
Ronald menyusul Azzah ke kamar. Setelah menyantap hidangan makan malamnya.
Ronald melihat Azzah sedang menyusui Zayn. Dengan langkah hati - hati Ronald duduk di sebelah Azzah.
Setelah beberapa menit, Zayn tertidur pulas di dalam dekapan Azzah.
"Dia akan tumbuh menjadi lelaki yang kuat, lihat saja dia sangat menyukai Asi mu, sayang," ucap Ronald pelan.
Azzah tersenyum simpul.
Cup
"Terimakasih telah menjadi bagian dari hidupku," cium Ronald di pelipis Azzah
Cup
Ronald mendaratkan kecupannya di ujung bibir Azzah.
"Terimakasih telah menjadi ibu dari anakku,"
"Dan - " Ronald menggantung katanya.
"Dan?" tanya Azzah penasaran.
Dengan jahil Ronald mengatakan
"Dan ... zayn cepat punya adik," tandas Ronald menyeringai
"Hih, mas kamu ini!" cubit Azzah tersipu.
Nyatanya walaupun sudah menikah, Azzah masih saja berdebar di dekat Ronald.
Ronald membalas dengan penuh hangat. Ronald mengambil alih dan meletakan Zayn di ranjang bayi tersebut.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Ronald pada Azzah
"Apanya Mas?" bingung Azzah
"Huh, yang tadi sayang ... " ucap Ronald manja
Bagai singa yang hendak menerkam mangsa. Ronald yang sedang dalam mode on, secara gairah mulai memperjelas dengan menyentuh kulit Azzah. Sentuhan di sepanjang lengan Azzah membuatnya mengerti. Bahwa Suami di hadapannya kini, sedang ingin menuntaskan hasrat.
"Tunggu dulu Mas, sepuluh menit biarkan Aku mempersiapkan diri." Azzah menahan Ronald dengan kedua tangannya. Saat Ronald mencondongkan tubuhnya ke arah Azzah.
Ronald tersenyum penuh arti.
"Kembalilah secepatnya, Zah," kata Ronald dengan suara berat.
Karena di balik celananya. Ia merasakan sesak akibat tekanan juniornya. Yang merindukan mendaki gunung dan lembah bersama Azzah.
Klek
Ronald meneguk ludah kasar melihat penampilan Azzah yang mulai berani. Dengan menggunakan piyama berenda merah jambu. Azzah berjalan menyematkan rambutnya mendekati Ronald.
Ronald menarik Azzah hingga jarak keduanya terkikis.
"Kamu nakal kucing manis," ucap Ronald lagi dan menyentuh hidung Azzah dengan telunjuknya.
"Kucingmu ini sangat penurut sayang," ujar Azzah menyandarkan kepalanya di dada bidang Ronald.
"Mas?" ucap Azzah
"Hum," balas Ronald
"Mister mu sudah berdiri tegak!" tekan Azzah
"Dia merindukanmu," jawab Ronald
__ADS_1
Keduanya terkekeh. Kemudian melancarkan aksi yang seharusnya. Hingga terjadilah perhelatan, yang menyebabkan sahutan kenikmatan memenuhi ruangan tersebut.
🥀🥀🥀
Paginya
Di meja makan
"Apa Tuan mu sudah sarapan, Bi?" tanya Esme pada Art
"Dari pagi saya belum melihat Tuan, Nyonya," jawab Art.
Esme meletakan kembali sendok nya dan mulai menaiki anak tangga menuju kamar Ronald.
"Ronald ini sudah jam berapa sayang, bangun," ucap Esme lembut tidak seperti biasanya.
Esme memegang gagang pintu yang ternyata tidak terkunci. Esme curiga jika Ronald mungkin semalam tidak tidur di kamarnya.
"Wanita ******, dia membuktikan ucapannya semalam," batin Esme geram.
Sedangkan di tempat lain
Charlotte mulai menata hidupnya. Ia telah mengirim surat perceraian untuk Ronald. Tapi belum juga merasa ada kabar baik, karena Ronald tak kunjung menandatanganinya.
"Suamiku, eh maksudku Ronald Bagaimana kabarnya, apa ingatannya sudah kembali," ucap Charlotte dalam benaknya.
Jauh di lubuk hatinya, meski sedang berusaha melupakan, acap kali bayangan wajah Ronald dan pembawaan tegasnya seliweran di pikiran Charlotte.
Di negara china, Charlotte mulai menemukan jati dirinya yang sesungguhnya, untuk sejenak menghibur hatinya. Charlotte mengunjungi salah satu destinasi.
"Lebih baik di cintai dari pada mencintai," gumam Charlotte
Di tempat gembok cinta, Charlotte menuliskan beberapa kalimat yang cukup bermakna. Hingga kepergian Charlotte membuat seorang lelaki, mengambil catatan yang baru saja Charlotte tempelkan.
__ADS_1
"Wanita yang mendoakan kebahagiaan mantan suaminya, sungguh naif," gumamnya.