Istri Terbaik Pilihan Ayah

Istri Terbaik Pilihan Ayah
Mencoba menjelaskan.


__ADS_3

Rayhan Terburu-buru turun dari mobil, tanpa berfikir lagi Rayhan langsung Menggedor-gedor pintu rumah Indra.


Indra yang tengah disibukan dengan segala persiapan File-File nya segera membukakan pintu untuk Rayhan yang tampak sudah tidak sabaran.


"Ray," sapa Indra.


"Kenapa disini ? bukannya kalian...


Rayhan memotong pertanyaan Indra.


"Kak apa Kinara disini,?" tanyanya tak sabar menunggu jawaban dari Indra.


"Tidak ! bukannya Kinara sedang di Villa bersama mu?," ujar Indra, ia merasa aneh dengan kedatangan Rayhan yang Tiba-Tiba mencari Kinara, padahal setau Indra Kinara sedang bersama Rayhan di Villa.


Rayhan berdecak frustasi.


"Lalu dimana Kinara?" gumamnya cemas dan panik.


"Ray, kau belum menjawab pertanyaanku, apa yang terjadi,? bukannya Kinara bersamamu,? dan bukannya kalian berdua sedang ," Indra menghentikan pertanyaannya saat menyadari ada yang kurang beres.


Rayhan yang tak menemukan Kinara di kediaman Indra semakin panik dan cemas, ia bisa memastika bahwa saat ini Kinara sedang kecewa dan marah besar padanya.


"Ray.?" Indra kembali bertanya.


"Kinara lari dari Villa Kak," jawab Rayhan lemah.


"Apa,?" sahut Indra hampir tak percaya."Tapi kenapa,?" tanyanya penasaran.


"Sebuah kesalahan menghancurkan semuanya," rintih Rayhan, ia hampir tak bisa mengatakan kejadian yang menimpanya.


"Kesalahan, ? semuanya,?" Indra menyernyit tak mengerti. "Maksud kamu,?" tanya Indra masih tak paham.


"Lain kali aku jelaskan, sekarang aku harus menemukan Kinara," ucap Rayhan, dengan Terburu-buru ia pun keluar.


"Ray tunggu!" cegah Indra, Rayhan pun berhenti. "Kakak bantu mencari Kinara tapi kau harus berjanji menjelaskan semuanya !"


Rayhan pun mengangguk setuju, akhirnya Indra ikut masuk kedalam mobil Rayhan untuk mencari Kinara bersama.


Selama perjalanan Rayhan menceritakan semua kejadiannya saat di Villa dari mulai peneroran dan secarik kertas bertulis alamat yang berakhir dengan kesalah pahaman Kinara.


Mendengar cerita Rayhan Indra menganguk paham.


"Jadi yang meneror kalian itu Tamara,?" tanya Indra, sekilas Indra melihat pelester yang menempel di dahi Rayhan.


Rayhan mengangguk, "perempuan gila!" decaknya. Kemudian ia menggeleng hampir tak percaya pada aksi Tamara yang terhitung nekad.


"Bener-Bener kurang waras," imbuh Indra. "Yang paling gila, dia sengaja menelanjangi dirinya untuk menggoda kamu.?" Saat memikirkan itu Indra pun menggeleng tak percaya.

__ADS_1


"Kita cari dulu di rumah Ayah, kalau tidak ada disana kita cari dirimah Andini, tapi semoga saja Kinara pulang kesana," ajak Indra.


Rayhan setuju dengan pemikiran Indra.


Tanpa banyak Berkata-kata lagi Rayhan segera mengemudikan mobilnya menuju kediaman Safiq.


Saat telah sampai di kediaman Safiq.


"Ayah apa Kinara disini,?" tanya Indra sambil berjalan Tergesa-gesa.


"Ayah apa Kinara pulang ke sini,?" tambah Rayhan.


"Kalian tenanglah dulu ! duduklah dulu !" ajak Safiq.


Safiq paham akan maksud kedatangan Rayhan saat ini pasti untuk menemui Kinara, tanpa mereka jelaskan pun Safiq sudah tau bahwa saat ini hubungan Rayhan dan Kinara tengah mengalami masalah.


"Kinara ada dikamarnya, tapi sepertinya suasana hatinya sedang kurang baik, tadi saat ia pulang Ayah lihat Kinara masih dalam keadaan menangis, ada apa Ray,? apa yang terjadi,? kenapa Kinara menangis seperti itu,?" tanya Safiq.


