Istri Terbaik Pilihan Ayah

Istri Terbaik Pilihan Ayah
Villa 3 (Teror)


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul 23:55.


Kinara terbangun karena gerakan perut yang mulai terasa lapar dan tenggorokan yang terasa kering.


Beberapa saat setelah membuka matanya Kinara masih terdiam menatapi Langit-Langit Villa yang menjadi saksi pelepasan keremajaannya.


Diliriknya lelaki yang sedari tadi memeluknya, sangat tampan, bulu mata lentik yang ikut merapat bersama terutupnya kelopak mata melindungi manik berwarna hitam kecoklatan.


Setelah itu Kinara menjatuhkan tatapan pada tubuhnya yang hanya ditutupi kemeja berwarna putih milik Rayhan, Kinara tidak tau persis kapan Rayhan menyelimuti tubuh telanjangnya.


"Uuukkhhh," Ringisnya kesakitan.


Pergerakan kecil saja membuat bagian tubuh bagian bawahnya terasa ngilu, tapi biar begitu Kinara tetap berusaha bangun.


Pelan-Pelan dilepasnya tangan yang melingakar ditubuhnya, perlahan Kinara pun duduk sambil merapihkan kemeja putih milik Rayhan yang kini dipakainya, baju yang cukup besar untuk ukuran tubuh mungilnya.


Aroma khas bau tubuh Rayhan dibaju yang ia pakai membuat Kinara sangat nyaman dan rasa enggan untuk melepaskannya.


Sesaat sebelum beranjak dari tempat duduk Kinara kembali menoleh dan menatap Rayhan yang masih terlelap dalam tidurnya karena kelelahan.


Lalu Kinara beranjak untuk mengambil selimut dari dalam kamar, setelah mendapatkannya segera ia balutkan selimut itu ditubuh Rayhan yang hanya mengenakan celana hitam panjang.


Karena lapar dan haus yang menerjangnya, Kinara berjalan menuju dapur hendak mengambil air, namun Tiba-Tiba.


Prrrangghh...


Terdengar suara pecah, seketika Kinara pun berbalik ke sumber suara.


Alangkah terkejutnya Kinara saat melihat kaca jendela yang pecah tak jauh dari Rayhan, bahkan serpihannya telah menggores dahi Rayhan.


Tak lama setelah pecahnya kaca Kinara melihat sesosok manusia dengan baju serba hitam memakai topi yang hampir menyembunyikan wajah yang juga ditutupi masker.


Tak ingin melepaskannya Kinara segera mengambil langkah cepat mengejar sosok tersebut.


Setelah berlari dan cukup jauh dari Villa yang ditempati Kinara, sosok berbaju hitam tersebut membuka topi dan maskernya, dia tidak menyadari bahwa sedari tadi ia telah diikuti Kinara dari belakang.


Kinara berdiri dibalik pohon besar dibelakang sosok berbaju hitam tersebut, Kinara tersenyum miris saat melihat sosok familiar yang baru saja menerornya.


"Dia sungguh tak ingin melihat aku bersama Rayhan."


Gumam Kinara, ia kemudian beranjak berbalik meninggalkannya.


Rayhan yang mendengar suara pecah pun terbangun dilihatnya kaca diatas kepalanya pecah, dan saat melihat tempat Kinara kosong Rayhan terkejut dan panik, kecemasannya kian menjadi, apalagi saat Kinara tidak ia temukan di dalam Villa.


"Kinara, Kinara." Panggil Rayhan.


Ia Benar-Benar panik dan khawatir, kepanikan itu membuatnya lupa pada luka yang di alaminya.


Tidak ditemukan di dalam Villa, Rayhan berjalan keluar untuk mencari Kinara disana, tapi Kinara tetap tidak ditemukan.


Hingga beberapa saat kemudian dari kejauhan Rayhan melihat seseorang berbaju putih berjalan gontai ke arahnya.


Setelah memastikan dia Kinara, Rayhan pun berlari dan langsung memeluknya, "Kau dari mana,?" kemudian pelukan kembali Rayhan lepaskan. "Kau tak boleh pergi tanpa pamit Kinara! sekarang ada aku, tanpa izin dariku kau tak boleh pergi kemana pun!" ucapnya Khawatir.


Melihat kecemasan diwajah Rayhan Kinara hanya tersenyum, "Maaf, aku tadi Terburu-buru." Ucapnya pelan.


"Kali ini aku maafkan, tapi lain kali kau tak boleh melakukan ini lagi !" di peluknya kembali perempuan yang membuatnya ketakutan saat ditinggal sejenak saja.


"Wajahmu Ray," ucap Kinara sambil menyentuh dahi yang tampak sedikit robek.


