Istri Terbaik Pilihan Ayah

Istri Terbaik Pilihan Ayah
kejanggalan


__ADS_3

"Ray. Aku mohon jangan batalkan pernikahan kita." Kinara hendak memegang kembali kaki Rayhan, namun Tiba-Tiba kepalanya kembali sakit dan pandangannya kabur.


"Heeukkhh." Ringis Kinara sambil memegangi kepalanya, tubuhnya oleng kekiri dan kanan.


Rayhan mendatangi Tamara yang tengah pingsan, Pura-Pura pingsan.


Rayhan mendukung/menggendong Tamara dan membawanya kedalan mobil.


Kinara.


Tubuhnya semakin lemas, kaki bergetar lemah, kepala pusing, matanya semakin kabur, itulah yang dialami Kinara saat ini.


Kinara mencoba kembali berdiri dan menghadang Rayhan yang tengah mendukung/menggendong Tamara.


Walau sempat ketinggalan Kinara tetap berusaha mengejar Rayhan sampai keluar dari lorong dengan gelap remang-remang tersebut.


Kinara merentangkan tangannya, menahan Rayhan. "Aku mohon.


Menikahlah walau terpaksa, lakukan ini demi kak Indra."


"Aku tidak akan menarik kembali ucapanku." Ucap Rayhan tanpa menoleh wajah Kinara, namun sekilas Rayhan melihat warna merah telah mewarnai pakaian putih yang dikenakan Kinara.


Rayhan berlalu meninggalkan Kinara.


Kekecewaan telah membutakan mata hati Rayhan, hingga membuatnya tak bisa melihat mana yang salah dan mana yang benar.


"Sempurna." Batin Tamara. Dengan seratus persen kesadaran, dalam hatinya Tamara tak henti tertawa, menang.


"Ternyata cukup mudah menipumu Rayhan, haha. Goodbye Kinara. Dan selamat untuk kehancuran rencana pernikahan kalian." BatinTamara tertawa puas.


Kinara tertelungkup lemas, matanya yang semula kabur kini benar-benar gelap tak berwara.


Brruugghhh..


Kinara pingsan. Orang-Orang yang kebetulan berada ditempat itu segera mengerumuni Kinara.


..


Rayhan..


Setelah memasukan Tamara kedalam mobil, Rayhan segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Dari kaca spion sekilas Rayhan melihat Orang-Orang yang berhamburan mengerumuni sesuatu, namun Rayhan tidak terlalu memperdulikan hal tersebut, ia lantas menggas mobil berwarna merah itu meninggalkan tempat kejadian.


...


Fahmi.


Sebelumnya.


"Kinara..?? Kenapa kamu tidak mengangkat telpon kamu.??" Fahmi nampak begitu gelisah.


Fahmi, dia tidak mengerti mengapa malam ini dirinya begitu menghawatirkan Kinara.


Fahmi terus menelponi Kinara, dan berharap saat ini Kinara baik baik saja.


Sejak beberapa menit yang lalu Fahmi masih mondar mandir tak jelas didepan mobilnya cemas menunggu jawaban Kinara.


Berkali-kali Fahmi mengecek layar handphone, "Berdering" hanya itulah yang bisa Fahmi lihat.


"Seharusnya Kinara masih ditempat latihan, tapi kenapa dia tidak mengangkat panggilan ku.??" Fikir Fahmi cemas.


Tak lama kemudian, Fahmi segera melajukan mobilnya menuju tempat dimana dirinya dan Kinara biasa melatih .

__ADS_1


"Guru Kinaranya sudah pergi sejak tadi dan sampai sekarang belum kembali." Jawab seorang anak Laki-Laki, murid Kinara.


"Apa..??." Fahmi terkejut dengan pernyataan anak laki-laki itu. "Apa guru memberi tau mau pergi kemana,?? dan apa guru ngasih tau kalian kapan dia akan kembali.??"


Fahmi semakin dibuat cemas tak tentu.


Anak tersebut hanya menaikan kedua belikatnya. "Tidak tau guru, Guru Kinara tidak bilang Apa-apa, tapi barang-barang Guru masih disitu." Anak lelaki tersebut menunjuk tempat Kinara menaruh barang-barangnya.


"Sejak kapan guru pergi.??" Tanya Fahmi, tak sabar menunggu jawaban.


"Sekitar satu jam yang lalu."


"Satu jam.??" batin Fahmi.


"Terimaksih dek, kalo gitu Guru permisi dulu."


Setelah anak itu menganggukinya, Fahmi segera bergerak, dan terlebih dahulu mengambil barang-barang Kinara.


"Kinara..??" Teriak Fahmi berulang-ulang.


"Buk, Pak. Apa Ibu dan Bapak melihat perempuan ini..??" Fahmi menunjukan sebuah photo dihandphonenya.


"Tidak. Tidak "


Jawaban tersebut telah beberapa kali Fahmi dengar namun Fahmi belum menyerah.


Dia terus berjalan mencari keberadaan Kinara, kakinya sudah terasa sangat pegal namun Fahmi pantang menyerah sebelum menemukan Kinara.


Fahmi berhenti sebentar, dia membungkukan badannya untuk sejenak mengatur nafas.


Tanpa sengaja Fahmi melihat Orang-orang tengah berkerumun ditepi jalan.


Fahmi menegakan tubuhnya. "Apa yang mereka kerumuni.??" Fikir Fahmi.


