
Mendengar nada suara Indra yang tampak marah disertai rasa khawatir yang mulai bercampur aduk, Kinara menunduk tak ingin menatap mata Indra yang tampak begitu menakutkan.
Rayhan berdiri mematung diluar ruangan tempat Kinara dan Indra bertengkar dan mendengar langsung teriakan mereka, meskipun maksud Indra baik karena begitu menyayangi dan mengkhawatirkan Kinara, tapi Rayhan tetap merasa bersalah karena telah mengatakan itu hingga membuat adik kakak itu berselisih paham.
"Kakak." Ucap Kinara lirih, bulir bening mulai menyusuri pipinya.
Jujur Kinara tidak ingin melibatkan siapa pun dalam masalahnya dengan Tamara. Kinara fikir masalah ini tak harus melibatkan orang lain. Karena, mungkin Tamara tidak menginginkan itu, yang Tamara benci hanyalah dirinya (Kinara), karena semua masalah yang terjadi adalah berawal dari Kinara sendiri, jadi dalam masalah ini Kinara berharap orang lain tidak perlu ikut campur karena tidak akan menyelesaikan masalah, sebab akar dari semua ini adalah dirinya dan Shan.
"Baik Kakak atau pun Rayhan, kalian tidak akan bisa menyelesaikan ini, karena kebencian dihati Tamara kepadaku sudah sangat besar dan membuih. Kalian berdua tidak akan mampu menyelesaikan masalah ini, karena masalah ini hanya antara aku, Tamara dan Shan. Kakak tenang saja aku tidak kesulitan menyelesaikannya, hanya saja aku perlu menunggu Shan karena hanya Shan yang bisa menjelaskan semuanya kepada Tamara."Ucap Kinara setengah berteriak.
Kinara kembali berbicara dengan lirih. "Aku mohon ! Kakak jangan bertindak apapun." Kinara menunduk terisak penuh permohonan.
Mendengar Kinara menangis membuat Rayhan tidak bisa menahan langkahnya untuk masuk kedalam ruangan, terlihat Kinara tengah menunduk membuat hatinya semakin pilu.
"Aku mohon kalian jangan ikut campur, kita tunggu Shan kembali ! biar dia yang menjelaskan semuanya kepada Tamara, aku mohon jangan terlibat dengan dia cukup aku saja, aku mohon ! aku mohon !" Ucap Kinara ditengah tangisnya.
Melihat Kinara semakin kacau Rayhan perlahan mendekat dan langsung memeluk Kinara.
Diciumnya berulang kali pucuk kepala Kinara.
Kinara perempuan kuat, serumit apapun masalahnya, sesulit apapun menghadapi itu ia tetap maju sendirian tanpa berfikir untuk melibatkan orang lain sekali pun itu kakaknya. Kurang lebih enam tahun sejak kepergian Shan, Kinara selalu mendapat berbagai rundungan dan ancaman juga ujaran kebencian dari Tamara, tapi selama itu juga Kinara berhasil menyembunyikan semuanya dari Indra, Sang Kakak.
Enam tahun itu terbongkar setelah Rayhan masuk dan mengetahui semuanya.
"Sayang jangan menangis lagi !" Ucap Rayhan lembut sambil terus membelai halus kepala Kinara.
"Kamu harus berjanji Ray, kamu tak boleh terlibat dalam masalah ini biar aku sendiri saja, aku mohon ! aku mohon berjanjilah !"
Indra berteriak. "Kinara itu tid..." Indra hendak menyangkal permintaan Kinara tetapi seketika terdiam saat Rayhan mengisyaratkan tangannya meminta agar Indra diam. Rayhan tau Indra tidak akan setuju dengan keinginan Kinara.
"Ya, baik kami tidak akan ikut campur, tapi kamu harus berjanji, kamu harus menjaga diri Baik-Baik ! jika kamu mendapat kesulitan atau jika Tamara kembali bertindak keterlaluan, aku mohon ! ceritakan semuanya, jika aku tidak bisa membantumu menyelesaikan ini setidaknya aku ada untuk memberikanmu semangat, mendukung dan mendorong kamu Sayang, aku harap semuanya bisa segera selesai," Tutur Rayhan lembut dengan Kinara masih dalam pelukannya, sesekali ia mengangguk kecil mengiakan permintaan Rayhan.