Indra yang melihat Rayhan duduk gelisah segera menyuruhnya menemui Kinara.


"Ray, kau susul saja Kinara! biar Kakak yang jelaskan ini kepada Ayah," suruh Indra. Rayhan pun menurut, setelah merengkuhkan badannya mohon izin kepada Safiq secepat mungkin Rayhan berlari menuju kamar Kinara.


"Kinara Sayang, aku mohon dengarkan dulu penjelasan ku !" teriak Rayhan, ia mencoba membuka dan Menggedor-gedor pintu kamar yang terkunci dari dalam.


Kinara sendiri tengah duduk memeluk lutut ditempat tidurnya, masih menangis, dan saat mendengar teriakan Rayhan kesedihannya kian menjadi.


"Ray."Safiq datang menepuk bahu Rayhan.


"Biarkan Kinara tenang terlebih dahulu, biarkan dia sejenak menyendiri sampai emosinya reda, Nak Rayhan pun tak boleh menjelaskan semuanya dalam keadaan emosi, pulanglah dulu ! tenangkan dirimu ! besok Nak Rayhan boleh datang lagi untuk menjelaskan ini, setelah kalian berdua sedikit tenang, kalian bicaralah secara Baik-Baik," tutur Safiq.


"Ayah, apa Kinara akan mempercayai ucapanku,?" tanya Rayhan khawatir.


Safiq terdiam sesaat untuk berfikir, "Kinara adalah tipe perempuan yang lebih mempercayai kenyataan bukan ucapan, tapi bukan berarti kita harus menyerah untuk membuatnya percaya, Nak Rayhan pun jangan menyerah, berusahalah,!" pinta Safiq mencoba meyakinkan Rayhan.


Rayhan tertunduk lemah.


"Nak Rayhan tenang saja, Ayah dan kak Indra pasti akan membantu, untuk saat ini biarkan Kinara tenang terlebih dahulu, nanti setelah dia cukup tenang Ayah akan coba jelaskan ini semua," sambungnya.


"Terima kasih Ayah," ucap Rayhan lirih.


"Sudah jangan terlalu difikirkan ! kamu harus yakin semuanya akan Baik-Baik saja," ujar Safiq sambil merangkul pundak Rayhan.


Meskipun belum sepenuhnya yakin Kinara akan memaafkannya tetapi setidaknya untuk saat ini Rayhan bisa sedikit tenang karena telah menukan Kinara.


Setelah Rayhan berhenti berteriak dan tak lagi Menggedor-gedor pintu kamarnya, Kinara berjalan kearah jendela, disibaknya tirai berwarna putih itu lalu ia lepas pengait jendela kemudian membuka lebar daun pintunya. Angin malam yang masuk melewati jendela cukup membuat fikirannya sedikit sejuk dan tenang, untuk sejenak melupakan kejadian menyakitkan yang dialaminya.


Kinara masih berdiri ditempatnya dengan tatapan kosong yang ia lambungkan tak tentu arah. Beberapa saat Kinara belum menyadari kehadiran Rayhan yang tengah mendongak dan menatapnya dari halaman, lalu ketika menyadari Rayhan berdiri sambil memerhatikannya Kinara segera mudur dan menutup tirai yang sempat dibukanya.

__ADS_1


Walau Kianara telah menutup tirai, tapi Rayhan masih berdiri ditempatnya cukup lama sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke kediamannya. Dan beberapa saat setelah Rayhan pergi Kinara kembali membuka tirai berharap Rayhan masih berdiri ditempatnya.


Jujur dari hatinya, Kinara saat ini sangat merindukan Rayhan, ingin bertemu dengannya, ingin memeluknya kembali, dan ingin menghabiskan malamnya bersama Rayhan, tetapi rasa sakit dihati telah menahannya untuk tidak menemui suaminya, rasa kecewa membuat Kinara egois dan menolak mendengarkan penjelasan Rayhan.


Saat Rasa haus menerjangnya Kinara berjalan keluar dari dalam kamar untuk mengambil air minum.


Gelas ditangan telah beberapa kali ia diteguk, sebelum beranjak ditambahnya kembali isi gelas tersebut, saat tengah berjalan hendak kembali kedalam kamar Safiq memanggilnya dan Kinara pun berhenti.


