Istri Terbaik Pilihan Ayah

Istri Terbaik Pilihan Ayah
Puasa.


__ADS_3

Berjalan berhamburan meninggalkan ruang rapat, mereka Orang-Orang berdasi, berjas rapih sangat elegant dan berwibawa, siapa pun yang melihat mereka akan terkagum dan dibuat segan.


Di antara mereka ada satu pengusaha muda yang cukup menarik perhatian.


Setelah mereka semua pergi Safiq pun berdiri merapihkan berbagai berkas dihadapannya, berbagai macam pembahasan ter_rangkum disana.


"Om." Panggil seseorang dari belakang dan Safiq pun menghentikan langkahnya lalu menoleh kesumber suara. Lelaki Si Pengusaha termuda itu yang menyapanya.


"Orang Indonesia juga.?" Sapa Safiq sambil tersenyum ramah kepasa lelaki yang memanggilnya.


Dia, Pengusaha muda itu tersenyum tipis lalu berkata : "Ya, tapi enam tahun ini saya tinggal di sini [New York].


"Oo" Balas Safiq singkat.


Sepertinya Safiq tidak mengenali siapa lelaki yang berdiri dan berbicara dengannya.


"Apa Om Safiq tidak mengenali ku.?" Batin Pengusaha Muda yang ternyata adalah Shan.


"Oo hebat sekali. Enam tahun tinggal disini pasti sudah seperti kampung halaman sendiri'kan.?" Balas Safiq. Selepas merapihkan beberapa lembar kertas yang ia masukkan kedalam map, Safiq memasukkan map itu kedalam tasnya.


"Ya begitulah Om."


"Tapi tunggu ! apa sebelum ini kita pernah bertemu.?" Tanya Safiq menyelidik.


Shan kembali tersenyum tipis.


"Kebetulan Om, sebelumnya memang kita pernah bertemu tepatnya enam tahun yang lalu." Jawab Shan.


"Enam tahun yang lalu ? dimana.?" Tanya Safiq. Dia tidak begitu mengenali wajah ini, tapi tampaknya Safiq merasa sebelumnya pernah bertemu dengan lelaki dihadapannya ini walau tidak sering hanya beberapa kali tapi ingatan Safiq cukup kuat.


"Apa Om tidak ingat aku.?"


Safiq Menggaruk-garuk dahinya pelan, Mengingat-ingat.


"Akhir-Akhir ini ingatan Om sedikit terganggu, mungkin karena faktor usia, maaf ! Om tidak ingat siapa Ananda ini."


"Saya Shan Om, teman Kinara." Sahut Shan.


"Oo ya ya ya, Om sekarang Ingat. Apa kabar ?" Tegur Safiq seraya mengulurkan tangannya.


"Kabar baik Om." Sambut Shan memabalas uluran itu.


Safiq menepuk bahu Shan. "Enam tahun, perubahan mu sangat besar Shan, lebih tampan dan berwibawa, Om hampir tidak bisa mengenalimu, Nak." Ucap Safiq kagum.


"Cuma Begini-Begini saja Om." Balas Shan biasa saja. "Oo ia bagai mana kabar Kinara, Kinara sekarang pasti sudah sangat cantik'kan Om.?"


"Ya, tapi dia tetap seperti itu tidak ada perubahan, hanya tubuhnya sedikit tinggi, kalau bertemu dia Nak Shan ini tidak akan merasa pangling. Karena tak ada perubahan besar darinya."


"Benarkah.?" Tanya Shan.


"Om sangat tidak percaya, ternyata .... Nak Shan sekarang sudah menjadi pengusaha muda yang cukup sukses."


"Jika dibanding Om Safiq, saya ini bukan Apa-Apa." Balas Shan.


"Aakkhh Nak Shan ini terlalu merendah. Oo ia Kinara pasti senang. Setelah enam tahun tidak bertemu .... Kinara pasti akan sangat suka kalau Om tunjukan teman yang kini telah sukses, tapi tidak melupakannya."


