
Setelah semuanya siap Kinara masuk kedalam mobil diikuti Rayhan yang duduk didepan kemudi. Disana Kinara tamoak duduk tak sabar.
Setelah melaju sekitar Satu jam (Macet) mobil sedan berwarna putih tersebut mulai memasuki pekarangan rumah Indra.
Disana telihat Indra sedang menyiram tanaman.
Saat melihat kedatangan kendaraan Rayhan, Indra segera mendatangi mereka, menyambut kedatangannya.
Indra tampak tersenyum sangat lebar ketika melihat adik kesayangannya turun dari mobil, dan langsung ia sambut dengan senyum lebar.
"Kakak," Teriak Kinara. Kinara berlari kepada Indra dan langsung memeluknya erat.
"Apa kabar Kinara ?" Ucap Indra setelah melepaskan pelukannya.
"Baik," Jawab Kinara.
Kinara beralari ke hamparan bunga hias yang dirawat dengan baik oleh Indra.
"Kak." Panggil Kinara.
Indra yang tengah memeluk Rayhan pun berbalik karena panggilan Kinara itu.
"Ya." Jawab Indra, Ia pun berjalan mendatangi Kinara yang tengah berdiri diantara pot bunga yang menghiasi sebagian halaman rumahnya.
"Tanaman terus yang Kakak rawat. Rawat anak dan istrinya kapan ?heii kapan kakak mau menikah.?" tanya Kinara sambil terkikik geli.
Mendengar Kinara menanyakan itu Rayhan seolah mengingat sesuatu. Rayhan tersentak pertanyaan pun mulai memenuhi fikirannya.
Flash back.
Aku mohon menikahlah ! menikahlah ! setidaknya sampai Kak Indra menikah.
Kinara.. *Menikahlah terlebih dahulu !
Apa jika Kinara tidak menikah Kakak juga akan menununda pernikahan Kakak*?"
Flash back off.
Rayhan masih mematung dengan fikirannya, jujur saat ini ia tengah mengkhawatirkan itu, Rayhan takut pernikahannya akan berakhir setelah Indra menemukan jodohnya.
"Ray.?" Panggil Kinara yang hampir meraih gagang pintu dengan Indra yang mengekor dibelakangnya, Rayhan pun mengerejab lalu membuang semua fikiran buruknya.
"Ya." Sahut Rayhan. Setelah menekan tombol off Rayhan pun berjalan mengikuti Kinara juga Indra yang telah lebih dulu masuk kedalam rumah.
"Kinara, simpan dan rapihkan barang bawaan kalian, Ray kamarnya diatas silahkan istirahatlah dulu." Suruh Indra, Rayhan dan Kinara pun mengangguk.
"Oo ia Ray, nanti kalau ada waktu temani Kakak ngobrol sebentar ya !" Sebelum melangkah meninggalkan Indra terlebih dahulu Rayhan mengangguk sambil tersenyum tipis kepada Kakak iparnya itu.
Indra beralih menatap Kinara. "Dik, sudah Kakak siapkan bahan masakan untukmu didapur, Kakak rindu masakanmu Kinara." Ucap Indra.
Kinara tak menjawab, ia hanya membulatkan dua jarinya hingga berbentuk O.
Sesampainya didalam kamar, kamar yang didominasi dengan jendela kaca dengan cat berwana Abu-Abu tua dipadu dengan warna putih, cukup elegant dan terawat dengan baik.
Disana Kinara tengah sibuk mengganti seprai, sementara Rayhan masih berdiri diambang pintu memerhatikan punggung Istri cantik yang tengah sibuk dengan aktivitasnya mengemas kamar yang beberapa waktu ini tidak ditempatinya. Selalu muncul rasa kagum dihati Rayhan saat menyaksikan Kinara yang mandiri, andal dengan segala kelihaiannya dalam segala hal.
Selain rasa kagum, ada rasa lain yang bersarang dihatinya, rasa takut kehilangan Kinara, rasa takut yang begitu besar, besar tanpa siapa pun bisa mengetahui dan mengukurnya.
"Kinara ?" Panggil Rayhan, ia berjalan menuju Kinara yang masih merapihkan seprai berwarna biru muda .
Menyadari Rayhan berjalan dibelakangnya Kinara menghentikan aktivitasnya, berdiri tegak kemudian menghadap ke arah Rayhan. Kinara juga sempat dibuat terkejut saat Tiba-Tiba Rayhan memeluknya erat, seakan ada rasa khawatir yang mengisi relung hati Rayhan.
"Ray, ada apa.?" Tanya Kinara sedikit terheran apalagi ketika melihat wajah tampan Suaminya yang kini telah berubah memurung.
__ADS_1
"Aku hanya ingin memelukmu saja." Balas Rayhan. Berkali-kali Kinara mendengar deru nafas Rayhan yang tampak kacau, resah, gundah dan ketakutan.
Kinara melepaskan pelukan Rayhan. "Ada apa? kenapa kau tampak sedih ? apa ada yang salah.?" Tanya Kinara.
