Istri Terbaik Pilihan Ayah

Istri Terbaik Pilihan Ayah
Rumah sakit.


__ADS_3

"Kinara,?" gumam Rayhan terisak masih antara sadar dan tak sadar.


Pelan-Pelan Rayhan membuka matanya, saat ini seluruh tubuhnya terasa remuk. Rasa sakit dibagian Buku-Buku, mata, apalagi kepala, semuanya membuat Rayhan Benar-Benar kesulitan untuk bergerak.


Tapi sekelebat bayangan menganggu kesadaran Rayhan, perempuan bernama Kinara terus mengusik ketenangannya, saat mengingatnya hati Tiba-Tiba merasa sakit, sakit karena terlalu merindukannya.


Ditatap dan digerak-gerakannya tangan yang tadi tak tak bisa meraih Kinara, bibir yang tadi tak bersuara pun ia sentuh juga, "Apa tadi aku bermimpi,? fikir Rayhan. Sesaat ia kembali memikirkan mimpi buruk yang begitu menyeramkan.


Beberapa saat Rayhan masih dengan posisinya. Bayangan itu masih Menari-nari di matanya. Dalam setengah kesadarannya Rayhan juga melihat Kinara melenggang keluar dari dalam kamar, sungguh Rayhan berharap ini bukan mimpi ataupun hayalan, Rayhan berharap Kinara pulang padanya.


Saat merubah posisi tidurnya, Rayhan mendapati selembar handuk yang ikut bergeser bersama kepala yang ia buat sedikit memiring.


Sekembalinya dari Apotik, Kinara masih sibuk bekutat didapur menyiapkan bubur halus untuk Rayhan.


Ditengah kesibukannya terdengar suara lirih memanggilnya dari belakang, suara yang Kinara rindukan, suara yang sangat merindukannya, suara yang mengharapkannya kembali, suara yang begitu ingin didengarnya.


"Sayang,?" panggil Rayhan sangat pelan dan terdengar begitu berat.


Perlahan Kinara berbalik ke sumber suara sambil tersenyum.


Disana terlihat sepasang mata sayu tengah menatapnya sendu.


Gambaran kebahagiaan tertulis diwajah Rayhan.


Dalam senyum bahagia Rayhan merentangkan tangannya. "Sayang," ucapnya. Saat berbicara bibir pucat itu tampak bergetar lemah.


Kinara segera menaruh sundu yang dipegangnya dan kemudian berlari kepelukan Laki-Laki yang begitu ia rindukan.


"Kamu kembali sayang," ucap Rayhan sambil merangkul dan memeluk Kinara erat.


Air matanya menitis bersama kebahagiaan yang membuih dihatinya.


Perempuan yang begitu ia rindukan telah kembali.


"Sayang aku mohon jangan tinggalkan aku lagi !" pinta Rayhan, suaranya tampak begitu lemah.


Kinara mengangguk, "Aku minta maaf Ray !" tutur Kinara menyesal.


"Tidak Apa-Apa sayang, aku bahagia akhirnya kamu kembali," ucap Rayhan sambil memembelai rambut hitam Kinara.


Setelah memeluknya cukup lama, Kinara merenggangkan pelukan Rayhan. "Ray duduklah dulu ! biar aku siapkan makanan, kau sakit dan harus minum obat Ray !"


Rayhan kembali menarik Kinara medalam pelukannya. "Aku tidak perlu minum obat sayang, aku sudah sembuh, kau telah kembali dan menyembuhkan semua sakitku," sahutnya.


Kinara kembali merenggangkan tubuh yang jika terus memeluknya tubuh Kinara akan terasa terbakar, saking panasnya suhu tubuh Rayhan. Kinara menarik kursi dan menyet Rayhan ke sana. "Duduklah !" suruh Kinara sambil merengkuhkan tubuh Rayhan. Pelan-Pelan Rayhan pun duduk sambil meringis kesakitan.


Rayhan terus menatap perempuan yang sangat ia rindukan, Rayhan hampir tak percaya Kinara berdiri dan tersenyum kepadanya.


"Kinara," panggil Rayhan, ia sedikit mendongak menatap Kinara yang belum beranjak dari hadapannya.


"Apa aku kembali bermimpi Sayang,?" tanya Rayhan.


Kinara tersenyum lembut. "Tidak ! aku disini Ray, aku kembali untukmu, aku sudah tau semuanya, untuk itu aku minta maaf !" jawab Kinara, suaranya terdengar penuh penyesalan.


Rayhan pun tersenyum bahagia karena Kinara sudah tau kebenarannya.


Kinara menepelkan punggung tangannya di dahi Rayhan, "Kau panas sekali, sejak kapan kau sakit Ray,?" tanya Kinara.


Rayhan masih tersenyum sayu. "Sejak berpisah dengan mu," jawabnya asal.


