
Rayhan terus berlari menembus malam, sesekali berhenti untuk mengambil nafas dan menunggu angkutan. Tapi, Lagi-lagi Rayhan harus menunggu lama membuatnya membuang terlalu banyak waktu.
Rayhan kembali berlari.
Lebih dari 3km jarak antara kediaman Rayhan dan rumah sakit.
Dan jarak itu telah Rayhan tempuh dengan berlari.
Semoga Kinara baik-baik saja, itu harapan Rayhan saat ini.
"Ya Tuhan kenapa jalan ini tiba-tiba tidak ada angkutan." Gumam Rayhan.
Keringat bercucuran tenggorokan kering, kakinya juga bergetar lelah karena jauhnya perjalanan yang telah ia tempu, tapi Rayhan tidak memperdulikannya, yang terpenting saat ini adalah segera menemukan Kinara dan memastikan keadaannya.
Sepuluh menit kemudian Rayhan telah sampai dikoridor rumah sakit. Rayhan segera mendatangi pihak administrasi untuk menanyakan pasien bernama Kinara.
"Ooh, pasien yang baru datang malam ini.??" Tanya petugas.
"Ia."
Rayhan tidak sabar menunggu informasi. Entah kenapa petugas itu tiba-tiba lambat sekedar mencari informasi satu pasien saja.
"Grizelle Kinara, saat ini dia baru saja dipindahkan dari ruang ICU ke kamar rawat bagian A No.1" Pungkas petugas. Rayhan tersentak, rasa sesalnya membuncah didalam benaknya.
"Apa. ?? Kinara sempat masuk ruang ICU.?? Apa lukanya parah.??" Tanya Rayhan tak percaya.
"Ada beberapa luka pukulan di bagian belakang kepalanya dan banyak luka dibagian lainnya. Pasien bernama Kinara, tadi sempat tidak sadarkan diri, jadi kami membawanya keruang ICU."
Rayhan berlari sejadinya menuju kamar Kinara.
Rayhan kini dibuat bingung, bukankah Tamara bilang dia yang dijeroyok, tapi kenapa Kinara yang terluka bahkan bisa separah ini. Pertanyaan itu terus bergelayut memenuhi pikiran Rayhan.
.....
Tiga puluh menit setelah dipindahkan keruang rawat, Kinara akhirnya sadar.
"Aaakkhhhh."
Kinara meringis memegangi kepalanya yang dibalut kain kasa.
Kinara baru saja kembali dari masa pingsannya. "Aku kenapa.??"
"Dek," Fahmi langsung mendekati Kinara dan memegang tangannnya.
"Aku dimana." Tanya Kinara sambil memegangi kepalanya, mata Kinara berputar mengamati sekeliling.
"Kamu di rumah sakit, Dek." Fahmi mengusap air mata bahagianya, Fahmi akhirnya bisa lega karena kini Kinara telah sadar.
Kinara mencoba bangun. "Adduuuhh." Dia kembali memegangi kepalanya.
"Kamu jangan banyak bergerak, Dek." Fahm membantu Kinara berbaring pada posisinya yang semula. Fahmi mengusap halus kepala Kinara.
Ada sedikit kecewa di hati Kinara saat melihat Fahmi duduk disampingnya. Ya, kenapa tidak, Kinara berharap Rayhan yang saat ini duduk menemani dirinya.
"Rayhan benar-benar lebih percaya Tamara. !!" Keluh Kinara dalam hati. "Tetapi tidak apa-apa lagian aku sudah menduga ini jauh-jauh hari. Harusnya aku juga tidak terlalu berharap padanya." Batin Kinara.
Kinara memalingkan wajahnya sedih.
"Kak, lebih baik Kak Fahmi sekarang pulang, !! Kakak harus istirahat." Pinta Kinara lemah.
Sebenarnya Kinara tidak mengharapkan Fahmi menjaganya. Sudah terlalu banyak hutang budinya kepada Fahmi.
"Aku akan menjaga kamu disini."
"Jangan Kak, aku tidak apa-apa kok, lebih baik Kakak pulang, aku akan menelpon Kak Indra supaya dia datang ke sini." Suruh Kinara lemah.
"Dimana Rayhan.??" Tiba-Tiba saja Fahmi bertanya seperti itu, membuat Kinara seketika terdiam.
__ADS_1
"Kak, sudahlah..."
"Kinar apa pantas dalam kondisi kamu seperti ini Rayhan pergi berduaan dengan Tamara.??" Fahmi medengus kesal.
