
Hari hari berikutnya dijalani dengan sangat baik, Rayhan tak lagi Malu-Malu mengumbar kemesraannya kepada Kinara didepan banyak orang, tak jarang Rayhan memanggil Kinara hanya untuk menciumnya, sekilas.
Sejak kejadian malam itu Rayhan selalu ingin membuktikan bahwa dirinya tidak akan melepaskan Kinara apalagi bercerai darinya. Banyak perempuan berhasil dibuat baper atas perlakuan romantis Rayhan kepada Kinara tapi tidak dengan Tamara.
Bagai mana tidak ! setiap aktivitas Kinara diluar jam kampus disitu Rayhan akan terus bersamanya, baik itu makan dikantin menemani casting model yang sudah dimulai beberapa hari yang lalu Rayhan selalu ada menemani Kinara, jika orang lain melihat Kinara disana tak jauh dari posisi Kinara Rayhan berdiri sebagai bodyguard kesayangan Kinara, Rayhan begitu telaten menemani Kinara, walau sampai larut malam.
"Sayang." Panggil Rayhan, Kinara yang baru keluar dari ruang casting pun berhenti lalu menoleh kearah Rayhan yang berdiri setengah bersandar pada dingding.
"Hei," balas Kinara. Terburu Kinara datang menghampiri suaminya, memeluk dan bermanja.
"Ini !" Rayhan menunjuk pipinya, meminta agar Kinara menciumnya. Tanpa Malu-Malu lagi Kinara langsung melayangkan ciuman dipipi Rayhan.
"Bagai mana castingnya?"
Kinara mengalungkan tangannya dileher Rayhan. "Ya aku rasa biasa aja, semoga aku kalah."
Mendengar pernyataan Kinara, Rayhan tampak tersenyum heran, "Dimana-mana, orang ikut kompetisi itu berharap bisa menang bukan berharap kalah."
"Kamu tau 'kan.? Aku sedikit terpaksa melakukan ini." Gerutu Kinara.
"Kalau gitu kamu mundur aja !" Suruh Rayhan asal.
"Maunya sih gitu tapi bagai mana dengan mereka yang udah bela-belain daptarin aku.? Kalau mereka tau aku mundur tanpa alasan pasti mereka sangat kecewa, apalagi ini sudah mau masuk sepuluh besar."
"Hm semuanya terserah kamu, tapi ingat ! kamu tidak boleh tergiur dengan dunia model, karena aku tidak akan mengizinkan kamu." Ucap Rayhan.
"Iya, iya aku tau kok, peringatan mu ini sudah Berulang-ulang kau ucapkan." Ucap Kinara sambil mendelik kesal.
"Ah iya, tadi bilang kamu lagi dikantor Kak Indra kenapa sekarang disini ? apa meetingnya sudah selesai.?"
"Mm sudah, aku sengaja datang ingin berbicara dengan mu Sayang."
"Berbicara ? Apa ? terdengarnya begitu serius." Ucap Kinara serata menatap Rayhan penuh tanya.
....
"Apa.?" Ucap Kinara setengah berteriak tak percaya.
Saat itu mereka berdua telah beralih tempat, Kinara dan Rayhan duduk dibangku belakang kampus.
Kinara terlonjak berdiri dari duduknya.
"Sayang.. Ini sangat mendadak, aku minta maaf!." Ucap Rayhan dengan nada tidak enak kemudian Rayhan pun berdiri memeluk Kinara untuk menenangkannya.
Rayhan baru saja mengatakan bahwa ia akan pergi keluar Negri bersama Indra selama dua hari.
"Ray, apa kamu tidak ingin menemaniku di sepuluh besar.?" Tanya Kinara sedikit menyesal.
"Sayang... Kalo kamu keberatan, aku bisa meminta kak Indr....
Ucapan Rayhan dipotong Kinara.
"Tidak usah aku hanya kecewa saja, nggak lebih." Kinara menunduk lesu.
"Kecewa karena apa.?" Tanya Rayhan.
"Kamu akan pergi, apa kamu tidak ingin melihat aku masuk sepuluh besar.? Apa kamu tidak akan rindu kepadaku?"
Rayhan menggenggam jemari Kinara. "Jangan tanyakan itu," Sebelah tangan Rayhan menyelipkan helaian rambut yang terurai sedikit menutupi pipi Kinara, tertiup angin. "Aku akan sangat merindukanmu Sayang, aku janji setelah masalah perusahaan selesai aku akan segera pulang,"
Dengan hati yang berkecamuk hampa Kinara akan mencoba merelakan kepergian Rayhan yang terbilang dadakan.
...
...
__ADS_1
Keesokan harinya.
