Istri Terbaik Pilihan Ayah

Istri Terbaik Pilihan Ayah
Villa 4(Teror)


__ADS_3

Dilihatnya Kinara sedang memikirkan sesuatu, "Ada apa Kinara, apa mereka yang meneror kita?" tanya Rayhan.


Kinara menggeleng, "Bukan Ray, bukan mereka pelakunya aku rasa mereka berdua hanya suruhan, kita masih harus waspada Ray ! yang kulihat sebelumnya bukanlah mereka," jelas Kinara.


"Masih ada yang lain selain mereka berdua,?" tanya seorang penjaga Villa.


Kinara mengangguk.


"Katakan ! siapa yang menyuruh kalian !" bentak keamanan Villa kepada kedua tersangka yang kini terduduk tak berdaya.


"Saya tidak perlu memberi tau kalian!. Nanti kalian akan tau sendiri." Bentaknya.


Kepala keamanan yang geram pun hampir saja memukulnya, tapi untung masih bisa dihentikan Kinara.


"Sudah pak ! jangan main hakim sendiri ! mungkin mereka dibayar untuk menutup mulut mereka," ucap Kinara.


Mereka (petugas keaman) mengangguk, setelah itu dibawanya dua orang penguntit itu untuk diserahkan kepada pihak yang berwajib.


"Kamu hebat Kinar," tutur Rayhan bangga.


Kinara hanya tersenyum kecil, ekspresinya itu sangatlah biasa saja tidak ada bangga ataupun semisalnya.


"Sekarang kita kembali ke Villa !" ajak Rayhan.


Kinara mengangguk setuju.


"Tapi tunggu dulu !" cegah Rayhan. Mendengar ucapan Rayhan, Kinara menatapnya miring.


Dirangkulnya tengkuk perempuan yang tengah menatapnya penuh tanya, "Kita nikmati suasana ini sebentar saja !" tutur Rayhan dan kemudian memeluk Kinara erat.


Perlakuan manis Rayhan kepada Kinara mengundang kebencian seseorang yang berdiri diantara gelapnya malam


"*Nikmati kebahagiaan kalian ! akan aku pastikan kebahagiaan ini hanya sesaa*t."


Ucap sosok pengecut yang bersembunyi dibalik hitamnya suasana malam.


Waktu berlaru sungguh cepat, kumandang Adzan subuh bersahutan membangunkan manusia yang masih terlelap dalam tidurnya.


Dua insan yang tengah berpelukan pun saling melepaskan pelukannya walau tanpa kerelaan.


Rayhan yang baru beberapa detik memeluk Kinara terlihat kesal, bukan kesal pada suara Azan tapi kesal karena Kinara terburu melepaskan pelukannya, "Sudah subuh, sebaiknya kita segera membersihkan diri dan Shalat." Ucap Kinara sambil melepaskan pelukannya.


"Tapi, aku baru sebentar memelukmu Kinara," sahut Rayhan.


"Kau ingin memelukku lebih lama,?" tanya Kinara.


"Ya tentu," ujar Rayhan. "Kemarilah !" Rayhan pun merentangkan tangannya menunggu Kinara datang memeluknya.


"Untuk itu masuklah !" pinta Kinara sambil berjalan melewati Rayhan yang tengah merentangkan tangannya Lebar-Lebar.


"Kau mulai berani Kinara," teriak Rayhan sambil membalikkan tubuhnya, tatap matanya mengikuti langkah Kinara yang perlahan meninggalkannya, "Awass kau Kinara !" ancam Rayhan, gemas. Ia pun berlari mengikuti Kinara yang masuk kedalam Villa.


Kinara telah tiba didalam kamar yang telah dihias sedemikian rupa mematung beberapa saat dengan handuk ditangannya.


Tak lama kemudian Rayhan pun datang Terburu-buru sebab mengejarnya.


"Kau menungguku untuk mandi bersama,?" goda Rayhan.


"Tidak !" sangkal Kinara. Ia pun segera bergegas menuju kamar mandi.


Rayhan terkekeh geli saat Kinara menyangakal ucapannya.


Secepat Kilat Rayhan berlari masuk kedalam kamar mandi mendahului Kinara, "Aku duluan Kinar," ucap Rayhan saat berjalan melewati Kinara.

__ADS_1


Seketika Kinara menarik tangan Rayhan, menahannya utuk tidak mendahuluinya, "Tak bisa, aku yang lebih dulu, kau tunggulah aku sebentar.!"


"Jangan harap kau bisa mendahului ku Kinara," ucap Rayhan. Dia terus memaksa masuk kedalan kamar mandi meski Kinara terus menariknya.