"Sudah tidak Apa-Apa yang penting kau sudah kembali," sahut Rayhan.


"Kalau gitu kita masuk !" ajak Kinara.

__ADS_1


Rayhan pun mengangguk, kemudian berjalan masuk menggandeng pundak Kinara.


"Duduklah !" suruh Kinara sambil merengkuhkan tubuh Rayhan di atas sofa. "Semoga di sini ada obat," ucap Kinara, kemudian ia melenggang, namun Rayhan sempat menahannya.


"Sipa yang meneror kita Kinara, kau mengikutinya bukan,?" tanya Rayhan penasaran.


"Aku belum bisa memasti'kannya, akan aku beri tahu jika memang dialah pelakunya." Jawab Kinara.


"Siapa Kinara,?" tanyanya lagi.


"Suatu saat akan aku beri tau." Sebenarnya Kinara sudah memiliki jawabannya, namun dia tidak bisa mengatakan begitu saja tanpa bukti yang kuat.


Setelah menemukan kotak obat, Kinara duduk disamping Rayhan yang tengah menelpon pihak yang bertanggung jawab atas keamanan Villa.


"Saya tidak mau hal ini terulang ! segera temukan pelakunya! kalau tidak kejadian ini akan saya laporkan kepihak yang berwajib !" ancam Rayhan. Setelah itu ia pun menutup panggilannya.


"Ray," ucap Kinara lembut.


Kinara duduk disamping Rayhan untuk mengobati lukanya. "Kau tak boleh melakukan itu !"


"Tapi, mereka harus meningkatkan keamanan Villa ini, bagai mana jika ada orang lain mengalami hal yang sama, ? kita datang untuk menikmati waktu kita bukan untuk mengancam nyawa kita, sebagai pelanggan kita berhak untuk dilindungi."


Mendengar ucapan Rayhan yang tanpa jeda membuat Kinara menggeleng pasrah dan tak menyangakal ucapannya.


"Baiklah aku rasa ini cukup," ucap Kinara setelah menempelkan pelester di dahi Rayhan.


Saat Kinara berdiri hendak menaruh kembali kotak obat yang sebelumnya ia ambil, Tiba-Tiba Rayhan menariknya kedalam dekapan. Rayhan berkata, "Aku baru sadar ternyata kau sangat manis Kinara." Pujinya.


Kinara yang telah jatuh dan menindih Rayhan saat ini mencoba bangun darinya, tapi tenaganya tak cukup mengimbangi pegangan Rayhan dan tak mampu untuk melepaskannya.


"Lepaskan aku Rayhan !" ucapnya sedikit membentak.


"Silahkan kalau bisa !" tutur Rayhan.


"Ooh kau kira aku akan menyerah Rayhan,?" Kinara tersenyum miring, alisnya meninggi sebelah diikuti tangan jahil yang menyusup kesetiap lekuk tubuh Rayhan, mencari daerah sensitif ditubuh lelaki yang terlentang dibawahnya, setelah menemukan celah kelemahan Rayhan Berulang-ulang Kinara menggelitikinya hingga Rayhan tertawa geli.


"Baiklah kau menang, kau boleh pergi !" ucapnya sambil Terenga-engah.


Kinara Kira Rayhan Benar-Benar melepaskannya, ternyata tidak, saat Kinara hendak berdiri Rayhan kembali menariknya kedalam pelukannya.


"Lepaskan aku Ray!" ucapnya menuntut.


"Tidak !" sanggahnya.


"Oke," Kinara hendak kembali menggelitiki Rayhan namun kali ini tangannya kalah cepat, Rayhan keburu memegang tangannya hingga Kinara tak bisa berkutik.


"Ray, lepaskan !" ucapnya.


Tapi Rayhan tak bergeming, ia semakin memeluk Kinara. Bisa memeluknya adalah kebahagiaan besar yang baru ia temukan.


Saat bersama Kinara rasa syukurnya kepada Yang Maha Esa tak henti ia lontarkan, juga ucapan terima kasih yang tidak bisa ia ucapkan kepada Ayah yang telah memilihkan jodoh terbaik untuk menemani sisa hidupnya, saat melihat Kinara tertawa hatinya berkata, "Ayah terima kasih telah memilihkan perempuan yang membuat Hari-Hariku lebih berwarna."


Kinara terus berusaha melepaskan diri dari Rayhan, dan Rayhan pun terus berusaha menahan Kinara tetap dalam pelukannya.


"Jika kau tak tak bisa diam jangan salahkan aku jika aku kembali memaksamu melakukan..


Taappp..


Kinara membekap mulut Rayhan, "Kau akan kembali memaksaku Ray.?"


