Istri Terbaik Pilihan Ayah

Istri Terbaik Pilihan Ayah
Sebuah rencana.


__ADS_3

Rumah megah dan mewah, dihiasi pagar besi yang sedikit menjulang tinggi.


Rumah yang di dominasi dengan cat berwarna putih dipadukan dengan cat berwarna warna kuning keemasan, sangat elegan, siapapun yang melihatnya pasti akan berdecak kagum.


Di sanalah terduduk seorang lelaki berhadapan langsung dengan kedua orang tuanya.


"Fahmi."


Sebuah nama mengawali percakapan menegangkan.


Fahmi yang awalnya tertunduk kini mendongakkan wajahnya untuk menatap kedua orang yang mungkin akan kembali mengungkapkan harapan sama seperti yang sebelumnya telah Fahmi dengar.


Sebelum mereka mengungkapkan keinginannya, terlebih dahulu Fahmi mengatakan.


"Mah, Pah ! mohon hargai keputusan Fahmi, Fahmi tidak ingin menikah karena dijodohkan."


"Tapi sampai kapan,? sampai kapan kamu akan menunggu Kinara.?" Tanya seorang ibu yang diketahui bernama Citra (Ibu tiri Fahmi).


Namun biar Ibu tiri, bagi Fahmi dia adalah Ibu sambung terbaik didunia.


"Mah, Kinara sudah menikah Fahmi pun tak lagi berharap padanya."


"Lalu apalagi yang kamu tunggu Fahmi.?"


Giliran seorang lelaki yang bertanya, dia Papah kandung Fahmi yang bernama Sultan.


Fahmi menunduk tanpa jawaban.


"Apa kau bisa merelakannya begitu saja Fahmi.?"


Fahmi mengangguk, "Bagi Fahmi kebahagiaan Kinara adalah Segala-galanya."


"Perasaan cinta macan apa itu Fahmi.? Kau tau ? pernyataan seperti itu hanyalah sebuah ungkapan seorang karib kepada kerabatnya, seorang teman kepada sahabatnya atau mungkin ungkapan seorang kakak kepada adik perempuannya, mana ada ? cinta yang bisa merelakan.?" Sultan menggeleng, "Tidak ada Fahmi, jika kamu bisa melepaskan Kinara begitu saja Jangan-Jangan perasaanmu itu umpama kasih sayang seorang kakak kepada adiknya."


Sekeketika Fahmi menganggkat kepalanya dan menatap Sultan.


"Aku rela melepaskannya karena takut, jika terus bersamaku dia malah tidak bahagia, aku bukan yang terbaik untuknya."


Ucap Fahmi lemah.


"Lalu kenapa kau tidak berusaha untuk menjadi yang terbaik.?"


"Aku sudah berusaha tapi itu tidak cukup untuk menahannya tetap disisiku."


"Bukan Fahmi, karena kau meragukan perasaanmu padanya'kan,? kau tak bisa memastikan kemana arah perasaan mu itu'kan,? sebagai seorang teman, kekasih atau mungkin hanya sebagai seorang kakak kepada adiknya saja."


"Apa maksud Papa.?"


"Fahmi ! bohong jika cinta tidak harus memiliki, lalu apa artinya cinta bila tidak saling memiliki, jika bukan keraguan mungkin perasaan itu hanya kasih sayang sebagai sahabat dan karib. Bukankah sangat sulit melepaskan perempuan yang Benar-Benar kita cintai,? lalu bagai mana dengan perasaanmu yang bisa dengan mudah merelakan Kinara menikah dengan orang lain.?"


"Fahmi tidak cukup mengerti," Fahmi kembali menunduk.


"Ya sudah kau akan mengerti saat kau telah bertemu dengan perempuan yang Benar-Benar mampu menyentuh hatimu."


Fahmi hanya tertunduk diam.


"Papah beri kamu waktu tiga bulan jika kamu tidak menemukan perempuan untuk kau nikahi maka terpaksa Papah akan menjodohkanmu," ucap Sultan, menekan.


...


...


Kediaman Indra.


Indra berjalan mondar mandir resah.


Benda pipih tersebut masih digenggaman, fikirannya selalu dihinggapi rasa takut, takut jika Kinara dan Rayhan belum berbaikan dan bila masih belum, mungkinkah Indra harus mengeluarkan trik untuk membuat mereka segera berbaikan.?


Kediaman Rahman.


