Istri Terbaik Pilihan Ayah

Istri Terbaik Pilihan Ayah
Rumah sakit 3.


__ADS_3

Pagi sekali sekitar jam 3:45. Kinara terbangun dari tidurnya.


"Astagfirulloh aku ketiduran." Ketika menyadari itu Kinara langsung turun dari bangku tapi tangan hangat menariknya kembali.


"Mau kemana,?" tanya Rayhan dengan suara sedikit serak khas orang bangun tidur. "Masih sangat pagi 'kan,?" tanyanya kembali dengan mata masih terpejam.


"Ray, aku pulang sebentar ya !"


"Nggak boleh !" sanggah Rayhan.


Kinara memberenggut kesal. "Baiklah, tapi beri aku alasan kenapa aku nggak boleh pulang,?" tanya Kinara.


"Apa kau akan lama,?" tanya Rayhan.


"Mmm." Kinara bergumam tak memberi jawaban.


"Makanan rumah sakit sangat tidak enak bolehkah kau bawakan sesuatu untuk ku," pinta Rayhan.


Kinara memiring dengan senyum diwajahnya.


"Itu berarti kau mengizinkan aku pulang, Ray.?"


Rayhan mengangguk, "Tapi kau janji tak akan lama !"


Kinara mengedipkan sebelah matanya sambil membulatkan dua jarinya."Ok," jawabnya setuju, tanpa berfikir lagi Kinara lantas turun dari ranjang rawat Rayhan.


"Heii mau kemana,?" tanya Rayhan.


"Pulang," jawab Kinara enteng.


Rayhan Menunjuk-nunjuk sebelah pipinya membuat Kinara meringis malu.


"Boleh pergi tapi cium dulu !"


"Harus ya,?" tanyanya kikuk.


Rayhan hanya memangut.


"Tapi apa sakitmu tidak akan menulari ku, Ray,?" tanya Kinara, dan seketika wajah Rayhan berubah tidak enak dipandang.


"Baiklah kau boleh pergi !" usir Rayhan dengan wajah kecewa yang ia palingkan kesisi lain.


Sejenak Kinara termenung dan kemudian dengan berani menarik lembut wajah Rayhan lalu mencium lembut bibirnya. Beberapa detik bibir itu saling berpautan. Bahkan Rayhan hampir tak percaya Kinara mulai berani bertindak lebih agresif.


Pelan-Pelan Rayhan melepaskan ciumannya. "Kau tak boleh menciumku dibagian ini, aku takut aku akan menularimu," ucap Rayhan.


"Tidak Apa-Apa, asal aku tidak kehilangan kesempatan ini," jawab Kinara tanpa ragu membuat Rayhan terkekeh gemas.


"Baiklah kau boleh pergi sekarang !" suruh Rayhan.


"Kau Baik-Baiklah disni !" ucap Kinara sambil membetulkan selimut ditubuh Rayhan dan tak lupa mengecup keningnya.


Setelah itu Kinara pun melenggang untuk meninggalkan Rayhan, tapi sebelum meraih pintu Kinara sempat berbalik dan melihat Rayhan, yang ternyata dia masih menatapi kepergian Kinara seolah tak rela, Kinara pun tersenyum saat melihat Rayhan masih memandangnya.


Selepas kepergian Kinara.


Rayhan Bergerak-gerak bosan dibalik selimutnya, kepala pusing, terlentang, selang infus hanya itu yang menemaninya saat ini dan Rayhan pun mulai tidak nyaman, sehari saja dirumah sakit membuatnya mati kutu. Sangat membosankan.


Rayhan kembali berguling ke kiri dan kekanan. Saat itu Rayhan merasa ada sesuatu yang mengganjal dibagian bawah.


Sebuah handphone berwarna merah ia temukan diatas tempat tidurnya, Rayhan tau betul milik siapa benda pipih tersebut.


"Kebetulan !" ucapnya sambil tersenyum jahil.

__ADS_1


Rayhan iseng iseng membuka setiap kotak aplikasi di handphone tersebut.


Rayhan mulai menjalankan jemarinya meraih dan menekan wi-fi yang terdapat dilayar paling atas.


Bersama Wi-Fi yang tersambung ratusan pesan Wa langsung membubuhi handphone yang kini sedang dipegang Rayhan dan mulai menarik perhatiannya.


Dengan seksama Rayhan membacanya satu persatu. Saat membaca pesan tersebut Rayhan terbelalak hebat.


"Bagai mana ini bisa terjadi,?" tanya Rayhan ia menggeleng tak percaya.


