Istri Terbaik Pilihan Ayah

Istri Terbaik Pilihan Ayah
penjelasan 2


__ADS_3

Saat ini Rayhan masih terduduk dengan hati kosong dan hampa, kebahagiaan yang dialaminya bersama Kinara sangatlah singkat, rencana honeymoon yang orang tuanya susun secara matang pun hancur berantakan.


Beberapa menit Rayhan masih terduduk diatas hamparan sajadah, memikirkan itu hatinya Benar-Benar sakit, sangat sakit, apalagi saat menyadari sekarang Kinara tak lagi duduk disisinya. Setelah kejadian itu fikiran buruk selalu menghinggapi otak Rayhan, Rayhan takut kejadian itu membuatnya kehilangan Kinara.


"Tidak !" gumam Rayhan. "Aku tidak menginginkan itu, itu tidak boleh terjadi, aku harus menemui Kinara sekarang," ucapnya, lalu ia berdiri dan melempar sajadahnya diatas tempat tidur.


Pagi, tepatnya jam 6:30. Rayhan sudah berdiri didepan rumah Safiq dan tak lama kemudian seorang pembantu datang membukakannya pintu, pembantu itu mempersilahkan Rayhan duduk sementara dirinya pergi untuk manggil Kinara, tak lama kemudian Kinara pun datang, tapi saat melihat Rayhan duduk menunggunya, Kinara segera kembali kedalam kamar.


Rayhan telah duduk lama menunggu Kinara, Safiq yang kini telah duduk bersama Rayhan pun mulai merasa tidak enak karena Kinara menolak untuk menemui Rayhan.


Akhirnya Safiq pun berdiri hendak memanggil Kinara kembali, tapi Rayhan mencegahnya, "Ayah, sudah ! jangan paksa Kinara, tidak Apa-Apa, aku bisa mencobanya lain kali," cegah Rayhan sambil menyunggingkan senyum di bibirnya.


Sekilas Rayhan menoleh pergelangan tangannya dan berdiri, "Sudah terlalu siang, Ray kekampus dulu Yah," ucapnya berpaitan kepada Safiq.


Safiq pun berdiri untuk mengantar Rayhan, "Maafkan Kinara Ray, dia memang sedikit keras kepala," sesal Safiq.


"Tidak Apa-Apa Ayah. Rayhan tau, pasti sulit untuk Kinara menerima ini," tutur Rayhan lirih.


Menghadapi ini Safiq pun tak bisa berbuat Apa-Apa selain memberi Kinara waktu untuk dapat mendengarkan penjelasan Rayhan.


Setelah duduk didepan kemudi Rayhan segera memarkirkan mobilnya menuju kampus, tanpa ia sadari sepasang mata memperhatikan kepergiannya dari kejauhan.


Setibanya di kampus, seperti biasa Rayhan akan disambut dengan berbagai lontaran pujian, selain karena wajah tampan yang selalu sukses menghipnotis para perempuan, yang membuatnya begitu dipandang hari ini adalah karena ia datang ke kampus dengan mengendarai mobil mewah yang tentunya membuat kampus kembali heboh, baru kali ini Rayhan terlihat memamerkan kekayaannya.


Tapi ada yang lain dengannya hari ini, wajah yang biasanya selalu menyungingkan senyum ramah, hari ini tampak muram dan mendung tak bergairah.


Selepas jam kelas pun Rayhan hanya duduk merenung di kantin tanpa makanan ataupun minuman.


"Ray," sapa Fahmi. Ia duduk berhadapan langsung dengan Rayhan.


Ini adalah pandangan langka dimana Fahmi duduk bersama dengan orang lain.


Mendapati Fahmi yang datang menghampirinya, Rayhan sekilas mendongak.


"Bagai mana ? lancar,?" tanya Fahmi dengan senyum sumbringah.


Belum juga menjawab pertanyaan Fahmi, dari belakang dua sahabatnya berteriak.


"Heii Ray," teriak Aman yang datang bersama Bayu tentunya.


Saat hendak duduk, sebentar Aman menoleh seorang Laki-Laki yang duduk menemani Rayhan.


"Fahmi,?" sapa Aman, Aman pun hampir tak percaya Fahmi duduk bersama orang lain, bagi Aman ini juga kali pertama melihat Fahmi berbaur dengan Mahasiswa lain.


"Senior,?" ucap Bayu, Ia pun sama tak percaya.


Fahmi tersenyum. "Kenapa menatap gue segitunya. Heran,?" tanyanya.


Aman dan Bayu sama menggaruk tengkuk yang tak gatal.


"Bukan begitu ! tapi,"


"Sudah duduklah !" suruh Fahmi sambil menarik kursi untuk Aman dan Bayu.


"Ekhh Ray, sepet amat wajahmu hari ini,?" ujar Aman sekilas menoleh Rayhan yang tampak sedang merenung.


"Ia. Ada apa Ray, ada masalah,?" tanya Bayu.


Rayhan masih diam tak bergeming.

__ADS_1


"Ray," panggil Aman.