Rayhan hanya mengangguk karena mulutnya di bekap Kinara.


"Kau tau ? aku tidak suka dipaksa !"

__ADS_1


Rayhan menggeleng.


"Aku tak peduli," fikirnya.


"Baiklah, aku rasa aku sangat haus lapar pula, bisa kau lepaskan aku,?" pinta Kinara.


Akhirnya Rayhan melepaskan pelukannya, dan Kinara pun melepaskan bekapannya.


"Tapi ingat kau tak boleh Kemana-mana, atau akan aku buat kau tak bisa bergerak sama sekali," ancam Rayhan.


Kinara yang tengah berjalan menuju dapur pun sekilas berbalik sambil menjukurkan lidahnya [memelet].


"Awas kau Kinara !" teriak Rayhan gemas, ia kemudian berlari mengejar Kinara, dan Kinara pun berlari menghindari Rayhan yang berusaha menangkapnya.


Dan kejar mengejar pun tak terelakkan. Rayhan berlari memutari meja makan mengikuti Kinara yang berlari sambil tertawa kecil untuk menghindarinya.


"Kau payah Ray," teriak Kinara.


"Apa kau bilang, ?"


"Rayhan payah," Kinara kembali memelet membuat Rayhan semakin gemas.


"Awas kau Kinara ! aku akan segera mendapatkanmu jangan harap kau bisa lari dariku," ucap Rayhan. Sejenak ia berhenti untuk mengatur nafasnya.


Setelah itu Rayhan kembali mengejar Kinara.


Sambil tertawa bahagia Kinara pun berlari menjauhi Rayhan yang berusaha menangkapnya.


"Mau lari kemana kau Sayang,?" tanya Rayhan saat Kinara telah terjebak dipojokan.


Tetapi Kinara tidak meyerah begitu saja ia kembali berlari menghindari Rayhan, tapi kali ini Rayhan berhasil menangkap dan memeluknya dari belakang


"Kau tak bisa lari lagi sayang," bisik Rayhan tepat ditelinga Kinara.


"Lepaskan aku Ray," pinta Kinara. Ia berusaha melepaskan tangan yang melilit diperutnya.


"Bukankah sudah aku bilang setelah aku mendapatkanmu aku tak akan melepaskanmu Kinara," ucap Rayhan sambil membalikan tubuh mungil istrinya.


"Setelah mendapatkan ku, lalu apa yang akan kamu lakukan Ray,?" Kinara mendongak menatap langsung mata Rayhan seakan menantangnya.


Rayhan tersenyum nakal, "Kau mulai pandai menggoda Kinara.?"


Merasa tertantang Rayhan pun menyeret tubuh Kinara pada bidang dinding, kemudian satu persatu aksinya kembali ia lancarkan.


Saat tengah menikmati perlakuan Rayhan, "Tunggu !" Kinara Tiba-Tiba melepaskan bibirnya dari bibir Rayhan, tanpa sengaja Kinara melihat sekelebat bayangan hitam diluar Villa.


"Aku yakin ada seseorang yang mengawasi kita," bisik Kinara.


"Apa kita perlu memanggil polisi,?" tanya Rayhan.


"Tidak perlu, di villa ini terdapat banyak kamera CC TV jika tidak kita temukan dia malam ini, kita bisa mengecek kamera besok pagi." Ucap Kinara.


"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang,?" tanya Rayhan.


"Hubungi pihak keamanan, suruh mereka Berjaga-jaga dijalan depan ! biar sisanya aku yang tangani," Suruh Kinara.


"Tapi Kinar, ini berbahaya, aku tidak setuju kau melakukan ini."


"Apa jika aku pergi bersamamu kau akan mengizinkan ku,?" beberapa saat Rayhan terlihat menimbang lalu dengan berat ia mengatakan, "Baik tapi aku mohon ini kali pertama dan terakhir kau terlibat dalam masalah seperti ini."


Kinara mengangguk.


Lalu setelah pesan terkirim. Rayhan dan Kinara keluar melewati pintu belakang, sesuai rencana pihak kemananan yang sudah Kinara calling sebelumnya sudah bersiap dibagian depan.

__ADS_1


Setelah drama penangkapan dijalankan akhirnya penguntit itu berhasil ditangkap dan diserahkan kepihak keamanan, tapi sebelum itu terlebih dahulu Kinara membuka topeng yang menutupi wajahnya, ternya mereka adalah dua orang lelaki yang sengaja dibayar seseorang untuk meneror Kinara dan Rayhan, sayangnya mereka bungkam dan tidak memberi tau siapa yang telah membayarnya.


"Dia (pelempar kaca) bukan salah satu diantara mereka berdua." Batin Kinara Berkata-kata.


__ADS_2