
Pajar mulai menyingsing menyeret malam kepangkuan, seiring matahari menyinari Suara-Suara alarm alam pun bersahutan.
Dia Kinara, sajak lima belas menit yang lalu masih berdiri diambang jendela menikmati desiran angin pagi yang menusuk rongga dada.
"Kinara," panggil Safiq dari belakang, lalu ia berjalan menuju tempat Kinara berdiri dan melamun.
Sekilas Kinara menoleh.
"Ayah," sahutnya.
"Apa yang membebani fikiranmu Kinar,?" tanya Safiq yang kini telah berdiri sejajar dengan Kinara.
"Ayah....... Bolehkah Kinara bertanya,?" ucap Kinara tertunduk lesu.
"Silahkan ! apa yang ingin Kinara katakan,?" jawab Safiq.
"Seperti apa cinta Ayah kepada Ibu,?"
Sebelumnya Safiq tersenyum, "Kinara," ucap Safiq sambil merangkul dan mengusap halus pundak Kinara.
"Rasa cinta Ayah kepada ibumu begitu besar, tak ada yang bisa mengukurnya," jawab Safiq sambil menoleh. "Untuk apa kau tanyakan ini sayang.?" Ditatapnya Kinara penuh tanya.
Kinara menggeleng kemudian menunduk, "Apa setiap Laki-Laki memiliki cinta yang besar seperti Ayah,?" tanya Kinara.
"Tentu Nak, tapi kami bukan mahluk yang pandai mengungkapkan perasaan kami, kami sangat kaku dalam hal ini, kami kaku merangkaikan cinta dalam ucapan dan Kata-Kata. Cinta kami ada dalam hati, tapi kami cukup kesulitan untuk menunjukannya dalam bahasa isyarat tubuh, saking sulitnya seringkali kami hanya mencintai dalam diam."
Ucapan Safiq masih Terngiang-Ngiang ditelinga Kinara sejenak ia merenungkan Kata-Kata itu.
"Kinara," sapa Indra.
Indra yang baru keluar dari dalam ruangannya pun sejenak berdiri dibelakang Kinara.
Kinara berbalik kearah Indra. "Kak," sahutnya.
"Tumben Pagi-Pagi udah kesini, ada apa,?" tanya Indra.
"Enggak ada Apa-Apa Kinara cuma bosen duduk dirumah terus."
"Nggak ngampus,?" sahut Indra.
"Mata kuliah siang," jawabnya singkat.
"Oo baiklah duduk sana ! Kakak ada meeting sebentar," suruh Indra.
Sambil memegang kedua tali rangselnya Kinara mengangguk malas.
"Mau makan, minum apa,?" tanya Indra berbalik.
"Apa aja," jawab Kinara sambil mendorong pintu ruangan Indra.
Seperti biasa, didalam ruangan kerja Indra Kinara tidak pernah bisa diam, segala yang ada disana disentuhnya, beberapa map selalu mengundang perhatiannya, berbagai diagram dan laporan tertulis dengan seksama ia baca dengan teliti.
Kinara duduk dikusi kebesaran Indra, Tangan kanannya aktip membuka lembaran laporan bulanan dan tangan kirinya meraih laci dimeja kerja Indra.
"Wahh kebetulan," gumam Kinara sambil merogoh laci tersebut dan mengambil handphone milik Indra.
"Aku penasaran apa ia Kak Indra belum juga punya cewek," decak Kinara sambil tersenyum jahil.
Jari lentik itu dengan lihainya membuka dan menggeser setiap gambar didalam telpon genggam Indra yang hampir seluruhnya berisi photo dirinya bersama Indra.
"Iikhh pak tua ! masa sih gak ada photo perempuan lain selain aku," gumam Kinara, jari lentiknya sedetik berhenti menggeseser layar dihadapannya.
Beberapa saat kemudian Kinara kembali menggeser layar tersebut. "Rayhan,?" ucap Kinara saat melihat wujud Rayhan dalam sebuah vidio yang belum terputar.
Sebuah rekaman vidio yang di ambil Indra sewaktu dirumah sakit saat Rayhan mencium dan memebelai rambut Kinara yang tengah tertidur pulas, dan tak lama kemudian Rayhan pun tertidur sambil menggenggam jemari Kinara.
__ADS_1
"Ray. Maaf, ternyata aku cukup bodoh mengenali perasaanmu, maafkan kecemburuanku yang berlebihan, Ray maaf karena aku tak mempercayaimu," gumam Kinara, ia terduduk dengan tatapan kosong.
