
"Aahhh...!"
"Haaaaa....!"
Dinda segera berlari ke kamar mandi nya lagi.
"Dinda......!"
Teriak Bara yang berdiri tepat di depan ranjang Dinda.
Tanpa sengaja Bara melihat Dinda dengan hanya memakai pakaian dalam nya saja,karena ia lupa membawa baju ganti ke kamar mandi,ia pikir tidak masalah berpakaian begitu tidak akan ada yang berani masuk kamar nya.
Duk...Duk...
"Dinda keluar!semakin hari prilaku mu semakin liar saja,keluar sini,Aku perlu memberi pelajar kepada Mu!"
Teriak Bara dengan keras,Dinda di dalam kamar mandi merasa hidup Nya akan berakhir.
'Tuhan tolong Aku sapi Banggala mengamok lagi !'
"Dinda keluar...!" Teriak Nya lagi
"Enggak !" Sahut Dinda yang berdiri di balik pintu.
"Keluar enggak,kalau enggak Aku dobrak nih!"
"Satu...."
Dinda masih belum membuka pintu kamar mandi.
"Dua....!belum keluar juga,jangan sampai Aku hitung yang terakhir ya !"
Ancam Bara,Dinda mulai gelisah,ia mondar -mandir dari dalam kamar mandi.
Dirinya hanya mengenakan Br* dan juga CD.
"Dinda...Aku dobrak Nih !"
"Handuk Gue ketinggalan di atas ranjang,tolong ambilkan !"
Pinta Dinda berharap Bara mau berbaik hati.
"Tunggu,Aku ambil kan!"
Bara melihat baju mandi Dinda ada di atas ranjang,dan juga serta pembalut yang berencana akan ia bawa masuk kamar mandi pun ikut ketinggalan.
Buk...
Bungkus pembalut milik Dinda terjatuh diatas lantai.
"Apa ini?"
Bara mengambil bungkusan yang terjatuh di lantai,lalu melihat gambar yang ada di kertas benda tersebut.
'Pembalut wanita ?jorok sekali Dinda ini lah,lama-lama disini,bikin tensi Ku naik saja !'
"Buka pintu nya,Aku membawa baju mandi nih!"
Ujar Bara di balik pintu.
"Mana ..?"
Setengah tangan nya ia keluarkan dari dalam kamar mandi,Bara segera memberikan baju mandi dan bungkusan milik Dinda kepada nya.
Begitu selesai,Dinda segera membuka pintu kamar mandi nya,ia melihat Bara yang sedang duduk di tepi ranjang,melihat ponsel milikNya.
Ada pesan email yang di kirim kan Alan kepada nya dari sang bawahan.
Dinda segera membuka lemari baju untuk mengambil baju piyama miliknya.Kini Dinda memakai piyama yang tanpa lengan,Bara yang melihat nya tiba-tiba wajah Nya merona.
Bara bertanya kepada Dinda,
"Siapa Arif itu ?"
"Cowok tadi?" Dinda menoleh ke arah Bara yang sedang memegang handpone.
"Itu,Kakak nya Nadia,ia baru datang berkunjung ke kosan Nadia,kebetulan Kakak Nya bawa ikan banyak jadi Gue ikut bantu bakar ikan tadi dengan Kak Arif,jadi tanpa sengaja,mata Gue kemasukan debu,Kak Arif hanya bantu niup aja!Sueeerr Gak bohong Gue ?"
Jelas Dinda,sambil kedua tangan nya di angkat ke atas membentuk angka dua jari.
"Siapa?"
"Kak Arif !"
"Siapa nanya ?"
Cetus Bara,lalu berdiri dari duduk nya.
"Dasar Sapi Bangga....."
Dinda menghentikan ucapan nya,saat Bara menatap nya dengan tajam.
'Pria asing manggil nya kak,sama Aku panggil nya nama !'
"Ck.."Bara berdecak kesal,lalu pergi meninggalkan kamar Dinda.
"Bantu Gue ngerjain tugas!"
__ADS_1
Ucap Dinda,saat Bara yang sudah membuka pintu.
"Ogah !kerjakan saja sendiri !"
Ketus Bara,lalu pergi meninggalkan Dinda.
"Dasar Bara sialan ..!"
Teriak Dinda dari dalam kamar,Bara hanya tersenyum saja membuat gadis itu kesal.