Sementara Rayhan tengah meredakan emosi Kinara, diujung sana tak jauh dari mereka Indra mendengus kesal, emosinya seakan tak terluahkan menggunung didalam hatinya.
Pelan-Pelan Rayhan melepaskan pelukannya lalu dengan lembut menghapus linangan air mata yang membasahi pipi Kinara.
"Sudah jangan menangis ! sekarang kamu pergi mandi dulu ! setelah itu kita pergi makan bersama." Tutur Rayhan lembut dan Kinara pun hanya mengangguk lemah, tak lama kemudian ia pergi tanpa menoleh kearah Indra yang tampak masih emosi pada dirinya.
Setelah memastikan Kinara pergi, Rayhan berjalan mendekati Indra, guratan emosi terpancar dari wajahnya, mungkin Indra kesal karena Rayhan setuju untuk tidak ikut campur dalam masalah yang dihadapi Kinara.
__ADS_1
"Ray, bagai mana ? kenapa kamu malah setuju untuk tidak ikut campur dalam masalah Kinara ? apa kamu akan membiarkan dia menghadapi ini sendirian ? apa kamu tidak menghawatirkannya ? apa kamu akan membiarkan adik ku begitu saja ?" Tanya Indra dengan nada marah kepada Rayhan. Namun Rayhan tau Indra tidak sedang memarahinya, Indra seperti ini karena dia sangat menyayangi Kinara dia sangat mengkhawatirkan keselamatan adik kesayangannya itu.
"Kakak duduk dulu !" Pinta Rayhan sambil menyeret Indra dan mendudukkannya diatas kursi.
"Apa yang Kakak rasakan [khawatir] juga aku merasakannya, tapi Kinara juga mengkhawatirkan keselamatan kita untuk itu sampai detik ini ia berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan semua ini. Dalam hal ini kita harus mengedepankan perasaan Kinara, bagai mana pun dia adalah korbannya, jika kita bertindak gegabah Kinara juga yang akan mendapat imbasnya. Yang aku takutkan saat ini adalah Tamara akan semakin menjadi bila kita ikut campur dalam masalah ini, dan mungkin Kinara akan sangat terancam, kita perlu memikirkan jalan keluar yang terbaik. Kinara benar, kita tidak akan bisa menyelesaikan masalah ini, karena akar masalah ini adalah Shan, sedangkan kita tidak tau Shan ada dimana. Jika kita ingin membantu Kinara menyelesaikan masalah ini, hanya satu yang bisa kita lakukan yaitu mencari Shan." Jelas Rayhan, mendengar itu Indra pun luluh dan emosinya mulai mereda.
Indra menggeleng kecil. "Ray, aku tidak percaya Kinara menyembunyikan ini, dia menyembunyikan masalahnya selama Bertahun-tahun, dia memendam ini sendirian. Aku adalah orang yang paling dekat dengannya, tapi aku tidak pernah tau kalau Kinara memiliki masalah sebesar ini." Ucap Indra yang diakhiri dengan memijat kecil sudut kedua bola mata yang hampir menjatuhkan air mata.
Beberapa saat Indra masih tertunduk lemah, tak lama kemudian Indra kembali menegakan batang lehernya lalu berkata : "Jadi apa yang bisa kita lakukan Ray.?" Tanyanya.
"Kita hanya bisa berdiri dibelakang kinara sampai kita menemukan Shan," Jawab Rayhan lirih.
"Baiklah, akan segera aku temukan lelaki itu," Sahut Indra tegas dan dibalas dengan anggukan kecil dari Rayhan.
...
"Sayang," Panggil Rayhan dari ambang pintu. Menutup pintu kemudian berjalan mendekati Kinara yang tengah duduk didepan cermin rias, tatapannya melambung kosong tak tentu arah. Disana, diwajah itu Rayhan menemukan beban yang cukup berat.
Menyadari Rayhan berjalan kearahnya Kinara menoleh dan terlebih dahulu menghapus linangan air matanya.