"Ray," ulangnya, sambil menepuk bahu Rayhan, Rayhan pun mengerejap.


"Sorry gak denger," sentak Rayhan.


"Loe kenapa Ray,?" tanya Fahmi.


"Gue kurang enak badan," ucapnya sambil mengurut kepalanya yang mulai terasa pusing, mungkin karena malam tadi hingga kini Rayhan belum tidur barang sekerejap pun, masalah yang tengah mendera Rayhan membuatnya terus melek semalaman, ditambah lagi pagi ini Rayhan lupa sarapan, saat ini pun ia tak memesan apapun, dikantin ia hanya duduk melamun.


"Ia gue duluan ya sebentar lagi gue ada kelas," ucap Rayhan seraya berdiri.


Hiikkss .. Ringis Rayhan sambil mencoba menyeimbangkan tubuhnya.


"Ray," Fahmi berdiri untuk menahan tubuh Rayhan yang hampir oleng kesamping begitu juga Aman dan Bayu.


"Sudah, gue gak Apa-Apa, gue duluan ya," cegah Rayhan.


"Loe yakin Ray,?" tanya Bayu ragu.


Rayhan mengangguk, kemudian menyambar tasnya dan pergi meninggalkan mereka yang tampak mengkhawatirkannya.


...


...


Kediaman Safiq.


Kinara tengah duduk berhadapan dengan kedua mertuanya, Karin dan Rahman.


"Kinara," ucap Karin membuka pembicaraan.


Karin menggenggam jemari Kinara,


"Ia Nak kami bisa menjamin itu, Rayhan tidak mungkin melakukan hal buruk itu Nak," sambung Rahman.


Kinara balas menggenggam. "Ia Mah, Kinara juga percaya itu tapi Kinara minta waktu sebentar saja untuk melupakan kejadian itu," pinta Kinara lirih.


"Baiklah, tapi Mamah mohon jangan terlalu lama kasian Ray Sayang, sejak pulang dari Villa ia tampak gelisah, Mamah tidak pernah melihat hal itu diwajah Rayhan sebelumnya," tutur Karin lemah.


Mendengar ucapan Karin Kinara pun tertunduk.


Tak lama kemudian datanglah Rayhan.


Assalamu'alaikum... Ucapnya dari ambang pintu.


Seketika Kinara pun mendongak ke arah suara, ditatapnya Rayhan yang tengah menyunggingkan senyum cukup lama, terlihat wajah pucat dan matanya sayu.


Kali ini Rayhan tak banyak bicara selain tersenyum tak ada lagi yang ia lakukan, tampaknya ia Benar-Benar kurang sehat.


"Kinara, pergilah bersama Rayhan ! antar Mama Karin dan Papa Rahman ke bandara!" suruh Safiq.


Sebelumnya Kinara ingin menolak, tapi semuanya dirasa tidak mungkin, untuk itu Kinara terpaksa menuruti pinta Safiq.


Selama perjalanan suasana di dalam mobil sangat hening, mereka semua bungkam tak ada yang mencoba membuka pembicaraan begitu juga dengan Rayhan, kepala yang semakin terasa pusing membuatnya malas banyak bicara.


"Kinara sayang," ucap Karin sebelum melangkah masuk kedalam bandara.


Dipeluknya Kinara dan Rayhan secara bergantian, "Kalian Baik-Baik, ya !" pinta Karin lirih. "Cepat selesaikan masalah kalian !. Sering-Seringlah menelpon, dan jaga diri kalian !, Ray, jaga Kinara Baik-Baik ya Sayang !," tutur Karin sambil mengusap halus belikat Rayhan.

__ADS_1


Tanpa berkata Rayhan pun mengangguk.


Kemudian setelah Karin dan Rahman masuk kedalam Bandara dan tak terlihat lagi pundaknya Rayhan dan Kinara pun pulang.


Rayhan masih menahan tangannya mengambang diudara saat ingin merangkul pundak Kinara tapi Kinaranya keburu berjalan.


Rayhan dan Kinara telah duduk berdua didalam mobil, Lagi-Lagi suasana kembali hening, selain gemersik air hujan yang turun diatap mobil tak ada suara lain menemani perjalanan mereka, tak ada yang mencoba membuka percakapan.


Lalu setelah melanju cukup jauh dan hampir sampai, "Kinara, aku minta maaf !" ucap Rayhan tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.


Kinara diam tak menjawab.


"Aku berani bersumpah, aku tidak melakukan hal kotor itu, aku bersumpah Kinara atas nama Tuhan, aku dijebak," jelasnya.


Kinara tersenyum kecil, "Harusnya aku yang minta maaf Ray, aku egois, telah maksamu menikah, aku tak memikirkan persaanmu."


"Apa yang kamu katakan ini Kinara,?" tanya Rayhan sekilas ia menoleh.


Kinara menunduk kecewa, "Tamara benar, mana ada lelaki yang mau dengan perempuan berpenampilan buruk sepertiku, aku sadari itu Ray, tapi maaf aku tak bisa menyadari kau menikahiku karena terpaksa," jawab Kinara sambil terisak.