"Tak boleh ! aku dulu." Cegah Kinara.


"Aku," Rayhan.


"Aku," Kinara.


Rayhan berdiri diambang pintu dengan tangan merentang menghadang Kinara yang berusaha masuk kedalam kamar mandi, "Baiklah. Bagai mana kalau kita mandi bersama,?" ajak Rayhan, dan sontak membuat Kinara melotot.


"Enggak ! itu tidak mungkin Rayhan," bantahnya.


"Segala sesuatu bisa jadi mungkin kalau kita mau Kinara," ucap Rayhan seraya menggoda Kinara.


"Enggak ! jangan harap itu akan terjadi," sanggah Kinara.


Tetapi Rayhan tidak diam begitu saja saat Kinara menolaknya, secepat mungkin Rayhan menarik Kinara masuk kedalam kamar mandi dan segera menguncinya.


Rayhan berjalan perlahan, sorot matanya pun terlihat lain, deru nafasnya juga berubah, sepertinya ia akan kembali menghajar Kinara didalam kamar mandi.


Dan benar saja, beberapa saat kemudian kemeja berwarna putih tersebut telah teronggok diatas lantai.


Tapi Tiba-Tiba Rayhan menghentikan aktivitasnya, "Bolehkah aku.......


Belum sempat menyelesaikan pertanyaannya Rayhan seketika diam saat Kinara melayangkan bibirnya membungkam Rayhan.


Kini Kinara mulai pandai memainkan hasrat yang semakin menggila dan berharap lebih dari sekedar ber***uman.


Dibalik gemerciknya air ada dua insyan yang tengah bercumbu mesra saling melepaskan hasrat yang kian membuncah.


Ting tung ting tung...


"Sial," gumam Rayhan geram. "Pantaskah orang bertamu dalam kondisi seperti ini.? Ucapnya kesal.


Setelah memakai Kimono yang sebelumnya dibawa Kinara Rayhan pun keluar untuk membuka pintu.


Dan saat pintu telah dibuka Rayhan malah tidak melihat siapapun yang bertamu kepadanya. Rayhan masih berdiri ditempatnya dengan mata memutar melihat sekeliling berharap menemukan orang yang telah jahil menekan bel Berulang-ulang.


Setelah menunggu beberapa saat dan tak melihat siapa pun, Rayhan memutuskan untuk kembali masuk, tetapi secarik kertas menghentikan langkahnya, diambil dan dibukanya kertas tersebut.


Emelly No 14.


Sepertinya surat tersebut bertuliskan sebuah alamat yang harus Rayhan datangi.


Tanpa memperdulikannya Rayhan lalu menaruh kertas itu diatas meja dan menganggap kertas tersebut hanya kiriman orang yang sedang mengisenginya.


Setelah itu Rayhan pun kembali kedalam kamar, disana terlihat Kinara tengah duduk didepan cermin, sebuah sejadah terhamapar tak jauh darinya, dapat dipastikan Kinara baru selesai melaksanakan solat subuh. Rayhan yang baru datang pun segera memeluk perempuan yang tengah merapihkan dirinya.


"Ray kau mandilah dulu, biar aku siapkan sarapan untukmu," suruh Kinara.


"Baik istriku sayang," turut Rayhan. Sebelum pergi ke kamar mandi terlebih dahulu Rayhan mengecup pucuk kepala Kinara.


Kinara yang telah selesai dengan pakainnya melenggang menuju dapur.


Sementara Kinara berkutat didapur, Rayhan yang telah selesai mandi dan shalat pun sebentar duduk di tepi tempat tidur sambil membuka sebuah pesan di handphonenya.


Rayhan terbelalak saat melihat sebuah pesan yang masuk dari nomor yang tidak ia kenali, "Aku tak akan membiarkan kalian menikamati ini.!" Sebuah pesan yang terlihat biasa saja tapi mengandung ancaman. Lalu pesan kedua pun masuk, Emelly No 14.


Setelah membaca pesannya Rayhan termenggu dengan handohone ditangannya tanpa berucap.


"Ray," panggil Kinara sambil menutup pintu kamarnya.

__ADS_1


Rayhan yang gelisah segera memeluk Kinara, "Sayang." Ucapnya lirih sambil memeluknya erat.


Kinara sedikit dibuat bingung saat Tiba-Tiba Rayhan terlihat aneh.


"Ada apa,?" tanya Kinara.


Lewat wajahnya Kinara menemukan segurat kecemasan dihatinya.