Bara selalu membantu Dinda mengerjakan PR,tapi kali ini Bara sengaja membuat Dinda marah.Karena Bara ingin menghukum gadis kecil itu.
Dinda dengan kesal meraih tas sekolah nya,lalu mengeluarkan buku - buku PR.Sisa empat bulan lagi untuk mereka melakukan ujian akhir.Kali ini Dinda sudah bertekad untuk belajar dengan rajin agar bisa lulus.
Sudah jam 11 malam Dinda baru selesai mengerjakan tugas sekolahnya.
"heeooaaaammm...!"
Dinda merasa matanya sudah mengantuk,namun ia merasa tenggorakan nya tiba-tiba kering,dan air minum yang ada di kamar telah habis.
Dinda segera bangkit dari duduk nya, dan keluar ke dapur untuk mengambil air minum.
"Haus sekali,air dingin sedikit sirup seperti nya enak !"
Gumam Dinda seraya berjalan ke arah dapur.Dinda menghidupkan kembali lampu dapur,ia segera mengambil air dingin dan juga sirup orange yang ada di lemari kulkas.
"Uuhhh....sedaaaap nyeee....!" Ucap Dinda sambil mengaduk minuman nya.
Gluk..gluk..gluk..
"Aaahhh.....mantap!"
Segelas sa-tu liter air berisi penuh habis di minum oleh Dinda,ia segera mematikan lampu dapur,dan keluar dari ruangan tersebut.
Tak lama kemudian tiba-tiba perut Dinda sakit,ia merasa perut nya melilit,bahkan ia merasakan lebih parah dari biasanya.
"Aakkh..!sa..kit..!"
Rintih Dinda memegang perut nya,ia terduduk tepat di depan kamar Bara.Suasana di dalam rumah sepi,semua orang telah tidur.
"Bar...Bara...!"Panggil Dinda dengan suara yang menahan sakit.
Namun,sosok Bara belum juga keluar dari dalam kamar.
"Bara....to..long...!"
Panggil nya lagi,kali ini lebih keras,namun masih sama Bara belum juga membuka pintu.
Di dalam kamar,Bara sedang mendengar musik melalui ponsel nya,ia menggunakan headphone milik Nya,sehingga panggilan Dinda dari luar ia tidak mendengar nya.
Bara tidur begitu terlelap,karena ia merasa sangat capek hari ini belum juga bisa istirahat dengan tenang.
"Haus banget !"Gumam Bara yang tiba-tiba terbangun.
Bara menurunkan kaki nya dari sofa panjang.Lalu menatap nakas,hanya ada gelas kosong disana.Bara segera membawa gelas kosong tersebut dan keluar dari kamar nya.
Ceklek !
Bugh !
Dinda terjatuh di depan Bara,saat pintu kamar Bara terbuka.
Prang !
Gelas di tangan Bara terjatuh.
"Dinda......!" Teriak Bara saat kaget,ia segera duduk di depan Dinda.Bara merangkul tubuh Dinda,meletakan kepala Dinda di pangkuan nya.
plak plak !
"Din bangun...!"
Bara menepuk pelan pipi Dinda,namun tidak ada jawaban,wajahnya berkeringat,tubuhnya demam,Bara sangat panik melihat kondisi Dinda yang pingsan.
Bara segera mengendong,tubuh Dinda ke mobil,Bara sengaja tidak membangunkan Pak Sukri,karena mereka telah tidur.
Bara meletakan Dinda di sebelah kursi sopir.
"Din..Dinda...!"Panggil Bara saat ia sudah menyalakan mobil nya.Lalu melaju ke arah klinik terdekat dengan rumah nya.
Ckiiittttt....!
Bara memarkirkan mobil nya di depan klinik,seorang satpam datang membantu Bara untuk membuka gerbang Klinik.
"Pak,dokter nya masih ada?"
Tanya Bara saat ia sudah turun dari dalam mobil.
"Masih Tuan,mari saya bantu hantar ke dalam !"
Bara mengikuti satpam tersebut menuju,ruangan praktek dokter umum.
"Tuan,ini ruangan dokter Annisa,beliau masih di dalam "Ujar nya.
"Terimakasih Pak,bantu buka kan pintu!"
Tok...tok...tok
__ADS_1
"Masuk !"
Ceklek !
"Dok,ada pasien !"Seru pak satpam,dokter Annisa segera berdiri dari kursinya.
"Kenapa ini?"Tanya dokter Annisa.
