Istri Terbaik Pilihan Ayah

Istri Terbaik Pilihan Ayah
Villa 1


__ADS_3

Sesampainya dikantin.


"Kinar,? katanya loe lagi malas Kemana-mana tapi malah kesini," ucap Andini. Ia menarik kursi kemudian duduk dihadapan Kinara yang hari ini berwajah muram.


"Din, gue lagi malas bertemu Rayhan," ucapnya lirih, terlihat bermasalah.


"Loh kenapa,? berantem.?"


"Bukan, bukan," sanggah Kinara.


"Terus.?"


"Tadi pagi gue menukan amplop hsil CT scan Tamara didalam lemari Rayhan," tururnya sedikit kecewa.


"Ada yang loe khawatirkan,?" tanya Andini.


"Entah kenapa Tiba-Tiba saja perasaan gue hampa melihat itu Din, mungkinkah Tamara cukup berarti untuk Rayhan,? kalau tidak kenapa dia masih menyimpan hasil itu.? Harusnya, Rayhan tidak menyimpan apapun yang bersangkutan dengan perempuan lain apalagi Tamara."


Kinara melipatkan tangan dan menumpukan kepalanya disana.


"Jadi loe mengkhawatirkan itu,?"


Kinara mengangguk.


"Kejadian malam itu masih menghantui gue Din, gue takut Rayhan tidak bisa percaya gue."


"Apa yang paling membuat loe takut.?"


"Ya gue takut Rayhan belum bisa sepenuhnya percaya sama gue atas kejadian itu."


"Gue rasa loe sebenarnya bukan takut Rayhan gak bisa percaya sama loe. Yang loe khawatirkan sekarang adalah kehilangan Rayhan 'kan.?"


Seketika Kinara menatap Andini dengan intens.


"Apa alasan kamu mengatakan hal aneh itu."


"Kinara, loe sadar gak sih kalo loe itu sedang cemburu.?"


Kinara menggeleng.


"Loe tidak terima'kan Rayhan menyimpan barang yang bersangkutan dengan perempuan lain, itu namanya loe cemburu Kinar.


"Apa mungkin seperti itu.? Aku rasa tidak Din, aku tidak mungkin sedang mencemburui Rayhan."


"Jangan menyangakal Kinara,! loe berhak untuk cemburu dia suami loe, tapi dari pada malah menjadi salah paham baik loe tanyakan sendiri kepada Rayhan,"


"Gue gak bisa, Din."


"Kinara, kalo loe tidak bertanya langsung bagai mana loe tau kebenarannya, dan sampai kapan loe akan menghindari Rayhan seperti ini,? apa loe tidak memikirkan perasaan Rayhan ? apa dia tidak bingung dengan sikap loe yang Tiba-Tiba berubah tanpa alasan. Apapun yang akan terjadi baiknya loe tanyakan dulu semua ini, Kinara jangan biarkan masalah terlarut-larut, jangan sampe rasa cemburu loe ngehalangin loe untuk meminta penjelasan dari Rayhan."


Kinara termenung dengan penjelasan Andini.


"Pergilah ! loe harus selesaikan masalah ini, mungkin saja Rayhan menyimpan hasil itu dengan maksud tersendiri yang loe gak tau."


Kinara mengangguk setuju meskipun sedikit tidak yakin dirinya akan melakukan itu (bertanya langsung).


Tanpa meneruskan tujuan awalnya Kinara berdiri untuk kembali kedalam kelas, fikirannya Benar-Benar kalut dan sedih, kertas amplop tersebut membuat hatinya Gundah-Gulana.


Rayhan, dia bergegas melangkah cepat berniat mencari Kinara tapi belum juga jauh meninggalkan ruang kelas, Rayhan berpapasan dengan Aman dan Bayu yang Kemana-mana selalu berdua.


Rayhan pun berhenti untuk sekedar menyapa mereka, "Ya Tuhan, Man kapan loe jalan gandeng istri ? gandeng Bayu mulu, awas loh ! jangan sampe keterusan," ucap Rayhan setengah meledek.

__ADS_1


Aman mendorong kecil tubuh Rayhan [bercanda], "Mentang-Mentang sudah punya istri sekarang dia mulai ngeledekin kita Bay," ucap Aman, sakilas irish mata berwarna hitam pekat itu menoleh Bayu.


"Selain ngeledek, dia juga udah mulai lupain kita Man, sekarang Rayhan asik dengan ceritanya dan kebahagiaannya sendiri, jahatkan Man,?" imbuh Bayu dengan wajah kesal.


"Uusshh bukan begitu, jangan bicara seperti itu gue tidak bermaksud lupain loe berdua, tapi gue..." Rayhan yang awalnya cuma bercanda setelah mendengar ucapan Bayu ia pun berubah serius.