Safiq merogoh sakunya kemudian melakukan pangilan vidio kepada Kinara. "Sebentar Kinara pasti akan terkejut saat melihat Nak Shan."


Tuuutt "Berdering"


Hanya itu yang Safiq dapatkan, tanpa ada jawaban. Berulang-ulang Safiq menelponi Kinara tapi tetap tak ada jawaban.


"Uuhh kenapa tidak Kinara angkat.?" Gumam Safiq.


"Sudah! tidak Apa-Apa Om, mungkin Kinara sudah istirahat." Ucap Shan.


Safiq sebentar menoleh pergelangan tangannya. "Ia Om lupa kalau disana sekarang sudah tengah malam, Nak Shan benar, mungkin mereka sudah pada tidur. Mungkin kita bisa menghubungi Kinara lain kali."


Shan memangut kecil. "Ya, tidak Apa-Apa lain kali saja." Ucap Shan mencoba menutupi kekecewaannya, jujur dalam hatinya Shan berharap bisa melihat Kinara saat ini juga. Enam tahun tidak bertemu Shan telah menanggung beban rindu yang sangat berat, bertemu dan bisa melihat Kinara adalah hal yang sangat ditunggu Shan.


Sementara dikediaman Indra, hanphone Kinara bergetar Berulang-ulang diatas nakas didalam kamarnya 'Ayah' tertulis di layar pipih itu.


Waktu pun kian larut pukul 23:26. Namun, ketiga orang yang ada didalam rumah itu masih duduk tertawa renyah didepan telvisi dengan remot control digenggaman, berteriak kemenangan berteriak kesal atas kekalahan. Suara Indra dan Rayhan yang tengah saling melawan pun bergemuruh, selain Indra dan Rayhan, Kinara pun ikut berteriak histeris ketika Indra maupun Rayhan saling menyerang dan membobol gawang.


"Gooool" Teriak Kinara saat Indra berhasil membobol gawang Rayhan.


Scor menduduki 3-1. Tiga untuk Rayhan dan satu untuk Indra.


Dapat ditebak apa yang mereka lakukan.


Tapi, sampai waktu permainan berakhir Indra tetap kalah dari Rayhan.


"Ya Alloh ini kali kelima aku kalah," Desah Indra kesal, sementara Rayhan dan Kinara tampak terkikik geli. "Ganti ini ganti itu tetap saja kalah, nasib nasib." Gerutu Indra, mengacak rambutnya penuh frustasi.


"Berikan itu kepadaku !" Pinta Kinara sambil mengambil remot control itu dari Indra setengah merebutnya paksa.


"Payah !" Dengus Kinara, ia turun dari kursi bertukar tempat dengan Indra.


"Biar aku coba lawan."


Rayhan menoleh Kinara dan menatapnya dengan tatapan menantang.


"Mm aku merasa getir." Ucap Rayhan setengah meledek kemampuan Kinara.

__ADS_1


"Hiisss aku pun gugup, Ray. Ini kali pertama ku memegang benda aneh ini" Balas Kinara Pura-Pura ketakutan.


"Jangan Banyak-Banyak ya Sayang cukup satu kosong saja." Ledek Rayhan.


"Mm jangankan satu kosong bertahan saja aku tidak akan sanggup Ray." Timpal Kinara merendah dengan mata fokus tertuju pada layar didepannya (mengatur formasi pemain).


"Jangan remehkan Kinara ! Ray." Bisik Indra tepat ditelinga Rayhan.


"Semangat Dik ! balaskan kekalahan Kakak, Kakak disini mendukung kamu." Tambah Indra sambil Memijit-mijit pundak Kinara, memberi semangat.


"Disini Kak !" Ucap Kinara sambil Menepuk-nepuk bagian pundak yang tidak Indra remas. Sesuai pinta Kinara Indra pun mengalihkan jemarinya.


Sebelum permainan dimulai Kinara menoleh Rayhan dengan ekor matanya sambil tersenyum yakin, yakin akan mampu mengalahkan Rayhan.


