Istri Terbaik Pilihan Ayah

Istri Terbaik Pilihan Ayah
Villa 2.


__ADS_3

⚠️Memgandung konten dewasa mohon bijak ! tidak dianjurkan untuk pembaca dibawah 18 tahun.⚠️


Tak terasa waktu terus berjalan, keadaan sekitar pun mulai gelap. Petang kini berlalu dan malampun menyambut, benar saja tak lama kumandang Adzan Isa bersahutan ditempat itu pertanda waktu sudah semakin malam.


"Kinara," panggil Rayhan, ia duduk di kursi sama tapi cukup berjarak dari Kinara.


"Sudah aku cek semua kamar yang ada di Villa ini tapi semuanya dikunci, sepertinya mereka sudah tau bahwa selama ini kita."


Rayhan hendak mengatakan tidur terpisah namun....


"Ray, aku minta maaf," Kinara memutus ucapan Rayhan.


Wajahnya tertunduk penuh penyesalan.


"Sudah ! jangan terlalu difikirkan ! pergilah kekamar istirahat dan tidurlah ! biar aku tidur disini," suruhnya.


Rayhan pun tak akan menuntut Kinara untuk tidur bersamanya, meski dirinya harus Berulang-ulang menahan hasratnya kepada Kinara sebagaimana hasrat seorang suami kepada istrinya.


Sebagai lelaki normal Rayhan menginginkan itu, bermesraan, tidur bersama, mandi dan makan bersama apapun bersama, namun melihat ketidak siapan Kinara Rayhan lebih memilih menahan dirinya sampai Kinara siap melakukannya.


Kinara pun beranjak mengikuti perintah Rayhan yang menyuruhnya beristirahat.


Sebelum Kinara berhasil menggapai pintu, dia terlebih dahulu berbalik kearah Rayhan yang tengah duduk di sofa bed dan terlihat sedang memainkan handphonenya sambil Tersenyum-senyum sendiri.


"Kau sangat cantik Kinara, tak heran bila banyak lelaki yang menyukaimu," gumam Rayhan.


Tanpa dia sadari, senyuman terus terkembang dari bibirnya saat menatapi senyum yang wanita berparas cantik itu semaikan dalam Photo-Photonya.


Setelah cukup menatapi Rayhan dari kejauhan. Kinara membuka pintu kamar dan terbukalah sebuah kamar yang telah dihias dan dipersiapkan dengan sangat baik oleh orang tua Rayhan untuknya.



Kinara mermenggu diambang pintu cukup lama, hati dan fikirannya tertampar oleh kesadaran akan hak yang belum ia berikan kepada Rayhan.


Kinara sadar dan tau betul, sebagai seorang suami Rayhan menginginkan itu, tetapi demi dirinya Rayhan rela menahan hasrat yang jika melihatnya saja Kinara akan bergidik ngeri.


Setelah merenung cukup lama Kinara pun berbalik kearah Rayhan yang kini telah melentangkan tubuhnya diatas sofa bed.


"Rayhan," panggil Kinara yang kini telah berdiri disampingnya, dan tidak Rayhan sadari kehadirannya.


"Ya," sahut Rayhan.


Mendapati Kinara berdiri di sampingnya Rayhan pun mengubah posisinya dari berbaring ke duduk.


"Ada apa,?" tanya Rayhan.


Senyum manis terus memenuhi bibir Rayhan membuat Kinara gugup dan salah tingkah.


"Apa kau sudah melihat kamar kita,?"


Rayhan menggeleng, "Belum, emangnya kenapa,?" ucap Rayhan berbohong.


Padahal sebelumnya Rayhan sudah melihat kamar itu, tapi dia tidak ingin membebani fikiran Kinara.


"Ooh," jawab Kinara singkat.


Kinara kembali terdiam, berbicara dengan Rayhan membuatnya kembali teringat pada amplop itu. Dan bila ia kembali teringat, hatinya seketika akan berubah hampa.


Kinara kemudian mengalihkan fikirannya pada sebuah laptop yang baru diambilnya dari dalam tas.


"Sikap Kinara Benar-Benar tidak seperti biasanya, biarpun Hari-Hari sebelumnya tidak brgitu heboh tapi kali ini Kinara hanya bicara seperlunya saja," fikir Rayhan.


