Istri Terbaik Pilihan Ayah

Istri Terbaik Pilihan Ayah
Suami


__ADS_3

Semenjak berbalik kearah Rayhan, Kinara terus menusukkan tatapannya kepada laki-laki yang berdiri dihadapannya, tatapan itu seakan meminta untuk diberinya kepercayaan.


Kinara melangkah perlahan mendekati Rayhan dengan tatapan yang sulit diartikan.


Tanpa Rayhan duga sebelumnya.


Tiba-Tiba Kinara menarik pucuk lehernya dan tanpa ragu lagi dia langsung mencium bibir Rayhan, Rayhan yang mendapati keberanian Kinara sontak melotot tak percaya.


"Terima kasih karena sudah cemburu kepadaku." Bait yang terucap lirih tersebut mengakhiri aktivitas Kinara kepada Rayhan.


Setelah itu Kinara berbalik sambil tersenyum malu karena telah berani melakukan itu kepada Rayhan, dan yang paling membuatnya malu adalah ciuman itu baru kali pertama Kinara layangkan kepada seorang lelaki.


Rayhan termenggu beberapa saat.


Rayhan yang tidak terima Kinara mengakhiri aktivitasnya, lantas kembali menariknya paksa kedalam pelukan, Rayhan berniat membalas aksi berani Kinara yang menurutnya terlalu singkat.


Tanpa ragu, Rayhan pun melayangkan ciumannya, namun saat bibir keduanya hampir bersentuhan. Tiba-Tiba.


Drrrtt Drrrt Drrt...


Handphone Rayhan Bergetar-getar didalam sakunya.


Iiccchhh.


Decaknya, kesal.


Untuk sementara aksi yang hampir terlancarkan itu terpaksa terhenti.


Dengan hati gondok Rayhan menerima panggilannya.


"Halo, Mah." Sahut Rayhan.


"Ray, kamu lagi dimana.? Mamah udah sampe dirumah tapi rumah dikunci kalian lagi dimana.?" Tanya Karin disebrang telpon, nampaknya Karin sudah cukup lama berdiri disana menunggu Rayhan, dan tampaknya mulai kesal dan bosan.


"Oh. Rayhan lagi ditempat Kinara melatih, Mah. Sebentar lagi pulang kok."


"Oo baiklah jangan Lama-Lama,ya ! Mamah udah pegal nunggu kalian."


"Ia, Mah. Rayhan pulang sekarang juga.!"


Tuut. Panggilan diakhiri.


Huump.


Dibuangnya nafas dengan kasar,


Rayhan nampak sedikit kesal karena tidak berhasil mencium Kinara. Tapi lain dengan Kinara, dia hanya tersenyum kecil menanggapi kekesalan Rayhan.


"Mamah sudah nunggu kita dirumah, bisa kita pulang sekarang.?" Pinta Rayhan.


Kinara hanya menganggukinya.


Lalu Kinara melenggang mengambil kembali tas yang sempat dijatuhkannya tadi.


Saat Kinara melenggangkan kakinya bergegas untuk pulang, Tiba-Tiba Rayhan menahannya, "Kinara, aku minta maaf.!" Ucap Rayhan sambil menggenggam tangan Kinara. "Aku tidak bermaksud tidak mempercayaimu. Aku telah dibuat keliru menanggapi semua ini, tapi kini aku telah sadar ternyata aku cukup bodoh dan mudah terpengaruhi ucapan orang lain. Dari semua kejadian yang menimpamu aku mungkin tidak layak mendapatkan maafmu, Kinara."


Kinara balik menggenggam tangan Rayhan sambil menempatkan senyum dibibirnya, "Tidak Apa-Apa, semua itu wajar karena kau baru mengenalku. Kau tidak perlu khawatir tanpa dipinta pun aku sudah memaafkanmu." Ucap Kinara lirih.


"Terima kasih, sayang." Ucap Rayhan sambil menarik Kinara kedalam pelukannya.


Kinara terkejut hebat dan tak percaya akan kalimat yang baru saja diucapkan Rayhan untuknya. Sayang,?? bukankah kalimat tersebut terlalu intim.? Ingin Kinara meminta Rayhan mengatakannnya sekali lagi untuk memastikan ucapan itu bukan angin yang berlalu, tetapi dirinya terlalu malu dan tak cukup mempunyai keberanian untuk mengatakan itu.


Kalimat sederhana yang Rayhan lontarkan sukses membuat fikiran Kinara melambung tinggi dadanya dibuat kembang kempis, seandainya hati bisa terlihat pergerakannya pasti akan terlihat melayang terbang diangkasa.