"Kak aku mohon, !! jangan perbesar masalah ini aku tidak apa-apa. Rayhan pergi dengan siapa pun itu haknya."
"Mengapa kau membelanya Kinara.??" Fahmi bernada tidak suka.
"Kak, aku tidak membela siapa pun, tapi aku tidak bisa memaksakan kehendak orang lain."
"Tapi Kinara dia itu ceroboh, dia tak bisamenjaga kamu, dia telah membiarkan kamu pingsan di jalan.!!" Bentak Fahmi. "Kenapa kamu begitu bodoh, ?? dia bahkan tidak pantas kamu bela.!!"
Kinara hanya diam menghela kasar nafasnya, tanpa menjawab kata-kata Fahmi yang tidak akan ada habisnya jika diteruskan.
Kinara .??
Teriak Rayhan dari pintu yang setengah ia dobrak saking terburu-burunya.
Kedatangan Rayhan langsung disambut kemarahan Fahmi.
Fahmi meremas baju Rayhan "Dari mana saja loe, heuhh"
"Apa loe tidak tau Kinara terluka dan pingsan dijalan.??" Tanya Fahmi geram.
Rayhan sekilas menoleh Kinara yang tanpak membuang mukanya kecewa.
Rayhan mendorong Fahmi menjauhkannya lalu segera mendatangi Kinara.
"Kinara aku minta maaf, karena aku telah meninggalkanmu, aku panik sehingga aku tak bisa berfikir jernih." Ucap Rayhan sambil memegangi tangan Kinara, sedangkan Kinara masih tak menolehnya.
"Sekarang kamu keluar..!!" Suruh Kinara bernada kecewa.
Rayhan berlari ketepi tempat Kinara memalingkan wajahnya. "Kinara aku mohon maafkan aku."
Kinara menepis tangan Rayhan. "Aku minta sekarang kamu keluar.!!" Kinara mengulangi permintaannya.
Melihat Rayhan yang tidak juga keluar lantas Fahmi menarik paska Rayhan dan menyeretnya keluar dari kamar Kinara.
"Siapa loe berani-beraninya bertanya tentang hak.!" Bentak Fahmi sambil terus menyeret-nyeret tubuh Rayhan pada bidang dinding.
"Gue calon suaminya !" bentak Rayhan.
Fahmi berdecak muak. "Apa loe punya otak.?? Apa loe pernah berfikir, apa loe masih pantas mengaku calon suami Kinara setelah apa yang loe lakukan kepadanya.!!" Fahmi meninggikan nada suaranya, benar-benar muak atas perlakuan Rayhan kepada Kinara.
Fahmi meremas kerah baju Rayhan. "Kalo loe gak ada niat mejalani ini dengan baik, lebih baik loe lepaskan Kinara, jangan jadi pengecut. !!" Bentak Fahmi.
"Loe gak berhak ngatur gue," Rayhan memegang lengan Fahmi yang tengah meremas kerah bajunya. "Karena loe bukan siapa-siapa." Bisik Rayhan.
Karena ucapannya Fahmi hampir memukul Rayhan, tapi berhasil dicegah Kinara.
"Kak, hentikan. !!" Kinara keluar setelah mendengar keributan antara Rayhan dan Fahmi.
Kinara berjalan setengah bersandar pada dinding untuk menjaga keseimbangannya.
"Kinara." Teriak Rayhan, ketika melihat Kinara oleng kedepan.
Rayhan sempat bergerak untuk menangkap Kinara yang hampir roboh, namun dengan sigap Fahmi menahannya.
Fahmi menarik Rayhan. "Lebih baik jauhi Kinara.!!" Fahmi segera menghampiri Kinara dan memboyongnya kedalam kamar.
Rayhan duduk penuh penyesalan. "Kak, Kinara dirumah sakit, segera datang kesini.!!" Sebelum mengakhiri telponnya rayhan berkata. "Aku minta maaf karena tidak bisa menjaga Kinara dengan baik." Suara itu terdengar penuh penyesalan.
"Maaf, keluarga Grizelle Kinara.??" Seorang suster menghampiri Rayhan.
"Ia," Rayhan mendongakkan kepalanya yang sedari tadi tertunduk penuh penyesalan.
"Dokter Daniel memanggil anda."
__ADS_1
Rayhan hanya menganggukan permintaan suster yang kemudian menuntunnya menuju ruangan Dokter Daniel.
"Keluarga Grizelle Kinara.??" Tanya Dokter dengan wajah tampan tersebut.
"Ia." Rayhan mengangguk lemah.