"Kinara, kemari sebentar Sayang !" panggil Safiq. Kinara pun berjalan menuju lelaki paruh baya yang tengah duduk dikursi ruang tamu tak jauh darinya, Indra terlentang dan tampaknya sudah tertidur pulas.


"Ada apa Ayah,?" tanya Kinara masih berdiri dengan gelas ditangannya.


"Duduklah !" Safiq menepuk kursi tak jauh dari tempatnya duduk.


Setelah menaruh gelas yang dipegangnya Kinara pun duduk.


Dirangkulnya pundak Kinara yang kini telah duduk disampingnya, "Kinara ? Nak, kamu masih ingat saat Kinara mempertemukan Ayah dengan seorang perempuan untuk Ayah Nikahi,?" tanya Safiq.


Kinara mengangguk.


"Ayah masih ingat, saat itu Ayah sangat marah kepadamu karena telah melakukan hal bodoh itu (menjodohkan Safiq), Kinara mau tau kenapa Ayah saat itu sangat marah padamu,?"


Kinara menggeleng, karena saat itu hingga kini Kinara masih belum menemukan alasan mengapa Safiq selalu menampik ketika Kinara memintanya untuk menikah lagi.


"Kinara, kau ma tau kenapa Ayah tidak mau menikah lagi,?" tanya Safiq, dan Kinara pun mengangguk penasaran. "Ayah sangat mencintai mendiang ibumu Kinara, bagi Ayah dia adalah segalanya, meskipun dia sudah meninggal tapi beliau masih hidup di hati Ayah, kehadirannya dihati Ayah tak bisa digantikan oleh perempuan mana pun, secantik dan sesempurna apapun mereka," tutur Safiq.


"Tapi kenapa Yah,? Kinara lihat Ayah sering kesepian," ujar Kinara.


"Tidak Sayang, kau salah, Ayah tidak kesepian, karena setiap waktu senyum Ibumu selalu menemani Ayah. Kinara, ketika hati mulai bersuara maka siapa pun tak bisa menentangnya. Sayang, meskipun perempuan sempurna disuguhkan didepan mata Ayah tapi mendiang Ibumu tak akan tergantikan disini." Safiq menunjuk kearah hatinya.


"Ibu sangat beruntung mendapatkan Suami seperi Ayah yang baik dan sangat setia meski kini Ibu sudah tidak ada," ucap Kinara.


"Kamu juga beruntung sayang," sahut Safiq.


Kinara mendongakkan wajahnya, beberapa saat Kinara masih menatap Safiq, kemudian menggeleng sambil tersenyum kecil seakan tak yakin dengan yang di ucapkan Ayahnya.


"Kinara, Ayah bisa menangkap kesetiaan dimata Rayhan, Ayah yakin kamu juga akan menemukan kesetiaan Ayah dihati Rayhan,"


"Tapi Ayah, Ray" potong Kinara.


"Kinara, Ayah bisa melihat kesedihan yang mendalam dimata Rayhan, saat melihatnya Ayah menyadari ternyata Rayhan begitu mencintaimu. Kinara, Ayah mohon ! beri Rayhan waktu untuk menjelaskan semuanya, Ayah yakin semuanya hanya salah paham, tidak mungkin Rayhan melakukan itu, kamu harus tau Kinar Rayhan sangat takut kehilangan kamu Nak, Ayah mohon bukalah hatimu dan terima penjelasan Rayhan, jangan biarkan Rayhan terus merasa bersalah, fikirkan Baik-Baik !" tutur Safiq.


Kinara menunduk, "Baik, tapi tidak sekarang. Ayah, seandainya Ayah tau betapa sulitnya menerima ini, Kinara yakin Ayah tidak akan bicara semudah itu dan menyuruh Kinara menerima penjelasan Rayhan."


"Ayah tau, untuk itu Ayah menyuruhmu mendengarkan penjelasan Rayhan, Kinara Ayah mohon ! sebentar saja, tolong ! dengarkan Rayhan, jangan sampai kamu menyesal,"


"Baik !" sahut Kinara, sambil berdiri dari duduknya, setelah menyambar gelas dari atas meja Kinara kembali meneruskan langkahnya.

__ADS_1


Safiq menggeleng, Kinara memang perempuan keras kepala, saat menghadapi sikap Kinara Safiq selalu teringat pada mendiang Istrinya.


__ADS_2