Rayhan kembali memeluk Kinara. "Peluklah aku erat Sayang."
"Ia tapi kenapa.? Kenapa kau Tiba-Tiba ingin memelukku.?" Tanya Kinara masih terheran.
"Karena saat memelukmu hatiku bisa sangat tenang," Sahut Rayhan.
"Apa kau mengkhawatirkan sesuatu Ray ?" Kinara kembali bertanya, Pelan-Pelan Kinara melepaskan pelukan Rayhan.
"Aku sangat takut, takut setelah Kak Indra menikah kau akan meninggalkan ku." Rintih Rayhan lemah.
Kinara menyernyit sambil menatap bingung kearah Rayhan.
"Ketakutanmu ini sangat konyol Ray. Siapa yang akan meninggalkanmu ?"
"Aku mohon jawablah pertanyaaku ! apa setelah Kak Indra menikah kamu akan meninggalkan ku Kinara.?"
Pertanyaan konyol itu membuat Kinara menyernyit penuh tanya, dia pun menggeleng tidak mungkin. "Baik akan aku jawab pertanyaan tidak masuk akal ini. Tapi aku minta, jawablah dulu pertanyaanku !"
"Pertanyaa.? Apa yang ingin kamu tanyakan Sayang.?"
"Apa yang mendorong mu bertanya seperti ini kepadaku, Ray?" tanya Kinara serius.
"Kinara, Kinara." Rayhan menunduk ragu untuk mengatakan hal yang sedari tadi mengganjal dihatinya. Jujur Rayhan tak ingin lagi mengungkit kejadian malam itu, kejadian yang membuatnya menyesal sampai hari ini. Namun, Rayhan juga ingin jawaban Kinara atas pertanyaan yang telah membuih dihatinya.
"Katakanlah Ray ! apa yang ingin kau tanyakan?" Tanya Kinara penasaran.
"Sebelumnya aku minta maaf Sayang, tapi aku takut jika tidak aku sampaikan, pertanyaanku ini mematahkan hatiku." Mengatakan itu Rayhan kembali menunduk lemah, dan merasa malau kepada dirinya sebab kesalahannya itu.
"Untuk itu katakanlah ! bukakah kau yang bilang kita harus saling terbuka.? Jika ada yang dirasa tidak enak aku mohon katakanlah ! bagai mana aku akan tau jika kau tetap diam." Terang Kinara.
Setelah mengingat sesuatu yang Rayhan maksudkan Kinara memangut kecil, wajahnya berubah sedih. "Apa jika kak Indra sudah menikah kau akan menceraikan ku ?" Tanya Kinara. Kinara mengira Rayhan tengah mengingatkannya akan ucapan Kinara saat itu.
Bila Kak Indra sudah menikah kau boleh meninggalkan aku, tapi aku mohon menikahlah, menikahlah demi Kak Indra.
"Bukan Sayang, bukan itu maksudku. Itu tidak mungkin." Rayhan menangkup kedua pipi Kinara dengan lembut.
"Aku yang takut Kinara. Bukankah malam itu Sayang memohon kepadaku untuk menikah, menikah demi kak Indra bukan ?. Aku takut semua itu terjadi, setelah kak Indra menikah kau akan meninggalkan aku."
Kinara merangkul pucuk leher Rayhan, memanja.
"Lalu apa kau juga akan meninggalkan ku Ray ? bukankah dulu kau pernah menolak untuk menikah denganku, aku rasa kau terpaksa menikahiku."
"Tidak Sayang, itu tidak benar, semuanya karena aku telah salah paham kepadamu. Aku tidak mungkin meninggalkan mu, selangkah pun tidak akan aku lakukan Sayang."
"Oo bisakah kau berjanji untuk itu, Ray ?" timpal Kinara.
"Ya tentu." Rayhan balas merangkul tengkuk Kinara. "Aku berjanji akan terus mendampingimu Kinara, aku berjanji mendampingimu hinga akhir hayat memisahkan kita, aku berjanji akan terus mencintaimu, aku berjanji akan menjagamu dengan baik dan aku berjanji tak akan menyakitimu, aku berjanji akan memperlakukan mu dengan baik, aku berjanji akan menjadi Imam yang terbaik untukmu Kinara, aku berjanji kita akan bersama untuk selamanya didunia maupun diakhirat." Beberapa saat Rayhan masih tersenyum sambil menatapi Kinara yang terlihat bahagia saat mendengar janji janji yang diucapkan Rayhan.
"Apa aku perlu mengulangi janjiku Kinara.?" Tanya Rayhan saat menadapati Kinara hanya diam.
Kinara memangut gemas.
"Baiklah ucap Rayhan, kau dengar dan ingat Baik-Baik Sayang, Aku berjanji akan terus mendampingimu Kinara, aku berjanji mendampingimu hinga akhir hayat memisahkan kita, aku berjanji akan terus mencintaimu, aku berjanji akan menjagamu dengan baik dan aku berjanji tak akan menyakitimu, aku berjanji akan memperlakukan mu dengan baik, aku berjanji akan menjadi Imam yang terbaik untukmu Kinara, aku berjanji kita akan bersama untuk selamanya didunia maupun diakhirat."
