri yang aku punya?" tanya Ronald
"Hanya kami berdua," tandas Esme.
"Mas Ronald," panggil Azzah memasuki ruangan Ronald.
"Kak, dimana Mas Ronald, seperti kita salah ruangan," ujar Azzah
Giliran Azzah sendiri yang menanyakan pada Resepsionis.
"Mba coba cek lagi atas nama pasien Ronald Edwin," kata Azzah
"Tunggu sebentar ibu, oh ya Ibu maaf pasien baru beberapa menit lalu di pindahkan ke ruangan VIP white rose," ujar Resepsionis.
"Terimakasih," ucap Azzah.
Di ruangan VIP.
"Mas Ronald," panggil Azzah
Ronald tengah berbaring menghadap ke samping.
"Mas Ronald," pekik Azzah
Ronald berbalik dengan balutan perban masih mengitari dahinya.
"Kamu siapa?" tanya Ronald.
__ADS_1
"Dia pembantu rumah!" seru Esme
Azzah menurunkan alisnya dan mulutnya seakan terkunci.
🥀🥀🥀
"Aku Azzah Mas Istri kamu?" ucap Azzah
"Cih." Esme berdecak
"Kenapa banyak sekali yang mengaku menjadi Istriku?" tanya Ronald memegangi kepalanya.
"Jangan terlalu banyak memaksakan mengingat, semakin melukaimu," ucap Charlotte keluar dari kamar mandi setelah mencuci muka.
"Mbak apa yang terjadi kenapa Mas Ronald tidak mengingat Aku," ucap Azzah.
"Dia bahkan tahu namanya dariKu, bagaimana bisa dia mengingat kamu, kalau dia saja tidak mengenal dirinya sendiri," sembur Charlotte.
"Jika Mas Ronald tidak berniat menemui Ku, pasti ini tidak akan - " terputus
"Oh jadi, benar ini semua ulah kamu, yah dasar pembawa nasib buruk, lihat keluarga ku hancur, Ronald menghancurkan dirinya sendiri itu karna Kamu," ujar Esme.
Ronald bingung coba menerka, dari perdebatan wanita - wanita yang semakin memusingkan kepalanya.
"Tinggalkan Ronald sekarang, dia tidak butuh kamu, hanya kami yang mereka butuhkan!" sentak Esme
Azzah sempat kaget dengan keadaan Esme yang duduk di kursi roda. Tapi tak ubah dengan tabiatnya yang tetap sama.
"Aku bisa meninggalkannya, tapi tidak dengan dia," kata Azzah mengusap perutnya.
"Apa maksudnya hah!" seru Esme
"Anak kami, anak kamu Mas!" seru Azzah menjawab Esme dan memindai ke arah pandang Ronald.
Ronald mengernyit.
"Aku tidak bisa meninggalkan Mas Ronald karena ada benih cinta kami di sini, dia tumbuh di sini. Aku hamil," ujar Azzah membuat Charlotte menganga dan Esme melotot.
"Pembantu kurang ajar, pergi dari sini!" bentak Esme mengusir Azzah, tak ingin Ronald terpengaruh oleh ucapan Azzah.
Mirza mendengar keributan dari dalam ruangan segera masuk. Mirza melerai adu mulut antara Azzah dan Esme.
"Cukup Azzah kita pergi, biarkan Ronald beristirahat. Dia akan mengingatmu cepat atau lambat," ujar Mirza.
Esme mengetatkan rahangnya.
"Tidak akan ku biarkan dia mengingatmu, akan ku buat Ronald menjauh dan jauh - jauh dari Kamu bakteri!" batin Esme.
"Tapi Kak, Mas Ronald," ucap Azzah
Mirza menuntun Azzah keluar sebelum perawat datang dan semakin runyam. Ronald memandangi kepergian Azzah, entah hati Ronald seperti terjun bebas, melihat air mata Azzah yang berderai meminta pengakuan.
__ADS_1
Ayo bantu Vote karya Author bestie 🙏🤗🥰♥️.