Istri Terbaik Pilihan Ayah

Istri Terbaik Pilihan Ayah
Penentuan Hari Pernikahan


__ADS_3

Setelah dirasa selesai Rayhan membiarkan Kinara pergi memasuki bangunan yang nampak begitu mewah dan luas, langkah Kinara kian menjauh namun Rayhan masih menatap kepergian Kinara.


Rayhanpun telah siap melajukan motornya. Namun kumandang adzan magrib menghentikan Rayhan, dia memutuskan untuk menunaikan solat terlebih dahulu.


"Gue solat disini aja kali ya" Rayhan turun dari motor kemudian melepaskan helemnya "Harusnya dikantor sebesar ini ada mushola nya," gumam Rayhan sambil terus menyusuri bangunan yang didominasi dengan kaca tersebut.


"Kakak.!" teriak Kinara. Saat manik matanya melihat kehadiran Indra berdiri diruangan nya. Tetapi Indra belum menanggapi panggilan Kinara, dia masih sibuk dengan suara dibalik handphonenya.


Karena tidak ingin Mengganggu kesibukan Indra, Kinara memutuskan untuk berkeliling sebentar, melihat-lihat kantor yang setengahnya sudah sepi, tinggal beberapa dari mereka yang tetap duduk didepan komputer.


Tanpa sengaja Kinara menyentuh benda kotor dan basah hingga mengharuskannya mencuci tangan.


Setelah dirasa cukup Kinara memutuskan untuk kembali, namun sementara terhenti saat ekor matanya melihat seseorang terduduk di Mushola dengan Khusu' melaksanakan kewajibannya menunaikan Shalat Magrib.


"Kayaknya gue kenal." Kinara menunggu dan menyelidiki lelaki tersebut.


Kinara ingin memastikan benar atau salah tentang dugaannya itu.


Tak lama kemudian lelaki tersebut nampak telah selesai dan tengah merapihkan diri.


"Dia, ??" Kinara meyakini seseorang.


"Dek..??" suara itu mengejutkan Kinara, segera Kinara menoleh ke sumber suara.


"Ngagetin lu kak." Protes Kinara kepada seseorang yang berdiri tak jauh darinya.


Indra kemudian mendatangi Kinara "Kamu lihat apa sih,?? Kakak perhatiin kamu begitu fokus hingga tak menyadari kehadiran Kakak."


"Gue, gue lagi ngeliat....


"Heiii kamu disini ??" Rayhan keluar dari pintu Mushala. "Ini siapa??" tanya Rayhan memutus kata-kata Kinara.


"Oooo" batin Indra tersenyum geli ketika tau laki-laki yang mencuri perhatian Kinara ternyata calon suaminya sendiri.

__ADS_1


"Oh iya kenalin ini kakak aku sekaligus pemilik perusahaan ini, Indra." lalu Indra dan Rayhan saling bertukar salam juga melontarkan senyuman "Indra Rayhan" sahutnya.


"Ternyata pemilik perusaan ini masih muda banget ya," Rayhan tersenyum simpul.


"Kebetulan kita kumpul disini ayah tadi nelpon katanya kita ditunggu di Restaurant." Indra.


"Oh jadi kalian mau pergi ?? kalo gitu sekalian aku pamit." Rayhan.


"Eh tunggu bagai mana kalo kita berangkat sama-sama.??" Indra.


"Tapi tujuan kita sepertinya beda." Rayhan.


"Kamu mau kemana.??" tanya Indra.


"Pulang." jawab Rayhan enteng.


Indra berkerut dahi sedikit berfikir. "Apa om Rahman belum ngasih tau kamu ??"


"Kak emangnya kita mau ke mana??" Kinara sedikit aneh kenapa tiba-tiba Indra mengajak Rayhan.


"Hahhhhh??" teriak keduanya kompak kemudian saling memandang tak percaya. Sedangkan Indra, dia tersenyum geli dengan tingakah mereka berdua.


Indra,Kinara juga Rayhan menaiki mobil yang sama yaitu mobil Indra, meskipun mereka beramai-ramai namun tak satupun dari mereka yang mencoba membuka bicara sehingga hanya ada suasana sepi dan canggung, terlebih Indra sengaja menempatkan Kinara dan Rayhan duduk sama-sama dikursi belakang.


Sesekali keduanya hanya mengecek handphone masing-masing, baik Rayhan maupun Kinara mereka sama memiliki riwayat panggilan tak terjawab cukup banyak, disana juga sama-sama tertulis pesan singkat dan mengharuskan mereka datang malam ini.


Mobil mewah itu telah memasuki area parkir, kini Indra berjalan menuju tempat yang telah ditentukan, diikuti Kinara dan Rayhan yang berjalan beriringan dan sesekali mereka saling melirik bingung.


