
Kediaman Fahmi.
Berpakaian rapih adalah hal wajib bagi Fahmi, Fahmi terlihat begitu tampan memakai kaos putih yang dilapisi jaket kulit berwarna hitam. Fahmi memang tampan, ketampanannya tak bisa bersembunyi dibalik sifatnya yang dingin.
Fahmi telah siap untuk pergi kekampus pakaiannya pun sudah rapih, tapi sejak beberapa menit yang lalu Fahmi masih terduduk ditepi tempat tidurnya.
Kata-Kata Sultan semalam cukup mengusik Fikiran Fahmi. "Kau akan tau saat ada seseorang yang Benar-Benar menyentuh hatimu," Kata-Kata itu terngiang-ngiang ditelinga Fahmi.
"Apa benar yang dikatakan Papa.? Benarkah cintaku kepada Kinara umpama kasih sayang seorang kakak kepada adiknya.?"
Saat tengah berfikir Tiba-Tiba Fahmi kembali teringat kepada seorang perempuan yang memberikan getaran lain saat bersentuhan dengannya, dan getaran tersebut tidak pernah ia dapatkan dari Kinara.
"Ini tidak mungkin," Fahmi mencoba menyangkal perasaannya.
Kediaman Rayhan.
PovRayhan.
Rayhan yang telah berganti dengan pakaian rapih terduduk di kursi memerhatikan bayangan cantik Kinara yang terpatul dari kaca cermin dengan posisi duduk membelakanginya.
Diperhatikannya perempuan yang tengah sibuk dengan urusan pribadinya, "Kinara, seandainya engkau bisa melihat betapa besar penyesalanku atas kejadian malam itu, aku yakin kau akan menertawakan aku yang kini berbalut penyesalan.
Kinara, aku telah dibuat kecewa oleh diriku sediri, aku akui dulu aku sangat bodoh menilaimu seburuk itu dan menganggapmu perempuan jahat, tapi kini setelah mengenalmu lebih dekat aku mulai paham ada hal lain yang membuatmu berbeda dengan perempuan lain. Aku bersumpah atas nama Tuhan, aku tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi, apapun yang terjadi aku hanya akan mendengarkan penjelasanmu, sedari dulu harusnya aku lebih percaya pada dirimu dan tak sepatutunya aku mendengarkan orang yang membencimu, Kinara maafkan aku, maafkan kebodohanku." Rayhan menepiskan wajah kecewanya kesembarang arah.
Dari cermin sekilas Kinara melihat Rayhan tengah memalingakan perhatiannya seolah mengalihkan tatapannya dari dirinya.
Setelah selesai dengan keperluan dirinya, Kinara berdiri dan berbalik dari cermin.
"Kau telah selesai Kinara,?" tanya Rayhan saat melihat Kinara berdiri dari duduknya. Kinara pun hanya menganggukinya, lemah.
Melihat Kinara menyambar tasnya Rayhan pun ikut berdiri mengikuti langkah Kinara terlebih dahulu Rayhan mengambil tas yang telah ia siapkan sebelumnya.
Saat berjalan menuruni tangga Rayhan sempat ketinggalan langkah Kinara yang telah lebih dulu menggapai pintu.
"Kinara," panggil Rayhan yang sontak menghentikan langkah Kinara.
Kinara tertegun tanpa menoleh ataupun menjawab panggilan Rayhan.
"Tidak sarapan dulu,?"
Tanpa menoleh Kinara menjawab, "Aku Buru-Buru, aku perlu pergi kerumah Kak Indra, makanlah terlebih dahulu ! aku belum lapar."
"Kau tidak mau menemaniku Kinara,?"
Kinara menggeleng, "Aku minta maaf."
Setelah itu Kinara pun pergi tanpa memperdulikan tatapan Rayhan yang masih tertuju padanya.
"Ada apa dengan Kinara, tidak biasanya dia dingin begitu," fikir Rayhan.
Rayhan sempat berniat mengejar Kinara, tapi ia fikir jika mengejar Kinara dia tidak akan sempat memakan hidangan yang telah Kinara siapkan dan mungkin Kinara akan kecewa.
Kurang lebih tiga puluh menit jarak rumah Rayhan kerumah Indra, dan kini Kinara telah berdiri didepan rumah tersebut.
Kinara menghela kasar nafasnya, "Kak Aku kangen tinggal disini."