Bukan kesalah pahaman yang membuat Kinara terus menghindari Rayhan, tapi Kata-Kata Tamara telah membunuh semua rasa percaya dirinya akan cinta Rayhan, keraguan dihati membuatnya terus menimbang kebenaran ucapan Rayhan.


Seketika Rayhan menghentikan laju kendaraannya lalu menarik wajah Kinara yang sedari tadi berpaling kejendela, "Kau tatap aku Kinara ! apa kau sadar dengan ucapanmu itu ?!, kau jangan terhasut oleh ucapan Tamara, Kinara !" bentak Rayhan.


Dengan sekuat tenaga Kinara mendorong Rayhan, "Aku sadar, sepenuhnya aku sadar Ray ! untuk itu aku mengatakan ini ! Tamara tidak menghasut ku karena itu kenyataan Ray !. aku menyesal, aku menyesal mengapa harus ......"


Kinara menghentikan Kata-Katanya, lalu keluar dari dalam mobil.


Diluar hujan sangat deras saat Kinara berlari dari Rayhan.


Mendapati Kinara keluar Rayhan pun bergegas mengejarnya. Saat hendak berdiri dari duduknya Rayhan oleng kesaping, kepalanya Benar-Benar terasa pusing.


"Kinara," panggil Rayhan ditepisnya rasa sakit itu.


"Aku mohon dengarkan aku !" teriak Rayhan saat telah berhasil memegang tangan Kinara.


"Ok aku akui awalnya aku memang terpaksa menerima pernikahan ini, tapi waktu membuatku mencintaimu Kinara, aku mulai tak bisa berpisah darimu, aku mulai resah saat kita tidak bertemu, aku merindukanmu, setiap tanpamu aku mulai tak mampu, aku tak mau kehilangan mu !, aku mencintaimu Kinara, aku mencintaimu," ungkap Rayhan.


Kinara terus meronta mencoba melepaskan pegangan Rayhan, "Aku mohon lepaskan aku Ray !, kau tak perlu berbohong untuk menghiburku, pergilah ! cari perempuan seperti yang kau inginkan, aku tidak pantas untuk cinta mu Ray,"


"Tidak Kinara ! yang aku mau hanya kamu, aku mau kita kembali hidup bersama, aku tak ingin kehilanganmu Kinara," dipeluknya Kinara erat hingga ia tak bisa lagi meronta.


"Aku mohon jangan katakan itu lagi ! aku tak ingin kehilangan mu Kinara, aku tak ingin berpisah darimu, aku mohon ! aku mohon ! pulanglah bersama ku !" bisik Rayhan.


Di senja yang hampir malam ini hujan turun begitu derasnya, sederas air mata yang jatuh membasahi pipi Kinara. Hatinya Benar-Benar kalut, mencintai Rayhan membuatnya terluka, terluka oleh rasa cinta yang terlalu besar dihatinya. Rasa cinta dihati membuatnya tak bisa menerima ucapan Tamara saat mengatakan Rayhan terpaksa menikahinya dan itu berarti Rayhan terpaksa mencintainya.


Cinta bisa menutup telinga, membungkam mulut, menghalangi mata, cinta memang selalu egois.


Rayhan merenggangkan pelukannya, "Aku mohon Sayang ! kamu percayalah ! aku Benar-Benar mencintaimu, aku tak ingin kehilangan mu," sahut Rayhan, ia hendak kembali memeluk Kinara, tapi saat bersamaan Kinara mundur dan melepaskan pegangannya.


"Ada apa Kinara,?" tanya Rayhan.


Kinara tertegun dengan tatapan kosong sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Rayhan ditengah derasnya air hujan.


"Kinara !" teriak Rayhan. "Aku akan terus berdiri disini, hingga kau percaya bahwa aku sangat mencintaimu," teriak Rayhan.


Saat Rayhan berteriak sejenak Kinara menghentikan langkahnya, tanpa menoleh Kinara kembali melanjutkan langkahnya.


Tepat pukul 22:07 hujan diluar semakin lebat dentuman petir bersahutan bergantian. Seiring petir yang memecah kesunyian Kinara tetsentak, "Rayhan," gumamnya. Fikiranya langsung teringat kepada lelaki yang mungkin masih berdiri ditempatnya.

__ADS_1


Secepat kilat Kinara berlari keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga lalu menyibak tirai rumahnya, melihat kepekarangan. Dan benar saja Rayhan masih berdiri ditempatnya. Mata sayu itu menatap lurus penuh kehampaan.


Tak berapa lama kemudian Rayhan berbalik dan berjalan lunglai menuju mobil yang terparkir tak jauh dari halaman, sebelum menggapai pintu Rayhan sempat berbalik dan kemudian pergi melaju dalam kecepatan sedang, Kinara pun masih berdiri ditempatnya saat Rayhan pergi meninggalkan pekarangan saat itu Tiba-Tiba tercetus sesal dihatinya.


__ADS_2