
Kinara berdiri diambang pintu, fikirannya meracau kesana kemari, "Bahkan dia sedikit pun tak memperdulikan ku, aku pulang malam pun dia tetap biasa saja, tak ada cemas apalagi marah." Kinara berjalan lunglai menuju kamarnya.
Saat hendak memasuki kamarnya Kinara melewati meja makan. Dibukanya tudung saji dan nampaklah makanan yang masih utuh.
Kinara menghela nafasnya kecewa. "Dalam keadaan ini, aku masih berharap dia memakan masakan ku, sungguh berlebihan." Gumam Kinara berlalu meninggalkan meja makan yang masih tak tersentuh.
Kini dia telah berdiri didepan pintu kamar Rayhan yang masih tertutup seperti saat sebelum ia pergi, hendak masuk tapi takut Rayhan masih marah kepadanya.
Terlebih Kinara tidak tau apakah Rayhan menginginkannya tinggal disini atau malah sebaliknya.
Dia berfikir seperti itu bukan tanpa sebab. Dirinya dibuat bingung sebab kedatangannya pun tidak disambut Rayhan.
Terpaksa Kinara melewati kamar Rayhan dan masuk dikamar lain.
"Semoga besok kemarahannya reda, setidaknya dia putuskan aku harus bagai mana." Gumam Kinara sembari membuka pintu kamarnya.
"Kemana dia,? kenapa tidak masuk ke kamarku.?" Tanya Rayhan.
Rayhan terduduk ditepi tempat tidur menunggu Kinara masuk kedalam kamarnya, berharap segera memberi alasan dan penjelasan. Yang dia inginkan saat ini adalah alasan kemana ia pergi kenapa Kinara pulang malam juga penjelasan dari Kinara atas kejadian pagi tadi, sebagai seorang suami Rayhan menunggu itu.
Setelah menunggu cukup lama dan Kinara belum juga masuk kedalam kamarnya Rayahan mulai kesal dan geram.
Rayhan melangkah keluar dari kamarnya untuk mencari Kinara. Dan saat itu juga Rayhan menemukan Kinara berada dikamar lain.
Rayhan tertegun didepan kamar samping kamar tidurnya. Dari celah pintu, dilihatnya Kinara duduk dikamar itu.
"Apa .? dia memilih tidur dikamar lain.?" Tanya Rayhan dalam hatinya. "Apa dia benar-benar tidak ingin tidur bersamaku.? Atau mungkin dia ingin menghindariku,? sebenarnya apa yang dia inginkan.?"
Kinara.
Setelah selesai membersihkan dirinya, ia mengabil sebuah kotak obat yang telah disediakan Indra.
Pelan-Pelan Kinara mengoleskan betadin dilukanya, baik itu luka lama dan luka baru yang ia alami saat menyelamatkan perempuan itu.
Setelah dirasa cukup Kinara segera merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya, "Inikah kebahagiaan yang banyak orang bicarakan, ? ( malam pertama) jangankan bahagia aku malah harus tidur terpisah dengannya, hmmmh Rayhan kapan kamu akan bicara kepadaku.?" Gumam Kinara sebelum merapatkan matanya.
Rayhan menyandarkan tubuhnya pada dinding pemisah antara kamarnya dan kamar Kinara. "Dia bahkan memilih tidur terpisah." Gumam Rayhan kecewa.
Ke esokan paginya, Kinara tengah sibuk dengan urusan dapurnya menyiapkan sarapan untuk Rayhan.
Setelah selesai memasak tak lupa Kinara menyiapkan secangkir kopi untuk Rayhan, karena sepengetahuannya kaum lelaki suka mengawali harinya dengan meneguk secangkir kopi panas. "Semoga dia sudah tidak marah kepadaku." Ucapnya mencoba yakin.
Kinara beranjak hendak membangunkan Rayhan, namun Rayhan telah bangun terlebih dahulu dan telah siap dengan pakaian rapihnya.
Hari ini sepertinya Rayhan akan kembali ngampus.
"Ray." Sapa Kinara. Dia berusaha tersenyum kepada Rayhan, senyum yang dibuat-buat, berharap dia tidak lagi marah padanya.
"Sarapan dulu , Ray." Ajak Kinara. Namun sedikitpun Rayhan tidak menolehnya apalagi untuk mencicipi masakannya.
Rayhan berlalu begitu saja tanpa menyapa atau sekedar tersenyum kepadanya.
Diperlakukan dingin oleh suaminya, perempuan mana pun pasti tidak akan tahan, begitu juga dengan Kinara.
Baginya lebih baik bertengkar hebat daripada didiamkan seperti ini.
Kinara terduduk sedih sebab Rayhan telah mengabaikannya, tapi sebisa mungkin dia tegar dan optimis, mana mungkin ia menyerah secepat ini.
...
...
Kampus.
"Ray.?"
Rayhan segera berbalik, ternyata yang memanggilnya Aman dan Bayu.
"Wuiiss. Udah ngampus aja loe gue kira loe mau pergi bulan madu." Ucap Bayu menggoda.