Tiba-Tiba Kinara merasa sedih saat melihat rumah yang tak lagi ia tempati.
DI Kampus.
Melihat Rayhan datang sendirian Tiba-Tiba desas desus kembali menghinggapi Mulut-Mulut jahil mereka.
"Bener ya yang Tamara bilang, hubungan Rayhan dan Kinara memang tidak Baik-Baik saja, buktinya Rayhan kembali datang sendirian."
"Maklum namanya juga pernikahan karena perjodohan."
"Kasian ya Kinara, punya suami ganteng tapi sayangnya gak cinta sama dia."
"Miris banget ya jadi Kinara."
__ADS_1
"Gue turut prihatin atas kegagalannya menjadi perempuan yang bisa dicintai Rayhan."
"Udduuuhh kacian Kinara."
Rayhan yang mendengar Desa-Desus itu hanya tersenyum miring, "Kalian hanya tidak tau betapa aku sangat mencintainya."
Gumam Rayhan dalam hatinya.
Bagi Rayhan Desas-Desus seperti ini bukanlah masalah besar, hanya mungkin jika Kinara merasa tidak nyaman Rayhan perlu sedikit bertindak untuk menunjukan betapa besar rasa cintanya kepada Kinara, tapi untuk saat ini Rayhan belum melihat reaksi Kinara seperti apa jadi dia pun memilih diam.
Hampir satu jam Rayhan berdiri ditempatnya menunggu Kinara yang belum juga menampakan batang hidungnya, Rayhan kini mulai dihinggapi kegelisahan.
Ditengah menunggu Kinara, Tiba-Tiba Tamara dan Marisa menghampirinya.
"Ray," sapa Tamara yang berjalan kearahnya.
Ingin menghindar, tapi kemana.? Dan biarpun menghindar Tamara akan mengejarnya.
"Ada hal penting,? kalau tidak ada, maaf aku sibuk." Ucap Rayhan seolah menolak kehadiran Tamara.
"Sibuk,?? bukannya loe dari tadi cuma berdiri disitu ya, ? dan gue fikir loe tidak sesibuk itu," sahut Marisa.
"Ya memang, gue disini karena gue sedang nunggu seseorang," jelas Rayhan.
"Siapa,?" tanya Marisa.
"Ray, gue..
"Fahmi,?" Rayhan memutus Kata-Kata Tamara, dia sengaja mengalihkan perbincangannya kepada Fahmi seolah Fahmilah yang ditunggunya.
"Hei Ray," Fahmi balas melambaikan tangannya.
Rayhan segera mendatangi Fahmi untuk menghindari tamara.
"Gue lagi nunggu Kinara tapi gue gak nyaman karena Tamara Tiba-Tiba nyamperin gue. Jadi, gue mohon tetaplah disini setidaknya sampai gue melihat kedatangan Kinara."
"Ok tidak Apa-Apa terima kasih, gue juga sama kok setengah jam lagi kelas pertama dimulai."
Sepuluh menit berlalu mereka berdua hanya berdiri dan terdiam hening.
Beberapa menit kemudian Rayhan mencoba membuka suara memecah kecanggungan, "Fahmi."
Fahmi yang selalu bersikap dingin hanya mendongakkan wajahnya sekilas menatap Rayhan.
"Gue minta maaf ! gue pernah salah menilai loe," itatapnya lelaki yang sedari tadi fokus pada layar ditangannya.
"Dan gue berterima kasih karena loe, gue tidak salah paham lagi kepada Kinara."
Fahmi memasukkan handphonenya kedalam saku wajah dingin itu kemudian menyiratkan seutas senyum kepada Rayhan.
Fahmi kembali mengecek waktu dipergelangannya.
"Gue masuk dulu," ucapnya singkat.
Sambil mengambil langkahnya Fahmi menepuk pundak Rayhan, "Jaga dia Baik-Baik.!"
"Tentu," sahut Rayhan yang kemudian mengambil langkah lebar menyeimbangi langkah Fahmi dan merangkul pundaknya seraya berjalan seiringan.
Andini yang baru memasuki area parkir tertegun dengan perasaan kagum, "Kinar." Panggilnya.
"Ya," sahut Kinara sambil membuka helemnya.
"Pemandangan yang sangat indah bukan,?" ucap Andini tanpa mengalihkan tatapannya.
