Istri Terbaik Pilihan Ayah

Istri Terbaik Pilihan Ayah
Pinta Indra.


__ADS_3

Indra mematung didepan pintu, tangannya masih memegang gagang pintu yang daunnya sedikit terbuka sebatas sebelah wajahnya.


Beberapa saat kemudian Indra melangkah meninggalkan kamar yang masih berbau romantis. Disana, dikamar itu Kinara masih bersandar dibahu Rayhan sambil terkikik terus menerus, entah apa yang Rayhan katakan sehingga Kinara tampak tertawa geli. Melihat Kinara tampak sudah membaik emosinya, akhirnya Indra pun mengurungkan niatnya untuk meminta maaf kepada Kinara atas kejadian yang baru saja terjadi.


"Heii Sayang !" Rayhan menarik tangan Kinara dan menahan dalam langkahnya.


Kinara pun berbalik menghadap Rayhan dengan senyum berseri. "Apa lagi ? kau belum puas membuatku tertawa?" Tanya Kinara.


"Kalau Sayang masih ingin tertawa, akan aku ceritakan kejadian memalukanku yang lain dan aku yakin," Rayhan menarik Kinara lebih mendekat dengan dekapannya yang masih terduduk diatas kursi. "Sayangku ini akan kembali tertawa, walaupun untukku itu sangat memalukan."


"Baiklah," Kinara balas menyisir lembut rambut hitam Rayhan. "Kau tidak perlu menceritakan kejadian memalukan mu lagi, lagian perutku bisa keram bila terus tertawa."


Mendengar itu Rayhan tertawa geli.


"Terima kasih karena Sayang ku ini tidak akan menertawakanku lagi."


"Tidak didepanmu, Ray." Ucap Kinara sambil tersenyum gemas.


"Benarkah.?"


Kinara memangut sambil tersenyum tipis.


Diruang Makan.


Indra terduduk sendirian, didepannya berbagai hidangan yang sebelumnya telah dimasak Kinara dan dibantu Seorang Asisten rumah tangga dirumah itu.


Tak lama setelah Indra menyuruh Sang Asisten memanggil Kinara dan Rayhan, mereka pun datang.


Disana, menapaki anak tangga terlihat Rayhan digandeng Kinara. Kedua tangan Rayhan diselipkan disaku celananya sementara sebelah tangannya digandeng Kinara yang terus tertawa kecil mengiringi perbincangan ringan mereka, begitu juga dengan Rayhan sambil sesekali menoleh perempuan yang tengah menggandengnya ia pun tampak tersenyum sehingga wajahnya begitu berseri. Dilihat dari sisi ini mereka tampak begitu serasi dan tampak berbahagia.


Saat mereka berdua berjalan cukup dekat Indra pun menyapa keduanya.


"Selamat malam Ray, Kinara." Ucap Indra sambil tersenyum menyambut keduanya.


"Malam Kak." Sahut Rayhan.


"Malam Kak." Sahut Kinara.


Rayhan antusias menarikan kursi untuk Kinara duduki.


"Ray, kau tidak perlu melakukan ini, aku bisa sendiri." Kata Kinara.


"Tidak Apa-Apa Sayang." Balas Rayhan dengan senyum tulus tersungging diwajahnya.


"Semua menu ini ? apa kita bisa menghabiskannya.?" Tanya Kinara.


Indra yang hampir menyendok nasi sempat menghentikan aktivitasnya saat Kinara berbicara seperti itu kepadanya, berbicara tanpa canggung, dari nada suaranya seolah sebelumnya tidak terjadi Apa-Apa. Mendapati itu Indra sempat terheran. Bukan apa, Indra sempat berfikir Kinara akan marah kepadanya dan mungkin tidak akan berbicara juga. Tapi saat ini pembicaraan Kinara seolah tadi tidak terjadi Apa-Apa sikapnya begitu biasa saja.


"Ooh itu, tadinya Kakak mau ngundang Ayah juga. Tapi, Kakak lupa kalau hari ini Ayah ada pertemuan mendadak diluar negri."


