
Empat hari telah berlalu dan Rayhan masih belum mendapat izin untuk keluar dari rumah sakit, berbagai alasan menahan Rayhan untuk pulang, mulai dari kondisi yang masih harus di pantau, demam naik turun, hasil lab belum keluar, segala macam alasan telah Rayhan dengar dari Suster maupun Dokter yang menanganinya.
Empat hari menjaga Rayhan membuat Kinara Benar-Benar kelelahan. Selain kegiatan yang menguras tenaga tidak cukup tidur membuatnya sedikit lemas.
Sepulangnya dari kampus Kinara memutuskan untuk istirahat sejenak merebahkan tubuhnya yang letih.
Selama empat hari itu, Pagi-Pagi sekali Kinara pulang untuk menyiapkan makanan kemudian mengantarnya kerumah sakit, lalu setelah itu Kinara berangkat kekampus dan setelah pulang ia pun kembali menyiapkan makan untuk Rayhan juga untuk dirinya dan mengantarnya kembali kerumah sakit, lalu saat malam terkadang Kinara terjaga dari tidurnya untuk mengerjakan tugas kampus sekaligus menjaga Rayhan.
Aktivitas tersebut Benar-Benar menguras tenaganya.
Sore ini tepatnya jam tiga, seperti biasa rencana Kinara adalah menyiapkan keperluannya untuk pergi ke Rumah Sakit, tapi karena terlalu lelah Kinara ketiduran dia lupa waktu dan akhirnya kebablasan sampai jam enam sore.
"Astaghfirulloh."
Kinara terperanjat dari tidurnya. Alangkah terkejutnya dia saat melihat keadaan diluar yang sudah mulai gelap.
"Jam berapa ini,?" gumam Kinara terkejut. Dia semakin terkejut saat melihat jam yang tergantung di dinding ruang keluarga.
"Apa,? jam enam,?" Kinara yang tersentak meraih hanphonenya untuk mengecek alarm yang sebelumnya telah ia atur pukul tiga sore.
"Apa alarmnya mati,?" fikir Kinara masih bergulat dan merutuki kelalaiannya. Jam enam, Kinara sangat terlambat untuk pergi menemani Rayhan kerumah sakit.
Kinara masih duduk mengumpulkan kesadarannya dengan hati tak henti merutuki dirinya.
"Kenapa bisa kebablasan begini,?" gumam Kinara sambil Memukul-mukul kepalanya yang terasa sedikit pusing.
Tanpa fikir panjang lagi Kinara langsung menelpon Rayhan untuk meminta maaf dan memberi alasan terlambat datang.
"Ray, aku minta maaf !" ucap Kinara menyesal.
"Ada apa Sayang,? kenapa minta maaf ?" tanya Rayhan dalam sambungan telpon.
"Maaf aku terlambat datang menemanimu, aku ketiduran Ray," jawab Kinara.
"Tidak Apa-Apa Sayang tidak perlu minta maaf."
"Ray, aku juga belum menyiapkan makanan untuk mu," isak Kinara menyesal dan sangat kesal pada dirinya sendiri.
"Tidak Apa-Apa, kebetulan aku sudah memesan makanan jadi, kau tidak perlu cemas Sayang, kamu kecapean istirahatlah !" suruh Rayhan lembut.
"Tapi Ray."
"Sudah tidak Apa-Apa Sayang," sela Rayhan.
"Apa kau marah Ray,?" tanya Kinara takut.
"Tidak sayang, tentu tidak, malah aku sangat berterima kasih, selama aku sakit kau telah menjagaku dengan baik hingga kau lupa untuk istirahat, harusnya aku yang minta maaf," balas Rayhan.
Kinara sedikit merasa aneh dengan suara yang didengarnya, suara Rayhan dibalik telpon dan suara sama ia dengar seperti cukup dekat dengannya.
Beberapa saat Kinara terdiam memikirkan kejanggalan tersebut suara Rayhan Benar-Benar dekat dengannya.
"Ray," panggil Kinara.
"Ia ada apa Sayang,?" jawab Rayhan.
Menyadari suara itu terdengar semakin dekat Kinara pun berbalik. Alangkah terkejutnya Kinara saat mendapati Rayhan berdiri dibelakangnya, kali ini ia Benar-Benar terkejut.
Kinara mendongak. "Ray,?" ucap Kinara setengah tak percaya. Berkali-kali Kinara Mengerejabkan matanya untuk memperjelas bayangan didepannya. Dia mengira itu hanyalah bayangan saja.
__ADS_1
"Ada apa Sayang.?" Rayhan tersenyum lembut kepada Kinara yang tengah menatapnya bingung.
"Apa aku masih tertidur?" tanya Kinara. Pelan-Pelan Kinara pun berdiri dengan mata tak bergeming dari menatap Rayhan.