Rayhan tersenyum kecil penuh kecewa. "Mikir loe kejauhan, istri gue gak pernah ngarepin pernikahan ini, jangan'kan mikir bulan madu tidur saja terpisah.!"
Aman tertegun. "Maksud loe.?" Tanya Aman setengah tak mengerti.
"Dialah alasannya." Sahut Rayhan sambil menatap lurus kepada Fahmi yang berjalan menghampirinya.
"Ray." Teriak Aman.
Tetapi Rayhan tidak menggubris panggilan Aman.
Rayhan pergi meninggalkan mereka untuk menghindari Fahmi yang tengah berjalan kearahnya.
__ADS_1
"Kenapa dia.?" Heran Aman.
"Sudahlah. Itu urusan orang dewasa." Ujar Bayu, yang kemudian melangkah sambil menggandeng pundak Aman.
Mata kuliah pertama akhirnya usai, Rayhan segera mengemasi barangnya dan keluar menunggu dosen dalam mata kuliah selanjutnya.
"Hei Ray," sapa Andini. "Mana Kinara.?" Andini duduk menyebelahi Rayhan.
"Gue gak tau." Ucap Rayhan ketus.
Andini mengangguk paham, sepertinya Rayhan masih marah kepada Kinara, fikir Andini.
"Oo, gue cuma mau tanya keadaannya, gue takut dia keterusan setelah kejadian semalam."
"Kejadian apa.?" Tanyanya datar.
"Emang loe gak tau Kinara tadi malam pergi kemana.?"
"Bukan urusan gue dia pergi kemanapun. !"
"Oh, baiklah kalau gitu. Gue cuma mau ngasih tau loe, barang kali Kinara belum sempat memberi tau loe."
Sepertinya Rayhan tidak terlalu mengharapkan penjelasan apapun, walau Andini tengah mencoba menggali jalan keluar dan menutup masalah mereka berdua.
"Maaf ya, gue baru ngasih tau loe, kalau Kinara tadi malam." Ucap Andini.
"Sudahlah, gue sudah tau." Sanggah Rayhan, dia pergi meninggalkan Andini yang bermaksud memberi taunya kemana dan bersama siapa Kinara pergi tadi malam.
"Iccc. Nyebelin banget itu cowok bagai mana masalahnya mau kelar kalau dia gak mau dengerin penjelasan orang lain.!?" Andini memberenggut kesal.
Waktu menunjukan jam 17:45. Rayhan masih berjalan menikmati desiran angin disore itu.
Tiba-tiba seorang perempuan menghampirinya.
"Rayhan.?" Panggilnya setengah bertanya.
"Ya." Sahut Rayhan.
"Boleh masuk sebentar." Pinta perempuan tersebut.
Setelah berfikir beberapa saat Rayhan akhirnya memasuki mobil tersebut.
"Ada hal penting.?" Tanya Rayhan.
"Bisakah kita bicara diluar.?" Pinta Rayhan.
"Aku terburu-buru.!" Ucapnya. "Apa aku boleh meminta sesuatu.?"
"Apa itu.?" Tanya Rayhan menyernyit.
"Tolong ! sampaikan permohonan maafku kepada Kinara !" Ucapnya lirih.
"Kenapa kau tidak menyampaikannya langsung.?" Tanya Rayhan.
"Aku tidak memiliki muka setebal itu." Ucapnya.
"Aku malu kepada diriku sendiri, karena aku pernah mau bersekongkol untuk menjebaknya, tapi tadi malam aku dibuat sadar aku telah mempermalukan diriku sendiri."
"Aku sedikitpun tidak mengrti." Ucap Rayhan Sambil menatapnya penuh tanya.
"Apa kau tidak ingat aku.?"
"Ya, sepertinya aku pernah bertemu denganmu."
"Malam dimana aku menjebak Kinara. Aku benar-benar bodoh." Ucapnya. Matanya berkaca-kaca penuh penyesalan. "Demi menjadi anggotanya, aku mau melakukan hal bodoh itu."
"Ray, kejadian malam itu adalah rencana Tamara."
"Apa.?" Rayhan terkejut hebat.
"Dia sengaja menjebak Kinara, Tamara dan lima suruhannya yang memukuli Kinara, ia murka saat tak berhasil membujuk Kinara untuk membatalkan perjodohan kalian. Kinara bersikeras menolak membatalkan pernikahan itu."
Rayhan hanya terdiam tak percaya.
Perempuan itu menghela nafasnya.
"Tolong ! sampaikan maaf ku kepadanya." Perempuan itu tertuduk sambil terisak. "Aku malau padanya, apalagi setelah tadi malam, dialah yang menolongku."
"Tadi malam.?" Ulang Rayhan sedikit bertanya.
"Tadi malam aku dipaksa Tamara untuk menemani bosnya."
__ADS_1
"Apa. Apa kau sedang becanda?" Rayhan terkejut.
