
Flash Back.
Dua orang perempuan berseragam SMA , mereka telah lama bersahabat. Hari itu mereka berniat mendatangi seorang lelaki, kakak kelasnya. Kebetulan hari itu dia tengah bersandar didinding dengan mata yang tertuju pada handphoe ditangannya, sesekali ia tampak Senyum-Senyum sendiri. Sepertinya ada seseorang yang tengah ditunggunya.
Waktu itu Tamara dan Kinara telah merencanakan sesuatu, sebuah kejutan untuk lelaki yang telah lama disukai Tamara.
Sesuai rencana mereka berdua pun segera mendatangi lelaki itu. Saat mendatanginya Tamara tampak menyembunyikan sesuatu dibelakang tubuhnya.
"Shan." Sapa Tamara.
"Kinara," ucap Shan, dia tak menghiraukan Tamara yang telah berjalan kearahnya.
"Kinara," ucap Shan ke dua kalinya, ia berjalan melewati Tamara yang tengah menatapnya penuh arti tersembunyi.
"Aku tau kamu akan datang Kinara." Ucap Shan terburu mendatangi Kinara dia tampak begitu senang.
Kinara pun ke bingungan, karena Tiba-Tiba Shan mendatanginya dan melewati Tamara yang telah lebih dulu menyapa Shan.
Tanpa mengetahui maksud Tamara Shan lantas mendatangi dan langsung memegang tangan Kinara, karena memang sedari tadi Shan tengah menunggunya.
"Shan." Ucap Kinara masih kebingungan harus bagai mana, apalagi saat melihat raut wajah Tamara yang mulai tampak kecewa dan sedih sebab Shan tak menghiraukannya.
"Kinara, kenapa lama.?" Tanyanya. Raut wajah gelisah, kini perlahan pudar dari wajah Shan.
"Ya. Aku datang karena aku sedang mencarimu Shan." Sahut Kinara. Suasana itu bukanlah yang Kinara inginkan, Shan memegang tangannya sedang Tamara tampak tidak menyukai itu, Kinara jelas merasa tidak enak hati kepada Tamara.
"Baguslah aku senang dengernya," balas Shan.
Berkali-kali Kinara menoleh kearah Tamara, saat itu Tamara tampak sangat kecewa, air mata pun mulai menitis menyusuri pipinya.
"S a Shan. Aku datang disini karena...
"Kamu menerima cintaku kan.?" Sahut Shan dan langsung mendapat tatapan tajam dari Kinara, Tamara pun langsung menatap Kinara dengan sangat kecewa.
"Shan. Bukan itu yang aku maksud Shan aku datang bersama Tamara, aku, aku..
Sekilas Kinara menatap Tamara yang tengah menatapnya tajam, guratan emosi begitu kantara diwajah Tamara.
"Tamara," ucap Kinara. Kinara pun menarik Tamara untuk berdiri lebih dekat dengan lelaki yang disukainya.
"Aku datang untuk Tamara. Tamara ingin mengatakan sesuatu kepada mu Shan. Tamara ayo katakan ! ini saatnya Shan mengetahui semuanya."
Meski sedikit kecewa Tamara tetap meneruskan niatnya untuk mengatakan rasa cintanya kepada Shan.
Tamara mengulurkan sebuah kotak yang sejak tadi ia sembunyikan dibelakang tubuhnya.
"Shan." Ucap Tamara sambil tersenyum kepada Shan.
Shan menatap Kinara dan kemudian menatap Tamara dan mengambil sebuah kotak yang disodorkannya.
"Apa ini,?" tanya Shan.
Dibukanya kotak tersebut. Sebuah jam bermerek melingkar didalamnya.
"Kinara apa ini hadiah pertemuan kita,?" tanya Shan. Mendengar hal itu seketika Tamara yang tengah menatap Shan berubah menunduk kecewa. Shan hanya memandang Kinara dan mengabaikan Tamara juga perasaannya.
"Bukan Shan, aku tidak menyiapkan itu. Hadiah spesial itu Tamara yang menyiapkan untukmu." Sahut Kinara.
Sejenak Tamara tersenyum saat Kinara membantu mengatakan hal yang tak bisa ia ucapkan.
Shan masih membolak-balik kotak tersebut.
"Jadi ini bukan dari kamu Kinara,?" tanya Shan bernada kecewa.
Kinara menggeleng. "Bukan Shan."
Mengetahui benda yang dipegangnya bukan pemberian Kinara, Shan menjatuhkan tangan yang memegang kotak tersebut, Jari-jemarinya seakan ingin melepaskannya.
"Shan. Tamara..
__ADS_1
Shan menyela Kata-Kata Kinara. "Jadi ini bukan darimu.?"
"Bukan Shan." Sahut Kinara.