Rahman dan Karin tersenyum senang ketika mendapati Rayhan datang bersama Kinara, terlebih mata mereka terfokus pada jaket yang dipakai oleh Kinara, hal kecil tersebut seakan menumbuhkan perasaan lebih pada hati Rahman juga Karin.


Selain itu Rayhan maupun Kinara tampak begitu akrab saat sama-sama memilih menu makanan pada buku yang dipegang Rayhan, mungkin siapapun yang melihat ke akraban mereka akan berfikir mereka adalah sepasang kekasih.


Sejak kedatangan Kinara dan Rayhan, Karin tak bisa berhenti tersenyum senang, dirinya yakin Rayhan dan Kinara sudah semakin akrab.

__ADS_1


"Mohon maaf telah mengganggu waktu kalian. Seperti rencana sebelumnya bahwa kalian -*Rayhan dan Kinara*- akan kami nikahkan. Namun berhubung kami berdua-*Karin dan Rahman*- mendadak ada urusan yang mengharuskan kami meninggalkan kota ini dengan tempo yang cukup lama. Untuk itu pernikahan kalian berdua kami percepat tepatnya tiga hari setelah hari ini." Rahman mulai membuka bicara terkait maksud dan tujuan undangan malam ini.


***Dua hari sebelumnya Rahman menerima kabar dari orang kepercayaannya di luar negri terkait perusahaan yang tengah mengalami sedikit masalah, sehingga mengharuskan Rahman untuk turun sendiri menanganinya.


Rahman sendiri belum bisa memastikan berapa lama mereka disana, selain itu rencana pindah dari kota Palembang (tempat tinggal Rahman sebelumnya) juga mendapat kendala sehingga mau tak mau Rahman harus bolak balik Malaysia-Palembang. Untuk kedua urusan ini Rahman tidak bisa memastikan seberapa lama waktu yang diperlukan untuk menyelesaikannya***


Rayhan maupun Kinara, mereka sama-sama bingung saat dihadapkan dengan persoalan mendadak seperti ini.


Sebelumnya keduanya tak pernah berfikir sejauh ini, jangankan untuk mengatakan setuju, untuk sekedar mengatakan iya pun itu sangat sulit, perlu pertimbangan yang cukup matang.


"Ayah apa pernikahan ini bisa digelar setelah kepulangan ayah nanti ??" tanya Rayhan dengan wajah begitu bingung.


"Sayang, itu terlalu lama. Seminggu lagi kami akan berangkat ke Luar Negri, juga kemungkinan kami akan lama disana, setelah itu ayah masih disibukkan dengan urusan didalam negri. Mungkin jika pernikahan itu digelar sesuai permintaan kamu kita harus menunggu sekitar lima bulan bahkan satu tahun atau mungkin lebih dan kami tidak menginginkan itu." Jelas Karin.


"Bunda kamu benar, Ray." Tambah Rahman.


Setelah menerima pernyataan itu, Rayhan menarik Kinara keluar untuk berbicara secara empat mata.


"Sekarang kita harus gimana, ??" tanya Rayhan bingung tak karuan.


"Gue terserah loe saja. Toh laki-laki sebagai imam, dan gue sebagai makmum akan mengikuti apapun yang loe putuskan."


"Apa loe mau nikah sama gue ??" tiba-tiba saja Rayhan mengucapkan kata yang membuat hati Kinara gemetaran.


"Pernikahan itu satu ikatan yang cukup berat, jika loe memilihnya gue akan berusaha menerima dan menjadi makmum yang baik, tapi loe harus tau gue gak mau pernikahan ini berawal dari sebuah pakasaan, jika loe akan memilih putuskanlah sesuai kata hati loe dan gue yakin itu yang terbaik untuk kita semua."


"Loe pergi duluan, kasih gue waktu berfikir" ucap Rayhan.


"Ok, semua tergantung loe" kemudian Kinara kembali dan duduk diantara mereka.


Sementara sejenak Rayhan akan berfikir dan menimbang apa kiranya yang harus ia putuskan.


Jika harus memilih iya atau tidak semuanya memiliki konsekuensi masing-masing, namun Rayhan sendiri tidak tau apakah dengan menolak atau menerima akan lebih baik atau malah sebaliknya.

__ADS_1


Jika diukur dengan keakraban dan saling memahami, bukankah hubungan antara mereka baru berjalan dalam masa pengenalan itupun belum cukup untuk dinilai sabagai sebuah ikatan.


Apalagi Kinara maupun Rayhan, mereka adalah dua orang asing yang baru bertemu, dan secepat itu mereka dituntut untuk menjalani hubungan sakral, apakah semuanya akan berjalan dengan baik atau adakah pemahaman yang saling bertolak belakang. ?? Entahlah yang pasti Rayhan tidak memiliki waktu berfikir sejauh itu, untuk saat ini hanya satu keputusan yang mereka tunggu yaitu...


__ADS_2