
Suara dibalik sambungan telpon yang tidak disengaja saat ini tengah menganggu fikiran Kinara.
Terduduk resah diatas bangku, fikiran melayang penuh kekhawatiran. Tamara, apa yang dia katakan layaknya sebuah ancaman untuk Kinara, menuntutnya untuk lebih Berhati-hati lagi, terlebih dalam menjaga Rayhan agar tetap dipelukannya.
Meremas rambut mengusap kasar wajah, menggigit jemarinya karena takut, berulang kali aktivitas itu Kinara lakukan saat mengingat Tamara.
Sampai mata kuliah usai Kinara tetap terlihat lesu tidak bersemangat, hal itu mengundang tanya teman sebangkunya, kalau bukan Andini ya siapa lagi.?
"Ada apa Kinara? kenapa wajahmu kacau begini ada masalah lagi.?" Tanya Andini dengan nada bingung.
"Enggak aku Baik-Baik saja kok." Jawab Kinara, melipat laptop, merapihkan buku, berkemas untuk sejenak istirahat.
"Siang Kinara."
"Kinara,"
"Kinara."
"Halo Kinara."
"Hai Kinara."
Sapa Mahasiswa yang memang Sengaja lewat disamping Kinara sekedar cari perhatian. Meski sedikit malas Kinara berusaha tersenyum kepada mereka yang menyapanya.
Sejak kabar perceraian Kinara dan Rayhan menyebar, Kinara kembali menjadi pusat perhatian, banyak lelaki berusaha mencari perhatian, ada yang diam diam ada juga yang Terang-terangan mendekati Kinara.
"Kinara, loe nggak boleh terlalu nanggepin mereka !" Ujar Andini.
Kinara memutar badan, menghadap ke arah Andini.
"Siapa yang nanggepin sih Din?. Gue cuma bilang halo, hai, ia, nggak berlebihankan.?" Sahut Kinara.
"Ya menurut gue nggak terlalu berlebihan, tapi loe lihat deh reaksi mereka berlebihan tau nggak." Balas Andini dengan mata tertuju pada lelaki yang tampak begitu kegirangan setelah sapaannya disahuti Kinara.
"Ya sudah tidak Apa-Apa, selama itu tidak berlebihan." Sahut Kinara dengan nada sumbang. Setelah merapihkan barang bawaannya Kinara pun berdiri untuk meninggalkan kelas.
"Kinara loe belum menjawab pertanyaan gue."
"Pertanyaan yang mana.?"
"Loe kenapa sih,? ada masalah.?" Tanya Andini memperjelas.
"Ooh itu, nggak ada." Jawab Kinara berbohong.
"Terus kenapa loe murung begini.?" Tanya Andini lagi.
"Enggak Kenapa kenapa kok gue cuma ngantuk jadi sedikit malas untuk bicara." Ucap Kinara.
"Loe nggak lagi boong'kan.?" Selidik Andini.
"Nggak Din, nggak !" Tukas Kinara.
"Baiklah, kalau gitu nyari yang seger seger yuk !"
"Yang seger seger, apa.?" Tanya Kinara.
"Sudah, yuukk !" Andini menarik Kinara setengah menyeretnya.
"Yang seger itu apa,? air lemon.?" Tanyan Kinara didalam perjalanan menuju tempat yang Andini maksudkan.
"Bagai mana seger'kan.?" Ucap Andini, kini mereka berdua telah duduk menonton mereka yang sedang bermain basket, dan Rayhan juga ada disana sedang bermain.
Tubuh tinggi, kekar, rambut basah karena berkeringat sungguh penampilan yang sangat enak dipandang mata.
Ucapan Andini sontak memaksa Kinara untuk memelototinya, kesal tapi gemas.
Tanpa Kinara sadari sejak dirinya duduk Rayhan terus menatapnya lembut, gerak geriknya saat duduk dengan Andini juga tak lepas dari perhatian Rayhan.
Andini sedikit menyenggol Kinara. "Ekh Kinar suami loe ngeliatin terus tuh !" Goda Andini sambil terkikik gemas.
"Mana?" Tanya Kinara Pura-Pura tidak melihat.
"Itu disana !" Balas Andini tanpa menunjuk Rayhan, hanya berisyarat saja.
