
Bara menatap satpam itu dengan bingung.
"Cepat turun kan Dinda!"
Titah Asisten Le,yang baru saja datang .
Bara segera mengendong Dinda menuju ruangan dokter Annisa.
Ceklek !
Asisten Le membantu membuka pintu.
"Apa yang terjadi ?"
Tanya dokter Annisa,
"Tidak tau dok,Dia mengeluh sakit perut "
Jawab Bara,
"Tuan,silahkan tunggu diluar,hanya boleh masuk satu orang saja!"
Mendengar ucapan dokter,Asisten Le,memilih untuk menunggu di luar ruangan.
Meskipun rencana mereka sedikit terganggu.Namun,Dinda berhasil mendapat kan kontrak baru untuk perusahaan Textile,tidak sia-sia mereka bekerjasama sehingga menghasilkan keuntungan yang banyak.
"Bagaimana dok?"
Tanya Bara,saat dokter Annisa duduk di kursinya.
"Masih riwayat yang sama,ia sedang mengalami mentruasi,dan sebelum nya juga sudah pernah begini,dan Tuan sendiri yang membawa nya kemari,Saya udah ingatkan saat haid tolong perhatikan minuman Nya,ia tidak boleh meminum jus jeruk atau minuman lain nya yang mengandung rasa asam!"
Jelas dokter Annisa,Bara tercengang,yang ia permasalah kan bukan minuman nya,namun ucapan dokter yang menyatakan kalau Bara pernah kesini,bersama dengan Dinda.
'Bagaimana bisa,Aku baru bertemu dengan Nya,bagiKu ini yang pertama!'
Bara melirik kearah Dinda yang terlihat belum siuman.
"Ada apa ?"
Tanya dokter Annisa yang melihat Bara kebingungan.
"Dok,boleh kah Saya bertanya?"
Dokter Annisa melihat raut wajah Bara yang kebingungan.
"Boleh!"
Jawab dokter Annisa singkat.
"Kapan terakhir kali Saya kemari,apa dokter masih menyimpan riwayat pengunjung pasien?"
Tanya Bara,
"Masih sebentar Saya periksa di buku catatan pasien !"
Dokter Annisa segera berdiri,dan mengambil buku pasien yang tersusun di rak.
"Ini Dia!"
Ujar dokter Annisa dan kembali duduk.
Dokter Annisa membalikan satu persatu lembar kertas catatan pasien.Lalu baru lah mendapati pasien atas nama Dinda Kanya Dewi dan suami nya Bara Rastafara Ardiansyah.
"Coba liat ini!"
Dokter Annisa memperlihat nama pasien.
"Benar,ini nama lengkap Saya,namun Saya tidak tau,nama lengkap Dinda dok!"
"Bagaimana bisa tidak tau"
Dokter Annisa terlihat bingung.
"Dok,tolong rahasiakan ini dulu,jangan sampai ada yang tau,Saya akan cari tau sendiri!"
Ujar Bara,dokter Annisa mengangguk nya.
"Dimana Gue!"
Gumam Dinda yang tersadar dari pingsan nya,lalu melirik ke arah dokter Annisa dan Bara,Dinda kaget,kalau sampai Bara tahu yang sebenarnya bakal membuat rencana mereka gagal.
"Din,Kamu sudah siuman?"
Tanya Bara yang menghampiri Dinda,begitu juga dengan dokter Annisa.
"Apa ada yang sakit ?"
__ADS_1
Tanya dokter Annisa.
"Sudah membaik dok!"
Jawab Dinda,seketika ia ingin bangun,Bara segera membantu nya.
"Terimakasih"
Ucap Dinda cuek,ia tidak ingin Bara menyadari sesuatu.
"Dok,terimakasih kalau begitu Kita permisi,Saya akan menebus obat nya di apotik!"
Ujar Bara,dokter Annisa mengangguk.
Ceklek !
Bara dan Dinda keluar dari ruangan pemeriksaan,tapi di luar tidak ada Asisten Le.
Satpam yang berjaga segera menghampiri mereka.
"Tuan,Pria yang datang bersamaMu,ia berpesan,untuk mengantar Nona ini untuk pulang,karena ia ada urusan mendadak Bos nya harus di operasi jadi Dia buru-buru ke rumah sakit!"
Ujar Satpam.
"Terimakasih pak!"
Satpam itu mengangguk nya.
"Maaf merepotkan Tuan Bara!"
Ucap Dinda,mereka segera kembali ke mobil.