"Pertemuan mendadak.?" Tanya Kinara, menyernyit dahi.


"Ya, tadi saat ditelpon Ayah bilang begitu." Jawab Indra.

__ADS_1


"Oo sayang sekali padahal sudah lama sekali kita tidak makan bersama." Keluh Kinara.


"Tidak Apa-Apa, pasti lain kali Ayah akan bersedia" Tutur Indra meyakinkan Kinara.


"Kalau gitu silahkah, nikmati makanannya !" Suruh indra, mempersilahkan untuk menikmati makanannya.


"Sayang aku ambilkan nasi untukmu" Ucap Rayhan lalu mengambil piring dihadapan Kinara.


Kinara sempat menahan Rayhan yang hampir menyendokan nasi untuknya, Kinara berkata. "Tidak usah Ray, biar aku sendiri yang ambil."


Namun tentunya keinginan Kinara dibantah Rayhan, dengan lembut ia berkata. "Tidak Apa-Apa Sayang biar aku saja, kamu terlalu sering melakukan ini untukku, bolehlah Sekali-Sekali aku yang mengambilkan makanan untukmu." Tutur Rayhan sambil menyedok nasi dan mengambil beberapa macam lauk dan sayur.


"Kak Indra, mau aku ambilkan juga ?" Tanya Rayhan ketika melihat Indra hanya terdiam menyaksikan aktivitasnya saat memperlakukan Kinara dengan sangat baik.


"Ooh" Indra mengerejab. "Tidak Ray ! Kakak bisa ambil sendiri" Tolak Indra halus.


Rayhan memangut sopan. "Ini Sayang." Ucap Rayhan sambil memberikan piring yang telah berisi nasi dan juga lauk yang disukai Kinara.


"Terima kasih." Ucap Kinara senang saat menerima piring itu, tapi tidak ketika melihat isinya.


Kinara manatap Rayhan dengan tatapan kesal, lalu berkata: "Ray, apa kau ingin menjadikanku terlihat seperti ikan buntal.?" Kesal Kinara.


Bagai mana tidak, piring itu diisi penuh oleh nasi juga berbagai macam lauk dan sayur.


Rayhan tersenyum gemas. "Tidak Apa-Apa biar aku semakin gemas untuk mencubit kedua pipimu ini Sayang," Jawab Rayhan sambil mencubit dengan gemas kedua pipi Kinara.


"Itu tidak akan aku biarkan, aku tidak akan membiarkan kedua pipiku menggembung. Kalau tidak ! aku akan merasakan sakit dikedua pipiku setiap hari" Sahut Kinara sambil memegang kedua pipinya yang baru saja diremas Rayhan.


"Oo ia ? kalau begitu aku cubit dibagian hidung saja agar pipi kamu tidak kesakitan." Timpal Rayhan sambil beralih memencet gemas hidung Kinara.


"Kak." Panggil Kinara, Indra yang tengah menunduk fokus pada makanannya pun mendongak.


"Ya" Sahut Indra.


"Ngomong-Ngomong pertemuan mendadak apa? sehingga Ayah pergi diakhir pekan.?" Tanya Kinara.


"Kakak tidak tau."


"Apa Ayah berkencan.?" Balas Kinara. Pertanyaan itu membuat Indra sejenak menghentikan kunyahannya seraya berfikir, menyelidik.


"Apa kita bakal punya ibu sambung.?"


"Entahlah, tapi Kakak rasa Ayah tidak melakukan itu." Sanggah Indra.


Mendengar itu Kinara memberenggut kecewa. Iya, Kinara memang berharap Safiq segera mencari pendamping yang akan menemani sisa hidupnya.


...


...


"Kak.?" Ucap Rayhan, ia berjalan masuk kedalam kamar Indra. Disana, ditepi jendela Indra berdiri memandangi pekatnya malam yang hanya diterangi lampu taman. Selepas Rayhan memanggilnya Indra sedikit menoleh


kepada Rayhan yang perlahan mendekatinya.

__ADS_1


"Apa kau tidak memperlakukan Kinara dengan berlebihan.? Aku harap kau tidak sedang Berpura-pura dihadapanku Ray !" Ucap Indra setelah Rayhan berdiri sejajar dengannya.


