Istri Kecil Tuan Bara

Istri Kecil Tuan Bara
Penangkapan Amel.


__ADS_3

Dinda menaikan satu alis mendengar perkataan Amel.


"Bukti semua udah ada di tangan Ku!"


Ujar Dinda memperlihatkan bukti berupa flashdisk.


^^^Pak!^^^


Amel ingin merebut barang bukti di tangan Dinda,namun secepatnya,Dinda menepis tangan Amel.


"Belum menyerah juga?"


Tanya Dinda,


"Kamu pikir Kamu bisa berbangga,sekarang Bara berpihak kepada Mu?Aku tidak kan menyerah,Aku akan membuat Kalian bercerai!"


Teriak Amel .


PLaak!


Dinda menampar Amel dengan keras,lalu Amel berdiri ingin membalas nya,Dinda berhasil menghindar.


Plak


Plak!


Dua tamparan itu kembali melayang di pipi kanan dan kiri Amel.


"Kamu sudah banyak menipu Ku,hari ini Aku akan membuat hidup Mu menderita!"


Pungkas Juragan Bahron.


"Kalian semua sekongkol untuk menjebak ku,apa yang Dia berikan kepada Mu tua Bangka,sehingga Kau mau membantu Wanita ini!"


Teriak Amel.


Plak!


Juragan Bahron menampar Amel,sehingga membuat Wanita ini tersungkur kelantai.


"Pak,itu mereka,dan wanita yang di lantai itu pelaku nya!"


Ujar Bara,Dinda segera melirik ke arah sumber suara.


"Mas!"


Bara datang bersama dengan beberapa orang polisi,ada Haikal di belakang polisi.


"Nona Amel,mari ikut Saya ke kantor,Anda terjerat beberapa pasal dalam kasus ini!"


"Tidak,Aku tidak bersalah,Mereka semua menjebak Ku!"


Teriak Amel,memberontak saat polisi memegang tangan nya.


"Jelaskan di kantor saja!"


"Kalian tidak bisa melakukan ini kepada Ku,Aku akan membalas nya!"


Teriak Amel lagi.


"Balas saja kalau Kamu bisa!"


Ujar Haikal tersenyum sinis.


Haikal sudah mengatur semua nya,termasuk tahanan yang akan menyiksa Amel di dalam penjara nanti.


Amel terus saja memberontak,namun polisi segera menyeret nya masuk ke dalam mobil.


"Akhirnya selesai juga masalah nya !"


Ujar Haikal.


"Juragan Bahron terimakasih atas bantuan Anda !"


Ucap Dinda dengan senyuman.


"Kondisi kan senyuman Mu,nanti Dia tergoda!"


Bisik Bara yang cemburu,segera memeluk pinggang Dinda.


"Sama-sama,Saya permisi dulu!"


Dinda mengangguk nya.


Setelah Juragan Bahron pergi,Dinda langsung menggoda suaminya.


"Ciieee...cemburu ya?"


Goda Dinda mencubit ke dua pipi Bara.


"Mas,dimana Arrayan?"


Tanya Dinda yang baru sadar keberadaan Anak itu.


"Ada di kamar Kak Ipar!"


Jawab Nya,kembali membalas cubitan di pipi Dinda.

__ADS_1


"Kalian ini bikin iri aja!"


Sambung Haikal yang memalingkan wajahnya.


"He..he..he.."


Mereka berdua hanya tersenyum saja melihat sikap Haikal.


"Ayo Kita jemput Arrayan ke buru datang Ricko nanti!"


Dinda mengangguk nya,Haikal pun ikut dengan Mereka menuju kamar Haikal.


"Tan..Tante bangun...."


Arrayan menangis di dalam kamar Haikal.


Dinda dan yang lain baru saja tiba di depan kamar Haikal.


"Tunggu,Kalian dengar gak seperti ada suara anak kecil nangis!"


Bara mendekatkan telinga ke daun pintu.


"Itu suara Arrayan !"


Sahut Dinda.


Ceklek !


Haikal segera masuk ke dalam kamar dan di ikuti oleh Bara dan juga Dinda.


"Arrayan !"


Panggil Dinda,Anak itu segera berlari dan memeluk Dinda.


"Wulan...Wulan bangun!"


Teriak Haikal,melihat istrinya yang pingsan di lantai.


"Apa yang terjadi?"


Tanya Bara,


"Arrayan gak tau om,tiba-tiba Tante pingsan!"


Hiks..hiks..


"Udah tenang ya sayang,Tante gak pa-pa,Arrayan jangan nangis lagi ya?"


Arrayan mengangguk nya,Dinda menyeka air mata Arrayan.


"Ayo angkat Kak ipar ke ranjang,Aku akan mencoba mencari minyak angin !"


