
"Sangat disayangkan aku tak bisa duduk disampingnya saat mengucap kan ijab qobul, mendengarkan kalimat sakral penuh makna terucap langsung dari bibirnya, padahal bagi seorang perempuan itulah yang paling mereka nantikan dalam hidupnya."
Tanpa terasa air mata Kinara menetes menyusuri pipin dan kemudian jatuh membasahi bantal.
"Hari ini hari pernikahan ku." Gumam Kinara penuh kecewa. "Tamara, karena jebakanmu aku tak bisa menghadiri pernikahanku sendiri."
..
..
Beberapa saat kemudian, setelah melajukan mobil selama tigapuluh menit, Rayhan bersama saksi dan keluarga akhirnya sampai didepan pintu KUA.
Ditatapnya bangunan itu. Bismillah, ucap Rayhan sebelum melangkahkan kakinya memasuki ruang pernikahan.
Rayhan duduk berhadapan langsung dengan Safiq sebagai dua orang yang akan mengucapakan ijab dan qobul.
Rayhan juga sempat melirik tempat kosong disampingnya. "Seharusnya kau duduk disini bersama ku." Batin Rayhan sedikit kecewa.
Sebelum mengucapkan ijab dan qobul, Sang penghulu terlebih dahulu bertanya.
▪️Mempelai Pria.?
Saya, Jawab Rayhan.
▪️Mempelai Wanita.?
Anak saya, tapi untuk saat ini dia tengah dirawat dirumah sakit karena mengalami kecelakaan dua hari yang lalu.
"Oo baiklah tapi apa dia setuju dengan pernikahan ini.?" Tanya Sang Penghulu.
"Ia, tentu saja." Jawab Safiq.
"Ini mempelai wanitanya pak." Sahut Karin sambil menunjukan sebuah panggilan vidionya bersama Kinara.
"Baiklah, itu berarti dalam pernikahan ini tidak ada paksaan ya Nak Rayhan." Ucap penghulu sambil melihat lembaran kertas dihadapannya sebagai dokumen sah.
▪️Wali.?
"Saya sendiri yang menjadi walinya." Ucap Safiq.
▪️Saksi.?
Kami ucap Bayu, Aman, dan Rahman juga dua orang pegawai sar'i yang ada disana.
"Kalau begitu, Apa Nak Ray sudah siap.?" Tanya penghulu meyakinkan.
"Saya siapa." Ucap Rayhan yakin.
Kinara yang berada dalam panggilan vidio tak bisa menahan air matanya ketika mendengar kesiapan Rayhan dan dengan matap mengatakan Saya siap.
Tak lama kemudian terdengar kalimat sakral yang terucap dari bibir Rayhan.
"Saya terima nikah dan kawinnya saudari Grizelle Kinara dengan maskawin tersebut dibayar tunai."
"Bagai mana saksi, sah.?"
"Sah," Sahut mereka tanpa ragu.
"Sah." Teriak bayu dengan sangat lantang membuat mereka yang ada diruangan itu menatapnya geli.
Ketegangan Rayhan, dan ketegangan Kinara kini sirna sudah, senyum bahagia pun telah terpancar dari wajah semua orang terutama Rayhan dan Kinara yang kini telah sah menjadi sepasang suami istri.
Kinara yang tengah bersandar diranjang rawatnya terlihat menangis haru.
"Selamat menempuh hidup baru Ray." Karin menyeka tangis harunya kemudian memeluk Rayhan.
"Terima kasih, Mah."
"Selamat Nak, akhirnya anak Ayah telah menjadi seorang suami," Ucap Rahman sambil memeluk Rayhan. "Jaga Kinara baik-baik ya, Nak."
Rayhan mengangguk. "Baik Yah." Ucapnya.
"Kak," Rayhan menyambut pelukan Indra. "Aku percayakan Kinara kepadamu, Ray." Indra memeluk dan memukul kecil punggung Rayhan.
"Rayhan." Giliran Safiq memeluknya.
"Ayah terima kasih sudah memepercyakan Kinara kepadaku."
Safiq tersenyum halus. "Jaga dia baik-baik,Ray." Pinta Safiq.
__ADS_1
"Iya, Ayah." Ucapa Ryhan seraya melepaskan pelukannya.
"Bro,"
Sekarang giliran Aman dan Bayu yang mengucapkan selamat kepada Rayhan. "Selamat menempuh hidup baru, Ray. Semoga lenggeng sampai maut memisahkan."
"Aamiin. Terima kasih sudah hadir." Rayhan memeluk mereka berdua bergantian.
"Cie. Cemburu yah.?" Teriak Andini kepada Kinara yang hanya bisa menyaksikan kebahagiaan itu lewat panggilan vidio.
"Kacian pengantinnya menunggu dipeluk, keduluan Aman Dan bayu kamu Kinar." Goda Andini.