Melihat keakraban Fahmi dan Rayhan Kinara pun tersenyum senang, "Akhirnya antara mereka tidak ada lagi salah paham." Senyuman begitu terkembang dibibir Kinara.
Kinara beranjak menuju kelas tapi Andini sempat menahannya, "Kinara loe harus janji sama gue."
Kinara menyernyit, "Janji apa.?"
__ADS_1
"Kalo nanti Orang-Orang bicara, gue mohon jangan loe dengar ya, anggap saja angin berlalu.!" ucapnya dengan wajah Khawatir.
Seperti hari sebelumnya mereka mungkin akan kembali mencemooh hubungan Kinara yang mereka anggap bermasalah.
"Emangnya kenapa.?"
"Aduh gimana ya, jelasinnya."
"Ooh so'al pernikahan gue dengan Rayhan.?"
"Tenang, loe gak usah khawatir ! gue bisa atasi ini."
"Tapi Kinar...
"Sudah gue tidak Apa-Apa, mereka hanya tidak tau kejadian yang sebenarnya, biarkan mereka bicara ! jangan mencoba untuk menutup mulut mereka ! loe gak akan mampu, tutup telinga loe ! supaya Kata-Kata mereka tidak menganggu pendengaran loe.!"
"Kamu yakin tidak Apa-Apa.?"
Kinara menggeleng.
"Kalo ada Apa-Apa janji yah loe cerita sama gue, kita hadapi ini Sama-Sama."
Kinara mengangguk sambil tersenym kepada Andini.
"Loe gak usah khawatir.!"
Setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalannannya menuju kelas, sepanjang perjalanan mereka berdua disuguhi cercaan demi cercaan kepada Kinara atas hubungannya dengan Rayhan.
Andini yang ikut mendengar lontaran Kata-Kata mereka dibuat risih dan geram, seandainya Kinara tidak menahannya sudah Andini pukuli mereka hingga babak belur, tapi lain dengan Kinara dia tampak sangat santai menanggapi comoohan itu.
......
Jam kelas pun telah berakhir.
Di antara mereka yang berhamburan keluar Kinara tetap duduk di bangkunya dengan tatapan kosong, fikirannya masih tertambat pada selembar map yang ia temukan, ditengah itu Tiba-Tiba Andini berteriak histeris dan mendatangi Kinara kegirangan.
Kinara yang sedang asyik melamun didepan laptopnya hampir dibuat pingsan karena ulah Andini yang meloncat sambil berteriak.
Lamunan Kinara membuyar.
"Ada apa,?" Kinara menatap Andini yang bertingakah tak wajar, Terheran-heran.
"Loe lihat ! siapa yang ngchat gue," Andini menujukan sebuah pesan kepada Kinara.
Tiba-Tiba jantungnya berpacu hebat saat membaca sebuah pesan singkat yang dikirim seseorang kepada Andini untuknya, "Din tolong bawa Kinara kelapangan futsal, bilang gue mau bertemu.!" Suruh Rayhan.
Rayhan memang sedang berada disana untuk bermain Futsal tetapi fikirannya sedikit kurang tenang karena belum melihat Kinara, yang membuatnya semakin tak tenang tadi pagi Kinara terlihat sedikit berbeda.
"Apa yang dia inginkan,?" batin Kinara.
Kemudian Kinara berkata, "Aku lagi malas Kemana-mana Din," jawab Kinara seakan menjawab titah Rayhan.
"Kenapa.?"
"Nggak Kenapa-Kenapa aku lagi malas aja."
"Tapi Rayhan...
"Sudah kamu nggak usah membalasnya," jawab Kinara singkat.
Sebenarnya Kinara bukan malas bertemu dengan Rayhan tapi dia malas karena saat bertatapan dengan Rayhan perasaan menakutkan itu selalu muncul difikiranya.
Setelah itu Kinara berdiri kemudian beranjak untuk membeli minum di Kantin dan kemudian diikuti Andini.
Rayhan yang tak juga mendapat balsan dari Andini mulai merasa khawatir, hingga akhirnya Rayhan memutuskan untuk mencari Kinara kedalam kelasnya.
Tapi, kelas Kinara telah kosong tinggal Tamara dan dua temannya yang terlihat tengah Mengotak-atik laptop dihadapannya.
Rayhan berniat menunggu Kinara sampai dia kembali, namun ketika melihat ada Tamara Rayhan memilih mundur sebelum Tamara menyadari kehadirannya.
__ADS_1