
"Apapun yang kau miliki, aku bersumpah untuk memilikinya, sebelum kau melangkah, aku akan berlari, bukan untuk mengimbangimu tapi untuk mendahului mu. Aku bersumpah, aku bersumpah, aku bersumpah, aku bersumpah akan merebut apapun yang kamu miliki."
Aaaaaaaaakkhhh......
Seseorang menggila merobek kertas yang sebelumnya ia goreskan tinta diatasnya.
Kepalan kertas beserakan dikamar tersebut, kertas yang penuh dengan kecaman dan ancaman. Penuh emosi dan kemarahan.
"Kinara....!!"
Dia mengerang kemudian menggebrak meja penuh amarah.
Kinara yang baru keluar dari kamar mandi pun merasakan panas yang sangat ditelinganya.
"Ray." Kinara mendongak menatap Rayhan yang tengah membulatkan tangan ditubuhnya didepan meja rias.
Sesekali Kinara memegang daun telinganya yang tampak sudah memerah.
"Telingamu merah sekali Kinara," ucap Rayhan sambil menyibak rambut yang menutupi telinga Kinara. "Apa terasa panas?" tanya Rayhan dan diangguki Kinara.
"Kata orang kalau telingamu terasa terbakar itu berarti ada orang yang tengah membicarakanmu, Sayang." Rayhan memutar posisi duduk Kinara.
"Ada-Ada saja, itu mitos Ray," sahut Kinara menggeleng tak percaya.
"Aku juga berfikir begitu," balasnya sambil tersenyum gemas.
"Ia Ray, kapan kamu mau kembali ngampus?" tanya Kinara.
"Mungkin lusa," jawab Rayhan enteng.
"Ada apa,?" tanya Rayhan saat melihat Kinara sedikit melamun.
"Apa kita Benar-Benar harus menjadi orang lain,? apa kita perlu melakukan itu,?" tanya Kinara ragu. Sepertinya ia keberatan jika harus menjalankan usulan Fahmi.
"Kita coba saja. Setelah mendengar ceritamu, aku fikir Fahmi benar.
Kita perlu mencobanya dan melihat bagai mana reaksi Tamara, aku hanya takut dia terus mengganggumu Sayang."
Kinara berdiri dari duduknya, berjalan kecil menuju tempat tidur. "Berarti lusa kita mulai bersandiwara,? mulai lusa kita akan menjadi asing.?" Kinara memanyunkan bibirnya. "Sungguh disayangkan."
"Disayangkan,?" tanya Rayhan sambil menyernyitkan dahi kemudian melangakah mendekati Kinara.
"Ya, sayang sekali, aku mempunyai suami tampan sepertimu tapi aku tak bisa memamerkannya dihadapan mereka, bahkan kini aku harus Diam-Diam menjalani pernikahan denganmu, Ck ckck." Kinara menggeleng kesal.
"Memamerkan?" tanya Rayhan sambil memeluk Kinara dari belakang dengan mesra.
"Ya, kau tau? aku adalah salah satu perempuan yang selalu mendapat cibiran, hanya karena tak pernah terlihat memamerkan pasangan, tapi bukan memamerkan juga karena memang aku tak pernah memiliki hubungan dengan siapa pun."
Rayhan menumpukan kepalanya dibahu Kinara.
"Oo jadi aku kamu jadikan bahan balas dendam.?"
Mendengar Rayhan mengatakan itu seketika Kinara berbalik, "Tidak ! bukan ! bukan karena itu. Tapi aku hanya ingin menunjukan bahwa sekarang dibelakangku ada Laki-Laki hebat dan berhati lembut sepertimu."
Saat berbicara dengan Rayhan kerap kali Kinara mendongak untuk menatap matanya.
"Ooh apa itu benar?" tanya Rayhan Pura-Pura tak percaya.
"Ya tentu, apa aku terlihat sedang berbohong,?" tanya Kinara.
"Bukan, kau hanya terlihat kurang yakin." Sahut Rayhan.
"Oo.. Itu, boleh jadi ia," balas Kinara.
Rayhan memicing.
Melihat Rayhan menatapnya seperti itu Kinara pun tertawa. "Aku yakin," sahut Kinara sambil membukatkan tangannya dileher Rayhan, menatapnya penuh keyakinan "Kamu memang pasangan terbaik yang tidak orang lain miliki."
Rayhan yang tengah menatap Kinara pun tersenyum. "Apa kau tidak menyesali ucapan mu ini,?" tanyanya meyakinkan.
Kinara tersenyum sambil memiringkan kepalanya. "Untuk itu buat agar aku tak menyesali ucapanku."
Rayhan mengangguk setuju. "Ok, akan aku lakukan. Tapi kamu harus berjanji untuk terus mempercayai ku, apapun yang terjadi, janji !"
"Aku berjanji !" ucap Kinara masih menatap Rayhan serius. Tak lama kemudian senyum yakin tersemai dibibirnya.
"Boleh aku bertanya satu pertanyaan lagi,?" tanya Rayhan.