Sebenarnya sejak tadi Kinara sudah lebih dulu menyadari itu, hanya saja Kinara mencoba mengalihkan tatapan maniak Rayhan, tapi karena Andini akhirnya Kinara terpaksa membalas tatapan Rayhan dengan berani sambil tersenyum manis. Keduanya akhirnya terikat saling menatap lekat, Rayhan juga tak lagi menghiraukan bola basket yang dilempar kearahnya.
Ditempat yang sama, Tamara duduk menyelai penonton, matanya menatap Rayhan dan Kinara secara bergantian, diperhatikannya sorot mata Rayhan kepada Kinara begitu juga sebaliknya.
Dari mata mereka Tamara menemukan cinta yang begitu besar tanpa Keragu-raguan.
Selain saling menatap, Rayhan juga berbicara dalam bahasa isyarat. Rayhan menunjuk pergelangannya lalu menempelkan dua jarinya dibibirnya, disana dibagian penonton Kinara nampak mengedikkan sebelah alisnya saat membalas isyarat Rayhan, atas itu Rayhan tersenyum gemas.
Kemudian Kinara berbicara dengan bahasa isyarat, meminta Rayhan untuk mengecek handphonenya.
Mengikuti perintah Kinara Rayhan berjalan perlahan meninggalkan lapangan untuk mengambil hanphonenya, disitu Rayhan kembali senyum senyum sendiri seperti orang yang sedang kasmaran, perilaku Rayhan tak luput dari perhatian Tamara.
Rayhan, Kinara, apa yang kalian sembunyikan aku tau, kau sedang mengelabui semua orang, kalian mungkin bisa mengelabui orang lain tapi tidak dengan aku.
__ADS_1
Gumam Tamara dalam hatinya.
Kau lihat saja siapa yang akan menang !.
"Sayang." Panggil Rayhan dari belakang punggung Kinara, atas panggilan Rayhan Kinara segera berbalik.
Mereka berdua telah beralih ketempat yang cukup sepi dan jarang dilewati orang.
"Ada apa,? kangen.?" Goda Rayhan sambil memeluk Kinara dari belakang, menumpukan dagunya dipundak Kinara.
"Bukan ! aku cuma mau nunjukin ini.?" Kinara menunjukan pesan yang masuk dihandponenya, pesan Panitia penyelenggara lomba menulis artikel. Dikatakan Kinara mendapat juara satu dalam lomba itu, selain itu Kinara juga menyandang predikat penulis artikel terbaik.
Dengan masih memeluk Kinara yang membelakanginya, Rayhan membaca pesan itu dengan seksama. "Istriku hebat !" Puji Rayhan.
"Ray, kamu yang mengunggahnya.?" Tanya Kinara.
"Kamu luar biasa sayang, mendapat dua medali sekaligus." Puji Rayhan lagi, sekilas Rayhan mencium pipi Kinara dari belakang.
"Bukan aku yang membuatnya, Ray. Kamu yang membuatnya, dan Diam-Diam kamu mengunggahnya'kan.? Kamu tau Ray aku sudah pasrah dengan lomba ini, aku fikir aku telah kehilangan kesempatan, tapi berkat kamu aku menang, Ray."
"Ini bukan berkat aku Kinara, kamu yang menulisnya, aku hanya membantu mengunggah artikel yang kamu buat sayang, istriku memang hebat."
"Kamu yang hebat, Ray."
"Istriku hebat !"
"Suamiku hebat !"
"Baiklah ! karena aku ikut membantumu memenangkan lomba ini aku minta hadiah itu dibagi dua, bagai mana setuju.?"
"Aku serahkan sepenuhnya kepadamu, Ray."
"Oo ternyata Istriku sangat dermawan."
"Ray, apa kamu tidak ingin mengucapkan selamat atas keberhasilanku.?" Tuntut Kinara.
Rayhan tersenyum gemas, "Baiklah untuk Istriku tercinta selamat atas keberhasilannya."
Kinara pun berbalik sekilas mencium pipi Rayhan, "Terima kasih semua berkat kamu, sebenarnya aku hampir putus asa atas artikel itu. Saat Kepala Panitia menghubungiku aku seperti tak percaya, tapi setelah aku buka web ku ternyata tanpa aku sadari seseorang Diam-Diam membantuku menulis dan mengunggah artikel itu. Artikel yang luar biasa." Puji Kinara. Kinara tersenyum lebar sambil melingkarkan lengannya dileher Rayhan, dan dibalas dengan rangkulan hangat dari suami tercintanya.