"Sayang. Jangan cemberut gitu dong ! aku jadi nggak bisa ninggalin kamu kalo kamunya begini, ayo senyum ! jangan buat aku berat meninggalkanmu." Ucap Rayhan resah saat melihat Kinara hanya terdiam.
"Ray, apa kamu akan lama.?" Kinara yang tengah duduk sedikit mendongak memerhati punggung suaminya yang tengah merapihkan kemeja putih yang telah dikenakannya, rasa berat melepas Rayhan begitu membenani Kinara saat ini.
"Tidak lama Sayang cuma dua hari kok, kenapa ? kamu keberatan.?"
Tanya Rayhan yang saat itu telah berdiri dihadapan Kinara, memerhati pucuk Ubun-Ubun yang sejak tadi hanya menunduk menghindar menatapnya langsung.
Kinara hanya memainkan kakinya sambil menghela nafasnya yang resah, "Huummpp Ray, malam ini aku bakal tidur sendirian.?"
"Sayang, mulai sekarang kamu harus terbiasa, karena kedepannya aku mungkin akan sering melakukan perjalnan seperti ini apalagi nanti setelah Ayah menyerahkan perusahaannya."
Kinara masih saja menunduk meski Rayhan jelas tengah berdiri dihadapannya, Kinara seperti sedang melihat tumpukan benda berharga dibawah sana, tapi bukan begitu dia hanya merasa sedih akan ditinggalkan Rayhan, walau cuma dua hari tapi mengingat ini kali pertama ditinggalkan Rayhan setelah mereka menikah jelas Kinara merasa sangat keberatan.
Rayhan sekilas menoleh pergelangan tangannya, "Sayang sudah waktunya aku berangkat."
Kata kata itu membuat Kinara semakin bersedih hati, hingga tak terasa air matanya berlinang begitu saja, seandainya boleh, Kinara ingin menahan Rayhan lebih lama lagi.
"Sayang, kamu menangis." Ucap Rayhan sambil mengangkat dagu Kinara dengan lembut. Walau Kinara mencoba menyembunyikan kesedihannya tapi tetap saja sulit.
"Aku harus pergi, apa kamu mau mengantar aku ke bandara.?" Tanya Rayhan. Tanpa berbicara Kinara langsung memeluk Rayhan, menangis tergugu disana.
"Sudah jangan menangis," Pinta Rayhan kepada Kinara. Padahal secara tidak langsung ucapan itu adalah untuk dirinya sendiri, walau hanya pergi dua hari tapi Rayhan juga merasakan beratnya berpisah dengan Kinara.
"Sayang kalau kamu menangis seperti ini, bisa bisa aku tidak jadi berangkat." Dengan penuh kasih Rayhan membelai Rambut Kinara yang masih menangis dipelukannya.
"Aku minta maaf." Kinara segera melepaskan pelukannya lalu menyeka air mata dipipinya.
"Baiklah kamu boleh pergi, tapi janji ya ! setelah kamu sampai segera hubungi aku !"
"Baik Sayang, itu pasti akan aku lakukan."
Selepas mengecup Ubun-Ubun Kinara Rayhan berangkat diantar langsung oleh Kinara juga Safiq. Di Bandara drama sulit merelakan terjadi lagi, kali ini Rayhan tampak sangat kesulitan melepaskan tangannya dari Kinara. Sendainya Kinara tidak sedang mengikuti kompetisi mungkin Rayhan bisa pergi bersamanya, tapi kompetisi itu lebih penting, jika Kinara tidak hadir diseleksi sepuluh besar maka secara otomatis Kinara akan di diskulifiksi.
.....
Malam ini adalah malam pertama tanpa Rayhan. Waktu sudah menunjukan pukul 22:46. Tapi Kinara masih duduk melakukan vidio call bersama suaminya, meski panggilan itu sudah lebih dari satu jam namun sepertinya Kinara dan Rayhan belum terfikir untuk mengakhirinya.
Panggilan itu masih terhubung saat terdengar pintu rumah ada yang mengetuk berulang kali, Kinara merasa malas untuk membukakan pintu mengingat waktu juga sudah cukup larut, tapi Rayhan terus mendesak menyuruh Kinara membuka pintu, katanya takut ada hal penting.
Menuruti pinta Rayhan Kinara pun melangkah menuju daun pintu tapi sebelumnya dia telah mengarahkan kamera ponselnya kearah pintu sehingga Rayhan bisa melihat siapa tamu yang berkunjung kerumahnya.
"Ya, siapa.?" Teriak Kinara. Perlahan kunci itu diputarnya dan pintu pun terbuka.