Permainan pun dimulai.


"Yaahhh kenapa stiknya macet gini sih.?" Dengus Rayhan ketika pemain andalannya tertinggal jauh saat berusaha mengejar bola dikaki pemain yang dikendalikan oleh Kinara.


"Oper kiri ! Sebelah sana kiri kiri ya tendang ! goool." Teriak Indra.


Beberapa saat kemudian.


"Itu, itu dikanan melambai oper Dik oper ! oper ! goooll." Teriak Indra lagi.


Skor sementara masih 5-0, Rayhan dibuat K'O oleh Kinara.


Liuk kiri liuk kanan oper kiri oper kanan tendang depan oper lagi oper lagi.


"Yah curang ! penalti, penalti, penalti." Ucap Indra heboh.


Bola dikaki pemain Rayhan.


Tendangan penalti pun melesat kuat daaannn melambung jauuhh, sayang sekali Rayhan terlalu Terburu- buru.


Dan pada akhirnya Rayhan tetap kalah 7-0 oleh Kinara.


Rayhan pun memberenggut kecewa sedang Kinara dan Indra tampak bersorak gembira dan berualng kali 'TOS' atas kemenangan Kinara.


"Kak" Ucap Rayhan melepas Stick Ps di tangannya dengan nada serius ia berkata, membuat Indra dan Kinara seketika menatap Rayhan intens sambil mengatupkan kedua bibir mereka, keduanya Tiba-Tiba bermuka tegang saat melihat Rayhan seperti itu.


Dilihat dari matanya Rayhan tampak ingin mengatakan sesuatu.


"Ada yang ingin aku katakan !" Tambah Rayhan membuat keduanya semakin tegang.


"Apa yang ingin kamu katakan Ray ?" Tanya Kinara dengan nada khawatir.


Rayhan tersenyum dan menunduk bingung.


"Aku harus mengakui sesuatu." Ucapnya.


Sebelumnya.....


"*Kinara." Panggil Indra.


"Ya ?" Jawab Kinara.


"Kalo boleh, jangan dulu hamil ! tunda dulu !. Tunda, setidaknya sampai kamu berusia 24 atau 25 tahun, Kakak khawatir ... hamil diusia muda sangat rentan, Dik."


"Mm.. Kakak nggak usah khawatir." Balas Kinara*.


Keadaan ini cukup rumit untuk Rayhan disaat Indra meminta Kinara untuk menunda kehamilan, kedua Orang Tuanya malah bersikeras untuk menyegerakan memiliki anak. Rayhan pun dibuat bingung atas keinginan mereka itu, sementara dirinya jelas menginginkan Kinara segera hamil dan mengandung buah cinta mereka berdua , tapi dilain sisi dirinya tidak mungkin memaksa Kinara.


Rayhan pun berniat mengatakan ketidak setujuannya atas pinta Indra, tetapi saat ini terlalu bahagia untuk mengatakan hal yang mungkin akan mengundang perdebatan.


"Aku .... aku akui adikmu hebat !" Ucap Rayhan sambil mengacungkan kedua jempolnya, mengalihkan pembicaraan.


Kinara dan Indra menghela nafas lega.


"Aku kira apa ? bikin tegang aja kamu Ray." Ucap Kinara setelah memebuang nafas yang sedari tadi mencekik lehernya.


"Aku nyerah" Pungkas Rayhan, angkat tangan.


"Kali ini aku hanya beruntung Ray." Kekeh Kinara merendah.


"Aku harap begitu, jika bukan karena itu aku akan merasa dipermalukan oleh Istriku." Balas Rayhan.


"Berlebihan" Timpal Kinara.


Sekilas Indra menoleh pergelangan tangannya. Pukul 02:20.


"Sepertinya kita keasikan bermain hingga lupa kalau waktu sudah mulai pagi," Ucap Indra. Ia berdiri kemudian melangkah menuju kamarnya.