"Seseorang.? Siapa.? Apa aku mengenalnya.?" Tanya Rayhan.
Kinara tampak begitu bermanja dipelukan Rayhan.
"Sepertinya tidak, Ray."
"Mm aku tak akan mengenalkan dia kepada siapa pun." Ucap Kinara, jari lentik Kinara menyentuh ujung hidung Rayhan.
"Lah kenapa ? apa dia orang yang kamu rahasiahkan.?"
"Ya, dia memang rahasiahku, dia lelaki yang sangat baik, dia lelaki pengertian, dia lelaki penyayang, dia lelaki yang tau bagai mana caranya memperlakukan orang lain dengan sangat lembut, dia Laki-Laki yang pandai menyentuh hati perempuan."
"Jika dia begitu baik, lantas kenapa kamu rahasiahkan.?"
"Mana mungkin aku mempublikasikannya secara terang-terangan aku takut mereka malah ingin merebutnya." Jawab Kinara.
"Oo begitu rupanya. Jadi kamu tidak akan mempublikasikan dia, alasannya?"
"Aku tak bisa. Dia telah merubahku menjadi seorang perempuan yang tamak, rakus dan serakah, aku bahkan tidak akan membiarkan perempuan lain mendapatkannya, aku tak rela bila perempuan lain diperlakukan sama olehnya, untuk itu aku selalu berusaha merahasiahkannya, aku tak ingin orang lain mengenalnya dan mengetahui kalau dia itu lelaki idaman semua perempuan."
Rayhan tersenyum tipis, "Apakah dia seistimewa itu.?"
"Ya, aku rasa begitu."
"Mm aku ingin tau, siapa kiranya kelaki itu ? kenapa dia begitu pandai merebut hati perempuan,? Sayang tolong kenalkan aku padanya, aku mau belajar cara dia meperlakukan seseorang dengan sangat baik, aku juga ingin Dipuji-puji seperti itu. Bolehkan.?"
"Mm aku tak bisa mengenalkannya padamu."
"Kenapa.?"
"Kalaupun aku mengenalkannya padamu, kamu tidak akan mampu mengikuti apa yang dia lakukan. Kebaikannya, kelembutannya, pengertiannya semua berasal dan tumbuh dari hatinya, dan perlu kamu tau hati yang dimiliki dia tidak akan bisa dimiliki orang lain, dan aku juga merasa kamu akan kesulitan, karena hatimu mungkin berbeda dengan hatinya."
"Kedengarannya dia begitu baik, tunggu ! pujian ini, kedengarannya kamu begitu mengaguminya, jangan bilang kamu jatuh cinta padanya.?" Rayhan tersenyum gemas atas ucapan Kinara, Rayhan sebenarnya tau kepada siapa pujian itu.
"Kau menebaknya.?" Tanya Kinara.
"Ya. Apa tebakanku benar,?"
"Sangat tepat. Aku mencintai lelaki ini lebih dari apapun, lebih dari yang orang lain tau lebih dari yang orang fikirkan, bahkan mungkin lebih besar dari yang dia rasakan."
"Benarkah.? Bisakah kau beritau aku siapa lelaki itu.?" Kekeh Rayhan.
"Kau Benar-Benar ingin tau.?"
"Ya tentu, aku ingin menyampaikan sesuatu padanya."
"Seseuatu ? apa itu,? bolehkah aku tau.?"
__ADS_1
"Hm sebenarnya ini rahasia, tapi ketika melihat kamu yang begitu penasaran terpaksa aku membocorkan rahasiah ini."
Mendengar itu Kinara tampak mengulum senyum yang begitu manis.
"Beri tau aku sekarang," Ucap Kinara setengah memaksa.
Sebelum mengatakan rahasia yang Rayhan maksud, telebih dahuli ia tersenyum, "Aku hanya ingin menyampaikan beberapa kata padanya, aku akan berkata dengan lantang kepada lelaki itu. 'Hei ! kamu dengar ! kamu sangat beruntung mendapatkan perempuan seperti dia, dia yang cantik, manis, selalu tulus dan memperlakukan orang lain dengan baik dia juga pintar dalam segala hal' ia aku juga tidak akan lupa berpesan padanya 'Jaga dia dengan baik, karena didunia ini perempuan seperti dia sudah mulai langka."