"Apa kau mau berjanji untuk mendengarkan penjelasanku dan mempercayaiku terbih dahulu, Ray.?" Pinta Kinara.


"Ia, ia. Aku berjanji Kinara. Aku tak akan mengulangi hal bodoh itu lagi, aku berjanji Kinara, aku berjanji." Ucap Rayhan, sambil sesekali dia mencium punggung tangan Kinara.


"Sekarang kita pulang," Ajak Kinara.


Dia pun kembali melangkah dan saat itu juga Rayhan kembali menarik Kinara kedalam pelukannya, "Sebelum kita pulang biarkan aku memelukmu sekali lagi." Ucapan tersebut terdengar sangat indah terbisik ditelinga Kinara.


Tak bisa mengekspresikan kebahagiaannya Kinara hanya mengangguk setuju.

__ADS_1


Segera Rayhan menarik Kinara kedalam pelukannya, "Kau tau Kinara.? Aku sudah sangat lama menantikan ini, sayangnya kau tidak tau betapa aku sangat ingin memelukmu." Ucap Rayhan didalam hatinya.


"Khm... Khm...Khm."


Mereka berdua sama menoleh kesumber suara.


Dilihatnya Faldi berdiri dibelakangnya sambil menenteng sebuah tas lecil.


Kinara dan Rayhan pun saling melepaskan pelukannya sambil tersenyum malau.


"Cie guru." Goda Faldi.


Wajah Kinara berubah memerah menyala saat Faldi yang masih polos mencoba menggodnya.


"Apa sih Faldi.?" Kinara tersenyum kecil menyembunyikan perasaan malu yang mungkin tergambar diwajahnya.


"Guru ! Guru dia siapa.?" Tanya Faldi setengah berbisik.


Sekilas Kinara mendongak menatap Rayhan, beberapa detik kemudian kembali menjatuhkan tatapannya kepada bocah Laki-Laki yang tengah bergelayut manja ditangannya.


"Kamu tanya sendiri gih !" Bisik Kinara.


Faldi sedikit memiringkan kepalanya menoleh Rayhan yang sedikit terhalang tubuh Kinara.


"Om.! Om ini siapa'nya Guru.?" Tanyanya cengengesan.


Rayhan tersenyum kecil kemudian berjalan menghampiri Faldi, Rayhan merendah untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Faldi.


"Faldi ingin tau om siapa.?" Tanya Rayhan.


"Ia Om."


"Beri tau Om alsan kenapa Faldi bertanya seperti itu.?"


Tanpa berfikir terlebih dahulu, "Karena sebelumnya Guru tidak pernah terlihat memeluk Laki-Laki." Ucap Faldi tanpa ragu.


Rayhan tersenyum, sekilas melayangkan tatapannya kepada Kinara, dilihatnya Kinara yang salah tingkah.


Kinara menyenggol Faldi, "Faldi apaan sih,? siapa yang ngajarin kamu bicara seperti itu.?"


"Cepat Om, cepat Om." Teriak Faldi sambil Meloncat-loncat kegirangan ia tak sabar menunggu pengakuan Rayhan.


"Om ini... Suaminya Guru Kinara," Jelas Rayhan.


Seketika Faldi terdiam tak percaya.


Bocak polos itu seakan mengerti dengan maksud yang diucapkan Rayhan.


"Suami,?" Tanya Faldi.


Rayhan tersenyum kecil sambil menganggukinya.


"Maah, Maaah !" Teriak Faldi. Kemudian Ia berlari mencari ibunya untuk memeberitahukan kabar yang baru ia dapatkan.


Tak lama kemudian Faldi datang bersama ibu yang setengah ia seret.


"Ada apa, Nak.?" Tanyanya heran.


"Mah, ini suami Guru mah, Guru sudah menikah." Ucap Faldi kesenengan sambil Menunjuk-nunjuk Rayhan.


"Apa itu benar, Guru.?" Tanya ibu tersebut.


"Ibu boeh tanya orangnya." Jawab Kinara Malu-Malu.


Kemudian ibu tersebut berganti menatap Rayhan menuntut jawaban.


Rayhan pun tersenyum sambil mengangguk kecil, "Ia Bu. Kenalin saya Rayhan !" Ucapnya sopan sambil mengulurkan tangangan.


"Saya Ami, Ibunya Faldi." Ucapnya sambil menyambar tangan Rayhan.


"Suami Guru ganteng yah, Buk." Ucap Faldi.


"Ia ya, Nak." Sahutnya.

__ADS_1


"Nanti kalau Faldi udah dewasa pasti genteng kayak Om Suami, ya'kan Buk.?" Cetus Faldi.