Shan mendongkang tangan Tamara dan mengembalikan kotak tersebut.
Dengan lirih Shan berkata. "Maaf aku tidak menginginkan ini." Jemari Shan memegang tangan Tamara tetapi mata dan hatinya tertuju kepada Kinara.
"Kinara apa kamu tidak membaca pesanmu.?" Tanya Shan setelah melepaskan pegangannya dari tangan Tamara.
"Pesan.?" Sahut Kinara tak mengerti.
Lalu Kinara merogoh saku, membuka handphone dan membaca pesan yang telah dikirimkan Shan kepadanya.
Pesan tersebut mengatakan.
"Kinara. Datangi aku jika kau menerima cintaku, jika kamu menolakku abaikan pesan ini. Apapun yang kamu pilih aku harap kita akan bersama selamanya."
Kinara pun terbelalak. Dia tak tau Shan mengirimkan pesan seperti itu padanya.
"Tidak Shan ! aku tidak mencintaimu tidak mungkin aku menerima cintamu, aku datang kesini karena Tamara.Tamara ingin mengatakan sesuatu kepadamu, aku mengantarnya, dan kita bertemu disini, tapi aku bersumpah sebelumnnya aku belum sempat membaca pesanmu." Kinara beralih menatap Tamara. "Tamara. Kenapa diam ? Tamara ayo cepat katakan ! katakan kalau kamu menyukai Shan !"
Shan menatap Tamara dengan tatapan yang tidak diinginkan.
Tamara menangis terluka. Sebebarnya sejak Shan menatap Kinara Tamara pun sudah tau bahwa Shan menyukai Kinara. Dalam sorot mata Shan ada cinta yang sangat besar untuk Kinara, dan Tamara menyadari itu. Tapi Tamara tetap berusaha mengungkapkan perasaannya kepada Shan, berharap Shan beralih kepadanya, mengambil hadiah tersebut dan menerima cintanya. Tapi kenyataan tak bisa diubah Shan tetap tak mengalihakan matanya dari Kinara.
Shan memegang erat jemari Kinara.
"Kinara aku sudah lama menunggu ini, aku sudah lama menati cintamu, aku sudah lama memendam perasaan ini, aku mohon Kinara terimalah cintaku, terima aku jadi kekasihmu." Ucap Shan memohon.
"Tidak Shan. Aku tidak mencintaimu, aku tidak suka padamu, dan aku tak bisa menjadi kekasihmu. Tamara ada Tamara dia...
"Stop Kinara !" Sahut Tamara memotong ucapan Kinara.
"Tamara. Aku minta maaf ! aku mengecewakanmu tapi aku berani bersumpah aku tidak tau Shan akan mengatakan ini. Aku tidak tau Shan ..
"Cukup !" teriak Tamara dalam tangisannya.
Kinara mengangguk. "Ia Tamara. Tentu ! kita adalah sahabat, kita sahabat." Jawabnya.
"Tapi apa yang kamu lakukan ini Kinara ? kamu sengaja menyakiti perasaanku.?"
"Tidak Tamara ! ini tidak betul, aku tidak tau, sungguh aku tidak tau dan aku tidak bermaksud menyakiti apalagi menghianatimu Tamara. Aku tidak pernah mencintai Shan." Kinara mencoba menjelaskan semuanya tapi Tamara menolak.
"Cukup Kinara.Cikup ! gue benci loe ! Kinara gue benci !" bentak Tamara. Dilemparkannya kotak tersebut dan kemudian pergi meninggalkan Kinara.
"Kinara," ucap Tamara lirih sebelum ia Benar-Benar pergi. "Persahabatan kita cukup sampai disini." Ucapnya kemudian meneruskan langkah dalam tangisannya.
"Tamara, Tamara." Teriak Kinara, tapi Tamara tak menggubrisnya.
"Loe puas udah ngehancurin persahabatan gue dengan Tamara !" Teriak Kinara kepada Shan.
"Gue nggak bermaksud ngehancurin persahabatan kalian."
"Loe tau ?" ucap Kinara lirih. "Tamara itu suka sama loe Shan !" bentak Kinara.
"Tapi gue nggak suka sama dia, gue sukanya sama elo, gue gak mau cuma jadi teman loe gue mau jadi pacar loe Kinara." jelas Shan.
"Tapi gue nggak suka sama loe, dan gue gak butuh cinta loe. Loe juga tau kalau selama ini Tamara selalu memberi perhatian lebih sama loe, itu karena dia suka sama loe Shan.!" Jelas Kinara.
"Ya gue tau Kinara, gue tau, tapi perasaan gue nggak bisa dipaksakan Kinara, sebaik apapun Tamara kepada gue dia tak akan bisa merubah hati untuk berpaling dan mencintainya."
Shan kembali mengenggam jemari Kinara.