Mendengar pertanyaan semacam itu hati Rayhan serasa diremas. Pertanyaan itu seakan kuncul dari ketidak percayaan Indra pada kasih sayang Rayhan, secara tidak langsung Indra tengah mengungkapkan keraguannya akan ketulusan Rayhan.


Sebelum menjawab pertanyaan Indra, Rayhan telah menghela nafasnyan dalam dalam membuang semua rasa yang menggejolak atas pertanyaan Indra.


"Jika berbicara tentang Pura-Pura. Ya, aku memang sedang Pura-Pura, Pura-Pura baik dan menjadi yang terbaik dihadapan Kak Indra, apa yang Kakak tanyakan inilah kebenarnanya Kak." jawab Rayhan tanpa ragu.


"Untuk apa kau lakukan ini Ray.?" Tanyan Indra datar.


"Untuk meyakinkan Kak Indra." Jawab Rayhan singkat.


"Apa yang kamu inginkan atas ini, Ray.?" Tanya Indra dengan nada sikap dingin.


"Tidak banyak, aku hanya ingin Kinara tetap disisiku. Jujur, undangan ini membuat aku sangat gugup, aku merasa Kak Indra sedang mengoreksi perlakuanku kepada Kinara. Untuk itu, meski aku tidak bisa memperlakukan Kinara dengan baik, disini dihadapan Kak Indra aku ingin meyakinkan bahwa aku bisa menjaga dan memperlakukan Kinara sebaik mungkin, ya aku selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk Kinara." Balas Rayhan dan diakhiri dengan menundukkan kepalanya, berpasrah akan menerima apapun yang Indra katakan.


Indra membuang nafasnya lega.


"Apa yang kau fikirkan itu benar Ray, aku memang sengaja mengundang kalian untuk misi pribadiku, tanpa kalian sadari aku memerhatikan kalian dari belakang. Sebagai seorang Kakak aku takut, takut adikku diperlakukan buruk oleh suaminya. Walau aku telah berusaha berprasangka baik, tapi mohon maaf ! aku tetap tidak bisa mengkilangkan kekhawatiran ini."


Rayhan menunduk menyimak perkataan Indra yang terdengar begitu menakutkan, untuk Rayhan Kata-Kata itu tak lebih dari sebuah ancaman. Sendainya Rayhan tidak memperlakukan Kinara dengan baik, pasti Indra akan menarik Kinara dari Rayhan seperti yang pernah Indra katakan sebelumnya.


Dengan masih menunduk takut Rayhan memberanikan diri untuk bertanya. "Setelah melihat ini apa yang akan Kakak putuskan.?"


"Hm.. "


Rayhan menyela Kata-Kata yang hendak diungkapkan Indra. "Aku mohon ! jangan ambil Kinara ! setidaknya beri aku kesempatan untuk memperlakukan Kinara lebih baik lagi, lebih tulus dan tanpa Berpura-pura, aku mohon ! aku mohon Kak." Ucap Rayhan menghiba kepada Indra.


Indra menepuk kecil Bahu Rayhan sambil menyematkan senyum tipis dibibirnya.


"Kamu tidak perlu takut, aku tidak akan mengambil Kinara. Hanya aku mohon ! jaga Kinara Baik-Baik jangan sampai ia terluka apalagi menangis. Karena, dibalik tangis Kinara ada seorang lelaki yang rela melakukan apapun hanya agar dia bisa tersenyum." Ucap Indra, perkataan itu sontak membuat Rayhan tersenyum lega.


"Aku berjanji Kak, aku berjanji." Balas Rayhan.


"Kau tau Ray.? Dulu setelah ibu meninggalkan kami, saat itu Kinara masih sangat kecil, enam bulan. Aku seringkali menangis saat aku kesulitan untuk menenangkan Kinara, yang aku tau saat itu Kinara menangis karena telah kehilangan sosok pelindung dalam hidupnya, Kinara kesepian Kinara kecil bisa merasakan kehilangan.