"Pasti sayang." Pungkas Kinara.


Dengan gemasnya Kinara mencubit hidung Faldi.


"Oh ia, Buk. Kinara sekalian pamit ya.!"


"Kenapa Buru-Buru ? Ibu masih mau Ngobrol sama kalian."


"Sebelumnha maaf Buk,! tapi kita sudah ditunggu Mamah dirumah."


"Baiklah kalau begitu, Hati-Hati dijalan, kalo ada waktu mampir dan main kesini ya.!"


"Insya Alloh." Ucap Rayhan seraya menggandeng Kinara.


Ditatapnya lelaki yang baru saja meremas jemari dan menggandengnya untuk melangkah bersama, setelah cukup puas Kinara pun melangakah mengimbangi Rayhan.


Selama perjalanan Kinara tak hentinya berdoa dan berharap ini bukan hanya mimpi disiang bolong.


Kinara masih tak percaya bisa berjalan bergandengan dengan Rayhan, Laki-Laki pilihan Sang Ayah.


Sejak melangakah meninggalkan kediaman Faldi suasana masih sangat hening, situasi canggung membuat keduanya Sama-Sama diam, hanya sesekali saling Mencuri-curi pandang.


Beberapa menit kemudian mereka telah sampai ditepi jalan raya menunggu angkutan.


Disana Kinara sempat menoleh ketempat Rayhan saat dipeluk Tamara, bersamaan dengan mata yang tertunduk hampa Kinara sedikit mendesah kecewa.


Rayhan yang mengerti keadaannya segera membalikan wajah Kinara kehadapannya, "Kamu kecewa.?" Tanya Rayhan.


Kinara menggeleng berusaha menyembunyikan perasaannya.


"Baguslah kalau begitu. Tapi perlu kamu tau, malam itu aku tidak sengaja bertemu dengan Tamara, aku juga tidak tau sejak kapan Tamara mengikutiku, aku pun dibuat terkejut saat Tiba-Tiba dia datang memelukku dan membuatmu salah paham, menghancurkan rencanaku untuk menjemputmu." Jelas Rayhan.


Kinara terdiam beberapa saat membuat suasana kembali hening, "Aku hanya tidak suka kau Dekat-Dekat dengannya."


"Apa itu berarti kau cemburu Kinara.?" Tanya Rayhan.


Sekilas Kinara menatap Rayhan, "Kau Suamiku apa tidak wajar jika aku cemburu,?" Ucapnya pelan hampir tidak bisa didengar Rayhan.


"Aku tidak begitu mendengarnya, boleh kau ulangi sekali lagi,!" Pinta Rayhan.


"Aku rasa tidak perlu, sudah kau lupakan saja.!"


"Kinara.?" Panggil Rayhan.


Kinara terpaku menatap Rayhan.


"Bolehkah aku.?"


Rayhan sedikit Ragu-Ragu mengungakapkan keinginannya.


"Taxi, !" Teriak Kinara sambil melambaikan tangannya.


"Apa yang kau inginkan, Ray.?" Kinara beralih pandangan dari sebuah taxi yang dihentikannya kepada Rayhan.


Sebelum menjawab, ditatapnya perempuan yang tengah berkerut dahi sambil menatapnya, dan akhirnya Rayhan hanya menanggapi Kinara dengan senyuman, "Tidak ! lebih baik kita segera pulang ! kasian Mamah nunggu kita." Pungkas Rayhan.


Mereka berdua pun melaju bersama taxi yang Pak Sopir kemudikan.


Suasana kembali canggung sejak Kinara duduk menyebelahi Rayhan.


Ditatapnya lelaki tampan disampingnya, seketika jantung Kinara berdebar kuat, hati juga bergemuruh tak tentu, seleuruh tubuhnya berubah panas tak karuan.


Keadaan ini baru dia rasakan saat berdekatan dengan Rayhan.


"Ada apa,?" Tanya Rayhan. Sekilas menatap Kinara sambil melemparkan senyum manis kepadanya yang masih terpaku dengan tatapannya.


Saat itu juga Kinara tersadar bahwa dirinya tengah menatapi Rayhan, dan mungkin juga telah cukup lama.


"Tidak, tidak !" Sanggahnya.


Kinara segera memalingakan wajahnya ketepi jendela sambil mengatur uluran nafas yang terasa sedikit sesak karena malu.

__ADS_1


"Perasaan apa ini, ? kenapa jantungku begitu berdebar kencang ketika Rayahan menatapku,? sebelumnya aku tidak merasakan ini." Gumam Kinara dalam hatinya.


__ADS_2