Kinara terkejut. "Bapak,?" Ucapnya tak percaya. "Ngapain malam malam begini bertamu kerumah saya? apa ada hal penting? kenapa tidak dibicarakan lewat telpon saja.?"
Lelaki itu, dia ternyata sorang photo grafer dalam kompetisi model yang sedang berlangsung dikampus Kinara. "Kinara, kompetisi ini sudah memeuki babak sepuluh besar, dan besok adalah penentuan anggota yang akan masuk lima besar." Jelasnya.
Kinara mencium sesutu yang tidak beres pada lelaki yang bekerja sebagai photo grafer dalam kompetisi itu, pasalnya sejak dia bertatap muka dengan Kinara, Kinara melihat mata yang mulai berselancar nakal.
"Ya saya tau, saya juga tidak perlu pejelasan dari bapak." Tegas Kinara.
"Kinara, disaat berdua seperti ini jangan panggil saya Bapak panggil saya Anton, ini terdengar lebih akrab." Atas permintaan Anton Kinara mendelik muak.
"Hmm, perlu kamu tau Kinara ! peserta lain, mereka sangat tergila gila akan kompetisi model ini mereka berebut ingin mendapatkan rekomendasi dari saya, mereka bahkan rela mengeluarkan dana lebih untuk menyogok saya, bahkan ada yang memberi saya uang 50 juta, fantastic bukan.? Dia yang memberi saya sogokan terbesar saya pestikan dialah yang akan masuk tiga besar dengan mulus dan lancar."
"Apa maksud Bapak.?" Desak Kinara Tegas.
"Kinara, apa kamu tidak ingin memenangkan perlombaan ini.? Apa kamu tidak tergiur menjadi model populer ? fikirkan Kinara ! banyak aktris aktris yang sukses lewat tangan saya, bagai mana apa kamu berminat.?"
"Maaf tidak tergiur." Balas Kinara sambil mendorong daun pintunya.
"Tunggu." Anton menahan pintu itu.
__ADS_1
"Katakan ! apa yang kamu ingin sampaikan ! jika tidak penting saya minta cepat pergi !" Usir Kinara.
"Tunggulah Cantik ! Bolehkah saya masuk sebentar.? Kita bicarakan masalah ini dengan serius." Ujar lelaki yang bernama Anton tersebut. Tanpa menunggu titah dari Kinara Anton telah menyelonong masuk.
"Waaww rumah yang sangat besar, tampaknya Nona Kinara ini bukan orang biasa." Puji Anton.
"Aku belum menyuruhmu masuk, kenapa kau sangat lancang.? Pergilah ! kita bicarakan masalah ini besok, sekarang sudah terlalu malam tidak baik jika kau tetap ada disini." Tegas Kinara.
"Aku akan pergi setelah mendengar jawabanmu."
"Akan aku jawab besok." Balas Kinara singkat.
"Oohh baiklah, berapa harga yang kamu siapkan untukku.?" Ucapnya dengan mata tak henti menjamahi tubuh Kinara dari atas sampai ke bawah.
"Mengingat harga tertinggi saat ini adalah 50 juta, apa kamu akan memberikan lebih.? 60 70 80 atau mungkin 100 juta, tapi maaf Kinara aku bosan dengan uang, uang tidak lagi menarik untukku."
"Apa yang kau bicarakan ini.?"
"Ayolah Kinara, dunia model itu sangat menguntungkan berapa yang kamu bisa peroleh dari pekerjaan ini ? kamu akan mendapat untung besar Sayang."
"Hentikan bicaramu ! keluarlah !" Usir Kinara. Kinara mulai merasa tidak nyaman, Kinara merasa ada hal yang diinginkan Laki-Laki yang mirip dengan lelaki hidung belang ini.
"Tunggu Kinara," Karena meras tidak diperlakukan dengan baik Anton mulai geram. "Jika kau mengusirku aku bisa membuatmu keluar dari kompetisi itu saat ini juga." Bentak Anton, dia merasa kesal pada Kinara yang sulit diajak negosiasi.
"Ooh aku mengerti, rupanya itu yang kamu maksud.? Kau mengancamku.?" Dengus Kinara.
"Ya ! aku bisa membuatmu di diskualifikasi dari ajang berharga itu." Teriaknya.
"Silahkan lakukan sesukamu ! kau kira aku keberatan ? kau kira aku takut.?"
"Kinara, aku bisa melaporkanmu, tindakan mu sangat membuatku tidak senang." Ancamnya.
"Tidak senang.? Oohh, jadi apa yang bisa membuat mu senang.?"
Anton melangkah lebih mendekati Kinara.
"Cukup mudah Sayang." Antos membelai halus pipi Kinara dan langsung menepisnya.