Rayhan mendekatkan hanphonenya dan berkata, "Aku disini Sayang, kamu tidak sedang tidur, kemarilah !" pinta Rayhan dalam panggilannya, meyakinkan Kinara.
Kinara yang masih memegang handphonenya dengan jelas mendengar suara Rayhan, dan Kinara pun sadar dirinya tidak sedang bermimpi.
"Sayang. Kenapa bengong,?" tanya Rayhan saat melihat Kinara masih melamun tak percaya.
Seketika Kinara berlari dan langsung memeluk Rayhan dengan sangat erat.
"Kamu pulang Ray.? Tunggu !" Kinara melepaskan pelukannya.
"Kenapa kau disini, kau belum bisa pulang, kau belum sembuh !" ucap Kinara setengah membentak.
Rayhan menarik Kinara kedalam pelukannya. "Aku sudah sembuh, jangan khawatir !" balas Rayhan.
"Tapi Ray,?" Kinara mendongak menatap Suami yang tengah memeluknya erat. "Siapa yang mengeluarkan mu dari rumah sakit? bukankah tadi pagi Dokter masih melarangmu pulang.?"
"Kamu tidak perlu menghawatirkan itu yang terpenting sekarang aku sudah pulang dan kamu tidak perlu lagi Bolak-Balik rumah sakit, bukankah itu sangat melelahkan,?" tutur Rayhan dan Kinara menganggukinya.
Kinara tersenyum lega. "Aku bahagia akhirnya kamu pulang Ray, aku bisa tidur dengan lelap." Kinara menempelkan punggung tangannya didahi Rayhan.
"Tapi apa kamu Benar-Benar sudah sembuh,?" tanya Kinara.
"Ya seperti yang kamu lihat." Jawab Rayhan.
"Aku harap kamu tidak menyembunyikan apapun dariku termasuk rasa sakit," pinta Kinara menekan.
Rayhan tersenyum gemas, "Tidak Sayang ! aku Baik-Baik saja." Pungkas Rayhan.
Sekilas Rayhan mengecup bibir merah dihadapannya.
"Aku lapar bisakah kita makan sekarang," tanya Rayhan.
"Tentu ! tunggulah ! aku siapkan dulu makanan untukmu," ucap Kinara sambil menurunkan tangannya dari leher Rayhan.
"Tidak perlu sayang, aku sudah pesan makanan lewat aplikasi, jadi kau tidak perlu memasak untuk ku. Ayo ! makanannya sudah aku siapkan dimeja, kita makan sekarang !" ajak Rayhan sambil melenggang menuntun Kinara menuju meja makan.
Sebelumnya...
Tepat pukul satu siang saat Kinara masih di Kampus, Rayhan menelpon Indra untuk mengurus kepulangannya dari Rumah Sakit.
Sebenarnya Rayhan belum diperbolehkan pulang, tapi Rayhan bersikeras.
Rayhan tak sampai hati melihat Kinara yang sibuk sendiri Bolak-Balik rumah sakit untuk mengurusi dirinya. Rayhan juga melihat hari hari Kinara begitu kelelahan.
Setelah Indra menandatangani surat perjanjian dan persetujuan dari pihak rumah sakit Rayhan akhirnya diperbolehkan pulang.
Tepat pulul tiga sore Rayhan sampai di rumah diantar langsung oleh Indra. Sempat Memanggil-manggil Kinara, tapi tak ada sahutan.
Lalu ditengah mencari Kinara Rayhan mendengar dering telpon berasal dari ruang keluarga dan ternyata itu adalah alarm yang sengaja disetel Kinara tepat jam tiga sore. Tak jauh darinya Kinara terlentang tengah tertidur begitu pulas wajahnya sedikit lusuh karena kelelahan.
Rayhan meraih handphone itu dan mematikan alarm yang berbunyi sangat nyaring ia tak sampai hati jika alaram itu sampai membangunkan Kinara.
Waktu terus berjalan. Detik demi detik bergerak bergantian dengan menit berjalan menjadi jam terkumpul dalam satu waktu.
Perut yang lapar kini sudah kenyang suapan terakhir menjadi pungkas makan malam Kinara. Makanan dihadapannya habis tak tersisa. Segelas air putih menjadi penutup makan malam sederhana itu.
__ADS_1
"Ray,?" ucap Kinara sedikit salah tingkah karena sejak tadi Rayhan terus menatapnya membuat Kinara bingung.
"Sudah kenyang sayang,?" tanya Rayhan.
Kinara mengangguk.
"Bagai mana ? apa kuliahmu menyenangkan.?" Tanya Rayhan.
Kinara kembali mengangguk tapi kali ini diakhiri dengan menundukan kepalanya.
"Ada apa sayang ? apa ada masalah ?"