"Sayang, sudah ! biar Mamah yang merapihkan ini, kamu dipanggil Rayhan."


"Rayhan manggil aku,? ada yang dia butuhkan.?" Tanya Kinara polos.


"Tentu dong sayang, namanya juga pengantin baru."


Goda Karin.


"Memangnya kalau pengantin baru banyak kebutuhan ya Mah, Ngomong-Ngomong kebutuhannya apa saja ? biar Kinara siapkan untuk Rayhan."


Ucapan Kinara sontak membuat Karin mengerutkan dahinya sebanyak mungkin.


"Kinara ini tidak mengerti atau tidak pernah.?" Batin Karin Bertanya-tanya.


"Mah, apa yang Ayah butuhkan saat menjadi pengantin baru,? siapa tau Rayhan juga begitu, apa Ayah memerlukan makanan, minuman, ? pakainan, selimut. Atau...?"


"Atau apa Kinara.?"


Karin tersenyum, akhirnya menantunya itu mengerti akan hal yang ia maksudkan.


"Atau Jangan-Jangan Rayhan malah sudah memepersiapkannya sendiri," Kinara menghela nafasnya kecewa.


Karin berdecak heran, dia berfikir bagai mana bisa Kinara yang sedewasa ini malah tidak mengerti dengan maksud kebutuhan yang dia katakan.

__ADS_1


"Sudah lebih baik kamu segera temui dia ! jangan sampe Rayhan menunggu terlalu lama.!"


"Apa dia akan marah.?"


Karin mengangguk.


"Tapi bagai mana dengan ini,?" ditunjuknya bekas makan malam yang masih berantakan.


"Sudah biar Mamah yang bereskan," ucap Karin.


"Kalau begitu, Kinara ke kamar dulu ya Mah." Kinara meringis sedikit enggan untuk memenuhi panggilan Rayhan.


Kinara khawatir Rayhan akan melakukan hal aneh kepadanya.


"Ya, pergilah Sayang!"


Kinara pun menuruti titah Karin, tanpa menyadari dirinya sedang dijahili mertuanya, karena panggilan itu sebenarnya bohong.


Karin.


Di tatapnya gadis yang baru saja pergi untuk memenuhi titahnya.


"Kinara, ternyata otakmu tidak sedewasa penampilanmu," gumam Karin sambil tersenyum gemas.


Rahman yang berdiri dibelakang karin bertanya, "Ada apa Mah.?" Lalu berjalan menuju Karin yang masih mematung ditepi meja, "Kenapa Mamah menatap Kinara seperti itu.?"


"Ayah," Sekilas Karin menoleh Rahman yang berjalan kearahnya. "Mamah rasa, diantara mereka berdua belum terjadi sesuatu.?"


"Sesuatu apa Mah,?" Rahman menarik kursi kemudian duduk.


"Yang satu itu loh Yah."


"Yang mana.?"


"Yang satu itu.?"


Rupanya bukan hanya Kinara yang sedikit OLA (Otak Lambat) Rahman pun sama.


Rahman masih Memiring-miringkan kepalanya mencoba menggali maksud ucapan Karin, "Yang satu itu.?"


"Oh ya! Ayah tau."


Akhirnya Rahman mengerti.


"Apa itu berarti dugaan kita."


Mereka berdua saling menatap.


"Hampir benar,?" Ucap keduanya sedikit kuat.


"Ayah.? Apa kita perlu menyusunkan mereka sebuah rencana.?"


"Rencana apa Mah.?" Tanya Rahman.


"Sini-sini."


Karin membisikkan sebuah ajimat yang membuat Rahman tersenyum jahil.


"Kapan,?" Tanya Rahman.


"Secepatnya," Karin.


"Tapi kalau cuma kita berdua nanti mereka curiga."


"Terus.?"


"Serahkan semuanya kepada Mamah."


Karin dan Rahman pun sama tersenyum miring.


πŸ“€"Dra,?" pesan terkirim.


πŸ“₯ "Kenapa Tanteu,?" pesan diterima.


Mereka berdua sama tersenyum miring saat tengah balas membalas pesan.


Lewat pesan singkat tersebut telah tersusun sebuah rencana manis untuk Kinara dan Rayhan.


Pungkas pesan.


πŸ“€ "*Gimana.? Setuju gak,?" pesan terkirim.


πŸ“₯ "Genius, ide tante sangat brilian. Indra setuju."


πŸ“€ "Tunggu Aba-Aba selanjutnya ya Dra."