"Tidak ada !" tukas Rayhan. "Aku hanya ingin memelukmu, apa tidak boleh?" ucapnya berbohong. "Kinara, bolehkah kita pulang sekarang,?" tambahnya dengan nada Khawatir.


Sejenak Kinara merenggangkan pelukannya,"Tapi kenapa,? kenapa kita Tiba-Tiba pulang ? kau tak nyaman berada disini.?" Heran Kinara.


"Bukan, bukan. Tapi aku baru ingat aku punya mata kuliah penting, dan aku rasa aku tak bisa meninggalkannya."


Dalam hatinya Rayhan berkata, "Kinara aku minta maaf karena telah membohongimu, tapi aku tidak ingin membuatmu khawatir."


Kinara yang masih tak mengerti akan perlakuan Rayhan pun semakin dibuat bingung, "Bisa kau ceritakan apa yang terjadi Ray, Oo ia siapa yang datang tadi,?" tanya Kinara.


"Tidak ada Siapa-Siapa," jawab Rayhan.


"Apa ada yang meneror kita lagi,?" Kinara merasa tidak yakin akan jawaban Rayhan.


"Tidak ada sayang," tutur Rayhan berbohong.


"Oohh," Kinara pun mengangguk mencoba percaya.


Walau sebagai seorang istri Kinara tau betul sebenarnya Rayhan sedang berbohong, ia tau sebenarnya ada sesuatu yang tengah Rayhan sembunyikan, sesuatu yang berkaitan dengan secarik kertas yang ia temukan diatas meja.


"Kalau gitu kita sarapan sekarang !" ajak Kinara.


Rayhan pun segera menuruti pinta Kinara.


Saat ini Rayhan telah duduk dikursi dan berhadapan langsung dengan Kinara, tetapi sejak ia duduk, Rayhan tampak tak biasa seperti orang yang tengah gelisah memikirkan sesuatu, nasi goreng yang menjadi kesukaannya pun tidak tersentuh sejak beberapa menit yang lalu, Rayhan malah seperti kehilangan selera makannya.


"Ray, ada apa.? Kau tidak suka makanannya,?" tanya Kinara disela mengunyah makanannya.


Segera Rayhan membuang fikiran buruk yang sedari tadi menghantuinya, "Tidak sayang, aku hanya menunggu agar nasinya sedikit dingin." Kemudian Rayhan pun segera menyendok dan memakan makanannya.


Mendengar jawaban Rayhan Kinara mengangguk kecil kunyahannya pun ia buat pelan saat mencerna keanehan yang timbul di diri Rayhan saat ini.


Sebelum menghabiskan makanannya, Tiba-Tiba Rayhan berdiri dari duduknya, "Kinara aku keluar sebentar, kau tak boleh pergi Kemana-mana!" pinta Rayhan. Sebelum Kinara mengiakan permintaanya Rayhan sudah bergegas pergi.


"Aneh sekali dia pagi ini, ada apa,?" fikir Kinara Terheran-heran.


Sejak beberapa menit yang lalu Kinara masih duduk ditempatnya memikirkan kejanggalan pada sikap Rayhan.


Rayhan berjalan sesuai Map di handphonenya, lalu setelah berjalan kurang lebih sekitar duapuluh menit Rayhan pun sampai didepan hotel Emelly, saat masih berdiri ditempatnya Rayhan mendapat sebuah pesan masuk, "Cepatlah datang, pastikan kau hanya datang sendirian.!" Panggil seseorang didalam pesannya.


Meskipun ragu tetapi Rayhan tetap melangkah menuju kamar no 14.


Hitungan mundur pun dimulai, Rayhan berjalan melewati kamar 11, 12A dan 12B, didepannya sudah dipastikan kamar nomor 14.


Sebelum beranjak masuk Rayhan sempat mematung didepan kamar Emelly no 14 yang tampak terbuka daun pintunya, tetapi keadaan didalam ruangan terlihat gelap.


Sempat ingin kembali, tapi rasa penasaran akan orang yang menerornya tadi malam mendorong Rayhan untuk tetap maju.


"Halo apa ada orang," panggil Rayhan.


Perlahan Rayhan pun masuk kedalam kamar yang tampak kosong tak berpenghuni tersebut, saat Rayhan melangkah cukup jauh dari pintu, Tiba-Tiba pintu kamar tersebut tertutup dengan sendirinya.


Bruuuggghhhh..


Pintu tertutup dengan sangat keras membuat Rayhan terkejut kemudian berbalik.

__ADS_1


"Kau," tunjuk Rayhan..


__ADS_2