
Lelaki tersebut gemetar tak karuan.
"Saya mohon maaf bu, saya mengaku salah," laki-laki itu menghiba setengah bersujud.
" Ini ada apa.?"
Ibu paruh baya tersebut sedikit aneh dengan kehadiran Kinara beserta teman-temannya.
"Ia buk, saya sengaja membawa teman saya untuk minta maaf sama ibu atas kejadian kemarin, dan juga dia bilang dia mau bertanggung jawab." Ucap Kinara.
Laki-laki itu sontak mengangakat kepalanya terkejut dengan kata terakhir dari Kinara namun dia hanya bisa pasrah.
Kemudian Kinara merabai saku dari lelaki tersebut.
"Dia siapa sih.?? Kenapa juga Kinara menuntutnya minta maaf pada ibu itu, dan tanggung jawab.? Tanggung jawab apa,?" bisik Bayu pada Rayhan amat penasaran. Begitu juga dengan Aman.
"Lelaki itu nyerempet ibu ini dan dia pergi begitu saja tanpa bertanggung jawab." Bisik Rayhan.
"Ooo" Aman.
"Dari mana loe tau.??" Heran Bayu.
"Ceritanya panjang lain kali gue ceritain." Seketika mereka terdiam tanpa kata dan saling menyenggol saat Kinara menatap jahat pada ketiganya.
"Mana duit loe ??" tanya Kinara setengah berbisik.
"Disaku depan." Jawabnya.
Kinara menarik satu persatu lembaran kertas dari saku lelaki tersebut.
Lembaran duapuluh ribu sebanyak dua lembar sepuluh ribu dua lembar dan pecahan lima ribu sebanyak tiga lembar.
"Iiicc , ada yang lain ??" Tanyanya sambil menyeringat.
"Satu lagi, gue rasa terselip dibawah".
Kinara mendadak ngeri bila harus memasukkan tangannya disana.
"Ambilin,!!" suruh Kinara malas.
"Gak bisa tangan gue diikat." Memang sejak tadi Kinara mengikat tangan lelaki tersebut.
Kinara melepaskan kain yang dia ikatkan. Lalu dengan leluasa lelaki itu mengambil lembaran yang dia maksud.
Lelaki itu, dengan gemetar memberikan lembaran yang tersisa yang ia ambil dari saku celananya, yang tampak begitu kucel dan lecet. Lembaran terakhir itu nominalnya 2 dengan tiga angka nol dibelakangnya.
"Ccckk." Decak Kinara kesal. "Nih gue gak butuh, jadi cowok kerenya minta ampun." Kinara memberikan kembali lembaran yang dengan susah payah mengambilnya.
__ADS_1
Kemudian Kinara mengeluarkan beberapa pecahan seratus ribu dari saku celananya untuk diberikan pada ibu paruh baya tersebut.
"Maaf ya bu, saya jamin dia tidak akan mengulanginya kembali, dan ini sebagai rasa tanggung jawabnya."
"Tidak usah nak, saya juga sudah lebih baik." Ibu itu menolak lembaran yang Kinara berikan.
"Saya mohon ibu terima ini" paksa Kinara
"Baiklah saya terima, terima kasih, Nak. Sekarang adek bangun," kemudian lelaki itu mengikuti permintaan ibu tersebut.
"Sebenarnya kalian tidak perlu datang ke sini untuk minta maaf, ibu sudah maafin teman kalian tanpa kalian minta pun." Ucapnya lembut ibu tersebut.
"Terimakasih bu," lelaki itu dengan bahagia menyalami ibu dihadapannya.
Ditengah-tengah itu.
"Permisi bu apa saya boleh izin ikut ke wc sebentar ??" tanya Rayhan, selengehan.
"Boleh Nak silahkan" ibu tersebut mengantar Rayhan setelah mempersilahkan lelaki yang menyerempetnya berpamitan untuk pulang"
"Woi, ingat perjanjian kita sebelum balapan, kalo loe masih melakukan itu gue pastikan sisa hidup lu berakhir di rumah sakit." Teriak Kinara pada orang yang pergi setengah ketakutan.
"Iya Kinara gue duluan ya gue buru-buru soalnya ada keperluan penting." Pamit Bayu. Belum juga Bayu beranjak dan pergi, Aman menerima telpon yang mengharuskannya pulang cepat.
"Mmm" Aman sedikit tidak enak untuk mengucapkan kata-katanya.
"Gue pulang dulu ya, gue .. Yasudahlah, gue duluan." Aman kemudian pergi bersama bayu dan....
"Wooooyy," teriak Rayhan yang baru keluar dari Wc. "Sial gue ditinggalin lagi" Rayhan mengacak rambutnya kesal.
Semetara Kinara tengah mengunci helemnya juga bersiap untuk pergi.