Mendapati Rayhan mulain tersinggung, Aman segera menghentikan candaanya, "Tenang aja Ray, kita bercanda kok, ia kan Bay, ?" ucap Aman sambil tertawa kecil.


Aman merangkul pundak Rayhan yang kemudian merangkul pundak bayu.


Bayu pun ikut tertawa kecil, "Aman bener, kita gak Apa-Apa kok, ditinggali loe selamnya juga gak akan ada yang rebut, tapi ingat ! loe jangan pernah tinggalin Kinara karena selangkah saja loe menjauhinya, kami datang sepuluh langkah untuk mendekatinya." Perkataan bayu sontak mengundang mata Rayhan untuk memelototinya tak rela.


"Siapa juga yang mau ngelepasin dia sejengkal pun gak akan gue lakukan, gue bakal melindunginya dengan tubuh bue, gak akan membiarkannya lepas sedikit saja karena gue tau dibelakang gue banyak Kucing-Kucing kelaparan sudah bersiap untuk merebut Kinara dari gue."


Aman dan Bayu kembali tertawa mendengar kebucinan Rayhan.


"Loe Kira gue kucing," ucap Bayu.


Aman menepuk punggung Rayhan, "Loe harus nikmati Masa-Masa bahagia loe bersama Kinara, bahagiakan dia! gue yakin cuma loe yang bisa melakukan itu."


Rayhan pun tersenyum, senyum bahagia, "Terima kasih," ditatapnya Aman dan Bayu bergantian. "Terima kasih karena udah ngerelain Kinara buat gue," ucap Rayhan.


"Siapa juga yang rela enggak kali Ray," canda Bayu.


Saat tengah berangkulan dan tertawa bersama Aman dan Bayu, Rayhan menyadari kehadiran seseorang dibelakangnya, yang ternyata dia adalah Kinara yang baru datang bersama Andini.


Rayhan tersenyum lebar kepada Kinara, akhirnya perempuan yang sedari ditunggunya datang menghampiri meskipun tanpa sengaja mereka dipertemukan ditempat itu.


"Kinara," sapa Rayhan, dia langsung melelenggang untuk mendatangi Kinara, namun sebuah panggilan sempat menghentikannya dan mengubah senyum dibibirnya menjadi kepanikan, "Apa,?" bentaknya karena terkejut. "Mamah terjatuh dan pingsan di Villa.?"


Mendengar itu Kinara pun ikut panik.


"Ray ada apa kenapa loe panik gitu,?" tanya Andini.


"Mamah terjatuh dan sekarang belum sadarkan diri," jawab Rayhan.


"Apa,?" mereka terkejut kompak.


"Gue Harus kesana sekarang," ucap Rayhan.


"Aku ikut Ray," pinta Kinara.


Rayhan mengangguk.


"Tunggu sebentar," terlebih dahulu Kinara mengambil barang yang ia tinggalkan didalam kelas.


Tak lama kemudian Kinara pun kembali, Rayhan yang telah tak sabar menunggunya segera memegang dan menarik jemari Kinara kemudian berlari Terburu-buru, Kinara sendiri mencoba menyeimbangkan langkahnya dengan langkah lelaki yang tengah berlari sambil menuntunnya.


"Kak Indra !" ucap Kinara saat melihat Indra berdiri tengah menunggunya.


"Rayhan Kinaraa cepat masuk !" suruh Indra.


Tanpa fikir panjang Kinara dan Rayhan pun segera masuk kedalam mobil Indra yang akan mengantarnya sampai di Villa.


Kepanikan jelas tergambar diwajah Rayhan, selama perjalanan ia tak banyak Berkata-kata Rayhan hanya diam membisu, Kinara yang melihat kekecauan diwajah Rayhan juga tak bisa berbuat Apa-Apa selain diam, Rayhan tetap begitu sampai mereka tiba di Villa.


Beberapa meter sebelum sampai di Villa, Tiba-Tiba mobil Indra mendadak mati, "Aduh sial." Indra memukul kemudi dengan kesalnya.


"Kenapa Kak,? tanya Kinara, ia terheran saat melihat Indra yang Tiba-Tiba marah.


"Kakak lupa isi bensi Kinara."

__ADS_1


Kinara melotot, "Hah terus gimana dong.??"


"Kakak minta maaf," ucap Indra. "Ray," Indra menoleh kebelakang. "Sekarang loe gimana mau ikut cari bensin atau turun disini.?"


"Aku belum tau lokasi disini Kak," ucap Rayhan sambil melihat sekitar yang cukup asing baginya. "Tapi apa Villanya masih jauh,?" tanya Rayhan tidak sabar.


"Tidak ! jaraknya tinggal beberapa meter lagi, kalo jalan kaki pun tidak sampai lima belas menit kalian sudah sampai di Villa."


"Kalau gitu kita turun disini aja," ajak Kinara. "Dari pada ikut Kak Indra nyari bensin yang mungkin akan lama juga, lebih baik kita turun dan jalan kaki."