Dipeluknya subuh mungil yang tengah terduduk diatas kursi, Rayhan merengkuh membiarkan dangunya berdiri diatas kepala Kinara. Pada cermin didepannya Rayhan mencoba menatap mata Kinara, tetapi Kinara terus menghindari tatapan Rayhan seolah menyembunyikan segala hal yang bisa terlihat lewat matanya.
"Sayang." Panggil Rayhan lirih.
"Aku minta maaf !" Ucap Rayhan. "Aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini." Tambah Rayhan.
"Ray, aku mohon lain kali apapun yang ingin kamu katakan tentang masalah yang aku hadapi, kepada siapa pun itu, aku mohon bertanyalah kepadaku terlebih dahulu, aku tidak suka orang lain ikut campur dalam masalahku." Ungkapnya lirih.
Rayhan memutar kursi Kinara dan berjongkok dihadapannya. "Tapi Sayang Kakak Indra bukan orang lain dia Kakak kamu dia berhak mengetahui ini, kamu tidak bisa menghadapi ini sendirian."
"Tapi kamu lihat sendiri 'kan dia marah seperti itu kepadaku ?" Sela Kinara.
"Itu karena kamu tidak jujur dari awal, Kak Indra bukan marah, dia seperti itu hanya karena mengkhawatirkan kamu." Ucap Rayhan lembut.
"Ray, aku mohon kalian jangan ikut campur dalam masalah aku dan Tamara, kamu masih ingat'kan kejadian di Villa? Ray aku tidak ingin hal itu terulang kembali, aku mohon jauhi Tamara, jangan mencari masalah dengan dia. Kamu ingat pengeroyokan itu ? aku tidak ingin orang lain mengalami itu, cukup aku saja." Kinara menatap Rayhan dengan tatapan memohon.
Digenggamnya jemari Kinara, dibelai halus kemudian dicium penuh kasih. Ditatapnya mata yang tengah menatap dirinya, Rayhan pun mulai membelai halus pipi Kinara.
"Baik Sayang aku turuti, tapi kamu harus berjanji ! kamu harus terbuka kepadaku apapun itu, jangan pernah kamu simpan bebanmu sendirian. Ingat ! sekarang aku ada disini, ada disampingmu, Sayang tak boleh memendam masalahmu. Kalau boleh, aku minta kamu membagi seluruh hidupmu denganku, baik itu kebahagiaan ataupun kesedihan, bisa ?" Pinta Rayhan.
__ADS_1
Kinara mengangguk sambil terenyum setuju.
Melihat Kinara tersenyum kembali Rayhan pun ikut tersrnyum senang. Ditatapnya perempuan itu penuh cinta, Rayhan berdiri kemudian memeluk Kinara sangat erat, Kinara pun balas memeluk Rayhan.
Rayhan berkata dengan lirih: "Sayang, aku minta maaf ! karena telah lancang menceritakan masalah mu kepada Kak Indra, semuanya aku lakukan karena aku tak bisa melihatmu terus diancam Tamara, aku sangat mengkhawatirkan kamu, aku takut kamu Kenapa-napa. Aku kira Kak Indra tau masalah ini, tapi ternyata Kak Indra malah lebih syok dari pada aku." Rayhan merenganggkan pelukannya, tangannya meraih dan menarik kursi dan kemudian duduk tepat didepan Kinara, tangan itu kembali menggenggam jemari Kinara.
"Sayang. Kamu tau ? Kak Indra berkata dengan sangat sedih, aku orang yang paling dekat dengan Kinara tapi aku tidak pernah tau kalau Kinara memiliki masalah sebesar ini. Kamu tau Sayang ? Kakak Indra tadi hampir menangis karena menghkawatirkan kamu." Tutur Rayhan lembut.
Mendengar itu Kinara kembali menunduk, hatinya seakan tersentuh oleh ucapan Rayhan tentang Indra.
"Kemarilah Sayang !" Rayhan menarik kursi yang dipakai Kinara, mendekatkan tubuhnya lalu menyandarkan kepala Kinara dibahunya. "Sayang sejak kapan kamu memendam masalah ini ?" Tanya Rayhan.