Dia menggeleng, "Ya, meski aku sempat kabur tapi naas mereka berhasil mengejarku, aku tak mampu melawan mereka. Saat itu aku tidak berharap banyak atas keselamatanku, aku hampir pasrah dan mau meladeni lelaki itu, tapi Kinara bersama teman perempuannya datang menyelamatkanku." Tetesan air matanya mengikuti kata yang penuh penyesalan.
"Teman perempuan.?" Tanya Rayhan.
"Ya, aku malu benar-benar malu." Ucapnya sambil terisak.
"Luka ditubunya belum sebuh dan aku kembali membuatnya terlibat dalam perkelahian demi menyelamatkanku." Tangis sesalnya kini semakin menjadi.
Ucapan perempuan itu mengingatkan Rayhan, tadi malam Rayhan sempat melihat Kinara sedang mengobati lukanya.
"Malam ini aku akan pergi ke luar negri, tapi aku tak ingin meninggalkan penyesalan, untuk itu aku mohon ! sampaikan permintaan maafku dan katakan padanya aku sangat berterima kasih atas kebaikannya. Jika tadi malam Kinara tidak membantuku, aku tak tau akan seperti apa nasibku."
Rayhan mengangguk setuju. "Baiklah akan aku sampaikan."
"Terimakasih. Kau boleh keluar.!" Suruhnya.
Setelah Rayhan keluar mobil itu melaju kearah bandara.
Kini benak Rayhan dipenuhi tanya yang mengikuti setiap derap langkahnya. "Seorang perempuan.?" Tanya Rayhan.
"Apa Kinara tadi malam pergi bersama Andini.? Tapi pergi kemana sampai selarut itu.?" Tanya Rayhan sedikit ragu.
Triiinngg..
Sebuah pesan berisi sebuah vidio. Rayhan ternganga hebat saat melihat vidio tersebut.
"Jadi malam itu.? Apa,? jadi mereka.? Mana mungkin,!?" Rayhan tersenyum kecewa. "Ternyata Tamara cukup hebat dalam berakting." Rayhan menggeleng tak percaya.
"Aku ternyata telah salah faham padanya." Gumamnya menyesal. " Ini mungkin belum terlambat, aku masih punya kesempatan untuk meminta maaf padanya."
Rayhan segera pergi setelah menghentikan sebuah taksi dan tak lama kemudian Rayhan sampai didepan rumahnya.
Dia segera lari kedalam rumah mencari Kinara untuk meminta maaf soal kejadian malam itu, tetapi tampaknya rumah itu masih gelap dan kosong tanpa kehadiran Kinara.
"Dimana dia.?"
Di ceknya kamar Kinara dan kamar dirinya dan ruangan-ruangan lain dirumah tersebut, "Pergi kemana dia."
Setelah tidak menemukan kehadiran Kinara Rayhan duduk disofa ruang tamu. Dilihatnya beberapa buah cangkir berisi tea tersusun diatas meja.
"Siapa yang bertamu kerumahku.?" Fikir Rayhan. "Apa dia seorang laki-laki." Rayhan kembali berfikir negatif.
"Astagfirulloh kenapa aku bisa lupa, hari ini Kinara ada jadwal kontrol, Ya Allah." Rayhan mengacak kepalanya yang dipenuhi penyesalan.
"Bagai mana ini ? aku lupa pulang lebih cepat untuk menemaninya. Aku yakin dia pasti marah kepadaku." Gumam Rayhan.
Tuuuuutt..
"Halo Kak, apa Kinara ada disana.?" Tanya Rayhan kepada Indra dibalik telpon.
"Tidak ada. Emang ada apa.?"
"Ooh tidak, tidak. Tadi aku ketiduran dan tidak tau Kinara pergi kemana.?"
"Apa dia tidak izin kepadamu Ray.?" Tanya Indra.
"Dia mungkin izin tapi emm aku tidak mendengarnya." Ucap Ray berbohong.
"Ooh. kemana dia.?" Indra pun malah balik bertanya.
"Apa mungkin dia kembali pergi bersama Fahmi.?" Fikir Rayhan.
"Tidak, tidak. Aku tak boleh berperasangka buruk, Kinara tidak mungkin pergi bersama Fahmi. Jangan sampai aku kembali salah faham padanya."
"Mungkin aku harus tanyakan ini kepada Andini."
"Halo, Ray.?" Ucap Andini disebrang telpon.
"Apa loe bersama Kinara.?" Sahut Rayhan.
"Enggak Ray, Kinara tidak sedang bersamaku, mungkin....
Tut tut tut.
Panggilan telah Rayhan akhiri secara sepihak.
"Kemana dia.? Kenapa terus menghilang.? Kinara, apa sulitnya memberi tau aku kemana kamu mau pergi.!" Ucap Rayhan kesal, kemudian dia duduk dikursi diruang makan.
Disana Rayhan melihat selembar kertas yang disimpan dibawah tudung saji.
__ADS_1
PoV Kinara.
"Aku tak tau apa kau akan membacanya atau tidak, anggap saja ini sebagai penggugur kewajibanku, meminta izin kepadamu saat hendak keluar rumah." Gumam Kinara sebelum menuliskan surat untuk Rayhan.