Bagai mana tidak, dalam grup tersebut Tamara kembali membuat kegaduhan. Tamara sudah menyebar luaskan berita tentang kejadian di Villa.


Selain Rayhan. Di tempat berbeda Aman, Bayu, Andini dan Fahmi sama terbawa emosi pada percakapan didalan grup yang sama. Andini berdecak geram pada mereka yang ikut nimrung dalam grup tersebut.


Diantara percakapan tersebut sesuatu yang membuat mera geram adalah ketika Tamara mengunggah sebuah vidio saat Rayhan masuk kedalam kamar hotel miliknya, selain mengunggah vidio Tamara juga menyertakan Kata-Kata "Kalian lihat sendiri kan ? dia memang sengaja mendatangiku untuk merayuku, lalu apa arti pernikahannya dengan Kinara.?"


Aman, Bayu dan Andini ikut menyangkal kejadian tersebut tapi bukan hal mudah untuk meyakinkan mereka yang telah termakan Kata-Kata Tamara. Sedangkan Fahmi dia hanya terdiam menimbang, sikap acuh tak acuh membuatnya lebih dingin menghadapi masalah tersebut.


Mereka (Anggota grup) sama menghkawatirkan keutuhan rumah tangga Kinara dengan Rayhan, mereka Sama-Sama mengira bahwa hubungan Rayhan dan Kinara telah berada diujung tanduk.


Andini yang geram pun bergegas menyambar tasnya dan pergi untuk menemui Kinara, dibanding mendengar kabar burung dari mereka Andini lebih ingin mendengarnya langsung dari Kinara dan Rayhan.


Sementara Bayu dan Aman, mereka masih duduk santai ditempat Masing-Masing. Meski mereka sudah tau kebenarannya, tapi percakapan didalam grup membuat mereka Benar-Benar mengutuki perbuatan Tamara.


Rayhan terdiam menyimak tiap pesan masuk dalam grup tersebut. Fikirannya melayang khawatir tak tentu arah. Yang dikhawatirknnya saat ini bukanlah kabar buruk yang tengah beredar, tapi yang dikhwatirkan Rayhan adalah perasaan Kinara yang mungkin tersinggung oleh Kata-Kata mereka.


Waktu bergulir dan terus bergulir menapaki setiap alur cerita yang telah dituliskan takdir.


Rayhan bersandar diranjang rawat yang telah diangkat sedikit lebih tinggi, disampingnya seorang Suster dan Dokter tengah mengecek keadaannya.


Diatas meja juga sudah ada makanan yang disediakan dan diantar oleh pihak yang bertanggung jawab dalam menyediakan makanan untuk Para Pasien dan Dokter


Tak lama setelah kepergian Dokter Kinara pun datang dengan menenteng rantang makanan yang ia siapkan untuk Rayhan.


"Sayang," sahut Rayhan sambil menoleh kearah Kinara.


Setelah menaruh rantang yang sedari tadi dipegangnya Kinara pun duduk disamping Rayhan. Diliriknya bubur khas rumah sakit yang tak sedikitpun disentuh Rayhan.


"Belum makan Ray ?" tanya Kinara.


"Aku masih menunggumu Sayang, aku rindu makan berdua bersamamu." Jawaban Rayhan membuat Kinara tersenyum kecil.


"Jika aku tidak datang, apa kau juga tidak akan makan, Ray?" tanya Kinara.


Rayhan terkekeh. "Apa kau akan tega melakukan itu sayang,?" tanya Rayhan lembut.


Beberapa saat Kinara menatap mata Rayhan seolah mengatakan itu tidak mhngkun.


"Baiklah, mari makan," ajak Kinara sambil mendongkang makanan yang sebelumnya telah ia taruh. Pelan-Pelan Rayhan pun duduk.


"Perlu aku bantu Ray,?" tanya Kinara ia pun berdiri berniat membantu Rayhan.


Tapi Rayhan mencegahnya. "Tidak Sayang aku bisa sendiri duduklah !" pinta Rayhan, Kinara pun mengangguk patuh.


Dibuka dan disendoknya makanan yang sebelumnya ia bawa. Sementara Rayhan masih menatapi gerak gerik Kinara. Saat Kinara mengangkat sendoknya untuk menyuapi Rayhan, dua bola mata telah menatapnya lekat membuat Kinara gugup dan detak jantungnya mulai berirama tak beraturan.


"Ada apa Ray, kenapa menatapku seperti itu,?" tanya Kinara, ia mencoba menertalkan perasaan aneh yang seringkali muncul saat Rayhan menatapnya.


Meskipun ini buka kali pertama untuk Kinara, tapi tatapan Rayhan yang seperti ini selalu sukses membuatnya gugup.


