Istri Terbaik Pilihan Ayah

Istri Terbaik Pilihan Ayah
Cemas dan panik


__ADS_3

Rayhan melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit.


"Ray, kamu harus tau Kinara itu tidak sebaik yang kamu fikirkan. Dia itu arogan, jahat dan suka semena-mena. Kamu lihat sendiri kan kejahatan Kinara tadi.?? Aku mohon buka mata kamu dan lihatlah kebenarannya, jangan sampe kamu ikut-ikutan bodoh seperti mereka (mahasiswa)."


"Ray coba kamu fikir apa pantas perempuan seperti dia mendampingi kamu.?? Enggak Ray, kamu harus pikirkan ini dua kali,!! sebelum semuanya terlambat, jangan terima perjodohan itu.!!"


"Kau tau Ray, Kinara adalah tipe manusia dengan obsesi tingkat tinggi, dia akan melakukan apapun demi mencapai tujuannya."


Ribuan kata merendahkan Kinara. Tamara ucapkan, entah itu benar atau salah Rayhan belum bisa memastikannya sendiri, fikirannya masih dibuat linglung dan bingung untuk menentukan mana yang salah dan mana yang benar.


Terlebih dari sebagian yang Tamara ucapkan tentang Kinara ada benarnya walau sedikit saja.


Sejak keluar dari rumah sakit Rayhan hanya diam tak menjawab dan tak menanggapi Tamara.


Kejadian malam ini membuatnya sedikit menyesal. Menyesal mengapa tidak membawa Kinara kerumah sakit, terlebih Rayhan sempat melihat Kinara sepertinya terluka.


Rayhan telah sampai dikediaman Tamara, tanpa basa basi Rayhan kemudian pergi meninggalkan Tamara yang masih duduk didalam mobilnya.


Ada sedikit rasa kecewa didalam hatinya, kecewa mengapa secepat itu memperayai Tamara tanpa mempertimbangkan penjelasan Kinara.


Setelah turun dari dari ojek yang ditumpanginya, Rayhan berjalan dipekarangan rumah yang terlihat sedikit lebih ramai, terlihat mobil Safiq dan mobil Indra terparkir dipekarangan rumahnya.


Dari teras Rayhan bisa mendengar kehadiran mereka yang tengah tertawa renyah, entah apa yang mereka tertawai.


Rayhan sempat merasa lega saat mendengar keramaian didalam rumahnya. Rayhan berfikir Kinara mungkin sudah pulang lebih dulu dan tengah menunggu kedatangannya.


"Asslmu'alaikm." Rayhan membuka pintu.


Membuat mereka yang tengah duduk diruang tamu seketika berdiri dan menoleh ke arah Rayhan, bersamaan.


Raut wajah yang awalnya senang kini berubah masam saat melihat Rayhan pulang sendiri tanpa Kinara.


Karin menatap Rayhan penuh pertanyaan. "Mana Kinara, Ray.??" Dari nada bicaranya Karin terlihat kecewa.


Perasaan Rayhan seperti tengah diintrogasi penyelidik, tatapan tajam yang ditujukan kepadanya membuat Rayhan gugup, bingung, dan ketakutan juga cemas. Cemas karena ternyata Kinara belum pulang.


"Jadi Kinara belum pulang, kemana dia.??" Batin Rayhan, cemas.


"Nak. Apa Kinara tidak pulang bersama kamu.??" Tanya Safiq yang sanggup membuat Rayhan panik dan merasa bersalah telah meninggalkan Kinara sendirian.


"Apa Kinara Benar-Benar belum kembali.??" Rayhan balik bertanya.


Safiq, Indra, Karin dan Rahman saling menatap penuh tanya.


"Ray,!!" Bentak Karin. "Bukankah Kinara bersama kamu,?? kenapa malah balik bertanya.??"


"Mah, jawab dulu pertanyaan Rayhan,!! apa dari tadi Kinara belum kembali."


"Belum, aku telpon nomornya tidak dia angkat." Indra yang menjawab.


"Kemana Kinara.??" Tanya Safiq semakin khawatir. Safiq yang sedari tadi pagi sudah memiliki perasaan buruk kepada putrinya, Safiq kini terdiam sedih seolah menemukan jawaban atas keresahannya.


Safiq terduduk lesu dengan telpon di genggamannya. "Ayah harap kamu baik-baik saja, Nak." Dadanya Tiba-Tiba terasa sesak.


"Dimana terakhir kalian bertemu.??" Tanya indra.


"Di mall." Jawab Rayhan.


