Istri Terbaik Pilihan Ayah

Istri Terbaik Pilihan Ayah
Air putih.


__ADS_3

Malam pun Kian larut, sementara Kinara masih duduk didepan laptopnya disampingnya buku berisi kerangka dan alur artikel telah selesai ia buat.


Tak jauh darinya Rayhan terlentang dengan selimut membalut tubuhnya.


Sejak setengah jam yang lalu Kinara tak hentinya menguap sepertinya mata Kinara sudah tidak bisa lagi diajak kompromi, sangat ngantuk Jari-Jemarinya pun sudah mulai ngaco mengetik kesana kemari, kosakata yang tertera didepannya juga terlihat blank saking mengantuknya.


"Sayang." Rayhan terbangun langsung memeluk Kinara.


"Ya," sahutnya.


"Tidak ngatuk,?" tanya Rayhan. Dengan suara yang terdengar begitu berat.


"Belum Ray," ucap Kinara berbohong padahal susah sekali membuat matanya tetap melek.


Sekilas Rayhan menoleh ke arah jam yang tergantung didalam kamar mereka. Jam 02:20.


"Baiklah kalau gitu akun temani," ucap Rayhan inisiatif.


"Jangan Ray, kondisimu baru saja membaik. Kau harus istirahat !" cegah Kinara.


"Aku akan tidur asal kamu juga tidur," balas Rayhan.


"Tapi aku belum ngantuk," sangkalnya.


"Oo baiklah, aku juga akan tetap disini melihat mu menulis artikel ini."


"Ray ! aku belum ngantuk pergilah tidur kau harus cukup istirahat, aku takut pemulihanmu terganggu."


"Aku akan Baik-Baik saja kok, aku sudah cukup beristirahat, lagian kondisiku tak akan terpengaruh. Aku ingin menemani mu Kinara." ucap Rayhan sambil mengubah posisi duduknya sejajar dengan Kinara.


"Ray." Kinara menatap Rayhan dengan tatapan elang sangat tajam, tak ingin dibantah.


"Baiklah aku menurut," sahut Rayhan sambil menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur.


Sepuluh menit kemudian, Rayhan masih belum bisa menejamkan matanya. Berkali-kali Rayhan berguling ke kiri dan ke kanan memaksa matanya untuk terlelap tapi tetap sulit.


Rayhan pun kembali duduk dan melihat Kinara menunduk, sebelah tangannya diatas keyboard dan sebelah yang lain menopang pipinya tapi matanya terpejam.


Rayhan kembali melentangkan tubuhnya dan berselimut.


"Sayang ? sayang," panggil Rayhan lirih. Sontak Kinara menggerejab menepis rasa kantuknya.


"Ya, ada apa Ray," sahutnya.


"Aku nggak bisa tidur. Bisa temani aku sebentar ?" pinta Rayhan dan Kinara pun mengangguk kemudian mendatangi Rayhan. Memeluk, membenamkan wajah didada Rayhan dan tak lama kemudian Kinara pun tertidur lelap.


"Dasar bandel, bilangnya gak ngatuk, ekh pas nemu bantal langsung lupa diri, tepar lah dia akhirnya," gumam Rayhan gemas. Dibelai dan ciumnya pucuk kepala Kinara sebelum akhirnya Rayhan pun tertidur.


Pagi-Pagi sekali Rayhan sudah terbangun. Sebelum beranjak dari tempatnya, terlebih dahulu Rayhan menatapi Kinara memandangnya penuh penuh cinta dan kasih sayang.


Disisirnya rambut yang teturai menutupi wajah Istrinya, saat tertidur terlihat begitu manis.


"Kinara.... terima kasih telah mengisi hidupku dan menjadikannya lebih berwarna. Kinara aku minta maaf !" Rayhan tersenyum kecil.


"Walau kau telah memaafkan ku, tapi sesal dihatiku tak akan pernah hilang. Maafkan aku yang pernah membandingkan mu dengan perempuan lain, dan pernah mengecewakanmu. Aku berjanji, itu adalah kali terakhir aku menyakitimu Kinara, aku berjanji untuk membahagiakanmu, aku berjanji mempertaruhkan hidupku untukmu."


Rayhan kembali mencium Kinara lalu merosot turun dari tempat tidurnya.


...


...


"Pagi Ray," sapa Kinara. Menarik kursi kemudian duduk dibelakang Rayhan yang kelihatannya tengah sibuk membuat sarapan.


"Kau tak membangunkan aku Ray." Ucap Kinara sambil menyandarkan kepalanya pada meja. Tampaknya ia masih sangat mengantuk. "Kau juga masak untukku.? Kau tak perlu melakukan ini Ray."


Mendongkang air minum lalu meneguknya.


Rayhan berjalan mendekati Kinara.


"Aku kira membantumu melakukan ini sangat aku perlukan."


"Alasannya.?" Kinara mendongak menatap Rayhan yang telah berdiri didepannya.