"Ya aku rasa begitu." Tambah Rayhan.


"Tidurlah atau mata kalian akan 2X lebih besar dari biasanya, mata panda." Celetuk Indra yang mulai berlalu menaiki anak tangga.


"Selamat malam Kak." Ucap Rayhan.


"Ya, selamat malam untuk kalian berdua." Sahut Indra setengah berteriak karena memang jaraknya telah melangkah cukup jauh dari Rayhan dan Kinara yang masih terduduk didepan telvisi.


...


...

__ADS_1


New York, 15:23.


Shan berjalan kecil menyusuri lorong tempat menjual souvenir yang cukup terkenal dikota itu. Segala macam souvenir berbaris dan tergantun rapih, dari mulai, piring, kaos, jaket, topi aksesoris dan Lain-Lain. Shan telah berjalan kurang lebih tigapuluh menit, melihat, mencari barang yang tepat yang mungkin srek dengan hatinya. Banyak hal cukup menarik perhatian Shan sampai akhirnya mata Shan tertuju pada Snow Globe tangan Shan tergerak untuk mengambilnya.



"Enam tahun... Aku harus menyiapkan hadiah pertemuanku dengan dia, semoga Kinara suka dan terkesan pada hadiah yang aku berikan." Gumam Shan sambil Memutar-mutar benda bulat itu ditangannya.


Shan menghela nafasnya kuat kuat. Ditatapnya dalam dalam snow globe tersebut penuh pengharapan.


"Kinara, kau tau ? enam tahun yang telah berlalu tak pernah sedetik pun aku melupakan mu. Kinara, cintaku kepadamu seperti kota dalam kristal ini, tetap terlindungi, siapapun tak akan bisa membukanya. Semoga kali ini aku bisa menyentuh hatimu." Pungkas Shan.


...


...


Kediaman Indra.


"Halo, Mamah.?" Ucap Kinara menjawab panggilan yang baru saja masuk yang ternyata Mertuanya.


"Halo Sayang." Balas Karin.


"Apa kabar Mah.?"


"Mamah kabar baik Sayang, bagai mana dengan kalian ? apa kalian Baik-Baik saja.?" Tanya Karin.


"Ya, kami Baik-Baik saja." Jawab Kinara.


"Iya Sayang, mana Ray.?"


"Ooh Rayhan lagi dibawah, Mah. Ada apa ? apa perlu Kinara panggilkan.?"


"Tidak Sayang ! tidak usah. Oo iya apa Rayhan sudah bicara sesuatu kepada mu, Nak.?" Ucapan Karin berubah serius.


Mendengar itu Kinara dibuat sedikit gugup. "Bicara.? Tentang apa Mah ?. Apa itu sesuatu yang penting ?"


"Tidak terlalu penting Sayang, tapi.... kalo boleh kamu segerakan ya Sayang ! jangan ditunda ! Rayhan anak tunggal, kami harap Rayhan, kamu mengerti'kan, Nak?" Tutur Karin lirih.


"Ya Mah, Kinara mengerti kok." Balas Kinara.


Setelah Panggilan itu terputus, Kinara mematung penuh pertimbangan. "Sayang..." Bisik Rayhan ditelinga Kinara saat memeluknya erat.


"Ray." Balas Kinara lirih.


"Mamah sudah mengatakan keinginannya.?" Tanya Rayhan yang dibalas dengan anggukan kecil dari Kinara.


"Kenapa kamu tidak mengatakan itu kepadaku, Ray.?"


"Aku ingin mengatakannya, tapi.... apa pendapatmu tentang keinginan Kak Indra, Sayang.?"


"Kau mendengarnya, Ray.?"


Dibahu Kinara Rayhan mengangguk pelan.


"Kamu pasti tersinggung, aku minta maaf ! Kak Indra selalu berlebihan menanggapi apapun yang berkaitan denganku, dia terlalu menghawatirkan sesuatu yang belum pasti terjadi."