"Janjimu terlalu banyak Ray, aku kira aku tak akan bisa mengingat semuanya." Balas Kinara.
"Baiklah akan aku bantu mengingat semuanya, aku berjanji...
Rayhan hendak mengucapkan janji yang ke tiga kalinya namun dengan sigap Kinara menutup bibir Rayhan dengan satu jarinya.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu mengingatkan aku Ray, aku sudah mengingat semuanya. Aku minta berjanjilah kepada Tuhan [Allah] berjanjilah atas namanya. Berjanjilah kau tidak akan mengkhianati ucapanmu." Pesan Kinara.
"Ya sayang, aku berjanji." Sahut Rayhan.
"Mm bisakah kau janjukan sesuatu untukku Sayang? aku ingin mendengar balasan mu atas janjiku." Ucap Rayhan.
"Berjanji.?" Tanya Kinara, dan Rayhan pun mengangguk. "Aku tak akan berjanji, aku takut tak mampu menepati janjiku dengan baik, aku hanya akan berusaha menjadi Istri Terbaik untukmu Ray, Satu-Satunya perempuan terbaik dalam hidupmu." Jawab Kinara dengan tutur kata yang lembut membuat Rayhan tersenyum bahagia atas ucapan Kinara itu.
"Baiklah itu lebih dari cukup Sayang," Pungkas Rayhan.
"Apakah ini berarti aku tak perlu mencemaskan pernikahan kak Indra, aku tak perlu cemas kau akan meninggalkan ku.?" Balas Rayhan.
"Mm soal itu, aku perlu melihat seberapa seriusnya kau menepati janjimu." Tuntut Kinara.
"Baiklah, aku berjanji akan menunjukan semuanya." Sahut Rayhan.
"Janji?" Balas Kinara.
Rayhan mengangguk kecil sambil tersenyum manis. "Janji."
"Janji.!" Tambah Kinara.
"Janji." Ucap Rayhan yakin.
Rayhan masih merangkul dan membulatkan tangannya dipinggang Kinara sambil terus tersenyum gemas membuat Kinara menunduk malu. Saat Rayhan menatapnya seperti saat ini, Kinara selalu dibuat gugup, perasaannya sering kali berubah tak karuan saat melihat senyum manis yang tersungging diwajah Rayhan.
Tok tok tok..
Ketuk Indra di daun pintu yang terbuka dengan sangat lebar. Kedatangan Indra mengejutkan dua orang yang tengah saling menatap penuh cinta rangkulan mereka pun Sama-Sama belum terlepas.
Masih menyematkan senyum Rayhan pun menoleh kearah Indra.
"Maaf Kakak ganggu ya ?" Tanya Indra sambil tersenyum kikuk.
"Enggak kok Kak." Sahut Rayhan.
Melihat keromantisan mereka bedua Indra pun dibuat senyum bahagia.
.....
"Ray, ini adalah segala hal yang perlu kamu pelajari dalam berbisnis."Ucap Indra setelah menyodorkan sebuah laptop didepan Rayhan.
Hamparan pekarangan yang dihijaui dengan rumput hias, kolam renang berukuran sedang dengan airnya yang tenang, Rayhan dan Indra duduk disebuah gajebo kecil disamping kolam.
Beberapa saat Rayhan masih mengamati segala aspek yang Indra berikan kepada Rayhan.
Sore ini sesuai dengan yang diperintahkan Rahman, Rayhan tengah belajar mengenal segala hal yang berkaitan dengan dunia bisnis. Indra adalah guru tepat yang Rahman pilih untuk Rayhan, dia pengusaha muda yang cukup cemerlang dalam dunia bisnisnya.
"Apa yang kamu fikirkan setelah melihat ini ?" tanya Indra.
"Mm aku rasa dunia bisnis itu tidak mudah, disini segala hal saling berkaitan, saling mendukung, saling menopang, dan saling membutuhkan, disini kerja keras, saling percaya adalah hal yang perlu di prioritaskan, terutama kejujuran." Beber Rayhan.
"Kamu betul Ray, tapi dunia bisnis tidak sesederhana itu, ada banyak masalah yang datang tanpa diduga, kita mesti jeli dan menganggap serius segala macan masalah biarpun itu masalah kecil." Imbuh Indra.
Rayhan menutup laptop dihadapannya.
"Kak bolehkah aku bertanya.?" Tanyanya dengan tatapan menuntut jawaban.
Indra yang tengah menyandarkan punggungnya, bersantai. Merubah posisi duduknya menjadi lebih serius.
"Apa yang ingin kamu tanyakan Ray, kelihtannya ini cukup serius.?" Tanya Indra.
"Siapa Shan.?"
__ADS_1
Mendengar nama itu disebut Indra menghela nafasnya dengan kasar, kemudian menjawabnya.