Dinda khawatir,kalau Bara sudah tahu semua nya,namun melihat reaksi Bara yang biasa-biasa saja,sedikit membuat Dinda lega.
"Siapa nama panjang Mu?"
Tanya Bara,di sela-sela diam nya mereka.
"Dinda Kanya Dewi!"
Jawab Dinda singkat.
Bara terkejut,ia melirik ke arah Dinda,namun wanita ini tetap fokus melihat ke depan,tanpa memperdulikan Bara yang ada di samping nya.
"Aku melihat cincin Mu,apa Kamu sudah menikah?"
Tanya Bara,
"Sudah!"
Jawab Dinda singkat,
"Siapa pria itu ?kenapa tidak ikut pergi bersama dengan Mu?"
Tanya Bara yang penasaran.
"Itu,Pria brengs*k dan juga kurang aj*r,ia sudah menikah dengan Ku,tapi masih mengingat Wanita lain,yang seperti itu tidak baik di pertahan kan!"
Cibir Dinda,sengaja memaki Bara agar kemarahan nya terlampiaskan.
"Apa Kamu segitu bencinya sama Dia?"
Tanya Bara,
"Iyah"
Jawab Dinda.
Tanpa terasa,perjalanan Mereka telah sampai di rumah Nadia,dan juga Dinda melihat Nadia baru saja di antar oleh Marvel.
"Din,untuk obat nya besok akan saya kirim ke alamat Mu!"
Ujar Bara,
"Terimakasih Tuan Bara!"
Jawab Dinda,segera turun dari mobil,tanpa menoleh ke belakang,Dinda segera masuk ke dalam,dan mobil Bara pun segera pergi.
"Napa Lo?"
Tanya Nadia saat mengetahui Dinda pulang dengan wajah cemberut.
"Heeemmm..!terjadi insiden di luar dugaan Gue!"
Jawab Dinda bersandar di sofa.
"Insiden apa?"
__ADS_1
Nadia terlihat begitu penasaran.
"Gue lagi haid,Gue lupa jadi minum jus jeruk,dan saat Gue siuman dari pingsan Gue baru sadar kalau Gue udah di tempat dokter Annisa,dan dokter itu Gue pernah datang bersama dengan Bara sebelumnya!"
Jelas Dinda memejamkan matanya.
"Kok bisa?jadi gimana,gagal rencana Kita?"
Tanya Nadia,memegang bahu Dinda.
"Rencana sih gak gagal,Gue liat tadi Bara gak respon,seperti nya ia belum tau,dan Dia nanyak Gue dah nikah,Gue bilang aja udah!"
Ketus Dinda.
"Kenapa Lo gak bohong?"
"Gak mungkin lah,Gue bohong,lagian Dia udah liat ini!"
Dinda memperlihat kan cincin nikah Dia dengan Bara.
"Ya salam!"
Nadia menepuk jidat nya.
"Kenapa gak Lo lepas?"
Tanya Nadia lagi,
"Gak bisa di lepasin tau,dah ketat kali!"
Ngeluh Dinda.
Nadia menyadarkan kepala nya di pinggiran sofa,Dinda melirik kearah jari manis Nadia.
"Lo dari mana?ini cincin dari siapa?"
Tanya Dinda yang mengangkat tangan Nadia ke atas.
"Gue habis di lamar !"
Jawab Nadia singkat.
"What the fu*k!"
Dinda kaget,Nadia nyengir kuda.
"Hiihiihi..."
Nadia terlihat begitu malu.
"Kakak Lo tau?"
Nadia mengangguk nya.
"Kok bisa begitu cepat?"
Sambung Dinda lagi.
"Gue juga gak nyangka,Dia buru-buru maksa Gue untuk nikah,padahal Gue masih mau kuliah,dan Marvel sendiri juga harus kuliah!"
Jelas Nadia,
"Jadi kenapa Lo mau bodoh!"
Marah Dinda.
"Gue minta waktu sampai lulus kuliah!"
Ujar Nadia,
"Dia mau?"Tanya Dinda.
Nadia mengangguk,Lalu Dinda memeluk Nadia.
"Selamat ya sobat Gue tersayang,akhirnya laku juga!"
Ujar Dinda.
Tuk!
Nadia memukul kepala Dinda.
"Lo katee laku,emang Gue barang,sekate-kate banget Lo ya"
"Jangan marah,ayo peluk Gue!"
Nadia merajuk,Dinda segera memeluk sahabatnya.
__ADS_1