"Aku juga tidak tau dok,tiba-tiba ia pingsan!"
Jawab Bara yang masih panik.
"Tunggu disini dulu ya Tuan,saya periksa dulu!"
Bara mengangguk ,lalu duduk di kursi yang ada di meja dokter Annisa.
Setelah memeriksa,dokter Annisa datang menemui Bara lagi,yang masih dalam ruangan yang sama.
"Bagaimana dok?"
"Heem,penyebabnya belum di ketahui,namun Saya sudah memeriksa nya,hanya saja denyut nadi pasien lemah,ia belum makan dari tadi siang,perut nya kosong,dan Dia masuk angin!"
Jelas dokter Annisa.
"Tidak makan?bagaimana bisa dirumah ada pelayan yang masak!"
"Tuan,apa ini sering terjadi?Saya takut ini bermasalah dengan kesehatan nya,Saya ingin memeriksa lebih lanjut,apa Tuan setuju?jika ia Saya akan mengambil darah pasien,hasil pemeriksaan nya bisa Kita lihat besok !"
Jelas dokter Annisa.
"Bisa dok,silahkan !"
Dokter Annisa segera berdiri,dan mengambil jarum suntik,untuk mengambil sedikit darah Dinda,dan dokter Annisa juga menyarankan Bara untuk memeriksa kondisi Dinda lebih lanjut,takut ini bermasalah dengan rahimnya,apalagi di bagian perut bawah yang ia rasakan.
"Tuan,hasil nya akan keluar besok,untuk pemeriksaan dalam sebentar lagi akan di kirim hasil nya kesini!"
"Apa perlu pemeriksaan dalam dok?"
"Perlu Tuan,ini untuk mengetahui kondisi rahim nya,apalagi ia masih muda,sakit perut bagian bawah jangan di sepele kan bisa berbahaya"
Tok...tok..tok
"Masuk!"
Sahut dokter Annisa.
"Dok,ini hasil lab nya !"
"Letakan disini!tolong bawa ini ke bagian farmasi ya!"
"Baik dok!"
"Sebentar ya Tuan,Saya akan menjelaskan lebih lanjut,setelan Saya melihat hasil nya"
Sekali lagi Bara mengangguk nya,ia menantikan hasil dari pemeriksaan barusan.
"Ini...."
"Kenapa dok apa ada yang salah ?"Tanya Bara yang penasaran dengan hasil tersebut.
"Tidak,hasil pemeriksaan rahim bagus,selamat ya Tuan,istri Anda hamil!"
Ucap dokter Annisa memasuki kembali hasil pemeriksaan tersebut.
"Hamil?bagaimana bisa?"
Bara cukup kaget dengan pernyataan dokter Annisa.
"Iya kehamilan nya sudah memasuki usia ti-ga bulan "Sambung dokter Annisa lagi.
'Bagaimana bisa,kami baru menikah tiga hari,dan Dia hamil ti-ga bulan?siapa ayah dari anak yang ia kandung!'
Bara mengepalkan tangannya,wajahnya memerah,ia menatap ke arah Dinda yang masih belum siuman.
"Dok,Saya akan membawa nya pulang,obat nya akan saya tebus besok pagi!"
Ujar Bara,dokter Annisa kaget,berniat melarang nya.
"Tapi Tuan,pasien belum siuman,apa tidak tunggu ia sadar dulu?"Saran dokter Annisa.
"Tidak perlu dok!"
Bara mengangkat dengan kasar tubuh Dinda,dan membawa nya masuk ke dalam mobil.
Bugh !
Bara melemparnya dengan kasar meletakan nya di bagian kursi belakang.Ia menatap tubuh Dinda dengan emosi,bahkan ia tidak bisa menahan amarahnya.Bara sangat ingin tahu jawaban dari Dinda saat ini.
"Katakan pada Ku,siapa yang sudah berani mengambil kesucian Mu?"
Gumam Bara,ia menahan rasa sesak di dada nya,gadis yang ia jaga dan ia lindungi,namun ia gagal sebagai seorang paman yang selama ini menjaga ponakan nya.
"Siapa ayah Nya!"
Bentak Bara dengan keras,Dinda masih belum siuman.
Dugh..Dugh..
__ADS_1
Bara memukul setir mobil,ia menyetir dengan tidak fokus.Bara merasa harga dirinya sudah di hancurkan dengan kabar kehamilan Dinda.