"Ray, dalam keadaan seperti ini kau masih bisa bercanda, jawablah aku dengan serius Ray !"


Rayhan menggenggham kedua tangan Kinara. Saat ingin berbicara Rayhan terlihat beberapa kali meringis menahan sakit dikepalanya.


"Tidak Kinara, aku serius ! kau harus tau aku bisa mati kerena merindukanmu," goda Rayhan. Diciumnya punggung tangan yang sedari tadi digenggamnya.


"Ray, kau panas sekali, kamu makan setelah itu kita ke Dokter," pinta Kinara.


Rayhan menggeleng. "Tidak perlu. Asal kamu ada disini aku akan segera sembuh," sahutnya sambil kembali mendongak dan membelai pipi Istri yang begitu ia sayangi.


"Kau keras kepala Ray," ujar Kinara bernada kesal.

__ADS_1


Rayhan hanya tersenyum.


"Baiklah, kau duduklah dulu aku ambilkan bubur setelah itu minum obat ok !"


"Aku malas minum obat !" balasnya.


"Baiklah aku rasa aku sudah tau dimana pintu keluar," ucap Kinara sambil melenggang.


Secepat kilat Rayhan berdiri untuk menahan Kinara. "Tidak ! tidak, kau tak boleh meninggalkan aku ! baik akan aku turuti permintaanmu,"


Kinara tersenyum, "Baiklah tunggu sebentar !" ucap Kinara, Pelan-Pelan dilepasnya pegangan Rayhan. "Aku ambilkan makanan untukmu."


Kinarapun berbalik, belum juga melangkah Tiba-Tiba.


Brruuugggghhhh....


Terdengar suara benda terjatuh dengan sangat keras, Kinara yang terkejut seketika memayung menghentikan langkahnya. Kinara masih berdiri dengan perasaan buruk.


Pelan-Pelan ia berbalik, dan..


"Rayy," teriak Kinara histeris.


Rayhan terjatuh pingsan saat Kinara berbalik dan hendak berjalan menuju dapaur.


Kinara terduduk memangku kepala Rayhan, Berkali-kali Kinara menggoyangkan tubuhnya tapi Rayhan tidak bereaksi.


"Rayyy !!" Kinara kembali berteriak. "Aku mohon kau bangun Ray," bentak Kinara sambil Menepuk-nepuk pipi Rayhan mencoba menyadarkannya.


Kinara pun semakin panik karena Rayhan tidak juga sadar.


"Tolong ! tolong !" teriak Kinara. Tak lama kemudian bubuhan orang pun datang membantu Kinara.


Setelah menepuh perjalanan kurang lebih empat puluh lima menit, Kinara akhirnya sampai dirumah sakit dan ia kembali berteriak panik. Tak lama kemudian petugas pun datang dengan brankar dan langsng membawa Rayhan ke ruang UGD.


Selama Kinara itu Kinara tak henti menanhis Memanggil-manghil Rayhan.


"Ray, Rayhan. Sadar Ray ! kau harus sadar kau tak boleh begini, kau harus sadar Ray, kau tak boleh meninggalkan aku," teriak Kinara panik dan cemas. Bersama hati yang tak ingin kehilangan air mata terus jatuh membubuhi pipi Kinara.


Pintu ruangan telah tertutup dan Dokter pun tengah menangani Rayhan, sementara Kinara berjalan mondar mandir dengan air mata yang masih belum reda.


Tak lama kemudian seorang Dokter keluar dari ruangan Rayhan, Kinara pun terburu menghampirinya.


"Bagai mana Dok,? apa yang terjadi pada Suami saya,?" tanya Kinara cemas.


"Suami Anda terkena demam tifoid," ujar Dokter.


"Demamnya seserius itu,?" sahut Kinara setengah tak percaya.


"Tapi Anda tidak perlu khawatir ! kami sudah melakukan yang terbaik, semoga Suami Anda segera siuman," jawab Dokter tersebut sambil tersenyum menguatkan.


"Terima kasih Dok," ucap Kinara lirih.


Kinara hampir tak percaya kini Rayhan terbujur lemah diruang gawat darurat. Setelah duduk disamping Rayhan Kinara segera menggenggam erat jemari dan mencium punggung tangan Rayhan yang dipasangi selang infus.


"Ray," panggil Kinara lirih sambil menyeka air mata yang terus berurai dipipinya.


"Maafkan aku ! aku tak bisa menjagamu dengan baik, ini semua salahku, aku telah membiarkanmu hingga seperti ini, aku minta maaf Ray, aku minta maaf !" ucap Kinara sambil tertunduk menyesal menggemggam tangan Rayhan.


Derai bening terlepas dari pelupuk mata Rayhan, berjalan lambat dan terjatuh diatas bantal.


Pelan-Pelan Rayhan membuka mata dan berbisik, "Kinara."


