
Bara berdiri di teras rumah nya,ia melihat rumah nya sudah sepi,semua orang sudah tidur,makanya semua lampu mati.
Bara segera mengeluarkan kunci cadangan di dalam saku celana nya.
Ceklek !
Bara berjalan ke arah tangga.
Klik !
Lampu ruangan tengah tiba-tiba menyala,Bara menghentikan langkah nya,ia melirik ke arah kanan,disana ada Haikal yang sedang berdiri menatap nya,dengan segelas minuman di tangan nya.
"Baru pulang ?"
"Iya!"
Sahut Bara.
Haikal mendekati Adik nya yang berdiri di depan pintu utama.
"Kamu minum?"
Haikal mencium aroma minuman sangat menyengat dari tubuh Bara.
Bara tidak menjawab,lalu Haikal memegang bahu Adik nya.
"Apa yang terjadi?curhat sama Kakak!"
Haikal menatap Adik laki-laki nya yang begitu hancur,ia yakin pasti telah terjadi sesuatu kepada Nya.
"Ayo,ikut Aku!"
Haikal menarik tangan Bara,ia menyeret Pria itu ke ruangan makan.
"Duduk !"
Titah Haikal,Bara tidak menjawab ia segera duduk.
Haikal mengeluarkan dua botol minuman soda dari dalam lemari es.Lalu ia memasukan sebutir obat yang ia yakini dapat membangkitkan gairah s ex seseorang bila meminum nya.
"Nih minum dulu,setelah itu baru tidur,pelan-pelan cerita ama Kakak !"
"Makasih !"
Sahut Bara yang masih sedikit pusing.
"Katakan apa yang terjadi!"
Ke dua nya mulai meneguk minuman kaleng yang bersoda itu.
"Amel investor di proyek Tuan Chau,adalah Aira!"
Ujar Bara.
Haikal Terkejut.Lalu ia menatap adiknya dengan tajam.
"Apa Dia yang membuat Kamu mabuk?"
Bara menggeleng.Bara segera menceritakan semua nya kepada Haikal.
"Begitu lah kira-kira cerita yang sebenarnya,Aku sudah tau semua nya,Kakak yang menyebabkan Dia harus operasi wajah nya!"
Pungkas Bara.
"Apa Kamu marah sama Aku?"
Tanya Haikal.Bara menggeleng.
"Aku gak marah,hanya aja Aku sudah banyak menyakiti Dinda,Aku tidak dapat membayangkan jika Aira nekat menyakiti Dinda seperti sebelum nya!"
Bara merebahkan kepala nya di atas meja.
__ADS_1
'Obat itu akan bekerja satu jam lagi!'
Haikal melihat Bara yang tengah mabuk,di tambah lagi dengan minuman bersoda yang ia berikan.
"Alan juga sudah menyelidiki latar belakang Amel,ada banyak Pria hidung belang yang membantu ka sampai se sukses ini,bahkan masih ada satu pria yang masih terikat dengan Nya,ia menjadi simpan para Pria itu sekarang"
Jelas Bara,Haikal mengangguk nya.
"Jadi Kamu minum-minum dengan Alan?bukan dengan wanita itu?"
"Iya !"
Sahut Bara.
"Kamu harus kembali ke kamar,Dinda sedang menunggu Mu!"
Ujar Haikal yang berdiri.
"Aku takut Dinda marah,mungkin ia sudah tau kalau Aku pergi menemui Amel!"
"Kamu harus menyelesaikan masalah Mu dengan Dinda,apapun yang terjadi Dia istri Mu,Dia tidak mungkin marah!"
Bara mendongakkan kepala nya,menatap Haikal dalam keadaan mata nya yang setengah terpejam.
"Aku ke kamar dulu!"
Ujar Bara,Haikal kembali mengangguk nya.
Sampai di tangga,Bara merasakan dirinya sedikit pusing.
"Tetap semangat Bar,semoga malam mu indah!"
Ucap Haikal yang berlalu ke kamar nya.Bara tidak menjawab ia sedang menghitung anak tangga agar tidak salah menginjak.
Ceklek !
Bara membuka pintu kamar,di dalam kamar lampu masih menyala,hanya saja Dinda sudah tidur dan membelakangi Bara.