Kinara mendelik. "Ya tentu !"
"Apa yang membuatmu yakin padaku? bukankah aku pernah mengecewakanmu.?" tanya Rayhan serius.
"Mm.. " Kinara sedikit mengulur jawabannya membuat Rayhan tak sabar menunggu.
__ADS_1
"Kenapa jawabnya lama, ketahuan'kan kalau kamu itu masih tak yakin padaku.?"
Kinara tersenyum gemas sambil bergelayut manja dileher Rayhan.
"Mm aku kira... karena kamu ganteng mungkin?" jawabnya sembarangan.
Ckkk..
"Sayang aku tanya serius, ayolah kamu serius juga," pinta Rayhan sedikit kesal.
"Okk aku jawab tapi kamu senyum dulu, jangan dulu ditekuk gitu wajahnya, dapa lia bisae." Ucap Kinara sambil menarik kedua sudut bibir Rayhan.
"Dapa lia bisae,? apa maksudnya.? Bahasa apa yang barusan kamu ucapkan.?"
"Bahasa Manado,"
"Manado.?"
"Dari mana kamu belajar itu,?"
"Dari telvisi,"
"Artinya ?"
"Terlihat jelek..."
"Apa ? jadi aku terlihat jelek ?"
"Ya sepertinya begitu, coba berbalik dan lihat disana." Kinara menunjuk cermin dibelakang mereka. "Coba ! ekspresi yang tadi."
"Yang begini,?" ucap Rayhan sambil mengeluarkan wajah kesalnya didepan cermin, Rayhan pun tertawa kecil saat melihat pantulan wajah mengerikannya dengan ekspresi kesal.
"Ahh enggak !" bantah Rayhan sambil membolak balik wajahnya didepan cermin. "Aku tetap ganteng kok !" ucapnya penuh percaya diri.
"Ganteng tapi mengerikan," bisik Kinara tepat ditelinga Rayhan membuat Rayhan bergidik geli.
"Kau sengaja membisikannya untuk menggodaku Kinara,?" ucap Rayhan sambil memutar menatap Kinara geli tapi mulai berhasrat.
Melihat tatapan Rayhan mulai lain. Kinara beranjak Pelan-Pelan berjalan mundur. "Tidak ! aku tidak bermaksud begitu," sangkal Kinara.
"Tapi kau sudah melakukannya Kinara, dan aku rasa..." Rayhan berjalan kecil mengikuti langkah mundur perempuan mungil didepannya.
"Iikkhh ngeri." Celetuk Kinara sambil berlari menghindari Rayhan.
"Awas kau Kinara ! kau tak bisa lari dari ku !" teriak Rayhan sambil mengejar Kinara.
Mata singa itu menatap Kinara dengan gairah yang menggebu.
"Kau tak bisa lagi lari dariku Istri nakal" ucap Rayhan sambil menyisir dan menyibak rambut yang menutupi wajah Kinara. Dipegang dan diangkat dengan lembut wajah cantik itu, mendekatkan bibirnya menghirup deru nafas yang kian bergemuruh melewati batas kesadaran.
Beberapa saat mereka masih saling beradu mata, saling menatap lekat penuh emosi jiwa yang berasal dari kenakalan mereka Masing-Masing.
Kinara menatap Rayhan dengan tatapan menuntut, menuntut perlakuan lebih dari Rayhan.
Mendekat, Rayhan semakin mendekatkat bibirnya bersiap mencumbu Kinara.
Krrriiinnggg kriinggggg...
Suara telpon diatas nakas dibelakang Kinara membuyarkan fikiran mereka berdua, membuyarkan birahi yang telah membulat didalam hati mereka.
"Maaf, maaf !" Kinara mengerejap menyadarkan fikirannya yang terlanjur melayang jauh.
Ada rasa sesal yang timbul dalam fikiran keduanya, hati mereka gondok, suara telpon itu menghentikan semuanya.
Hiiissshhhh..
Rayhan mendesah kesal.
"Ya halo, Andini. Ada apa ?" tanya Kinara.
"Kinara, apa kamu sudah mengunggah artikel itu?" tanya Andini disebrang telepon.
"Artikel ?" Kinara mengusap dahinya. Bagai mana ia bisa melupakan artikel yang harusnya seminggu yang sudah ia unggah.
"Aduuh gue lupa Din, Ngomong-Ngomong makasih udah ngingetin."
"Ia Sama-Sama, cepat ya ! yang lain udah pada ngunggah tinggal kamu aja yang belum, kamu udah selesai nulisnya kan?" tanya Andini
"Ook siap Din, udah tenang tinggal ngunggah aja kok."
"Ok baiklah cepat ! waktunya tinggal tiga hari lagi."
"Hmm sekali lagi makasih ya," ucap Kinara.
__ADS_1
"Sama-Sama Kinara."
"Ia. Din ?" teriak Rayhan yang kemudian duduk menyebelahi Kinara.
