
Bersamaan dengan pintu yang tertutup keras, lampu pun menyala.
"Kau !" teriak Rayhan, ia hampir tak percaya Tamara berdiri dihadapannya dan baru saja menutup pintu.
"Kenapa Ray,? terkejut ?" decak Tamara. Tanpa Rayhan duga Tamara perlahan melepaskan pakaiannya.
"Tamara apa yang akan kau lakukan,?" tanya Rayhan terkejut.
"Kau tidak mengerti Ray ?" desah Tamara, "Tak perlu Berpura-pura sayang, kita sudah Sama-Sama dewasa, kau pun pasti mengerti apa yang aku inginkan." Tamara berjalan kecil dihadapan Rayhan berusaha untuk menggodanya.
"Tamara aku mohon pakai kembali pakaianmu !" teriak Rayhan kepada perempuan yang kini hanya mengenakan bikini ketat dengan tubuh yang hampir terbuka seluruhnya.
"Kemarilah Ray !" goda Tamara.Tamara duduk ditempat tidur sambil memamerkan bodynya didepan Rayhan, tampak ia akan memasrahkan dirinya, andai Rayhan menginginkannya dengan senang hati Tamara akan melayani Rayhan.
"Gila kau Tamara,?" tampik Rayhan. Sejak Tamara melepaskan pakaiannya Rayhan tak sedikit pun menoleh kearah Tamara ia terus memalingkan wajahnya kesamping.
"Ya, aku memang gila, Ray." Tamara turun dari tempat tidurnya kemudian berjalan perlahan sambil terus menggoda Rayhan. Perilaku Tamara saat ini tak lebih dari perempuan malam yang tengah menjajalkan tubuhnya.
"Kau tau ? aku gila karena mencintai mu Ray ! dan perlu kau tau ! akan aku lakukan apapun demi mendapatkan mu, sekalipun itu harus memisahkan kau dengan Kinara !" teriak Tamara.
"Apa kau yang meneror kami ?" tanya Rayhan lirih.
Tamara pun tertawa, "Haha ha. Ya, tapi itu belum seberapa Ray, aku bisa bertindak lebih dari itu, bahkan aku bisa membuat Kinara kembali mengalami kejadian seperti malam itu !" ancam Tamara.
"Jangan Macam-Macam kau Tamara!" bantak Rayhan.
Tamara membali duduk diranjangnya, "Huss jangan Galak-Galak Ray, kau tau ? lelaki galak seperti mu semakin memuaskan Ranjangku," ucap Tamara kembali menggoda.
"Ray, kemarilah nikmati tubuhku ! akan aku pastikan aku lebih dapat memuaskan birahimu dari pada Kinara." Tamara menyentuh lembut sekujur tubuh yang hampir telanjang tersebut untuk menarik perhatian Rayhan.
"Apa tujuanmu melakukan ini Tamara ?" tanya Rayhan.
Tamara kembali turun dari Ranjangnya dan kali ini bertindak lebih nakal dan berani. Tamara mencoba mendekati Rayhan menyentuh pipinya dan berusaha melepas pakaiannya.
"Aku hanya ingin memilikimu seutuhnya Ray," bisik Tamara. Perlahan dibukanya kancing kemeja yang dipakai Rayhan.
"Hentikan !" bentak Rayhan sambil mendorong tubuh Tamara.
Tamara pun terjengkang diatas tempat tidur, tetapi dia masih tersenyum, senyum nakal.
Rayhan segera mengambil pakaian Tamara yang teronggok dilantai, "Kau pakai kembali pakaianmu !" suruh Rayhan. Belum juga Rayhan menjatuhan pakaian Tamara, Tiba-Tiba Kinara datang membuka pintu.
Kinara terbelalak saat melihat suaminya berada dalam satu ruangan bersama Tamara, dan parahnya Tamara yang tanpa mengenakan busana.
Kinara termenung dengan hati yang Tercabik-cabik dan terasa diremas, melihat Tamara yang hampir telanjang dengan pakaian yang masih dipegang Rayhan. Yang paling menyakitkan, Kinara melihat sebagian kemeja Rayhan telah terbuka.
"Ray," panggil Kinara bernada kecewa. Ia tak percaya dengan pemandangan yang dilihatnya. Bersamaan dengan itu air mata yang tak bisa ia bendung pun berjatuhan. "Apa yang sedang kalian lakukan,?" tanyanya terluka.
"Sayang aku mohon jangan salah paham !" pinta Rayhan. Saat menyadari tangannya masih memegang pakaian Tamara Rayhan pun segera melepaskannya.
"Kau sudah lihat sendiri Kinara,?" sungut Tamara. "Suamimu sengaja mendatangi dan menggodaku, dia memintaku untuk tidur bersamanya."