Hampir satu jam Kinara berdiri didepan gerbang kampus untuk menunggu kedatangan Rayhan, tapi sampai lima belas menit kemudian Rayhan belum juga muncul hingga Kinara dibuat cemas.
"Kemana Rayhan,?" fikir Kinara, sekilas ia menoleh pergelangannya. "Seharusnya setengah jam yang lalu dia sudah datang, apa mungkin dia ketiduran,? atau ..... huuuhh," decaknya khawatir.
Setelah memutar vidio tersebut Kinara langsung pergi ke kampus mencari Rayhan.
"Man,?" panggil Kinara.
Aman yang baru keluar dari kelasnya seketika menoleh, dan saat mengetahui Kinara yang memanggilnya Aman segera mendekat.
"Ekh Kinara," ucap Aman.
Kinara berjalan mendekati Aman, "Man,
apa loe liat Ray,?" tanya Kinara.
"Rayhan.?" Aman sedikit menyernyit. "Hari ini gue belum bertemu dengannya, emangnya kenapa,?" ujar Aman.
"Eeuuhh nggak ko' gue cuma nanya aja, ya sudah makasih ya," sahut Kinara yang kemudian pergi meninggalkan Aman yang tengah menyernyitkan dahinya.
Setelah mencari dan tak menemukan Rayhan didalam kelasnya, Kinara bergegas menuju lapangan futsal berharap bertemu Rayhan disana untuk meminta maaf.
"Loe hebat," ucap seseorang sambil tertawa puas. Dari suaranya itu terdengar Marisa dan Tamara. Saat mendengar itu Kinara segera berhenti dan bersembunyi dibalik sudut tembok.
"Tapi Ngomong-Ngomong loe dapat informasi dari mana,?" tanya Marisa.
"Haha ada deh," jawab Tamara sambil tersenyum sombong.
"Okk gue gak perduli loe dapat informasi itu dari mana yang gue penasaran," Marisa menempelkan telunjuk di dagunya. "Kira-Kira apa yang akan terjadi pada rumah tangga mereka selanjutnya.?" Sebentar Marisa terlihat sedih sebelum kemudian tertawa puas.
Hahahaha....
Tamara dan Marisa tertawa lantang. Mereka senang karena Tamara berhasil menjebak Rayhan.
"Gue juga yakin," sambung Marisa. "Jebakan yang luar biasa Tamara, gue salut sama kepintaran loe," puji Marisa.
Tamara meremas jemarinya, "Gue gak sabar nunggu saat itu tiba."
Tak percaya, tapi ini adalah kenyataan yang harus diterima, apa yang didengarnya saat ini adalah bukti kuat kebenaran ucapan Rayhan dan kesalah pahaman dirinya pada kejadian itu.
"Ray maafkan aku, aku memang egois, aku menyesal tak mendengarkan ucapanmu, sekarang aku sudah tau semuanya," sesalnya dalam hati. Kinara kembali berlari untuk mencari Rayhan.
Saat itu,
Bayu berdiri bersandar ditiang, dihadapannya Aman yang habis menceritakan Kinara yang tengah mencari Rayhan. "Apa mungkin Rayhan keterusan,? kemarin gue lihat sepertinya dia kurang sehat," ucap Bayu.
Aman merenung, "Apa ia,?" tanyanya.
"Ya sih gue lihat kemarin dia begitu pucat, tapi Mudah-Mudahan Rayhan gak masuk hari ini bukan karena sakit melainkan ada keperluan lain," harap Bayu.
Kinara yang berdiri cukup jauh dari mereka tapi masih cukup mendengar ucapan Aman dan Bayu.
Mata sayu, batuk kecil, menggigil, kemarin saat bersama Rayhan lebih banyak diam tidak seperti biasanya.
"Tidak....
Kinara berbalik dan berlari secepat mungkin tujuannya tak lain mencari Rayhan di rumah.
Terbersit harapan dihatinya Rayhan akan Baik-Baik saja.
Didalam angkutan umum Kinara terduduk gelisah, ia terus menggigiti ujung jarinya mengkhawatirkan Rayhan.
Seandainya terjadi sesuatu kepada Rayhan Kinara tidak bisa memaafkan dirinya sendiri, tak akan bisa memaafkan kebodohannya sendiri.
__ADS_1
Padahal kemarin Kinara sudah menyadari Rayhan seperti kurang sehat, tapi tadi malam Kinara malah membiarkan Rayhan berdiri ditengah hujan.