Kinara yang mendapat godaan Andini tersenyum malu.
"Heii Kinara, lihatlah dia sekarang telah sah menjadi suamimu tampan bukan, ? aakhh kamu beruntung Kinara." Ucap Andini gemas.
"Hei," sapa Rayhan kepada Kinara. "Aku akan menjemputmu sekarang juga, janga khawatir." Goda Rayhan.
Kinara yang mendapat godaan dari Rayhan tersimpu malu, membuat rona pipinya berwarna merah menyala.
"Ray, kamu jemput Kinara kerumah sakit, ya. Ayah dan Mamh mau kehotel dulu, mau pesan kamar." Ucap Rahman setengah menggoda.
"Kenapa malah pesan hotel,? kamar dirumah kita'kan banyak." Ucap Rayhan.
"Itu Rumah kalian berdua, lagian cuma untuk beberapa hari, lusa Mamah harus ke Pelembang." Karin.
"Baiklah kalau itu pilihan Mamah." Ucap Rayhan pasrah.
"Sekarang cepat jemput Kinara, dan bawa ke rumah kita. Biar nanti Ayah yang mengurus Dokter untuk memantau keadaan Kinara." Tutur Safiq.
Tanpa fikir panjang Rayhan langsung bergegas menuju rumah sakit. Rayhan sangat bahagia akhirnya dia berhasil meminang wanita yang menjadi idola kampus.
Ditengah kebahagiaan keluarga Kinara dan keluarga Rayhan.
Tamara bediri menyaksikan kebahagiaan mereka dengan hati hancur. "Aku terlambat menghentikan pernikahan mereka." Ucap Tamara tak rela.
"Sekaranglah waktunya." Ucap Tamara kepada Fahmi yang juga berdiri ditempat yang sama. "Kau hanya perlu memastikan apakah Rayhan benar-benar bisa menerima kesalahan Kinara atau tidak.?"
Fahmi segera bergegas menuju rumah sakit mendahului Rayhan.
Diperjalanan menuju rumah sakit Rayhan melewati sebuah toko bunga dan terlebih dahulu ia turun membeli bunga di toko tersebut, untuk ia hadiahkan kepada Kinara.
Setelah menerima bunga yang dipilihnya, Rayhan kembali melajukan mobil dan kini ia telah sampai di depan rumah sakit.
Kinara sendiri tengah merapihkan barang-barangnya sembari menunggu kedatangan Rayhan untuk menjemputnya.
"Kinara.?" Panggilan itu membuat Kinara segera membalikan tubuhnya.
Kinara langsung tersenyum bahagia saat mendengar seseorang memanggil namanya, namun tidak ketika Kinara berbalik dan melihat seseorang yang berdiri dihadapannya bukanlah lelaki yang diharapkannya.
Seketika senyum itu hilang dan berubah kecewa dari wajah Kinara.
"Kak, ngapain Kakak kesini.? Kakak gak ngampus.?" Tanya Kinara.
Fahmi melangkah mendekati Kinara sambil menatapnya tajam.
"Kak. Lebih baik sekarang Kakak pergi." Usir Kinara, dia tidak menginginkan Fahmi terus mendatanginya. Apalagi Kinara kini telah resmi diperistri orang lain.
"Sekarang kau berani mengusirku Kinara.? Apa karena Rayhan.? Apa karena dia telah menjadi suamimu.?" Melihat kemarahan Fahmi Kinara mundur ketakutan.
"Kak, aku mohon Kakak pergi tidak baik terus disini apalagi disini tidak ada siapa-siapa."
"Aku tak perduli Kinara."
"Kak, aku mohon sebentar lagi Rayhan akan datang menjemputku aku tak ingin terjadi salah faham, lebih baik Kakak pergi sekarang juga.!" Kinara tersandar pada dinding, kini tubuhnya tak bisa lagi menghindari Fahmi yang terus menyeret-nyeret langkahnya.
"Bukankah itu lebih baik.? Supaya Rayhan cepat melepaskan mu dan kau bebas memilih siapapun."
"Apa maksud Kakak.?"
Kinara sungguh ketakutan Fahmi telah berubah 180°, saat ini Kinara seolah menemukan orang lain dalam diri Fahmi, karena sebelumnya Fami tidak pernah berbuat seperti ini kepadanya.
Kinara sempat mendorong Fahmi untuk menjauhkannya namun tenaga lemahnya tidak bisa menandingi kekuatan Fahmi.
Alhasil.
__ADS_1
"Kinara.?" Panggil Rayhan.
Terkejut dengan kehadiran Rayhan lantas membuat Kinara segera mendorong Fahmi.
"Ray."
"Apa yang sedang kau lakukan.?" Tanya'nya bernada kecewa.
"Ray aku mohon, kamu jangan salah faham ! aku bisa menjelaskan ini."