"Tidak sayang ! itu bohong, aku mohon ! jangan percayai dia Kinara ! dia sedang memfitnah aku," jelas Rayhan. Rayhan masih mencoba menjelaskan semuanya walau Tamara terus menyangkalnya.
"Omong kosong apa yang kau ucapkan Ray? kau kira Kinara akan mempercayai mu,?" Tamara tersenyum jahat.
Kinara mematung tanpa berkata sepatah kata pun, air mata yang mewakili hati kecewanya tak henti menitis.
__ADS_1
"Kau tau Kinara ? Rayhan sengaja mengundangku kesini ! dia yang memintaku datang. Di sini, dia tak ingin hanya menghabiskan waktunya denganmu, untuk itu dia mengundangku."
"Bohong Kinara ! dia berbohong aku tak pernah mengundang siapapun apalagi dia.! Kinara, aku mohon sayang percayalah, aku tidak mungkin melakukan hal sehina ini," jelas Rayhan.
"Ray, lalu untuk apa kau berada disini ?" tanya Kinara Lirih.
"Aku. Aku." Rayhan kesulitan untuk menjelaskannya.
"Kau tak bisa berbohong Ray,?" Tamara kbali tersenyum. "Ray kenapa kau tak jujur saja Honey, Kinara kau datang sungguh bukan disaat yang tepat sayang, kau menghancurkan rencana bercinta yang hampir kami lakukan, bukan begitu Ray,?" desis Tamara.
Digenggamnya jemari Kinara mencoba memberinya penjelasan, "Kinara aku mohon, aku mohon jangan dengarkan dia ! dia sudah tidak jujur, dia berbohong," sahut Rayhan.
"Ray, kenapa kau tak jujur saja ?! ini saat yang tepat untuk Kinara tau bahwa kau tidak mencintainya, dan Kinara juga perlu tau kalau kau terpaksa menerima pernikahan ini, kau terpaksa menikahinya," ucap Tamara dan kemudian menunjuk Kinara.
"Diam kau Tamara !" bentak Rayhan.
Mendengar itu air mata Kinara semakin menitis deras, rasa kecewa semakin membuih dihatinya.
Dilepasnya pegangan Rayhan, "Apa yang Tamara katakan benar Ray,?" tanya Kinara.
"Tidak sayang itu bohong, dia sedang menghasut kita," jelas Rayhan.
"Kau yang berbohong Ray ! kau tau Kinara ? dia sendiri yang mengatakan itu kepadaku, ia mengatakan tak mungkin mencintai dan jatuh cinta pada perempuan sepertimu, kau buka tipe wanita yang diinginkan Rayhan, perempuan aneh dan berpenampilan buruk mana ada lelaki yang mau menerima mu," teriak Tamara.
"Diam kau Tamara ! kau tak berhak mengatakan itu padanya !" bentak Rayhan penuh emosi.
"Kenapa ? kenapa kau menyuruhku diam ? bukankah itu yang kau katakan kepadaku, kau tak bisa menyangkalnya Ray," timpal Tamara.
"Diam !" teriak Kinara sambil menutup telinganya, dan kemudian ia berlari keluar dari hotel dan pergi meninggalkan Rayhan begitu saja. Kinara berlari secepat mungkin agar Rayhan tidak berhasil mengejarnya.
Melihat Kinara berlari Rayhan pun segera mengejarnya, namun langkahnya kalah cepat Kinara keburu pergi dan tak sempat ia susul.
Setelah tak dapat menemukan Kinara diarea hotel Rayhan segera kembali ke Villa untuk mencarinya disana.
"Kinara,?" teriak Rayhan. Berulang-ulang Rayhan memanggil dan mengecek Kinara di semua sudut Villa, namun Kinara tidak di temukannya.
Aaaaakkhhhhhhh..
Rayhan berteriak frustasi, ia terduduk bersandar pada dinding sambil meremasi Rambutnya, "Kinara, kau salah pahan sayang, aku tidak mungkin melakukan itu, aku mencintaimu aku sungguh mencintaimu," Rayhan menangis tergugu sambil memeluk lututnya.
Saat ini Kinara telah meninggalkan Villa dan berjalan cukup jauh.
Beberapa saat Kinara masih berdiri ditepi jalan untuk menunggu angkutan, sementara itu air matanya masih berurai jatuh membasahi pipinya.
"Aku tak percaya ini yang kau lakukan Ray, aku kira kau mencintai aku, aku kira kau Sungguh-Sungguh ingin hidup bersama ku," batin Kinara menangis pilu. Sejak duduk didalam taxi Kinara masih memalingkan wajahnya ketepi jendela dan terus menangis kecewa.
....
.....
"Mah," panggil Rayhan dibalik panggilan telpon.
"Jemput Rayhan sekarang ! dan tolong cari dan tenukan Kinara !" ucapnya lirih.
"Tunggu! ada apa Ray ? apa yang terjadi,?" tanya karin cemas.