Ia meletakan nya dengan perlahan agar tidak menyakiti sang istri.


"Kak,coba bikin Kak ipar nyium ini,semoga bisa membantu!"


Ujar Bara,memberikan sebotol minyak angin.


Dinda juga membantu mengusap telapak tangan dan kaki Wulan.


"Aaakkhh!"


Wulan siuman,dan memegang kepala nya.


"Sayang!apa yang terjadi apa semua baik-baik saja?"Tanya Haikal panik saat Wulan siuman.


"Aku baik-baik saja,hanya mual dan pusing saja!"


Cetus Wulan,masih terlihat begitu lemah.


"Kak ipar istirahat saja,kami akan membawa Arrayan pergi!"


Dinda memberi pengertian.


"Kalian gak perlu panik,Aku gak pa-pa,ini biasa terjadi bagi ibu hamil!"


Pungkas Wulan,Haikal kaget.


"Sayang,apa yang Kamu katakan ?"


Tanya Haikal tidak percaya.


"Ia mas,Aku hamil!"


Wulan menarik laci nakas,lalu mengambil tespack dan menunjukan itu kepada Haikal.


Haikal cukup bahagia,mata nya berbinar-binar,bahkan ia cukup gembira.


"Sayang ...terimakasih!"


Haikal memeluk istri nya dengan erat.


"Kak selamat !"


Dinda memberi selamat sambil ia tersenyum,Dinda ikut bahagia dengan kabar itu.


"Kak ipar selamat ya!"

__ADS_1


"Makasih Bar,semoga kalian bisa cepat nyusul ya?"


Bara mengangguk nya,namun wajah nya menunjukan senyuman kecut.


"Kami kembali ke kamar dulu!"


Bara segera pergi meninggalkan kamar Haikal dengan wajah suram nya.


Sepanjang jalan Dinda melihat Bara yang terdiam saja,tidak berbicara,bahkan Dinda dapat melihat perubahan sikap Bara.


Ceklek!


Bara dan Dinda masuk ke dalam kamar,Arrayan juga ikut bersama dengan Mereka.


"Mas,apa yang terjadi?"


Tanya Dinda saat Bara duduk lesu diatas sofa.


"Enggak!ada apa-apa!"


Sahut Bara,memejamkan matanya.


"Katakan!"


Dinda memaksa agar Bara mau berbagi kesedihannya dengan Dia.


"Aku enggak pa-pa,Aku akan istirahat di kamar,Kamu tunggu Ricko datang,katanya lagi dalam perjalanan kemari!"


Ujar Bara,lalu pergi meninggalkan Dinda di sofa.


Baru saja Bara berlalu ke kamar,ada suara ketukan pintu dari luar.


Tok..tok...tok..


"Iya !"


Sahut Dinda,yang beranjak ke depan.


Ceklek!


"Paman !"


Ricko tersenyum.


"Papa...."


Arrayan berlari ke dalam pelukan Ricko.


"Apa Dia menyusahkan kalian?"


Tanya Ricko,masih berdiri diambang pintu.


"Tidak Dia cukup baik dan penurut!"


Dinda membelai rambut Arrayan.


"Aku akan membawa nya pergi,terimakasih sudah menjaga Anak Ku!"


"Sama-sama,Paman juga sudah membantu Kami!"


"Kalau begitu Kami pergi dulu!"


"Da..dah..mama Dinda "


Dinda melambaikan tangan nya ke arah Arrayan yang sudah berlalu bersama dengan Ricko.


Blam!


Dinda kembali menutup pintu kamar,dan menguncinya.


Dinda segera masuk ke kamar untuk melihat keadaan suaminya.


"Mas!"


Dinda duduk di tepi ranjang,membelai rambut suaminya.


"Eemm..".Sahut Bara,yang masih enggan untuk melihat Dinda.


"Apa yang terjadi?"


Bara segera duduk,karena tidak tega mengabaikan sang istri yang terus saja merengek di depannya.


"Aku gak pa-pa,mana Arrayan,apa Ricko sudah menjemputnya?"


Tanya Bara,membelai wajah Dinda.


"Mas,Aku tau ada masalah yang Mas sembunyikan dari Ku,gak sah mengalihkan pembicaraan !"


Tegas Dinda yang mulai kesal.


"Aku gak pa-pa!"


Cetus Bara lagi.


"Gak pa-pa,tapi raut wajah mu itu gak bisa di sembunyikan!"


Ujar Dinda.

__ADS_1


"Mas,iri dengan kehamilan Kak Wulan?"


Pertanyaan Dinda membuat Bara terkejut.Ia sadar kalau dirinya salah bersikap begitu kepada Dinda,namun ia juga tidak bisa menyembunyikan keinginan nya untuk memiliki seorang Anak.


__ADS_2