πŸ“₯ "πŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘Œ*."


Kinara.


Dia masih Ragu-Ragu untuk masuk kedalam kamar Rayhan, meskipun bukan kali pertama bertemu dengan Rayhan namun gugup masih lulu-lalang diotaknya, ketika menjalani aktivitas yang berkaitan langsung denga Rayhan Kinara selalu dibuat gemetar tak karuan.


Pelan-Pelan Kinara meraih gagang pintu.

__ADS_1


Ckleekkk..


Pintu pun terbuka.


"Rayhan,?" Panggil Kinara dari ambang pintu.


Tapi Rayha tidak terlihat dalam kamar tersebut.


Perlahan Kinara melangakah meskipun sulit tetap mencoba walau Tersendat-sendat.


"Rayhan," panggilnya kembali.


Kinara mematung didalam kamar tersebut dengan mata berputar mencari keberadaan Rayhan.


Terdengar suara gemercik air dari bilik kamar mandi, tak salah lagi Rayhan berada disana mungkin sedang membersihkan diri.


Dapat dipastikan Rayhan saat ini sedang mandi, untuk itu Kinara meraih pintu lemari dan mengambil beberapa pakaian untuk Rayhan kenakan.


Setelah menaruh pakaian untuk Rayhan diatas tempat tidur, Kinara melenggang hendak kembali keluar.


"Kinara,?" panggilan tersebut menghentikan langkah Kinara.


"Apa kau di sana,?" tambahnya.


"Ia, ada yang perlu aku siapkan,?" tanya Kinara setengah berteriak.


"Tidak ! cukup kau siapkan baju untuk ku.!"


"Ya, sudah aku siapkan."


"Oh, terima kasih," sahut Rayhan.


"Ternyata Rayhan hanya memintaku menyiapkan pakaiannya, ini toh yang Mamah maksud kebutuhan." Ucap Kinara dalam hatinya.


"Kinara,?" panggil Rayhan kembali.


"Ya, ada keperluan lain.?"


"Boleh minta tolong sebentar.?"


"Katakan !"


"Tolong gosokan punggungku !"


Deggg.....


Seketika Kinara melotot dengan mata yang membulat sempurna.


"Apa aku harus melihatnya tanpa pakaian,?" Kinara meringis dan bergidik ngeri.


"Kinara,? apa kau masih disana.?" Panggil Rayhan saat Kinara tidak menyahutinya.


"Ya. A a aku masih disini," sahut Kinara.


"Cepat kemari !"


Dengan terpaksa Kinara maju perlahan memenuhi permintaan Rayhan, ingin menolak namun takut Rayhan marah padanya.


"Semoga dia tidak akan melakukan hal yang Aneh-Aneh kepadaku." Batin Kinara resah.


Diperhatikannya bayangan Rayhan dari luar kamar mandi yang hampir seluruhnya terbuat dari kaca dan sedikit transparan membuat Kinara menggigil ngeri saat melihat bayangan yang tanpa busana tersebut.


"Masuklah !" suruh Rayhan.


"Tapi Ray..


"Apa perlu aku keluar menjemputmu.?"


"Tidak ! tidak. ! Aku masuk sekarang juga, tapi ... bolehkah."


"Cepat Kinara, aku hampir kedinginan."


"Baik, aku datang sekarang juga.",


Dengan berat hati Kinara Pelan-Pelan masuk kedalam kamar mandi memenuhi pinta suaminya.


Ditatapnya lelaki yang berdiri tegak membelakanginya.


Postur tubuh yang sangat ideal, tinggi dan kekar, putih bersih, semampai sangat sempurna.


Tiba-Tiba tubuh Kinara menggigil hebat.


Sebelumnya Kinara belum pernah melihat lelaki telanjang bulat berdiri langsung dihadapannya seperti ini, andai saja dia berbalik.


"Stoopp, stooop.!"


Benar saja, Rayhan berbalik kearah Kinara tapi dengan sigap Kinara menahannya.


"Teteplah menghadap kesitu !"


ucap Kinara sambil memalingkan matanya dari menatap tubuh Rayhan.


"Ambilah ini ! dan tolong gosok punggung ku !" tanpa berbalik Rayhan menyodorkan sebuah sponge mandi untuk menggosok punggungnya.

__ADS_1


Kecanggungan yang sangat sempurna baru saja dimulai, dimana Kinara harus menyentuh langsung tubuh Rayhan.


__ADS_2