"Aku ingin melakukan segalanya seperti yang kamu lakukan untukku, memasak, mencuci piring, mencuci pakaian, mengepel, Beres-Beres rumah."


"Untuk apa,?" tanya Kinara sambil merangkul pinggang lelaki yang berdiri dihadapannya.


"Aku takut saat kau sakit dan aku tak bisa berbuat Apa-Apa, aku tak bisa membuat sup lejat seperti yang pernah kau buat untukku."


Kinara mengangguk paham.


"Jadi apa yang kau buat Ray?" tanya Kinara.


"Mm aku hanya merebus air putih." Ucapnya sabil Garuk-Garuk dan tersenyum kikuk.


Hmmm.


Kinara menghela nafasnya. "Usaha yang bagus Ray."


Rayhan pun tersenyum.


"Aku minta maaf, aku ingin mencobanya tapi aku tidak sepandai dirimu, jika aku masak pun aku hanya akan mengacaukan semuanya."


"Lalu saat aku sakit kau hanya akan memberi aku air putih saja?"

__ADS_1


"Mm.."


Rayhan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Yasudah, mari aku tunjukan! aku tak ingin saat aku sakit nanti aku hanya memakan air putih saja." Ucap Kinara, ia melangkah gontai menuju dapur.


"Siap !" sahut Rayhan penuh semangat sambil berjalan mengekor dibelakang Kinara.


"Apa yang akan kita buat sayang?" tanya Rayhan.


"Kau ingin makan apa pagi ini ?"


"Mm apa saja. Apapun yang kamu masak pasti aku suka."


"Oo aku buatkan air putih untukmu." Ucap Kinara sambil menunjuk panci yang telah mendidih airnya.


"Sayang kau mengejek ku?"


Kinara tertawa kecil. "Tidak ! aku sedang memujimu."


Rayhan menengok masakannya. "Untuk masakan yang ku buat rasanya pujianmu terlalu berlebihan Sayang."


Kinara terkikik geli.


Kinara mulai menyingsingkan lengan bajunya bersiap memasak dan terlebih dahulu mengmbil Bahan-Bahannya didalam kulkas.


Beberapa potong ayam, satu ikat kangkung bawang merah bawang putih, lalu mengambil penyedap saus tiram sedikit terasi.


Lalu ayam yang telah ia lumuri perasan jeruk nipis dan lada ia celupkan kedalam tepung yang sebelumnya ia seduh sedikit encer, mendiamkannya sekitar sepuluh menit, lalu setelah itu dilumuri tepung serba guna kering.


"Mm." Desis Rayhan. Ia sedikit menundukan kepalanya Berkali-kali menciumi aroma masakan Kinara yang telah tersaji diatas meja makan.


"Sayang, kelihatannya ini sayangat lejat," ucap Rayhan tak sabar ingin menyantapnya.


Kinara datang membawa piring berisi nasi.


"Silahkan cicipi masakan mu Ray !" ucap Kinara sambil menyodorkan nasi dan segelas teh manis.


"Aku sedikit ragu dengan rasanya."


Kinara kembali tersenyum.


"Sedikit aneh itu biasa, aku rasa masakan ini tidak terlalu buruk."


"Ya. Aku rasa begitu." Rayhan menyendok tumis kangkung dan mengambil sekeping ayam tepung.


Menyendok nasi dan mulai memaknnya.


"Bagai mana enak?" tanya Kinara memastikan.


Kinara tersenyum.


"Aku tau kamu pasti berhasil." Puji Kinara.


"Ya, berhasil memakan masakanmu," balas Rayhan.


"Tapi, ini kamu yang menggorengnya," ucap Kinara.


"Ya tapi kamu yang membuatnya."


"Tidak ! aku hanya menyiapkan bumbunya. Kangkung ini kamu yang mengaduknya, dan nasi ini kamu yang mencucinya."


"Ia tapi secara tidak langsung kamu yang memasaknya Sayang."


"Kita !" sahut Kinara tak ingin dibantah lagi.


"Dalam makanan yang terhidang disini aku mengambil satu pelajaran."


"Apa itu.?"


"Nasi memerlukan sayur sebagai pasangannya, sayur memerlukan garam untuk menambah cita rasanya, dan garam memerlukan lautan sebagai sumbernya, kita pun begitu. Kita hidup saling memerlukan, apapun yang ada didunia ini saling bergandengan dan saling membutuhkan. Aku yang tidak pendai memasak memerlukan kamu untuk menyiapkan makananku, dan aku yang tak bisa memasak pun masih kamu butuhkan walau sekedar untuk mengaduk dan mencicipi makanan yang kamu buat."


Mendengar Rayhan yang tengah berbicara bak mbaca puisi Kinara tersenyum lucu dan gemas semuanya bercampur aduk.


"Dan satu lagi" tambah Rayhan.


"Apa itu,? tanya Kinara sambil menatap Rayhan gemas.


"Apa yang dilakukan Bersama-sama itu ternyata sangat indah dan menyenangkan."


"Ray, tadi malam kamu salah tidur ya.?"