"Ajang ini sangat menguntungkan Sayang" Anton memegang tangan Kinara dan mengecupnya halus. Dalam vidio call Rayhan yang melihat Istrinya diperlakukan seperti itu oleh Anton Rayhan terus mengutukinya, Rayhan Geram Rayhan emosi, Rayhan marah, kalau saja jarak dirinya dengan Anton berdekatan pasti Rayhan sudah menghabisinya.
"Aku tidak akan meminta uangmu Sayang, cukup temani aku malam ini, besok dan seterusnya aku pastikan jalan didepanmu lurus menuju mimpimu, bukan hanya bisa memenangkan kompetisi ini kamu juga bisa menjadikanmu artis terkenal lewat tanganku, bagai mana mudah 'kan.?" Anton terus mengusap halus pipi Kinara.
"Hentikan bicaramu !" Braakkkk.... Kinara memukul Anton dengan sekali pukulan dia langsung terdorong kebelakng.
Anton segera menegakkan tubuhnya, "Apa-Apaan ini Kinara? aku bisa melaporkanmu dengan motif kekerasan, atas perlakuan kasarmu aku bisa membuat hari hari mu merasakan dinginnya lantai penjara !" Ancam Anton.
"Lakukan ! lakukan itu ! lelaki keparat, kau fikir aku perempuan murahan ? Heuuhhh.?"
"Jangan munafik Kinara ! jangan so' suci, berapa banyak perempuan yang berkata sepetri itu kepadaku, tapi demi ketenaran mereka telah berpuluh puluh kali aku tiduri demi sebuah agensi yang aku rekomendasikan, dan mereka yang telah menuruti permintaanku, saat ini pengorbanan mereka sudah terbayar lunas mereka terkenal, mereka kaya raya, mereka hidup berkecukupan, itu semua aku, aku yang melakukanya, aku yang telah membukakan jalan ketenaran untuk mereka !" Berang Anton.
"Persetan dengan ketenaran aku minta kau pergi sekarang juga !" Teriak Kinara.
"Aku suka dengan perempuan sepertimu, galak. Diatas ranjang, perempuan sepertimu akan sangat agresif, betul bukan.?" Perlahan Anton berjalan mendekati Kinara sambil melepas satu persatu kancing kemejanya. "Bersiaplah Sayang."
Dibalik layar Rayhan tampak bersitegang atas kejadian yang tengah dialami Kinara.
Anton telah berjalan mendekat tetapi Kinara tidak dedikit pun mundur apalagi merasa takut, dia hanya menatap Anton dengan tatapan muak dan benci.
"Tetap ditempatmu ! Selangkah lagi kau melangkah, aku pastikan setelah ini kau tidak akan muncul lagi didepan mukaku !" Ancam Kinara.
"Uuuuccchh Ckkck aku kau kira aku takut.?" Ucap Anton. Setelah itu Anton melompat hendak mengekang tubuh yang telah lama ia bidik itu, malam ini adalah saat yang telah lama Anton rencanakan. Sejak kompetisi itu dibuka dengan Kinara sebagai pesertanya Anton sudah mulai tergiur utuk meniduri Kinara. Anton kira Kinara sama dengan perempuan lain yang bisa dengan mudah ia perdaya. Awalnya Anton berlaga melakukan megosiasi halus dengan menawarkan berbagai keuntungan terhadap Kinara, tapi Kinara malah menolaknya mentah hingga membuat Anton geram dan marah besar.
Namun, apa yang Anton rencanakan tidak sesuai rencananya, Kinara yang Anton anggap perempuan lemah ternyata lebih kuat dari yang difikirkannya, pasalnya kepalan tangan Kinara lebih kuat dari tendangan seekor sapi dewasa dan telah mendarat disebelah wajahnya.
"Pergi sekarang juga !" Teriak Kinara Anton yang telah mendapatkan pukulan kedua dari Kinara pun merasa tak bisa lagi menahan dirinya. Anton kembali mengancam Kinara, ia mengancam akan mengadukan kejadian tidak menyenangkan ini kepada kepala rektor dapat dipastikan Kinara akan dikeluarkan dengan sangat tidak hormat dari kampus, tapi Kinara tidak sedikitpun meras takut ataupun terancam Kinara malah menantang Anton, Kinara malah balas mengancam Anton dengan mengatakan setelah kejadian ini Kinara akan memastikan Anton hidup dijalan, menjadi gelandangan.
__ADS_1
"Kau pergi atau ku habisi.?" Teriak Kinara, mengancam. Anton yang telah merasakan dua pukulan diwajahnya terpaksa pergi dengan tangan kosong, tapi sebelum pergi Anton kembali menunjuk Kinara penuh ancaman.