Perubahan sikap Kinara mengundang berbagai macam tanya difikiran Rayhan.

__ADS_1


"Kinara," panggil Rayhan.


Kinara sekerejab menoleh Rayhan.


"Ada yang kamu fikirkan,?" tanya Rayhan mencoba menelusuri masalah pada diri Kinara.


Kinara tak menjawab dan tak menoleh pula, hanya aktivitasnya yang terhenti seolah memikirkan sesuatu yang ingin ia tanyakan tapi tak juga terucap.


"Bisakah kita terbuka Kinara,?" pinta Rayhan, dengan lembut ia mencoba mengungkap beban hati Kinara.


Kinara kembali menunduk, "Bolehkah aku bertanya sesuatu Ray,?" Kinara mendongak menatap Rayhan, binar mata itu menusuk bola mata Rayhan mengharap kejujuran.


"Tentu, silahkan ! akan aku jawab semampuku Kinara," ucap Rayhan.


Kinara terdiam berapa saat, "Bolehkah kau beri aku alasan ! kenapa kau masih menyimpan hasil CT scan Tamara.?"


Sebelum menjawab, terlebih dahulu Rayhan tersenyum, "Cuma itu yang ingin kau tanyakan Kinara.?" Tanya Rayhan.


"Aku tidak memintamu untuk kembali bertanya," sahut Kinara sedikit kesal karena pertanyaannya dijawab pertanyaan.


"Baiklah," Rayhan menggeser posisi duduknya lebih mendekati Kinara kemudian menatapnya penuh penjelasan. "Kau ingin tau mengapa aku masih menyimpannya,?" Kinara mengangguk. "Alasan aku masih menyimpannya adalah untuk mengingatkan aku pada kejadian malam itu, kejadian yang membuat aku menyesal hingga saat ini, kejadian yang tak ingin aku ulangi, aku menyesal dan berharap penyesalan itu tidak datang untuk kedua kalinya, untuk itu aku menyimpannya."


"Tanpa alasan lain,?" tanya Kinara semakin melancarkan segala pertanyaan dihatinya kepada Rayhan.


Rayhan menyernyit, otaknya berfikir menggali maksud Kinara.


"Tidak ada,"


Tapi Kinara tidak bisa percaya Kata-Kata Rayahan begitu saja.


"Aku mohon kau jujur kepadaku !"


"Ada lagi yang ingin kau tanyakan Kinara."


"Aku ingin tau sejauh mana hubunganmu dengan Tamara.!" Bentaknya beralih penuh emosi membudalkan semua beban yang sudah lama ia simpan.


"Aku tidak sedang bercanda Ray, aku mohon jawablah pertanyaanku !" pintanya serius.


"Baik, rupanya kau sangat penasaran akan hal itu," diambilnya laptop dipangkuan Kinara kemudian Rayhan memegang erat jemari Kinara seakan memohon agar Kinara mempercayainya. "Aku dan Tamara tidak memiliki hubungan apapun, apalagi hubungan seperti yang kamu fikirkan."


"Kau sedang berbohong Ray,?" tanya Kinara masih belum puas dengan jawaban Rayhan.


"Tidak ! Kinara," sanggah Rayhan. "Aku mohon percayalah ! aku tidak memiliki hubungan lain selain dengan dirimu, aku mencintaimu bukan Tamara, dan berhenti memikirkan ini.!" jelas Rayhan.


"Bisakah kau membuktikan itu Rayhan, ?"


Ditatapnya Dalam-Dalam perempuan yang tengah menuntut pembuktian cinta darinya.


"Bisakah kau membuktikan bahwa cintamu hanya aku !?" bentak Kinara kembali menuntut.


"Kau tidak percaya dengan ucapanku,?" tanya Rayhan.


"Aku belum bisa percaya sepenuhnya, untuk itu buktikan ! benarkah Kata-Katamu itu ? buat aku percaya Rayhan !"


"Kau menginginkan itu Kinara,?" Rayhan melepaskan genggamannya dari jemari Kinara.


Kinara mengangguk.


"Kau yakin,?" terangnya.


Rayhan berbalik dan kini duduk membelakangi Kinara.


"Kau Benar-Benar ingin aku melakukannya Kinara,?"

__ADS_1


"Ya tentu," sahut Kinara tanpa ragu.