Rayhan menyernyit.


"Kenapa kamu berubah bak pujangga gini? sangat aneh tau nggak ? aku serasa lagi makan dipertunjukan maha karya pujangga." Ucap Kinara di Lebih-Lebihkan.


"Akh masa.?Apa Kata-Kataku membuatmu terkesan sayang.?"


"Mm nggak !"


"Sayang sekali, padahal susah payah sekali aku merangkai Kata-Kata ini."


"Ooh kalau gitu aku sangat terkesan." Balas Kinara.


"Terima kasih." Ucapa Rayhan.

__ADS_1


"Sudah cepat makan ! nanti makanannya keburu dingin." Sahut Kinara dan Rayhan pun tersenyum padanya.


...


"Hei gais. Loe pada mau dengar kabar nggak.?" @grup.


"Kabar apa ?" @grup.


"Kemarin gue lihat Rayhan dirumah sakit." @grup.


"Terus?" @grup.


"Tapi Gue miris liatnya, dia terbaring sendirian." @grup.


"Sendirian? tanpa Kinara.?" @grup.


"Ya ia lah. Dan yang paling miris gue denger katanya orang tuanya itu sudah pergi keluar negri untuk urusan bisnis." @grup.


"Jadi dia Benar-Benar sendirian dong ?" @grup.


"Kasihan banget ya dia, miris banget ya, Kinara kok tega gitu sih. Apa Kinara Benar-Benar nggak peduli lagi sama Rayhan.?" @grup.


Tamara: "Bukan Kinara tak ingin peduli tapi Rayhan menolaknya.?" @grup.


"Lah kenapa.?" @grup.


"Ya. Namanya juga menikah tanpa cinta. Gue rasa Rayhan itu sangat pemilih, dia tidak suka Kinara terus disisinya." @grup.


"Kasihan ya Kinara jadi Istri yang tak diinginkan kalau gue jadi dia gue lebih memilih kabur jauh dari kehidupan Rayhan, menjauh, membiarkannya hidup bersama orang yang dia cintai." @grup.


Tamara: "Ia kalau punya hati, dia kan nggak." @grup.


"Oo ia bukankah beredar kabar mereka akan bercerai ya?" @grup.


Tamara: "Sepertinya ia." @grup.


"Tapi gue sedikit nggak percaya, nggak nyangka juga pernikahan mereka berjalan begitu singkat." @grup.


"Makanya jangan mau nikah dijodohkan berabe kan jadinya." @grup.


"Jangan mau jadi Kinara yang kedua." @Grup.


"Enggaklah ! gue nggak sebodoh itu juga kali." @grup.


Kinara yang telah rapih untuk pergi kekampus mematung setelah membaca pesan grup tersebut.


Rayhan yang melihat Kinara termenung sedikit merasa aneh. Tiba-Tiba saja wajahnya berubah sedih dengan handphone masih dalam genggamannya.


Secepat kilat Rayhan merebut handphone tersebut dari tangan Kinara.


"Ray." Kinara mencoba merebut handphonenya dari tangan Rayhan.


"Ada yang kamu sembunyikan.?" Tanya Rayhan sambil memegang tinggi handphone tersebut. Meskipun Kinara berjinjit tetap tak bisa meraihnya.


"Apa. Kamu nggak akan bisa mengambilnya, makannya kalo tumbuh itu keatas jangan kesamping." Ledek Rayhan.


Kinara terus mencoba merembut, mencoba meraihnya.


"Ray, berikan handphone ku."


"Nggak !"


"Ray."


"Nggak !"


"Akan aku berikan asal kasih tau aku apa yang kamu sembunyikan dari ku." Ucap Rayhan.


"Baik. Kau lihatlah sendiri.! Tapi janji jangan marah.!" Ketus Kinara.


Rayhan memicing. "Apa sih yang kamu sembunyikan ini," ucap Rayhan sambil membuka pesan grup di handphone Kinara.


Dengan seksama Rayhan membacanya, dan saat itu pula wajah Rayhan berubah geram.


"Keterlaluan. ! Menurut kamu kita harus bagai mana?" tanya Rayhan dengan wajah kesalnya.


"Tidak ada, sebaiknya kamu kembalikan handphone ku." Sela Kinara sambil merebut kembali handphonenya.


"Sayang, mereka itu keterlaluan, mereka menyudutkan kamu, mereka..


"Ya aku tau." Timpal Kinara.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? mari sini ! biar aku kasih tau mereka semua kebenarannya. Mereka tidak tau betapa Istriku memperlakukan ku dengan baik." Rayhan kembali merebut handphone Kinara.


"Nggak boleh !" Kinara kembali mengambil handphonenya.


"Tapi..


"Ingat saran Kak Fahmi." Sela Kinara.


Rayhan menarik Kinara kedalam pelukannya."Ya baiklah tuan putri kali ini aku nurut, tapi apa kamu tidak tetsinggung.?"


Kinara menggeleng.


"Baiklah. Karena itu lebih baik."

__ADS_1


__ADS_2