"Loe.? Gue ?." Rayhan menunjuk Kinara lalu menunjuk dirinya bergantian. "Loe. bonceng gue ckkkk" Rayhan berdecak kesal dan tak percaya.
"Sorry gue gak niat muat loe," Kinara mengeluarkan wajah angkuhnya. Lalu menyalakan starter motor bersiap pergi.
"Terus gue.??" Tanya Rayhan dengan wajah seribu kesal.
"Terserah loe. Bukan urusan gue," Kinara memarkirkan motornya keluar dari pekarangan.
"Woyy. Perempuan aneh loe mau ninggalin gue disini, gak kasian lu sama gue, ??"
Mendengar teriakan Rayhan lantas Kinara berhenti.
Segera Rayhan mendatangi Kinara.
"Turun loe. !!"
__ADS_1
Kinara menatap kesal pada Rayhan.
"Gue yang bawa, gak sudi kali gue dibonceng perempuan, mata loe nyeremin banget sih." Ucap Rayhan sambil mengambil alih kemudi. "Untung loe cantik kalo nggak seumur-umur gak ada yang bakalan mau sama loe" gumam Rayhan.
Sedangkan Kinara sedari tadi hanya diam tanpa menanggapi ocehan Rayhan, walau sebenarnya Kinara ingin sekali mencakar kepala Rayhan.
"Ehhh gue lupa. SIM gue di bagasi motor Bayu hehe," Rayhan tersenyum kikuk. Kinara tampak membuang tatapan kesalnya atas perilaku Rayhan, kemudian Kinara kembali mengambil alih kemudi.
"Loe ??"
Kinara mengangkat kepalanya untuk menoleh Rayhan yang masih berdiri dibelakangnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Rayahan membuka jaket dan memberikannya pada Kinara "Nih pake, udah sore dingin."
Kinara menatap mata laki-laki yang tengah menawarkan jaket padanya, Kinara ingin melihat keseriusan darinya.
Saat itulah mata mereka bertemu dan saling menatap lekat, hingga keduanya menyadari getaran yang memacu jantung berdetak lebih cepat.
Tatapan keduanyan pecah saat tanpa sengaja seseorang melewati mereka dan berdehem (batuk kecil), seketika membuat Rayhan memalingkan wajah gugupnya, namun lain dengan Kinara wajahnya tetap datar tanpa expresi.
"Perlu gue pakein.??" Rayhan tersenyum penuh ekpresi. Dibalas dengan wajah datar dari Kinara, "Gue bisa sendiri," menerima jaket Rayhan lalu memakainya.
"Ini cewek kenpa expresinya datar begitu, baru kali ini gue nemu perempuan yang nampak biasa saja bahkan seakan tanpa expresi ketika bertatapan dengan gue, dan Rayhan mengingat kembali saat Kinara menamparnya apa dimatanya gue terlihat begitu biasa,?? padahal jika ciuman itu perempuan lain yang menerimanya, gue yakin dia bakal meloncat riang saking bahagianya dan pasti akan membanggakan diri dihadapan perempuan lain, benar-benar perempuan aneh," fikir Rayhan.
Sesekali Rayhan mencuri menatap Kinara lewat kaca sepion, dia tampak begitu cantik dengan keseriusannya tetap fokus dengan kemudi.
pov *Ki**nara*
"Kenapa suasana ini begitu canggung".
"Ngapain kita ke sini.??" Tanya Rayhan sambil melihat sekeliling.
"Gue mau nemuin kakak gue. Loe, pulang aja sekalian bawa ini motor, tenang gak akan ada rajia kok lagian jaraknya cukup dekat." Kinara membuka helemnya dan beranjak.
"Tunggu !!" seketika Kinara berbalik.
"Muka loe.?? Kinara menyentuh pelipisnya yang terdapat darah dan mulai mengering.
"Udah gak papa kok cuma luka dikit aja" Kinara berbalik pada tujuannya dan beranjak namun tangannya ditahan Rayhan.
"Gue obati dulu" Rayhan turun dari motor membuka tas kemudian mengabil tisu basah untuk menghapus bekas darah diwajah Kinara.
Rayhan menyimbak rambut diwajah Kinara, Kinara meringis karena merasa perih, lalu Rayhan meniup lembut pada luka kinara. "Maaf sakit ya,??" Lagi-lagi Rayhan meniup lembut pada luka Kinara.
Dari kejauhan Rayhan tampak begitu memperlakukan Kinara dengan baik.
"Tunggu sebentar jangan bergerak,!!" Rayhan mengambil plester dari tasnya, lalu menempelkannya pada pelipis Kinara yang terluka.
__ADS_1
"Terima kasih" Kinara tersenyum manis kepada orang yang tengah mengobatinya. Lalu Rayhan pun membalas dengan senyum tulus.