Tanpa berpikir panjang Indra langsung menyambar kunci mobilnya untuk mencari Kinara.


Rayhan pun bergegas pergi mencari Kinara.


Suasana berubah hening dan panik. Karin, Rahman dan Safiq kini berubah diam membisu mereka hanya disibukkan dengan handphone mereka, menghubungi Kinara.


"Kinara kamu dimana, Nak.??" Safiq terlihat begitu gelisah.


....


Rayhan berlari secepat mungkin untuk mencari keberadaan Kinara.


"Kinara.??" Teriak Rayhan.


"Apa dia marah kepadaku,??" fikir Rayhan. "Mengapa dia belum kembali,? Kemana dia.??" Tanya Rayhan kepada dirinya sendiri.

__ADS_1


.....


◾Safiq, Karin Dan Rahman. Mereka panik, menunggu kabar dari Kinara dan sesekali menelpon Rayhan dan Indra untuk menanyakan Kinara.


◾Indra melaju dengan mobilnya mencari Kinara dan sesekali menelpon Ayahnya untuk menanyakan Kinara,Panik.


◾Rayhan berlari dibawah gelapnya malam mencari keberadaan Kinara dan sesekali menelpon Indra dan menelpon Safiq untuk menanyakan Kinara apakah sudah ditemukan atau belum ??.


Rayhan masih berlari walau lelah.


"Kinara." Teriak Rayhan, Rayhan masih menyusuri jalan berharap segera menemukan Kinara.


"Dimana dia.??" Rayhan mencoba menghubungi Kinara berkali-kali.


Karena tidak juga mendapat jawaban Rayhan mengirimkan pesan suara kepada Kinara. "Kinara ayo angkat. Aku minta maaf telah meninggalkanmu tadi, aku minta maaf karena tidak mendengarkan penjelasanmu dan malah mempercayai Tamara. Kamu berhak marah tapi aku mohon kamu pulang semua orang mencemaskanmu.!!"


Rayhan menyandarkan tubuhnya pada dinding halte menunggu bus menuju mall tempat Kinara melatih. "Kinara.?? Kamu dimana Malam-Malam begini.??" gumam Rayhan khawatir dan cemas.


....


Dikediaman Rahman.


"Halo Dra, bagai mana apa Kinara ada dirumah.??" Tanya Safiq saat menerima telopon dari Indra.


"Tidak ada Yah, dirumah Ayah juga masih gelap sepertinya Kinara tidak ada disana." Jawab Indra disebrang telpon.


Safiq mengusap kasar wajah gelisahnya. "Kinara kamu kemana sih, Nak. Tidak biasanya dia pergi tanpa kabar." Resah Safiq, lalu kembali menaruh handphone nya diatas meja.


"Safiq aku minta maaf karena Rayhan tidak bisa menjaga Kinara dengan baik." Ucap Rahman lemah.


"Jangan salahkan Rayhan, mari kita tunggu kabar Kinara, semoga dia baik-baik saja." Pinta Safiq mencoba tenang.


Dibalik kepanikan dan kesibukan mereka menunggu dan mencari Kinara.


Fahmi, dia tengah mondar mandir gelisah, resah, takut cemas dan khwatir dan bercampur menjadi satu.


Empat puluh menit telah berlalu, namun Dokter masih belum keluar dari ruang ICU membuatnya tak bisa bernafas lega.


Rayhan.


Masih berdiri menyandarkan punggungnya di dinding halte.


"Kinara kamu pergi kemana..??"


"Halo Kak, apa Kinara sudah ditemukan.??" Tanya Rayhan cemas.


"Belum. Di mall juga Kinara tidak ada, tempat Kinara melatih juga sudah kosong." Jawab Indra disebrang telpon.


Tuuutt.


Rayhan menutup sambungannya.


"Kinara kamu di mana." Rayhan mengacak rambutnya frustasi.


Lima belas menit telah berlalu, Rayhan masih berdiri menunggu bus. "Diwaktu yang hampir larut sulit sekali mendapatkan angkutan," Ujar salah seorang yang sama menunggu bus.


"Hei, kau ingat kejadian adik Pak Bos tadi.??" Tanya "A". Seseorang yang tengah menunggu bus.


"Gue, hampir dibuat mati saat dia marah." Ucap "B"


"Tapi menurut Gue. Wajar ya dia marah, secara dia itu disiram pake air bekas ngepel lantai, siapa yang akan terima diperlakukan begitu apalagi oleh kariawanya.?? Gila kalau gue jadi dia udah gue pecat dan gue tendang itu cewek, gak ada ahlak banget kayaknya." Tambah "B"


"Tapi, adik pak bos itu benar-benar baik hati masih mau memaafkan orang yang telah semena-mena kepadanya, ekh dan gue lihat tadi sebelum dia disiram, dia sempat ditendang dan diusir.!!" "A"


B menggelengkan kepala heran juga kagum.