"Ini adalah hasil CT scan yang tadi kami ambil, sepertinya pasien mengalami beberapa benturan yang cukup keras dibagian kepalanya, tapi untung saja tempurung kepalanya tidak sampe retak. Tolong !! beritahu dia agar lebih berhati-hati, !! jangan sampai terjadi benturan dibagian yang sama, saya khawatir dia akan terjadi geger otak." Dokter Daniel kemudian menyerahkan map berwarna coklat tersebut kepada Rayhan. "Sekarang silahkan keluar, dan jaga Kinara baik-baik." Ujar Dokter Daniel sambil tersenyum ramah.
"Baik Dok," Setelah keluar dari ruangan Dokter Daniel. Rayhan kembali duduk dengan hasil CT scan ditangannya, Rayhan meratapi hal bodoh yang telah dilakukannya kepada Kinara.
Bayang-bayang Kinara saat memohon, dan berlari mengejarnya membuat Rayhan benar-benar merasakan penyesalannya, apa lagi Rayhan sempat tidak memperdulikan Kinara sama sekali.
"Mengapa gue begitu bodoh, mengapa gue begitu bodoh." Rayhan menangis sambil memukul-mukul kepalanya penuh penyesalan.
"Kinara." Rayhan meremas kepalanya, menyesali perbuatannya sendiri, menyesali kebodohannya sendiri.
"Kenali Kinara dari hatinya." Kata-kata Indra waktu itu menambah besarnya penyesalan dihati Rayhan. "Mengapa gue lebih percaya orang lain." Kesal Rayhan. Ingin rasanya dia memukul dan membuang kebodohannya, "Kinara kau berhak marah kepadaku, berhak benci padaku, aku tak pantas untuk dia, aku pantas untuk dibencinya."
Rayhan terus saja mengutuki kebodohannya.
Diruang rawat Kinara.
"Kinara. ??" Indra datang terburu-buru.
"Ada apa, kenapa bisa begini.??" Tanya Indra sambil mengecek keadaan Kinara.
"Aku dijebak Kak," tutur Kinara.
"Bagai mana kamu bisa dijebak.??"
"Awalnya ada seorang perempuan yang menelpon ku, aku kira dia tengah dalam kesulitan tapi ternyata mereka sengaja merencanakan ini semua untuk menjebakku." Jelas Kinara
"Siapa mereka apa kau mengenalnya..??" Tanya Indra.
"Ya, aku mengenalnya."
"Kita harus laporkan ini.!!" Indra tampak tidak terima.
Indra melenggang, namun Kinara menahannya.
"Aku mohon jangan memperpanjang dan mempersulit urusan kita, aku tidak apa-apa,"
Rayhan yang hampir meraih dan membuka pintu ruang rawat Kinara, tapi tiba-tiba berhenti saat mendengar percakapan Indra dan Kinara.
"Tapi Kinar. Bagai mana jika mereka ..
"Apa Kakak bisa menjamin mereka tidak akan kembali bertindak.??" Kinara memotong pembicaraan Indra.
"Kinar.!!"
"Kak, Kinara mohon."
"Baiklah kalau itu mau kamu, tapi ingat kalau mereka kembali melakukan ini kepadamu Kakak tidak akan membiarkan mereka bebas berkeliaran." Ancam Indra.
Indra membelai halus kepala Kianra yang dibalut kain Kasa.
Rayhan berniat meneruskan langkahnya memasuki ruang rawat Kinara. Namun kembali terhenti saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan Kinara kepada Indra.
"Kak. Kapan Kakak akan menikah.??"
Tanya Kinara yang masih terbaring lemah.
"Menikahlah terlebih dahulu, kakak ingin melihat kamu menikah terlebih dahulu.!"
"Apa jika Kinara tidak segera menikah, Kakak akan lebih lama menunda pernikahan Kakak.??"
Indra memegang lembut tangan Kinara. "Dek, sudah berapa kali kamu mempertanyakan ini. Kamu'kan tau kakak bahkan belum punya calon, jangan terlalu memikirkan Kakak. Bagi kakak Itu tidak penting, yang penting sekarang kamu cepat sembuh." Ucap Indra lembut.
__ADS_1
Mendengar itu Rayhan mengurungkan niatnya untuk masuk ke ruangan Kinara, Rayhan memilih duduk memikirkan betapa jahat ucapannya saat mengatakan akan membatalkan pernikahannya dengan Kinara.
Rayhan akhirnya mengetahui alasan mengapa Kinara memohon untuk tetap melanjutkan pernikahan ini.