Awal ibu meninggalkannya, Kinara selalu menangis baik itu pagi, siang dan malam, aku bahkan kesulitan untuk tidur barang sebentar saja karena dia terus saja menangis, aku dan Ayah kadang kala hanya terdiam sedih sambil berdiri bingung saat melihat Kinara menangis dan sulit untuk ditenangkan. Kepergian ibu begitu menyakitakan bagi kami semua, terutama untuk Kinara yang saat itu masih sangat memerlukan tangan hangat ibu untuk membelai dan menenangkannya.


Dan saat Kinara mulai tenang, aku selalu berusaha untuk untuk menjaganya tetap seperti itu, aku berjanji untuk membuat Kinara tidak menangis lagi, aku ingin Kinara tertawa dan bahagia. Karena saat Kinara menangis, dalam diam Ayah selalu menangis dan merasa dirinya gagal karena tak mampu menjaga Kinara dengan baik sebaik ibu menjaganya.


Satu tahun kemudian, Kinara mulai tenang tak lagi menangis pagi, siang dan malam, hanya bila dia lapar dan haus barulah dia akan menangis.


Waktu terus berjalan, Kinara kecilku mulai tumbuh dan tak lagi menangis selain bila terjatuh, terluka dan kesakitan, tetapi aku selalu berusaha menjadi pelindungnya. Dan bila lapar dan haus pun Kinara yang mandiri mulai bisa mengambilnya sendiri, membuat susunya sendiri. Sejak saat itu rumah ini mulai sepi tanpa tangisnya, aku mulai kehilangan suara itu.


Waktu berjalan terlalu singkat Kinara kecilku mulai beranjak remaja, dia tak lagi menangis dan menganggu tidurku, tak lagi memerlukan perlindunganku, dia bisa pergi dan melakukan apapun sesuka hatinya, melangkah dan berlari kemanapun ia suka. Bergaul dengan siapapun tidak aku batasi selama dia bergaul dengan Orang-Orang baik.


Kinara remaja mulai sulit diatur, dia pergi berguru ilmu bela diri sendirian, tanpa aku tau dia belajar mengemudikan motor, dan Diam-Diam dia suka berbalapan. Aku yang khawatir selalu dibuat geram atas kelakuannya, tapi Grizelle Kinara ku tak pernah menganggap serius kekhawatiranku.


Dan saat itu tanpa aku duga sebelumnya. Hari itu, hari dimana kau meminangnya aku menangis dalam diam airmata yang tak bisa menitis mewakili hatiku yang yang perih, tak bisa aku bayangkan, Kinara kecilku yang beberapa waktu lalu masih menangis dipangkuan ku telah menikah dan membina hidupnya yang baru, meninggalkan aku yang setiap malam menangis karena kesulitan untuk menenangkan tangisnya, meninggalkan aku yang rela kelaparan asal dia kenyang, meninggalkan aku yang tak bisa tidur demi menjaganya agar tetap terlelap.


Saat pertama kali dia pulang kerumahmu. Disini, setiap waktu aku terus mengkhawatirkan keadaannya, bahkan aku tak bisa merasakan lapar, haus ataupun mengantuk, aku tetap terjaga karena takut Kinara ku menangis lagi, aku selalu mengkhawatirkan dia meski kini dia sudah dewasa dan mungkin tidak perlu lagi aku khawatirkan, tapi sebagai seorang Kakak yang membesarkannya, aku selalu dibuat resah saat dia berada diluar sana. Untuk itu berjanjilah Ray, berjanji untuk menjadi Kakak pengganti untuk Kinara, berjanji untuk selalu menjaganya, berjanji untuk memastikan tidurnya lelap, perutnya kenyang, dan berjanjilah untuk memberikan perlindungan untuk dirinya, berikan rasa aman untuk Kinara !"


"Aku berjanji Kak, aku berjanji untuk semua yang Kakak minta. Akan aku lakukan yang terbaik untuk Kinara." Balas Rayhan.

__ADS_1


Indra memangut yakin dan percaya Rayhan bisa melakukan itu untuk Kinara.


__ADS_2