Satu suapan tengah Rayhan kunyah pelan. "Setelah sekian lama baru kali ini aku makan dari tangan orang lain, dan rasanya sangat nikmat."


"Jika kau mau, aku bisa melakukannya setiap saat Ray, o ia bagai mana rasa masakannya,? enak?" tanya Kinara sekedar basa basi.

__ADS_1


Rayhan tersenyum, "Ini adalah sarapan teristimewa yang tak akan aku lupakan, sayangnya lidahku saat ini agak sedikit pahit jadi aku tak biasa merasakan makanan terlejat yang pernah aku temukan," jelas Rayhan membuat Kinara tersenyum malu


"Terima kasih, kau berlebihan Ray, aku rasa tanganku ini tidak sespesial itu."


"Kau tak percaya sayang? mari akan aku buktikan !" Rayhan meminta mangkuk yang dipegang Kinara dan telah Kinara berikan.


"Kau pun harus merasakan betapa nikmatnya makanan ini, dan terasa lebih sempurna saat memakannya lewat tangan seseorang yang kita sayang."


Rayhan menyendok dan menyuapi Kinara dengan penenuh kasih sayang.


Bukan makanannya yang lejat melainkan gabungan perasaan yang menjadikan semuanya terasa begitu sempurna.


Pelan-Pelan Kinara menelan makanan yang terasa begitu manis. Sikap hangat Rayhan berhasil membuat hati Kinara mengembang sempurna.


"Bagai mana sayang, enak bukan,?" tanya Rayhan. Peranyaan Rayhan hanya diangguki Kinara.


"Mari sekarang giliranmu makan Ray," pinta Kinara sambil menengadahkan sebelah tangannya meminta mangkuk dan sendok dari tangan Rayhan.


"Satu suapan lagi baru akan aku kasih," ucap Rayhan. "Aaaaa,"


Alih-Alih nyuapin Kinara Rayhan malah menjahilinya, dengan menarik mundurkan tangannya, saat Kinara semakin maju Rayhan langsung mengecup bibir Kinara dan Kinara pun terkejut hebat.


Belum juga Kinara berhasil melepaskan ciuman Rayhan Andini Tiba-Tiba nyelonong masuk dan menghentikan aksi romantis mereka.


Kinara menoleh kearah Andini dan membiarkan wajah Rayhan mengambang diudara.


"Din,?" sapa Kinara.


"Maaf salah kamar, harusnya kamar sebelah, maaf, maaf !" ucapnya bernada malu dan tidak enak hati.


Sadar datang disaat yang kurang tepat Andini kembali mundur sambil menutup pintu ruang rawat Rayhan.


Sambil menutup pintu Andini berdecak, "Duuhh kenapa gue datang disaat yang tidak tepat sih."


Akhirnya terpaksa Andini duduk diluar memberikan Rayhan dan Kinara untuk berduaan.


Gue bisa buktiin kalau hubungan mereka Baik-Baik saja dan gue yakin Kinara dan Rayhan tidak akan bercerai.


Beberapa patah kata diatas adalah pesan wa yang sedang ditulis Andini, tapi sebelum sempat mengirimnya Kinara keluar dan mengagetkannya.


"Din," tegur Kinara. Seketika Andini terperanjat dan lansung menutup layar handphonenya.


"Kinara" jawab Andini terkejut.


"Ngapain duduk disini,? nunggu siapa,?" tanya Kinara.


"Nunggu, nunggu." Andini meringis kesulitan memberi alasan kepada Kinara.


"Mau jenguk siapa, siapa yang sakit,?" tanya Kinara semakain menyelidiki.


"Uuh Eeh, ada teman,"


"Teman,?" ulang Kinara. "Siapa.?"


"Oo bukan teman tapi tetangga, ya tetangga," jelas Andini semakin ngawur membuat Kinara menyernyit tak mengerti.


"Aduuhh gimana nih ? mau masuk gue terlanjur bilang salah kamar, mau pergi gue.... aduuh jadi gini sih.." batin Andini menggerutu bingung.


"Din,?" panggil Kinara.


"Oo ia gue, gue, gue pergi sekarang," pungkas Andini.


Hanya karena memergoki Kinara dan Rayhan sendang berciuman Andini mengurungkan niatnya untuk mecari jawaban atas pertanyaan yang telah membulat dihatinya, tapi akhirnya Andini yang malah malu sendiri memilih pergi meninggalkan mereka.

__ADS_1


"Ada apa dengan Andini ?" fikir Kinara. Ia menggeleng heran atas perilaku aneh sahabatnya hari ini.


__ADS_2