"Ada Rayhan disana.?" tanya Andini setengah berbisik.
"Ia, dia disini lagi duduk bareng aku," jawab Kinara.
"Din.?" Rayhan kembali memanggilnya.
"Ya ada apa,?" tanya Andini dalam panggilang yang telah Kinara load speaker.
"Lain kali jangan telpon Malam-Malam ya, ganggu !" ucap Rayhan dengan menekan kata terakhirnya.
Mendapati hal tersebut seketika Andini menutup telponnya.
"Din. Din. Halo Dini ?" panggil Kinara tapi Andini telah memutus panggilan secara sepihak.
Kinara memukul kecil tubuh Rayhan. "Kamu sih ! tersinggung'kan dia."
"Aku lebih tersinggung," sahut Rayhan.
Seketika Kinara menatap Rayhan dengan sangat ngeri.
"Sudah-Sudah, aku minta maaf !" ucap Rayhan sambil tersenyum gemas karena Kinara menatapnya seperti itu.
"Baiklah, mana aku mau lihat artikel kamu," tambah Rayhan sambil mengulurkan tangannya.
"Kepo," ucap Kinara sambil memonyong dengan bibir sengaja ia dekatkan kewajah Rayhan.
"Awas saja kamu Kinara," teriak Rayhan. Ia pun ikut turun mengikuti Kinara yang telah duduk sambil membuka laptopnya .
Kinara mulai memasukkan sandi dan mulai log in kedalam situs pribadinya, mengecek kembali artikel yang telah ia tulis beberapa waktu lalu.
Kinara terbelalak kaget, berulang kali Kinara merefres akun pribadinya.
"Apa, Wi-Finya tidak berpungsi kenapa ini kosong, kemana artikel ku?" tanya Kinara mulai panik.
Berulang kali Kinara keluar masuk akun pribadinya berharap artikel itu cepat muncul.
"Tidak ! ini tidak mungkin, tidak mungkin artikelnya hilang, ini tidak mungkin," ucap Kinara tak percaya. Berkali-kali Kinara meremas rambutnya, Kinara jelas tak percaya seseorang telah menghapus artikel yang telah lama dan sudah payah ia tulis.
Kinara menangis kecewa, ia Benar-Benar tak habis fikir ternyata ada saja orang yang menghianatinya.
"Sayang kenapa.?" Tanya Rayhan khawatir akan keadaan Kinara.
"Artikelku ada ngehapus Ray," ucap Kinara ditengah tangisannya.
"Apa.?" Rayhan pun tersentak sangat terkejut.
Rayhan merebut laptop Kinara dan mengecek situs pribadinya.
Saat mengecek laptop itu Rayhan seperti mengingat sesuatu.
"Tamara ? apa saat itu ... Apa tamara yang menghapusnya ?" bantin Rayhan Bertanya-tanya.
Rayhan menggeleng tak percaya.
Sementara Rayhan mengotak-atik laptop, Kinara menangis terisak sambil membenamkan wajah ditangan yang ia lipat diatas meja, tampaknya Kinara sangat kecewa.
"Sayang, sudah ! kita fikirkan masalah ini Sama-Sama." Ucap Rayhan sambil merangkul kepala Kinara, menariknya kedalam dekapan.
"Lagi-Lagi aku harus mundur." Ucapnya lirih.
"Tidak sayang ini masih ada harapan." ucap Rayhan mencoba optimis. "Berapa lama waktu yang kamu miliki Kinara ?"
"Tiga hari" ucap Kinara sambil menyeka linangan airmatanya.
"Apa kita kamu sanggup menulis artikel itu dalam tiga hari ?" tanya Rayhan dan Kinara pun menggeleng.
"Kalau aku bantu.?"
Kinara kembali menggeleng. "Aku tidak tau Ray, aku telah membuang banyak waktu untuk menulis ini."
"Sudah ! kamu tenang dulu sayang ! jangan menangis !" Rayhan menghapus airmata yang membasahi pipi Kinara. "Kita harus mencobanya kamu pasti bisa," ucap Rayhan menyemangati Kinara. Seulas senyum tercipta dibibir Kinara penuh semangat.
"Okk kalau gitu kita mulai," pinta Rayhan dan Kinara menganggukinya.
"Semangat !" ucap Rayhan sambil menyingsingkan lengan bajunya.
"Semangat !" sahut Kinara mengepalkan jemarinya.
Menulis pun dimulai, kerangka artikel telah Kinara tentukan berbagai opini menjadi bahan utama dalam artikel yang ditulisnya visi misi juga dijadikan pelengkap artikel ini.
__ADS_1
Satu bulan yang lalu pihak kampus mengadakan perlombaan menulis artikel "Universitas". Semua Mahasiswa diberi kebebasan untuk ikut apresiasi dalam perlombaan ini tak terkecuali Kinara.
Kinara sangat menyukai lomba ini dan sangat ingin ikut serta hingga saat mengetahui naskahnya hilang Kinara tampak begitu terpukul kecewa.