Bara melepaskan sepatu nya,lalu ia melepaskan jas milik nya,membuangnya sembarangan tempat .
Bara naik ke atas ranjang,masuk ke dalam selimut,yang saat ini sedang di gunakan oleh Dinda.Ia memeluk Dinda dari belakang.
Dinda terbangun,saat tangan Bara melingkar di pinggang nya.
"Maaf!"
Lirih Bara yang memejamkan mata nya,mempererat pelukan nya.
"Maaf,Aku sudah banyak menyakiti Mu,Aku belum bisa menjadi suami yang baik untuk Mu,maaf kan Aku Dinda !"
Sambung Bara lagi,mendengar isak tangis Bara,Dinda menoleh.
"Mas,Kamu minum?"
Tanya Dinda,saat ia mencium aroma tubuh Bara begitu menyengat.
"Alan mengajak Ku minum!"
Dinda segera bangun,saat mendengar jawaban sang suami.
"Mas,Aku tau,Kamu pergi menemui perempuan itu,berhenti untuk membohongi Ku!"
Ujar Dinda yang duduk di dekat Bara,begitu juga Bara ikut duduk di sebelah Dinda.
Bara menyenderkan kepala nya di bahu Dinda.
"Mas memang benar menemui Dia,tapi itu hanya sebentar,lalu Alan mengajak bertemu di bar,jadi mas ikut minum!"
Ujar Bara,Dinda juga merasa kalau saat ini suami nya berkata benar.
"Katakan,kenapa Mas bertemu dengan Wanita itu?"
__ADS_1
Dinda mengerucutkan bi bir nya.
"Kita harus hati-hati wanita itu,bukan wanita baik-baik,ia akan melakukan berbagai cara untuk memisahkan Kita,Dia adalah Aira!"
Pungkas Bara,
"APaaaa?"
Dinda bergeser menatap Bara,
"Itu juga Dia mengaku sendiri,tapi yang terpenting saat ini hanya ada Kita berdua sayang tidak ada yang lain!"
Bara memeluk tubuh Dinda,saat ini Bara sedang mabuk,belum lagi sebentar lagi,obat yang di berikan Haikal segera bekerja di dalam tubuh Bara.
"Sayang,Aku pengen ...!"
Rengek Bara,berbisik di telinga Dinda.
Wajah Dinda merona.
"Mas,Kamu sedang mabuk,Ayo Aku bantu lepaskan baju,Aku akan bersihkan tubuh Mas dengan air!"
"Mas gak mabuk karena minuman,tapi mas mabuk karena wajah Mu sungguh manis,membuat mas ingin segera tenggelam dalam perahu cinta MU!"
Gombal Bara yang setengah sadar.
"Ayo,berbaring duduk!Aku bantu lepaskan kemeja nya!"
Dinda segera membantu Bara berbaring,lalu ia membuka kancing kemeja Bara satu persatu sampai selesai.
lalu melepaskan nya,begitu juga dengan celana nya,hanya tersisa celana pendek nya.
"Minum dulu!"
Dinda memberikan air mineral untuk Bara,yang ia bawa masuk tadi sebelum tidur.
"Mas istirahat aja !Aku akan mematikan lampu karena Mas sudah pulang !"
Klik !
Lampu kamar sudah di matikan oleh Dinda hanya tersisa lampu tidur saja,Bara tidak menjawab,ia sudah memejamkan mata nya.
Dinda membelai wajah suaminya dengan lembut,lalu mengecup kening Bara.
"Kalau sedang mabuk,kamu sungguh gemes Sayang !"
Ujar Dinda,masih membelai wajah tampan sang suami.
Pak !
Bara memegang tangan Dinda yang dari tadi mengelus wajah Bara.
"Mas,Kamu belum tidur?"
Tanya Dinda,saat Bara memegang tangan nya.
"Bagaimana Aku bisa tidur,Kamu terus saja membelai wajah ku,Kamu sengaja menggoda Ku ya?"
Bara berbalik tanya.
"Gak!"
Sahut Dinda.
Bugh!
Bara menggantikan posisi nya,kini tubuh nya berada di atas tubuh Dinda.
'Sial,kenapa tubuh Ku terasa begitu panas!'
"Ada apa?"
__ADS_1
Tanya Dinda,saat melihat raut wajah Bara yang memerah.