Topik pembicaraan dua orang disampingnya, membuat Rayhan sedikit tertarik untuk mengetahui siapa yang mereka maksud. "Maaf, siapa yang kalian bicarakan.??"


"Kinara, Adik Bos kami." Jawab A.


"Kenapa dengan dia ??" selidik Rayhan.


"Salah seorang kariawan menendang dan menyiramnya, hingga dia basah kuyup." Jelas A.

__ADS_1


"Apa dia marah.??" Tanya Rayhan penasaran. "Apa dia memukulnya.??"


Si A menggeleng sambil tersenyum kecil. "Tidak. Dia itu sangat baik, meskipun telah diperlakukan buruk oleh Kariawanya tapi dia masih berlapang dada dan tidak memecatnya."


"Kalau kejadian itu gue yang ngalamin udah gue pecat dan gue laporkan itu cewek." Tambah B.


Mereka berdua tampak begitu kesal atas kejadian yang menimpa Kinara.


"Kinara.?? Apa dia sebaik itu,??" Batin Rayhan.


Mendengar cerita kejadian yang menimpa Kinara, membuat Rayhan ingat kemana ia harus memcari Kinara.


"Semoga dia baik-baik saja."


Setela itu Rayhan berlari secepatnya menuju tempat terakhir melihat Kinara.


"Kinara. Gue gak akan bisa maafin diri gue sendiri."


Rayhan telah sampai ditempat terakhir dia melihat Kinara.


Fikirannya tiba-tiba panik, "Dimana dia.?"


Rayhan berlari menuju lorong yang sempat membuatnya salah faham.


Tetapi tempat itu, kini sudah kosong tak ada siapa pun termasuk Kinara.


"Pak, apa Bapak melihat perempuan ini.??" Tanya Rayhan kepada orang-orang yang tengah duduk disebuah warung pinggir jalan.


Rayhan menyodorkan sebuah photo di handphonenya.


"Tidak, tidak."


Mereka sama tidak mengenali Kinara.


"Kinara kamu kemana sih.??" Rayhan benar-benar frustasi dan khawatir.


Waktu menunjukan jam 00:52. Namun Kinara masih belum ditemukan.


Rayhan melenggang berniat meneruskan pencariannya, namun sementara terhenti saat seseorang dari belakang memanggilnya.


"Hei, Den.!!" Seorang penjaga warung menghampiri Rayhan.


"Apa aden yang tadi ada disini.??" Tanya nya.


Rayhan terdiam sedikit tak mengerti.


"Ini." Penjaga itu menyodorkan handphone. "Sepertinya ini handphone perempuan tadi." Ucapnya.


Rayhan membuka dan melihat isi handphone tersebut, Rayhan membuka sebuah galeri untuk mengetahui siapa pemilik hadphone berwarna putih tersebut.


"Kinara.!!" Ucap Rayhan terkejut.


"Pak, apa bapak tau dia pergi kemana.??"


"Mm. Setelah Aden pergi, dia pingsan dan tergeletak disini." Penjaga itu menunjuk tempat Kinara pingsan.


Deeggg..


Rayhan ingat saat membawa Tamara menuju rumah sakit dia sempat melihat orang berhamburan mengerumuni sesuatu.


"Dimana dia sekarang.??" Tanya Rayhan, Khawatir terjadi sesuatu kepada Kinara.


"Beberapa saat kemudian ada seorang laki-laki membawanya kerumah sakit." Jawabnya.


"Apa kerumah sakit.??"


Setelah mendengar jawaban Penjaga tersebut, Rayhan berlari secepat mungkin menuju rumah sakit.


Sempat menunggu dan mencari angkutan, namun karena waktu yang sudah cukup larut Rayhan sedikit kesulitan untuk mendapatakannya, tapi dia tidak ingin menunggu lebih lama.


Dan akhirnya Rayhan memutuskan berlari menuju rumah sakit, hatinya kini tak bisa tenang.


Rayhan ingat dirinya sempat melihat Kinara terluka, Rayhan sadar betapa bodohnya dia telah meninggalkan Kinara dalam kondisi seperti itu dan malah membawa Tamara yang jelas-jelas tidak kenapa-kenapa.

__ADS_1


__ADS_2