Istri Terbaik Pilihan Ayah

Istri Terbaik Pilihan Ayah
Berniat menjemput Kinara.


__ADS_3

Kinara bediri memutar tatapannya, waktu dipergelangannya menunjukan pukul 22:35.


Hummhh. Desahnya.


"Terpaksa pulang sendiri, tidak mungkin harus minta bantuan Andini terus." Gumamnya.


Sejak tadi sore dirinya sudah ada ditempat saat ini berdiri. Demi Faldi (Muridnya) Kinara rela pulang sampai selarut ini, sebenarnya keluarga Faldi sudah menawarkan jasa untuk mengantarnya pulang tapi Kinara tidak enak hati, terlebih ini sudah cukup malam ditambah lagi Bapaknya Faldi sedang kurang sehat.


Kediaman Faldi yang cukup jauh dari jalan raya membuat Kinara terpaksa berjalan kaki.


Sekitar sepuluh menit ia tempuh untuk sampai dijalan raya.


Sesampainya dijalan Raya Kinara berdiri mematung menunggu angkutan.


Dia telah berdiri disana sekitar lima menit yang lalu, lima menit kemudian Kinara disilaukan dengan sorot lampu dari sebuah taxi yang berhenti tak jauh dari tempatnya berdiri.


Seseorang tampak keluar dari dalam taxi, tak beberapa lama kemudian datang lagi sebuah taxi, dan dia (perempuan) yang baru saja keluar dari taxi pertama langsung lari kearah taxi kedua yang berhenti dibelakangnya.


Kinara sendiri masih menyipitkan matanya, sorot lampu taxi tersebut menyulitkannya mengetahui siapa yang baru saja turun ditempat tersebut.


Baru setelah taxi itu pergi Kinara bisa melihat dengan jelas siapa yang baru saja turun, tapi sebelumnya Kinara sempat dikejutkan dengan kedatangan Fahmi yang tiba-tiba menghampirinya.


"Dek, Ngapain berdiri disini malam-malam begini.?" Tanya Fahmi.


"Aku lagi nunggu angkutan, Kak. Kak Fahmi sendiri ngapain.?"


"Kakak tadi melihat Rayhan, Kakak sengaja mengikutinya untuk minta maaf."


"Oh, baguslah kalau begitu, semoga Rayhan mendengarkan penjelasan Kakak." Ucap Kinara senang.


Disela berbincang dengan Fahmi Kinara kembali menjatuhkan tatapannya pada dua insan yang baru saja turun dari taxi dan terlihat tengah berpelukan.


Kinara sempat maju beberapa langkah hendak mendatangi mereka namun karena kecewa akhirnya ia mengurungkan niatnya.


Namun akhirnya Kinara milih berlari untuk menghentikan taxi yang sempat ditumpangi Rayhan.


Pov Rayhan.


Rayhan tiba-tiba dikejutkan dengan kehadiran Tamara yang langsung memeluknya.


Karena risih Rayhan melepaskan pelukan Tamara, namun bukannya terlepas Tamara malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Kinara.? Fahmi.? Ngapain mereka berduaan ditempat sepi begini, sungguh mencurigakan." Gumam Rayhan kesal.


Tak lama kemudian Rayhan melihat Kinara menaiki taxi dan berlalu pergi.


"Tapi, kenapa dia malah buru-buru pergi naik taxi,? gak diantar Fahmi.!" Fikir Rayhan. "Apa dia ketakutan karena aku memergokinya.?"


Rayhan berfikir beberapa saat.


"Astaga." Rayhan menyadari sesuatu. "Apa dia melihatku.?" Rayhan kemudian melepas paksa pelukan Tamara.


"Apa yang kau lakukan.?!" Bentak Rayhan bernada tidak suka dengan yang dilakukan Tamara.


"Rayhan aku mohon. Tolong ! antar aku pulang aku takut pulang sendirian." Pintanya manja.


"Dasar bodoh ! ngapain malah turun sih, jelas-jelas sopir bersedia mengantar mu pulang." Ucap Rayhan dalam hatinya.


"Maaf gue sibuk." Rayhan melepas pegangan tamara dan segera berlari menuju taxi yang sempat dihentikannya.


"Ray." Teriak Tamara sambil mengejarnya.


Tamara menahan pintu taxi yang tengah dibuka Rayhan. "Ray, aku mohon ! aku tak bisa pulang sendirian, antarlah aku ! setidaknya kau bisa bantu aku memberi alasan kepada kedua orang tuaku kenapa aku pulang malam."


Rayhan memalingkan mukanya kesal.


"Pak tolong antar dia pualang." Suruh Rayhan kepada pengemudi taxi tersebut.