"Apaan sih langka, jadi aku perempuan yang hampir punah, gitu.?"
"Ya hampir." Atas ucapan Rayhan Kinara memberenghut kesal. "Ia, kamu belum memberitau aku siapa nama lelaki itu."
"Lebih baik kamu tidak tau namanya."
"Lah kenapa.?"
"Aku takut kamu jatuh cinta dan Tergila-gila seperti aku." Ucap Kinara dan sontak membuat Rayhan tersenyum lucu.
Rayhan menggeleng sambil tersenyum kecil. "Kamu ini, kamu kira aku memiliki kelainan ? hingga aku jatuh cinta kepada sesama jenis, tidaklah Sayang."
"Hihi." Kinara terkikik geli.
"Katakan siapa dia ! kalau tidak, aku akan merasa cemburu."
"Hm baiklah, dia adalah seorang lelaki yang tidak sengaja wajahnya aku pukul beberapa kali, kali pertama kami bertemu dia mengucapkan beberapa kalimat yang sampai saat ini masih aku ingat dengan jelas."
"Kalimat ? apa itu Sayang.?"
"Saat pertama bertemu ia pernah bilang 'Kalo gue kalah gue nikahin ini berandal, loe semua gue undang jadi saksi'."
"Tunggu ! apa itu Kata-Kataku.?" Sela Rayhan.
Kinara mengangguk kecil dan tersenyum gemas.
"Kamu masih mengingat itu Sayang.?" Tanya Rayhan dan Kinara pun kembali mengangguk.
"Dan takdir mengizinkan aku kalah." Decak Rayhan.
"Dan kita juga menikah." Tambah Kinara.
"Ya, tapi kalau mereka tau, apa mereka akan menagih janjimu Ray.?" Tanya Kinara.
"Aku berharap mereka lupa."
"Kenapa.?"
"Karena kita sudah menikah dan tidak lagi memerlukan saksi pernikahan."
Mendengar pernyataan itu Kinara tertawa kecil.
"Haha ya kamu benar Ray," Ucap Kinara ditengah tawanya.
Melihat Kinara tertawa Rayhan pun tersenyum senang.
Tiba-Tiba.
Cuuuppp..
Rayhan mencium kening Kinara cukup lama.
"Aku senang akhirnya kamu tertawa." Ucap Rayhan selepas mencium kening Kinara.
Kinara sedikit mendelik atas ucapan Rayhan.
"Kamu jangan murung lagi ya ! aku tak bisa melihatmu seperti itu.? Boleh.?" Ucap Rayhan lirih sambil mengeratkan pelukannya.
"Kapan aku murung.?" Tanya Kinara, menyangkal.
"Sudah kamu tidak perlu bertanya lagi, aku tau kok kamu mendengar percakapan aku dengan Tamara, tadi juga aku sempat ngikuti kamu kekelas, mau jelasin, tapi keburu ada Dosen jadi aku milih batalin niat aku." Balas Rayhan.
Sejenak Rayhan merenganggkan pelukan lalau menatap Kinara dengan tatapan meminta kepercayaan. "Sayang kamu jangan khawatir, aku tidak mungkin terpengaruh oleh dia, kamu percaya'kan sama aku.?"
Kinara menganggkuk kecil.
"Baiklah !" Rayhan kembali mengeratkan pelukannya. "Untuk merayakan kenangan kamu, bagai mana kalau kita Jalan-Jalan.? Setuju.?"
"Kita bolos.?" Tanya Kinara.
"Bukan bolos hanya pulang lebih awal." Jawab Rayhan.
"Oo pulang lebih awal ya, baiklah yuk !"
"Yuk !" Rayhan melepaskan pelukannya dan beralih menggamdeng Kinara.
"Tunggu ! apa kita akan berjala seperti ini.?" Tanya Kinara saat Rayhan telah menggenggam jemarinya siap untuk melangkah.
Sekilas Rayhan menoleh tangan yang tengah menggenggam jemari Kinara.
__ADS_1
"Baiklah, kamu duluan !"