Rayhan menaruh bunga ditangannya di atas meja disamping ranjang rawat Kinara lalu meninggalkannya penuh kecewa.
"Aku pergi." Ucapnya.
"Ray. ! Ray, aku mohon dengarkan penjelasanku.!" Kinara berlari mengejar Rayhan yang dengan cepat meninggalkannya.
Meskipun belum sepenuhnya pulih, namun Kinara tidak memperdulikan itu, tidak memperdulikan tubuh dan kepalanya yang masih terasa sakit.
"Ray, Ray.!" Panggil Kinara. Namun Rayhan tidak menggubrisnya dia pergi begitu saja tanpa menghiarukan panggilan Kinara.
"Bagai mana ini bisa terjadi di hari pertama aku menikahinya, Kinara tega melakukan ini dibelakangku, aku tak bisa terima ini. Kinara ini sungguh menyakitkan, seandainya masih mencintainya mengapa kau menyetujui pernikahan ini."
Setelah duduk dikursi kemudi, Rayhan langsung menacap gas dan pergi tanpa menoleh kebelakang.
"Sempurna... Aku yakin Rayhan akan menceraikan Kinara hari ini juga." Batin Tamara tertawa puas.
Dengan penuh emosi Rayhan membuka pintu Rumah dan membanting keras pintu kamarnya.
Setelah mengikutinya dari belakang, tak lama kemudian Kinara pun sampai dirumah Rayhan.
"Ray aku mohon dengarkan penjelasanku, aku mohon dengarkan aku." Kinara memukul dan menggedor-gedor kamar Rayhan yang dia kunci dari dalam.
"Untuk apa kau mengejarku, lebih baik sekarang kau pergi, susul dia.!" Teriak Rayhan.
Rayhan marah, benci, kesal, dan emosi.
Dia berteriak sekuatnya didalam kamar, Rayhan tak pernah berfikir pernikahan yang baru ia jalani diawali oleh kejadian menyakitkan.
"Ray, kau salah faham, aku tidak mungkin melakukan itu, aku tidak tau mengapa Fahmi bisa datang diruanganku." Teriak Kinara. Mendengar Rayhan berteriak dan membanting barang dikamarnya, seketika tubuh Kinara terkulai lemas.
Kinara merosot dan kini terduduk lemas menangis didepan kamar Rayhan.
"Rayhan, aku bahkan telah mencoba mengusirnya tapi Fahmi tiba-tiba berubah mengerikan, aku tidak tau mengapa salah faham ini terjadi lagi, mengapa kau datang disaat yang tidak tepat." Kinara memukul-mukul lantai disekitar tempatnya duduk.
Tok tok tok.
Kinara segera mendongakkan kepalanya melihat siapa yang bertamu kepadanya.
Sebelum membuka pintu terlebih dahulu Kinara mengahpus air matanya.
"Kak." Dilihatnya Indra berdiri didepan pintu mengantarkan sebuah koper berisi pakaian dan keperluan Kinara.
"Jika masih ada yang kurang besok ambilah sendiri kerumah Kakak bersama Rayhan." Ucap Indra.
"Ia mana Rayhan.?" Tanya Indra sedikit menyelidik.
"Dia lagi istirahat dikamar, Kak." Ucap Kinara berbohong.
"Oo kalau begitu, Kakak pamit dulu."
"Kakak tidak duduk dulu.?" Tanya Kinara.
Sebenarnya Kinara berharap Indra segera pergi, Kinara takut Indra tau bahwa dirinya dan Rayhan tengah bertengkar.
"Tidak, Kakak masih ada urusan, lain kali saja Kakak mapir, jaga diri baik-baik." Ucap Indra sambil mengusap halus rambut Kinara.
Setelah Indra keluar dari pekarangan rumahnya akhirnya Kinara bisa bernafas lega.
Kinara menyeret koper yang baru diantar Indra, tapi dia bingung harus menaruh barangnya dimana. Kinara tidak mungkin memaksa Rayhan membuka pintunya, dan dalam kondisi saat ini tidak mungkin juga Rayhan mau bertemu dengannya.
Terpaksa Kinara menaruh barang-barangnya dikamar sebelah, setidaknya sampai Rayhan berhenti marah padanya.
Setelah merapihakan pakaiannya, Kinara hendak beristirahat, namun sekilas dia melihat jam yang tergantung di dinding kamarnya.
"Jam lima, sudah waktunya menyiapkan makan malam." Gumam Kinara dan kemudian bergegas ke dapur.
Saat tengah menata makanannya diatas meja terdengar seseorang mengetuk pintunya berulang-ulang.
"Kak, Fami.?" Ucap kinara terkejut.
__ADS_1
Rayhan sedikit mengintip dari pintu kamarnya, dia melihat Kinara berbicara dengan seseorang yang tak lain adalah Fahmi. "Dicchh benar-benar membuatku muak." Decak Rayhan.