"Kau tidak akan menyesal,?" tanya Rayhan meyakinkan.


"Tunjukan ! aku tak akan menyesal sedikit pun," tantang Kinara sambil membuang mukanya.


"Aku harap kau putuskan siapa perempuan yang kamu inginkan, agar aku bisa menentukan jalanku." Batin Kinara.


"Baik, akan aku tunjukan," sahut Rayhan.


Perlahan, Rayhan melepas satu persatu kancing bajunya.


Kinara yang duduk tak jauh dari Rayhan tidak mengetahui aktivitas lelaki yang kini tengah melepas kancing dari kemeja yang dipakainya, kemeja berwarna putih tersebut telah Rayhan lepaskan, sambil berdiri dilepasnya ikat pinggang yang mengikat kuat celana hitamnya.


"Apa yang akan kamu lakukan Ray,?" tanya Kinara gemetar ketakutan.


Melihat Rayhan telanjang dada sontak membuat Kinara terkejut hebat, kedua tangannya refleks melindungi dadanya.


"Bukankah kau menuntut pembuktian Kinara,?" ucap Rayhan sambil mengekang kedua tangan Kinara yang meronta mencoba menjauhkan tubuhnya.


Kinara meronta, tapi tubuh Rayhan terus menghimpitnya, "Ray ! kau gila,? aku tidak mau melakukan ini, kau tak bisa memaksaku."


Kinara terus menolak, tetapi semakin Kinara melawan semakin kuat pula tenaga Rayhan memeganginya.


"Bukan aku yang memaksamu, tapi kau terus menuntutku," sanggah Rayhan.


"Kau kasar Ray," ucap Kinara.


"Untuk itu diamlah!"


Tetapi Kinara tak juga diam, dia terus merutuki sikap Rayhan yang terbilang memaksanya.


"Kau tak bisa melakukan ini, kau tak bisa memaksaku Rayhan, lelaki gila lelaki mesum aku tak suka dipaksa."


Sumpah serapah terlontar dari bibir Kinara.


Kinara baru diam setelah mulutnya dibekap bibir Rayhan, dari situlah awal mula penerimaan Kinara atas perlakuan mesum Rayhan.


Kinara yang awalnya Meronta-ronta kini mulai tenang terbawa arus emosi yang tercipta dari sisi nakalnya.


Mendapati Kinara yang mulai bisa menerima perlakuannya, Rayhan pun melepaskan kekangannya. Perlahan tapi pasti, Rayhan mulai merabai setiap lekuk tubuh perempuan yang beberapa minggu ini telah sah menjadi istrinya.


Lama kelamaan Kinara pun dibuat keasikan atas perlakuan Rayhan yang kini bergerak lebih lembut.


Saat Tiba-Tiba Rayhan menghentikan aktivitasna, Kinara terlihat sangat marah, mungkin karena sebuah hasrat yang berhenti sebelum ia sampai ke puncaknya.


Rayhan tersenyum miring melihat gambaran kemarahan dimata Kinara.


"Apa aku boleh melakukannya sekarang,?" bisik Rayhan sengaja menggoda Kinara.


Kinarapun mengangguk.


Melihat Kinara yang tak lagi menolaknya, Rayhan pun tak ingin Menunda-nunda hasrat menggebu yang telah sekian lama ia simpan.


Hampir tak dapat Kinara sadari pakaian yang membalut tubuhnya kini telah tercecer disembarang arah.


"Tenaglah ! akan aku lakukan Pelan-Pelan," bisik Rayhan.


Kinara memekik kuat saat sesuatu terasa merobek tubuh bagian bawahnya, remasannya dirambut Rayhan pun semakin kuat mengikuti pelepasan hasrat yang membuih diotaknya.


Ada perasaan tak rela saat Rayhan Tiba-Tiba menarik sesuatu yang membuatnya melayang kedunia yang tak pernah ia temukan sebelumnya.


Melayang, begitulah perasaan yang mereka rasakan saat ini.

__ADS_1


"Kau kini telah menjadi milikku seutuhnya Kinara, maaf aku sedikit memaksamu," bisik Rayhan yang Kini tengah memeluk Kinara dari belakang.


Haiii haii Readers maaf kan Author yang telah mencemari fikiran kalian.😁😁😁


__ADS_2