"Semua ini berawal sejak kelulusan kaka kelas kami, waktu itu aku masih duduk dibangku sebelas dan saat itu pula aku masih berkawan dekat dengan Tamara, dekat melebihi keluarga. Aku sangat senang mempunyai teman sebaik Tamara, kami saling berbagi, apa pun yang aku punya Tamara berhak memakai dan menikmatinya begitu juga sebaliknya." Beber Kinara.
Kinara masih bersandar dibahu Rayhan, bahu yang sederhana itu bak setitis taman surga yang jatuh ke Bumi. Aroma lembut harum tubuh Rayhan begitu menghanyutkan dan menenangkan bak bunga yang tumbuh disana di Taman Surga. Sandaran itu begitu nyaman, indah, sejuk dan meneduhkan hati dan fikiran Kinara, saaaangat nyamaaan. Belaian lembut tangan Rayhan seperti angin sejuk dipadang gersang yang terus menyapu lembut rambut Kinara yang kepanasan. Saat bersandar disana semua keresahan, kegundahan, ketakutan, kekhawatiran hilang dan sirna tanpa sisa, semuanya terasa ringan, semuanya bisa Kinara lewati asal Rayhan tetap bersamanya.
"Lalu apa yang membuat kedekatan itu menjadi renggang.?" Tanya Rayhan lirih, sebelah tangannya masih menyisirembut rambut Kinara.
"Seperti yang kamu ketahui. Shan, walau tidak sepenuhnya salah dia, tapi sejak Tamara tau Shan mencintai ku, Tamara pun mulai menjauh. Tamara sangat Tergila-gila kepada Shan, dia telah menyukai Shan sejak awal kami bersekolah disekolah yang sama dengan Shan. Saat itu...
Flash back.
"*Kinara ayolah bantu aku ! aku tak bisa lagi menahan rasa ini, aku sangat mengagumi Shan, aku mohon bantu aku, bantu aku menyatakan cintaku kepada Shan."
"Kenapa harus minta bantuan segala, bukankah lebih baik kamu menyatakannya sendiri.?"
"Kinara semua ini terlalu canggung, aku tak bisa, aku tak bisa mengatakan cintaku secara langsung, jangankan untuk mengatakan cinta, sekedar menyapa saja aku sangat kesulitan, Shan selalu membuat aku gugup Kinara."
"Mm baiklah akan aku bantu, tapi jangan salahkan aku jika semuanya gagal, karena aku tidak tau harus melakukan apa, aku tak tau perasaan suka itu seperti apa, dan apa yang harus kita lakukan untuk orang yang aku suka, aku juga tidak tau."
"Tidak Apa-Apa, yang penting kamu sudah berusaha, dan yang terpenting, aku ingin Shan tau kalau aku sangat mengaguminya."
"Baiklah baik, karena aku tidak tau apa yang harus aku lakukan, besok kamu datanglah disini dan usahanakan kamu membawa kado untuk Shan, buat Shan terkesan dengan pertemuan pertama kalian*"
Flashback off.
"Tapi takdir tidak berjalan dengan yang diharapkan Tamara. Hari itu, Shan malah menyatakan cintanya kepadaku, menyatakan langsung didepan Tamara yang telah siap dengan kado dan juga perasaannya. Aku pun terkejut saat Tiba-Tiba Shan datang menyatakan cintanya, aku tidak pernah tau kalau selama ini Shan menyukai ku dan aku tidak mengharapkan itu. Seandainya aku tau perasaan Shan lebih awal mungkin hari itu aku memilih tidak datang untuk membantu Tamara, dan kesalah pahaman ini mungkin tidak akan terjadi."
"Kamu tau Sayang ? walau hari itu kamu tidak datang, perasaan Shan kepadamu tidak akan bisa dicegah dan Tamara tetap akan mengetahuinya juga. Aku lihat Tamara terlalu berlebihan menanggapi ini, seandainya dia tau, perasaan itu tak akan bisa dipaksakan, sekuat apapun Tamara berusaha, hati Shan tak akan berpaling kepadanya." Balas Rayhan.
__ADS_1
Kinara menegak lalu menatap mata Rayhan. "Dari mana kamu tau itu ?" Tanya Kinara.
"Karena itulah yang aku rasakan saat ini." Jawab Rayhan.