Fahmi mencoba masuk untuk menyelidiki hal tersebut. Namun pagar manusia itu terlalu padat hingga Fahmi kesulitan untuk menyela'i mereka.


Karena merasa tidak terlalu penting Fahmi berbalik dan hendak meninggalkan kerumunan.


Namun langkahnya terhenti saat tanpa sengaja mendengar desas desus Orang-Orang yang tengah berkerumun.


"Apa kita perlu membawanya kerumah sakit..?? Tanya "A"


"Apa dia korban tabrak lari,?? kenapa tergeletak disini.?? Tanya "B".


"Apa dia membawa kartu identitas.??" "C".


"Sepertinya dia tidak membawa apa-apa." Ucap "A".


Fahmi hendak kembali melangkahkan kakinya. Tapi kembali terhenti saat...


"Dari logo dipakaiannya aku rasa dia Mahasiswi kampus "B"."


Degg..


Hati Fahmi seperti diremas, Fahmi menghentikan langkahnya dan segera berbalik.


Fahmi menyingkirkan satu persatu orang yang tengah berkerumun dibawah remangnya cahaya yang menerangi jalanan.


Tubuh Fahmi bergetar dan jantungnya berpacu cepat ketika melihat seorang perempuan tergeletak dengan rambut menutupi wajahnya.


Fahmi bergetar, hatinya menolak meyakini perempuan tersebut adalah Kinara.


Keadaan sekitar cukup gelap sehingga menyulitkan Fahmi mengenali perempun tersebut, terlebih wajah perempuan tersebut ditutupi rambut hitamnya.

__ADS_1


Fikirannya mencoba berdamai dengan hati yang terus bergejolak tak tentu.


Fahmi mencoba menyibak rambut yang menutup wajah perempuan yang tergeletak itu.


Fahmi terbelalak, matanya melebar mulutnya ternganga hebat. "Kinara." Fahmi segera memangku kepala Kinara dan menggoyang-goyangkan tubuhnya. "Kinara, Kinara. Bangungun, dek. Kinara.??"


Kecemasan Fahmi semakin menjadi. "Kinara, Kinara." Fahmi terus mencoba menyadarkannya.


Tak terasa Butir-Butir bening mulai menetes membasahi wajah Kinara.


Sayu-Sayu Kinara sedikit kembali sadar, bibir lemahnya masih mencoba mengucapkan. "Aku mohon, aku mohon."


"Kinar, Kinar," Fahmi kembali menggoyang-goyangkan tubuh Kinara.


Namun kini Kinara kembali tak memberi respon.


"Siap kan mobil, cepat.!!." Bentak Fahmi pada Orang-Orang yang sedari tadi hanya menonton dan terkesima.


"Kinara, Kinara bangun dek, kamu harus bangun." Fahmi menaikan tubuh Kinara pada mobil pickup, yang akan membawanya ke rumah sakit.


Fahmi semakin cemas dan khwatir ketika tak mendapat respon dari Kinara.


"Kenapa aku harus terlambat, kenapa, kenapa.??" Fahmi meremas rambutnya kecewa.


Fahmi menepuk-nepuk kecil wajah dipangkuannya. "Kinara, aku mohon bangunlah, dan lihatlah kakak ada disini, kakak mohon, kakak mohon, kamu harus kuat, kakak tau kamu perempuan kuat, kakak mohon bangunlah." Fahmi menyeka air matanya yang tercucur deras.


"Pak cepat pak." Teriak Fahmi.


....


Ryahan.


Dia berdiri disamping dokter yang tengah mengecek kondisi Tamara.


Setelah selesai, Dokter tersebut meminta Rayhan untuk mendatangi ruangannya.


Rayhan menarik kursi kemudian duduk berhadapan dengan Dokter.


Dokter tersebut nampak merogoh map berwara coklat, melihat hasil CT scan yang baru diserahkan suster padanya.


"Heeeuum." Dokter menarik nafasnya lega.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, tidak ada luka berarti pada tubuh pasien, Tamara.


Malam ini juga sudah boleh pulang." Dokter menyerahkan map tersebut untuk Rayhan lihat sendiri hasilnya.


Rayhan menerima map tersebut, kemudian pamit undur diri.


Rayhan berdiri sejenak melihat CT scan yang diserahkan dokter tadi, fikirnya ada yang janggal dalam hal ini.


Rayhan masih fokus pada map ditangannya hingga tak menyadari Fahmi baru saja melewati lorong tempat Rayhan berdiri.


Tanpa memperpanjang semua kejanggalan yang dirasakannya, Rayhan kembali memasuki ruang rawat Tamara.


Rayhan berdiri disamping ranjang rawat Tamara.


Tamara yang awalnya tengah tersenyum bahagia sambil menatapi ponselnya. Tiba-Tiba berubah menyedihkan.


Tamara merangkul Rayhan yang berdiri disampingnya. "Ray, terima kasih sudah datang dan menyelamatkanku dari kekejaman Kinara dan teman-temannya, aku tidak tau akan seperti apa nasibku nantinya jika kau tidak datang tepat waktu, terima kasih Ray, terima kasih."


Rayhan hanya diam, dan kemudian melepas paksa pelukan Tamara.


"Kau sudah diperbolehkan pulang." Ucap Rayhan datar.

__ADS_1


Sudah baca jangan lupa like 👍👍👍 comen. ⬇️⬇️ and Happy reading❤️❤️❤️


__ADS_2