"Ray. Aku mau kamu yang antar aku, aku bisa dimarahin Mamah Papahku jika mereka tau aku keluar sendirian." Ucap Tamara sambil memegang tangan Rayhan [memohon].


"Tamara, lepaskan ! aku sudah menikah. Kau tak pantas melakukan ini kepadaku." Rayhan mencoba melepaskan Tamara.


"Tapi Ray, bukannya kamu."


"Omong kosong, !" bentak Rayhan.

__ADS_1


"Ray.!" Panggil Fahmi.


Sekilas Rayhan menoleh Fahmi yang berdiri didepannya.


Karena masih kesal kepada Fahmi Rayhan segera masuk kedalam taxi untuk menghindari Fahmi.


"Ray, tunggu !" Tamara menahan pintu mobil yang hampir tertutup.


"Ray, gue mohon dengerin dulu penjelasan gue, kemarin itu salah faham." Ucap Fahmi setengah berteriak.


"Minggir lu," bentak Rayhan kepada Tamara sambil merapatkan pintu taxi. "Loe bisa meminta dia mengantar loe." Ucap Rayhan dengan sudut mata menunjuk Fahmi.


"Aku tidak mau Ray, gue mau loe yang ngaterin gue.!" Tamara memohon, ia memukul-mukul kaca mobil dan terus mencoba membuka pintu taxi yang telah Ray kunci dari dalam.


"Berangkat, Pak." Suruh Rayhan.


"Baik, Den." Turutnya.


"Ray, Ray, Rayhan.!" Teriak Tamara kesal, karena tidak dihiraukan Rayhan.


"Fahmi." Panggil Tamara setengah menghiba. Berharap Fahmi mau membantunya.


"Sorry gue buru-buru." Ucapnya seraya berlalu meninggalkan Tamara.


Fahmi memang sangat tidak menyukai sikap Tamara. Jadi, untuk sekedar mebantu pun Fahmi merasa malas.


"Siaaall." Teriak Tamara emosi, karena tidak ada yang mau mendengarkannya.


Awalnya Rayhan hendak menjemput Kinara dikediaman Faldi sesuai informasi yang ia terima dari Andini.


Flash back.


Setelah Rayhan menutup panggilannya secara sepihak, Andini mengirim alamat rumah tempat Kinara melatih [Rumah Faldi].


"Tadi malam gue jemput dia dirumah muridnya."


Flash back Off.


Tapi sayang, saat Rayhan turun dari taxi tiba-tiba saja Tamara berlari kearahnya dan langsung memeluknya.


...


...


Kinara.


Dia menyeka air matanya yang tak berhenti mengalir.


"Aku memang pernah melakukan kesalahan, tapi aku tidak berhak mendapatkan ini." Gumam Kinara.


"Mereka itu gak ada otak banget selalu bermesraan diruangan terbuka, dasar orang-orang sakit." Kinara memalingkan wajahnya kecewanya pada kaca mobil.


"Rayhan. Gue benci, gue benci, gue benci loe.!" Kinara memukul-mukul kursi tempatnya duduk.


Kinara kembali menyeka airmatanya. "Tapi ngomong-ngomong ngapain juga gue nangis ? cuma gara-gara melihatnya memeluk Tamara. Iisshh." Desisnya kesal pada dirinya sendiri.


Setelah melaju cukup lama Kinara akhinya sampai dipintu rumahnya.


Sesampainya dirumah Kinara tiba-tiba merasa lapar dan hendak menyendok nasi dan lauk yang dipasaknya tadi sore.


Tapi Kinara segera menghentikan aktivitasnya ketika melihat sorot lampu mobil yang mendekat kepekarangan.


"Kinar, Kinar, Kinara." Teriak Rayhan dari pekarangan dengan terburu-buru masuk kedalam rumah.


Kinara yang mendengar Rayhan memanggilnya, ia segera berlari masuk kedalam kamar seraya membanting pintu.


"Kinar, Kinar, Kinara.?!" Rayhan menggedor-gedor pintu kamar Kinara. "Aku bisa jelasin semua." Teriak Rayhan.


"Gue gak mau denger." Kinara menutup rapat telinga menggunakan kedua tangnnya.


"Kinar, gue mohon dengerin gue dulu.!" Teriak Rayhan.


"Gue gak butuh penjelasan loe lebih baik loe pergi.!"


Aakhhhh. Rayhan mendengus kesal.

__ADS_1


Didalam kamar Kinara sdikit membuka dan menutup telinganya, memastikan Rayhan sudah berhenti berteriak-teriak dan menggedor-gedor pintu kamarnya.


Heuuuhh,


Desahnya kesal.