"Tidak Apa-Apa Sayang, jika aku diposisi Kak Indra aku juga akan meminta hal yang sama atau mungkin lebih. Hanya saja dalam hal ini Mamah terlalu Terburu-buru sehingga aku sedikit merasa ditekan." Ucap Rayhan yang diakhiri tawa geli.


"Dia berhak menuntut itu, lalu apa gunanya menikah jika tidak menghasilkan keturunan ?." Balas Kinara sembari memutar posisinya, menatap mata Rayhan secara langsung. "Hai anak tunggal, kapan kau akan menitipkan cucu yang mereka nantikan dirahimku.?" Goda Kinara hingga membuat wajah Rayhan bersemu merah, sedikit tak peracaya atas godaan Kinara yang berani menuntutnya.


"Sekarang !" Jawab Rayhan langsung. "Boleh 'kan?" tambahnya.


Dari jawabannya Rayhan terlihat begitu bersemangat hingga membuat Kinara melotot, menusukkan matanya kepada Rayhan, menatapnya dengan serius.


Beberapa saat mereka terikat saling menatap lekat, mata Rayhan mulai menyusuri garisan wajah Kinara, dari rambut, kening, mata, hidung sampai bibir merah yang selalu menggodanya. Bersamaan dengan itu tangan Rayhan mulai merangkasak menyusur lembut tiap lekukan tubuh Kinara. Mendekat, bibir yang bergetar itu kian mendekat, seiring jarak yang semakin hilang Kinara menempelkan satu jarinya dibir Rayhan, mendorong menjauhkannya.


"Ada apa Sayang.? Kau menolakku.?" Tanya Rayhan bernada kesal.


"Aku lagi datang bulan." Bisik Kinara dan sontak membuat Rayhan mendengus kesal.


"Heuuuhhh.. " Dengusnya sambil meremas rambut hitam penghias kepalanya.


"Aku minta maaf !" Ucap Kinara tidak enak hati. Kinara merasa godaannya terlalu berlebihan sampai menaikkan hasrat Rayhan hingga Menggebu-gebu, tapi tak akan bisa menyalurkannya karena penghalang itu.


"Sejak kapan.?" Tanya Rayhan.


"Tadi malam." Jawab Kinara.


"Berapa hari.?" Tanya Rayhan lagi.


"Biasanya enam sampai tujuh hari."


"Jadi aku harus puasa selama itu.?" Tanya Rayhan kesal, setengah tak percaya.


Kinara memangut kemudian menunduk memainkan kakinya sambil bergumam pelan hampir tak terdengar. "Tapi yang lainnya boleh kok, cuma itu saja yang tidak boleh."


"Apa Sayang.? Tolong kuatkan suaramu !"


Kinara mengulangi ucapnnya, tapi tanpa membuka mulut sehingga suara itu hanya terucap dibalik deretan giginya. Sama, tidak begitu jelas didengar.


Melihat Kinara yang seperti itu Rayhan terkikik gemas, dan Kinara pun tak bisa menahan tawa dari ucapan dirinya yang konyol.


"Sudah ! kemarilah !" Ucap Rayhan sambil menarik Kinara kedalam dekapannya. "Aku mengerti apa yang ingin kamu sampaikan Sayang, tenang saja aku tau kok, kamu tidak perlu merasa terbebani aku tidak Apa-Apa." Tutur Rayhan lembut.

__ADS_1


Mendapati Rayhan yang tidak pernah menuntunya Kinara dibuat tersentuh, bagai mana tidak ! sebagian lelaki mungkin akan marah dan mengatakan sesuatu yang mungkin Rayhan juga bisa melakukannya. Namun Rayhan, sekain Kata-Kata lembut tak ada lagi yang biasa ia ucapkan dihadapan Kinara, ia selalu berbaik, perhatian, pengertian dan memperlakukan Kinara dengan sangat lembut, yang pasti Rayhan tak pernah menuntut apapun yang mungkin akan membuat Kinara tidak nyaman.


__ADS_2