"Semuanya hancur Mah, Kinara pun pergi,"
__ADS_1
"Pergi kemana Kinara, Ray?" tanya Karin.
"Rayhan tidak tau Mah, sepertinya dia sangat kecewa hingga tidak mau mendengarkan penjelasan Rayhan."
"Baiklah tinggu disana !," suruh Karin ia tampak begitu panik saat mendengar Kinara pergi dari Villa.
"Mah, apa Kinara akan kembali lagi kepada ku,?" tanya Rayhan khawatir.
"Kau tenanglah dulu ! nanti kita cari Kinara Sama-Sama," ucap Karin sebelum menutup panggilannya.
Perlahan Rayhan berdiri dari duduknya, keadaan yang sungguh sangat menyiksa batin Rayhan.
Dilihatnya sofa bed yang menjadi saksi kebahagiaan tadi malam saat ia tidur bersama Kinara, dan tepat ditempatnya berdiri Kinara menggodanya dengan mengatakan, "Setelah mendapatkanku, lalu apa yang akan kamu lakukan Ray,?" suara itu masih Terngiang-ngiang di telinga Rayhan membuat hatinya semakin terasa pedih.
Setelah itu ia mulai berjalan masuk kedalam kamar dengan hiasan yang masih utuh, Ranjang yang bahkan tak tesentuh, Rayhan pun belum sempat merasakan nikmatnya tidur disana bersama Kinara, ditempat tidur yang telah tersiap untuknya.
Kemudian Rayhan berjalan menuju kamar mandi, dimana disana tergantung kemeja putih yang sebelumnnya dipakai Kinara, saat melihat itu Tiba-Tiba hatinya terasa sakit dan hampa, ia menyadari dinya sedang merindukan Kinara.
Selepas merapihkan Barang-Barangnya Rayhan teduduk menunggu jemputan sambil menatapi photo Kinara, "Aku mohon kau percayalah ! aku tak ingin kehilanganmu," gumam Rayhan.
Kurang lebih tiga jam, mobil jemputan pun akhirnya datang, dengan Tergesa-gesa Rayhan masuk dan mengambil alih kemudi dari tangan Rahman.
Rayhan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, Rahman yang ikut bersama Rayhan dibuat ngeri dan ketakutan sebab Rayhan mengemudikan mobil dibawah alam sadar.
Teeettttt.. Teeett... Teeetttt...
Berulang-ulang suara itu terdengar nyaring dari pengendara lain yang tampak geram, mereka marah kepada Rayhan yang Ugal-Ugalan dalam berkendara. Rahman pun telah beberapa kali mengingatkan Rayhan namun tidak digubrisnya.
"Ray Pelan-Pelan ! kau tak boleh mengemudi seperti ini, bisa membahayakan semua orang," terang Rahman.
Tapi Rayhan tidak mengindahkannya, yang ada dalam fikirannya saat ini hanya bagai mana caranya supaya cepat menyusul dan menjelaskan semuanya kepada Kinara.
Lalu ditengah Rayhan melaju dalam kecepatan tinggi.
"Ray awaass !!" teriak Rahman.
Seketika Rayhan pun menginjak pedal rem sekuat mungkin saat Tiba-Tiba mobil didepannya masuk untuk menyalip (memotong).
Beruntung saat itu kendaraan dibelakang Rayahan tidak begitu Ramai sehingga tidak terjadi kecalakaan beruntun.
Untuk sebentar Rayhan menepi, ia rasa perlu menenangkan fikiran yang kacau.
Beberapa saat telah berlalu Rayhan masih menyandarkan kepalanya pada kursi, penyesalannya seakan tak berhenti menyesali mengapa ia harus bergerak masuk kedalam kamar hotel tersebut hingga berakhir dengan kesalah pahaman dan menghancurkan semuanya.
"Ray," panggil Rahman. Ditatapnya Rayhan yang tampak begitu kacau.
"Biar Ayah, yang mengemudi, kau tak bisa mengemudi dengan fikiran kacau seperti ini," ucap Rahman dan diangguki Rayhan.
Mereka berdua pun akhirnya bertukar tempat.
Keadaan sekitar sudah mulai gelap, Rayhan masih menyandarkan kepalanya pada jendela mobil yang ia biarkan tertutup, gerimis diluar jendela seakan ikut membalut kekalutan dihati Rayhan.
Tepat pukul 20:45.
Sedan berwarna putih tersebut memasuki halaman rumah keluarga Rahman, di depan pintu Karin telah berdiri menunggu kedatangan mereka.
Setelah mesin di matikan Karin berlari mendatanginya, "Mana Kinara ?" tanyanya.
__ADS_1
"Loh ! Kinara tidak pulang kesini,?" imbuh Rahman.
Rayhan yang telah keluar dari mobil pun kembali masuk lalu memarkirkannya dan kemudian pergi, kediaman Indra yang di tujunya.