Kinara mendongak. "Aku sedikit terpengaruh dengan kabar yang saat ini tengah beredar, aku kesulitan mengendalikan emosiku, jujur aku sedikit kesal dan marah pada mereka."
"Apa yang mereka katakan hingga membuatmu marah Sayang,?" tanya Rayhan menyelidik.
"Tamara, selalu berusaha mengambil apapun yang ada padaku. Suatu saat kami pernah berada dalam satu lomba dan aku menang, tapi sebelum pengumuman pemenang, Tamara menaruh lembaran kunci jawaban didalam tas ku, kepada juri dia mengatakan bahwa aku mencurangi perlombaan itu. Aku menyangkal, lembar jawaban itu bukan milikku."
"Lalu siapa yang mereka percaya,?" tanya Rayhan penasaran.
"Tamara, dia berhasil membuat aku di diskualifikasi dari perlombaan itu."
"Selain itu, pernah satu kali kami kembali berada dalam satu lomba saat itu lomba lari marathon, aku dan Tamara kembali masuk kedalam babak final, hari itu aku sangat bangga lalu aku pergi ketoilet untuk menelpon kak Indra memberi tau kabar gembira itu tapi naas seseorang menumpahkan sabun dipintu keluar hingga aku terjatuh dan kakiku terkilir, aku dilarikan kerumah sakit aku cidera dan tak bisa melanjutkan kejuaraan yang aku banggakan itu." Kinara kembali menunduk lemah.
"Mengenai ini, apa yang membuatmu cemas Sayang,?" tanya Rayhan.
Kinara kembali mendongak. "Tamara selalu berhasil menyingkirkan aku dalam segala hal, dan aku khawatir kali ini aku akan kembali tersingkir Ray."
"Maksud kamu ? kamu khawatir Tamara akan berhasil menyingkirkan kamu dari ku,?" tanya Rayhan ia mengerti akan kesimpulan dari cerita Kinara.
Kinara mengngguk lemah.
"Itu tidak mungkin Sayang, karena cintaku ini bukan sebuah perlombaan bukan pula sebuah piala yang bisa diperebutkan. Karena cinta datangnya dari sini." Rayhan menunjuk dadanya. "Bukan untuk diperebutkan, juga tidak memerlukan pemenang. Saat hati yang memilih siapa pun tidak bisa menentangnya, siapa pun tidak dapat mencegahnya, apapun tak bisa memisahkannya terkecuali maut."
Kata-Kata Rayhan mengingatkan Kinara akan ucapan Safiq beberapa waktu yang lalu.
Rayhan menggenggam jemari Kinara. "Sayang, kamu tidak perlu khawatir ! kali ini Tamara tidak akan mengalahkan ataupun menyingkirkanmu, dia juga tak akan merubah apapun yang ada dalam hatiku, kamu harus yakin sayang cintaku ini hanya untukmu."
Kinara kembali menunduk, "Aku minta maaf Ray ! aku minta maaf karena telah meragukanmu." Sesal Kinara.
Rayhan berdiri, berjalan mendekati Kinara yang masih duduk lalu memeluknya dari belakang. "Kamu tidak perlu minta maaf sayang, aku mengerti situasi ini sangat sulit bagimu, tapi aku percaya Kinara bisa melewatinya dengan kuat," ucap Rayhan. Dibelai dan diciumnya kepala Kinara penuh kasih sayang.
Perlakuan lembut Rayhan membuat Kinara tersentuh hingga tanpa ia sadari airmatanya menetes membasahi kebahagiaan besar yang tumbuh dihatinya.
"Kenapa menangis Sayang.?" Rayhan memutar posisi Kinara hingga berhadapan dengannya.
"Enggak !" sanggah Kinara sambil terisak. Tangannya sibuk menepis airmata bahagia yang terus berderai.
"Bukankah kamu bilang kita harus saling terbuka,?" ucap Rayhan sambil menatap mata Kinara yang sedari tadi hanya menunduk.
"Apa kamu tau hal terbesar yang paling aku takutkan,?" tanya Kinara.
Rayhan tak menjawab ia masih berfikir dan menerka. "Mm aku tidak tau sayang, apa yang paling kamu takutkan ? hewan, setan, mahluk buas, keributan atau...?"
"Bukan semuanya. Aku hanya takut kebahagiaan ini hanya mimpi, aku takut saat aku terbangun kebahagiaan ini akan hilang, aku takut kehilanganmu Ray," jelas Kinara. Binar mata itu seolah menjelaskan kekhawatirannya.
"Tidak Sayang ini bukan mimpi. Kebahagiaan ini adalah takdir untukmu. Takdir tak akan hilang selamanya akan bersamamu, dan kamu tidak akan kehilanganku karena akulah takdirmu Kinara."
Perlahan Rayhan menarik Kinara kedalam pelukannya lalu memeluknya dengan sangat erat.
__ADS_1