Rayhan mengangguk setuju, "Baiklah aku setuju, kami turun disini aja Kak." Ucap Rayhan. Kemudian mereka berdua pun turun dari mobil meninggalkan Indra yang tengah tersenyum jahat.


"Kalian ikuti saja jalan ini sampai mentok, kalo nggak salah Villa paling ujung."


Rayhan mengangguk mengerti, begitu juga dengan Kinara.


Setelah berjalan kurang lebih sepuluh menit mereka berduapun sampai, Rayhan berdiri didepan Villa sambil mencockkan nomor rumah di handphone dan nomor rumah yang tertera didepannya.


Tanpa fikir panjang lagi, Rayhan langsung masuk kedalam Villa dengan jemari yang masih memegang erat jemari Kinara, seolah tak membiarkan Kinara jauh dari sisinya.


Dibukanya pintu Villa sesuai nomor yang dikirim Rahman kepadanya, sebelumnya Rayhan sempat berfikir akan ada kegaduhan dan kepanikan didalam Villa tersebut seperti mana yang didengarnya tadi didalam telpon.


Setibanya didalam ruangan Rayhan termenggu dengan mata memutar memerhati sekeliling, Villa yang didominasi dengan lampu kuning ke jinggaan ini tidak ada Tanda-Tanda kepanikan seperti yang difikirkannya, yang ada disini hanya suasana hening dan tenang bahkan hampir tak ada suara yang akan mengusik ketentraman, Rayhan berjalan perlahan menyusuri sudut ruangan yang dipenui aroma mawar yang menenagkan dari lilin yang dibiarkan menyala, tapi meski begitu kepanikan masih memenuhi fikirannya.


"Mah," panggil Rayhan, dia berjalan untuk mengecek tiap sudut ruangan mencari keberadaan Karin, sedangkan Kinara masih berdiri ditempatnya menikmati suasana Villa yang berbau romantis.


Rayhan telah menyusuri tiap ruangan dan Memanggil-Manggil Karin yang mungkin ada disana, tapi tak ada sahutan apapun didalam ruangan tersebut, hanya keheningan yang menenangkah.


Suasana semakin sejuk dan sepi mengingat waktu yang kini telah mulai senja.


"Ray, apa mungkin Mamah sudah dibawa kerumah sakit,?" tanya Kinara.


"Kamu benar Kinara," sahut Rayhan, dia hampir tidak berfikir samapai kesana, untuk itu Rayhan segera merogoh sakunya mengambil benda pipih yang akan ia gunakan untuk menelpon Rahman menanyakan ke Rumah Sakit mana Karin dibawanya.


Sebelum menekan tombol panggil sebuah pesan dari Rahman pun masuk, "Ray, Ayah, Mamah dan Kak Indra pulang dulu, maaf sudah jahil, selesaikan apapun yang belum kamu selesaikan," setelah selesai memacanya, Rayhan menunjukan pesan itu kepada Kinara sambil terkekeh geli.


"Kita dijebak, Kinara." Ucap Rayhan. Ia menggeleng dan ternyum kesal karena telah berhasil dijahili Orang Tuanya.


Dibacanya pesan yang ditunjukan Rayhan, dan bersamaan Tiba-Tiba Kinara merinding ngeri, tampaknya dalam pesan tersebut mengandung konten 21+.


Tatapan Rayhan pun kini berubah lain, di matanya tak ada lagi kecemasan dan kepanikan seperti sebelumnya, Kinara malah mencium aroma fikiran yang mulai kurang beres diotak Rayhan.


Perlahan Rayhan pun mendekati Kinara, sepertinya sang pemburu telah siap melahap habis mangsanya.


"Ray," Kinara bergidik ngeri melihat sorot mata Rayhan.


"Bolehkah aku menikmati kesempatan ini,?" ucap Rayhan mulai menunjukan kenakalannya sebagai lelaki.


"Apa yang akan kau lakukan Ray," Kinara memeluk tubuhnya mencoba berlindung dari Rayhan, "Aku mohon jangan !"


Di pegangnya kedua belikat Kinara dari arah depan, dan tanpa fikir panjang Rayhan langsung menyeret Kinara lalu mendudukkannya diatas kursi.


Melihat perubahan sikap Rayhan, Kinara Benar-Benar dibuat ngeri, "Apa yang akan kamu lakukan Ray," tanya Kinara memastikan.


Seluruh tubuhnya menegang, fikirannya meracau keasana kemari tak karuan.


"Duduklah dulu !" suruh Rayhan. "Aku akan lihat apa disini ada kamar lain yang bisa aku tempati atau tidak.?"


Setelah mendudukkan Kinara Rayhan melenggang untuk mencari kamar yang ia maksud.


Kinara pun Kini bisa bernafas lega karena Rayhan belum menuntut haknya.

__ADS_1


__ADS_2