Setelah itu Kinara menyambar handuk kecil dan bergegas menuju kamar mandi.


Didalam kamar mandi Kinara segera membasuh tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Sshhiit." Decaknya kesal, saat menyadari dia lupa membawa shampo yang sebelumnya ia taruh dilaci ruang tamu.


Dengan tubuh yang hanya ditutupi handuk kecil Kinara segera berlari untuk mengambil barangnya, dan terlebih dahulu Kinara memastikan diluar tidak ada Rayhan, "Aman." Ucapnya.


Kinara berlari secepat mungkin untuk mengambil barangnya dan bermaksud segera kembali kedalam kamar sebelum Rayhan melihat dirinya.


Tapi naas. Kinara yang sempat mengira Rayhan berada didalam kamarnya ternyata salah besar. Rayhan, dia tengah berdiri diruang makan dan sedang mengawasinya dari belakang.


"Apa yang kamu cari.?" Tanya Rayhan yang sontak membuat Kinara mendongakkan wajah dan membulatkan matanya [terkejut].


"Aaduuuhhh, sejak kapan dia disitu.?" Ucapnya lirih. Kinara meringis sambil memalingkan wajahnya.


Mendapati Kinara yang tampak tengah sibuk mencari sesuatu mendorong Rayhan untuk menghampiri Kinara.


Kinara yang menyadari Rayhan berjalan kearahnya segera beranjak dengan terburu-buru.


"Kinara.?" Panggil Rayhan.


Kinara yang telah melewati Rayhan beberapa langkah tertegun sejenak.


"Gue minta maaf." Ucapnya [serius].


Kinara hanya tersenyum kecewa sambil memalingkan wajahnya.


Tanpa menanggapi permohonan maaf Rayhan, Kinara melenggang menuju kamarnya, tetapi saat bersamaan tiba-tiba Rayhan menarik handuknya.


Sebenarnya Rayhan bermaksud menahan Kinara dengan menarik tangannya tapi naas tangan Rayhan terpeleset dan tanpa disengaja ia menarik handuk Kinara hingga terlepas dari tubuhnya.


Uaaaakkhh.


Kinara menjerit setengah mati, karena tiba-tiba handuk yang membalut tubuhnya terlepas dan menampakkan seluruh lekuk tubuhnya didepan Rayhan yang tanpa sehelai benang pun.


Blaaakkk.


Satu kepalan tangan yang replek mendarat di wajah Rayhan.


Uuukkh.


Ringis Rayhan sambil memegangi batang hidungnya.


Karena repleks tiba-tiba saja tangan Kinara tanpa kendali menonjok bagian hidung Rayhan.


Haa'. Dia tersentak.


Kinara yang menyadari dirinya baru saja memukul Rayhan, ternganga hebat.


"Sorry sorry gue gak sengaja.!" Ucapnya dengan wajah memberenggut bersalah.


Setelah merebut handuknya dari tangan Rayhan Kinara langsung melesat meninggalkan Rayhan yang masih memegangi hidungnya.


Sebelum menggapai pintu, Kinara menoleh kearah Rayhan yang terlihat tengah menyumbat darah yang mengalir dari hidungnya.


"Aduuhhh.." Ringis Kinara. Hatinya terus dihinggapi rasa besalah karena tanpa sengaja telah melukai Rayhan.


Setelah selesai mandi dan berganti, Kinara keluar dari kamarnya untuk melihat keadaan Rayhan.


Ingin sekali minta maaf namun ada sedikit perasaan gengsi dihatinya, juga rasa kesal atas kejadian tadi, membuatnya tak mau bertemu dengan Rayhan. "His, ya sudahlah lagian salah sendiri menarik handuk gue jadi replekskan tangan gue." Gumam Kinara.


Haaaakkhh..


Kinara melempar tubuhnya diatas tempat tidur. "Gue minta maaf, Ray." Kinara mengacak rambutnya menyesal.


Ditaruhnya alkohol pada kain kasa, sesekali ia usapkan dibatang hidungnya yang sedikit robek, Aww, Hiisss. Desah Rayhan kesakitan.


Kinara sendiri kembali berjalan mondar mandir bingung didalam kamarnya, sesekali dia mengintip Rayhan yang terlihat duduk diruang tamu dan tengah mengobati hidungnya. "Aduuh gimana turun gak yah.? Minta maaf gak yah.?" Kinara menggigit-gigit jarinya, bingung.


Aaaaa. Erangnya menyesal.

__ADS_1


"Hmms, padahal niatnya gue mau minta maaf. Naas, naas belum juga bicara dia udah nonjok gue." Gumam Rayhan.


__ADS_2