Mendengar Rayhan memanggilnya Kinara terperanjat, menghapus air mata dan langsung mendekatkan telinganya.


"Aku disini, ada yang kau perlukan Ray,?" tanya Kinara, akhirnya Rayhan sadar dan Kinara bisa tersenyum dan bernafas lega.


"Haus," ucap Rayhan pelan dibalik sungkup oksigen hampir tak dapat didengar.


Setelah mendapatkan jawabannya Kinara bergegas membeli air lalu memberi tau Dokter bahwa Rayhan sudah siuman.


"Kondisinya bekembang cukup baik, malam ini Rayhan sudah bisa dipindahkan keruang rawat inap, ujar Dokter sambil melepas stetoskop dari telinganya.

__ADS_1


Kinara tersenyum lega, sekilas menoleh Rayhan yang tengah mencuri pandang darinya, lalu saat dirinya menoleh Rayhan segera mengalihkan pandangan pada Dokter yang habis mengecek kondisinya.


Saat ini Rayhan telah dipindahkan keruang rawat inap, tengah tertidur efek dari obat yang diberikan padanya.


"Ray, aku tinggal sebentar ya," bisik Kinara dan kemudian bergegas pergi meninggalkan Rayahan.


Tok tok tok..


Berulang-ulang Kinara mengetuk pintu rumah Indra, tapi Indra tak juga muncul yang ada hanya pembantu yang mengatakan bahwa Indra belum pulang.


Kinara kembali melangkah, dengan Terburu-buru ia melajukan mobilnya, sebentar Kinara pulang untuk mengganti mandi dan berganti pakaian. Semuanya sudah selesai, tapi Kinara masih berdiri bingung, hendak memberi tau semua orang tentang Rayhan, tapi Kinara tak punya handphoe, hingga akhirnya terbersit ide untuk menggunakan handphone Rayhan, tapi sayang hanphone Rayhan tidak bisa Kinara temukan.


"Apa mungkin Rayhan menaruhnya disana,? tanya Kinara sambil menunjuk laci kecil disamping tempat tidurnya.


Kinara terkejut dan Terheran-heran saat membuka laci tersebut, bagai mana tidak, dua handphoenya telah hilang dan ternyata keduanya dipegang Rayhan dan Kinara baru mengetahui itu.


"Apa ini Benar-Benar handphone ku,?" gumam Kinara sambil Membolak-balik kedua benda pipih ditangannya.


"Rayhan !" gumamnya kesal. Kinara meremas jarinya. "Nasib baik kau sakit Rayhan, kalau tidak ! huuuhhh." Kinara menghela nafasnya. "Kali ini bahkan aku tak akan berani memukulnya seperti dulu," decak Kinara kemudian ia melenggang pergi.


...


...


Diruang rawat.


Rayhan termenggu dengan tatapan kosong, tampaknya ia kesepian.


"Sus, kemana Istri saya,?" tanya Rayhan.


"Saya tidak tau, sejak tadi saya tidak melihat siapa pun disini," jawab suster yang tengah sibuk mengecek tabung infus.


Rayhan berkerut kecewa. "Kemana dia.? Tega sekali ia pergi tanpa izin padaku," batin Rayhan menggerutu kesal.


Cklekkkkk..


Pintu terbuka, tapi ada sedikit kecewa dihati Rayhan saat melihat siapa yang datang padanya, bukan perempuan yang sejak tadi ia Tunggu-Tunggu.


"Ray," ucap Indra yang baru datang bersama Safiq.


"Kak Indra," sahut Rayhan.


"Bagai mana kabarmu sekarang, Nak ?" tanya Safiq.


"Cukup lebih baik, Yah ?" jawabnya lemah.


"Ayah, cuma datang berdua,?" tambah Rayhan.


"Tidak ! kami bertiga," jawab Safiq.


"Siapa,?" mendengar Safiq mengatakan datang bertiga Rayhan tersenyum bahagia, ia fikir yang datang bersama Safiq itu Kinara.


Dan ternyata bukan.


"Ray," ucap Aman yang baru datang bersama Bayu menyusul Safiq.


"Oh Ayah salah ternyata kita berempat, Ray," ucap Safiq sambil tersenyum ramah kepada Aman juga Bayu.


Rayhan memalingkan wajahnya kesal, saat ini bukan Aman atau pun Bayu yang ia harap kedatangannya melainkan Kinara.


"Bagai mana nasib loe Ray,?" tanya Aman setengah jahil.


"Ya beginilah, ngapain loe datang lesini ?" balas Rayhan.


"Sepertinya loe kurang senang gue datang kesini,?" imbuh Aman.


"Baguslah kalau loe sadar," timpal Rayhan.


Seketika Aman menatap tidak senang kepada Rayhan.


"Sorry, sorry gue becanda," ucap Rayhan.

__ADS_1


__ADS_2