"Kinara gue mohon. Gue butuh jawaban loe hari ini juga."
Kinara melepas paksa genggaman Shan.
"Gue gak bisa nerima cinta loe Shan!" teriak Kinara sambil terisak.
__ADS_1
Kinara berbalik untuk meninggalkan Shan.
"Kinara tunggu !" cegah Shan. "Besok gue berangakat ke Amrik, gue menginginkan jawaban loe, gue mohon jujurlah ! apapun yang loe katakan gue akan berusaha menerimanya dengan lapang dada."
Kinara yang telah berhenti sejenak berbalik untuk memeluk Shan.
"Pergilah ! Shan. Kejarlah mimpimu, tapi maaf aku tak bisa membalas cintamu, kita akan tetap bersahabat, sahabat untuk selamanya." Ucap Kinara dengan bibir bergetar.
Kinara pun melepas pelukan Shan dan berbalik meninggalkannya.
"Apa karena Tamara? apa dia yang menghalangimu untuk menerima ku Kinara,?" teriak Shan.
Saat Shan berteriak Kinara sempat berhenti sebelum akhirnya kembali melangkah tanpa menoleh Shan.
Cinta hanya sementara. Persahabatan untuk sehidup semati. Shan, mencintaimu akan cepat berakhir. Bersahabat dengan mu kita tetap bergandengan untuk selamanya. Untuk meraih cintaku aku tidak mungkin melepaskan sahabatku. Shan maaf kan aku.
Tamara berdiri dikejauhan menyaksikan memeluk Shan.
"Kinara... Kau telah merebut cintaku, kau telah menghianatiku, kau menusukku dari belakang, aku bersumpah akan mengambil apapun yang kau miliki, aku bersumpah Kinara, aku bersumpah."
Falsh back off
Sejak hari itu Shan tak lagi terlihat. Dia yang patah hati pergi meninggalkan Tanah Air menuai pendidikan di Negri Paman Syam.
Sejak hari itu pula Kinara dan Tamara tak lagi berhubungan. Walau Kinara selalu berusaha menjelaskan semuanya tetapi Tamara selalu menolak penjelasan Kinara. Kekecewaannya telah berubah jadi dendam kemarahan.
Sejak saat itulah Tamara dan Kinara selalu berselisih, Tamara selalu berusaha mengambil apapun yang ada pada Kinara, dan melampaui apapun yang Kinara miliki.
Kurang lebih lima tahun kejadian itu berlalu, tetapi sikap Tamara kepada Kinara masih belum berubah, ia masih membenci Kinara, tak menerimanya sebagai sahabat, selalu menjadikannya bahan saingan.
Kriiiiinggggg....
"Halo." Suara tegas dan berat terdengar dalam sambungan telpon.
"Bulan depan Anak-Anak ngadain reuni, apa kamu bisa datang.?" Tanya seseorang disebrang telepon.
"Kapan.?"
"Tanggal tiga bulan depan." Jawabnya.
Dia yang tengah menrima telpon meraih kalender kecil diatas meja.
"Dua minggu lagi.?" Sahutnya.
"Ia. Shan apa kamu akan datang,?" tanya teman yang ada dalam panggilan.
Dia yang tengah menerima telpon ternyata Shan, lelaki yang pernah mengungkapkan cintanya kepada Kinara lima tahun lalu.
Shan tampak menimbang.
"Lebih dari lima tahun aku tidak pulang ke Indonesia, inikah saatnya aku kembali. Ya, inilah saatnya. Aku hanya ingin melihat dia. Setelah lima tahun lebih, mungkin sudah banyak perubahan dalam dirinya, aku fikir dia sudah lebih dewasa." Batin Shan bergumam.
"Ya. Baiklah aku akan datang," ucap Shan pasti.
Dikediaman Rayhan.
"Sayang." Rayhan berjalan mendekati Kinara dan langsung memeluknya.
Tubuh perempuan mungil itu bak magnet hidup berkekuatan besar, dia selalu berhasil menarik Rayhan, menariknya untuk selalu menempel tak bisa jauh darinya.
"Berangakat sekarang sayang.?" Tanya Rayhan tanpa melepaskan pelukannya.
"Ia," jawab Kinara lembut ia tengah sibuk merapihkan semua barang yang akan dibawanya.
"Aku antar," pinta Rayhan.
"Tidak ! aku pergi sendiri saja," sahut Kinara kemudian ia pun berbalik menghadap Rayhan.
"Kondisimu belum begitu baik kau duduk saja dirumah, tidak baik bila terus kena angin. Aku pergi sekarang ya." Ucap Kinara.
__ADS_1
Rayhan mengangguk patuh. "Ya. Hati-Hati dijalan Sayang," ucap Rayhan sambil mengecup kening Kinara.