"Semoga kamu Baik-Baik saja Ray," gumam Kinara jemarinya tergerak menyapu air mata yang Tiba-Tiba menetes tanpa sebab.
Malam setelah pulang dari kediaman mertuanya Rayhan melangkah setengah menyeret kakinya, beberapa kali ia terhuyung, berjalan kekamar pun setengah merangkak. "Kinara," panggilnya sebelum akhirnya menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur.
Selepas angkutan berhenti tak jauh dari halaman, Kinara segera berlari menuju rumah yang beberapa hari ini tidak ia tempati. Di depan rumah terparkir sedan putih, hatinya terasa berat saat melihat mobil itu tampak kotor seperti tak bertuan.
Berulang kali Kinara menarik dan membuang nafasnya menghilangkan kecemasan dan membuang semua fikiran buruknya.
Pelan-Pelan Kinara memutar knop pintu, perlahan pintu pun terbuka.
"Ray," panggilnya.
Berulang-ulang Kinara memanggil nama itu tapi tidak ada sahutan.
"Apa Rayhan pergi keluar,?" fikir Kinara. Kinara terus berfikir dan bergumam baik berharap Rayhan dalam keadaan Baik-Baik saja.
Langkah Kinara semakin maju dan kini sedang menaiki tangga sambil terus memanggil nama Suaminya.
Tepat didepan pintu kamar Rayhan hati Kinara mendadak tidak enak sangat tidak enak melebihi sebelumnnya.
Kinara masih memegangi handel pintu sambil terus berdoa Rayhan Baik-Baik saja.
Sambil mendorong pintu Kinara memanggil, "Ray," ucapnya, tapi tetap tidak ada sahutan.
Kinara terus berjalan menuju Rayhan yang terlentang diatas tempat tidur.
"Ray," panggil Kinara lirih. Melihat Rayhan tertidur hatinya sedikit tenang dan fikiran buruk pun mulai hilang.
Sambil menatap Rayhan Kinara tersenyum, "Kamu ketiduran rupanya," ucap Kinara.
Pelan-Pelan Kinara menarik selimut dan membetulkannya, setelah itu kemudian duduk ditepi tempat tidur.
"Ray," panggilnya lirih, jemarinya bergerak menyentuh tangan Rayhan.
"Ray," panggil Kinara terkejut.
Lalu disentuhnya dahi Rayhan, "Panas sekali. Ray, kau sakit,?" tanya Kinara, kecemasan mulai membuih dihatinya.
"Ray." Digoyang-Goyangkannya tubuh Rayhan, tapi tak ada reaksi selain meringis macam orang kesakitan.
Kinara Kembali menyenyuh dahi yang mungkin berada diatas 38°C.
Setelah mengambil handuk dan tempat yang telah di isi air, kemudian ditempelkannya haduk basah didahi Rayhan.
"Kinara," panggil Rayhan bergumam.
Matanya tertutup tetapi kepalanya bergerak resah ke kiri dan kanan.
"Aku disini Ray," sahut Kinara sambil menggenggam jari Rayhan yang juga terasa sangat panas.
"Kinara," Rayhan kembali mengigau.
Melihat keadaan Rayhan yang terus memanggilnya Kinara menunduk menyesal, "Maafkan aku Ray, semuanya salahku," sesal Kinara.
"Berapa,?" tanya Kinara pada seorang Apoteker.
Setelah memberika uang yang diminta Kinara kembali melajukan motornya, ia sangat Terburu-buru mengingat Rayhan yang sedang sakit ia tinggalkan sendirian didalam rumah.
"Kinara," panggil Rayhan. Ia kembali mengigau.
"Ray," jawab Kinara. Kinara yang baru datang tersenyum begitu manis, karena begitu merindukannya Rayhan segera menjulurkan tangannya untuk menarik Kinara kedalam pangkuan.
Tapi Itu sulit, saat mencoba menarik Kinara kedalam pelukannya Rayhan kesulitan, tangannya tak bisa meraih Kinara yang berdiri tak jauh darinya, lalu saat bersamaan Kinara telah berjalan mudur, semakin mundur menjauhi Rayhan yang terduduk sambil bersandar, senyum penuh kecewa menjadi salam terakhir Kinara. Ia pun pergi membawa sejuta luka diwajahnya.
__ADS_1
"Kinara," panggil Rayhan. Sekuat tenaga Rayhan berteriak tetapi suaranya tertahan, mulutnya terkunci tak bersuara. Ingin berlari mengejar Kinara tetapi tubuhnya lemas tak berdaya.
"Kinara, Kinara," panggil Rayhan.