
Waktu telah menunjukan pukul 20:45. Sementara Kinara masih belmum juga kembali.
Rayhan pun mulai kesal dan resah, percakapan yang melingkupi ruangan tak serta merta menghilangkan rasa sepinya.
Aman, Bayu Indra juga Safiq tengah bercengkrama bebas, sesekali mereka tertawa kecil mengikuti pengalaman lucu yang mereka ceritakan secara bergantian.
Rayhan pun ikut menyimak kisah mereka, tapi tak ada satu pun kisah mereka yang bisa menarik bibirnya untuk tersenyum. Rayhan kadang menoleh kiri dan kanan untuk sekedar membuang kejenuhannya.
Lima belas menit kemudian seseorang yang ditunggu Rayhan akhirnya datang dengan menteng rantang makanan. Kinara melemparkan senyumnya saat mendorong pintu memasuki ruang rawat Rayhan.
"Kin..
Rayhan tak jadi memanggil Kinara sebab suaranya kalah lantang dari suara Aman.
"Kinara," panggil Aman sambil melambaikan tangannya.
Kinara tersenyum kepada semua orang tak terkecuali Aman yang duduk cukup jauh dari Rayhan, "Terima kasih udah datang," ucap Kinara sambil duduk bersama mereka.
"Kin..
Panggilan Rayhan kembali tersalip, kali ini oleh Indra.
"Kinara, kau bawa apa,? aromanya harum sekali sampai menggoda hidung Kakak," sahut Indra.
Sementara Rayhan memanyun kesal.
"Ooh ia lupa Kinara bawa makan malam, silahkan !" Kinara membuka bingkisan yang dibawanya untuk mereka nikmati.
Sementara Kinara asik berkumpul bersma mereka, Rayhan begelut kecewa karena merasa diasingkan.
"Kenapa marah,?" tanya Kinara yang kemudian duduk dismping ranjang Rayhan.
Seketika Rayhan menoleh sumber suara yang tengah tersenyum gemas padanya.
Melihat Kinara telah duduk disampingnya Rayhan pun tersenyum. "Tidak ! aku hanya kesepian," sahut Rayhan. "Dari mana,? kenapa lama sekali,?" tanya Rayhan.
"Ooh ia aku minta maaf. Tadi aku pulang sebentar, untuk itu aku meminta mereka datang untuk menemanimu," jelas Kinara.
Rayhan mengangguk mengerti, "Tapi mereka hanya mengganggu tidurku," decak Rayahan, kesal.
"Aku minta maaf !" pinta Kinara.
"Baiklah kali ini aku maafin, lain kali tak ada ampun," ancam Rayhan.
"Loh kenapa,?" sahut Kinara.
"Bukankah sudah aku peringatkan, tak boleh pergi kemana pun tanpa izin dari ku !" ujarnya menekan.
Kinara menyernyit dan memonyong dengan reaksi menggemaskan. "Ya aku tau, tapi bukannya aku sudah minta izin, kamunya aja yang nggak denger," balas Kinara.
"Ikkh kapan,?" tanya Rayhan.
"Saat kamu tidur," berbisik Kinara dan kemudian membuang wajah yang tak merasa bersalah itu.
"Oohh begitu rupanya, kau mulai pandai mencari kelemahan ku Kinara?." Rayhan mencubit gemas kedua pipi Kinara. Karena kesakitan Kinara balas menggelitikinya hingga Rayhan pun tertawa geli.
"Sudah ! sudah ! aku nggak kuat lagi," pinta Rayhan tapi Kinara tidak mengindahkannya, Kinara malah makin menjadi.
"Akhirnya Rayhan kembali tertawa," ucap Bayu setelah menoleh kedua pasangan yang tengah tertawa bahagia.
"Ia, gue jadi seneng dengernya," timpal Aman.
Bayu memangut setuju.
"Loh emangnya Rayhan kenapa,? dia berhenti tertawakah ?" tanya Safiq ditengah mengunyah makanannya.
"Bukan hanya tawanya aja yang berhenti tapi semangat hidupnya juga hilang," jelas Indra.
Safiq menghentikan kunyahannya, "Apa benar begitu,? kenapa,?" tanya Safiq.
"Betul Om, sepulangnya dari Villa sikap Rayhan berubah 100% dia jadi pendiam," bisik Bayu.
"Bukan hanya itu Rayhan juga sering melamun sendiri, aku jadi bingung," tambah Aman.
Bayu mengguk setuju, "Bukankah mereka habis bulan madu yah,?" tanya Bayu setengah berbisik. "Tapi aku lihat tampaknya hari itu Rayhan kurang senang ada apa.?"
"Bulan madunya gagal," ucap Indra enteng ia tetap fokus memakan makanan yang sengaja dibawa Kinara.
"Apa,??" teriak Aman, Bayu, juga Safiq mereka sama terkejut.
Saking kuatnya teriakan mereka Sampai-Sampai Kinara dan Rayhan sama menoleh dan menyernyit heran.
Seketika Aman dan Bayu membekap mulutnya.
Safiq pun meringis sambil bersiut pelan.
"Kita lanjutkan, kita lanjutkan," ucap Safiq setengah berbisik.
__ADS_1
"Dra, tapi kenapa waktu itu kamu cuma ngasih tau tentang salah paham itu, kamu nggak bilang honeymoon mereka gagal," tanya Safiq masih berbisik.
"Salah paham,?" timpal Aman dan Bayu bersamaan kemudian mereka saling menatap penuh tanya.
"Sudah jangan Keras-Keras," sahut Indra.
"Sini, sini," Indra meminta mereka untuk lebih merapat, Indra pun berbisik.
Setelah mereka lebih merapat Indra mulai menceritakan semua kejadian yang menimpa Rayhan saat di Villa.
Saat mereka berkumpul dan lebih merapat Rayhan bertanya kepada Kinara, "Mereka lagi ngapain sih,? kayaknya serius sekali.?"
Kinara pun sekikas berbalik untuk melihat mereka, lalu menjebi sambil menaikkan kedua belikatnya.
"Diskusi orang dewasa mungkin,"
Rayhan menggeleng dan tersenyum kecil, "Ada-Ada saja."
Tak lama kemudian Bayu menggeleng prihatin, "Mengenaskan !" pungkasnya.
Aman mengangkat kepalanya dari kerumunan. "Dan akhirnya gagal, ponakan baru pun harus tertunda," decak Aman sedikit kecewa.
"Cucu ku," sahut Safiq.
"Sudah, sudah jangan lebay gitulah, apaan sih jadi pada lebay deh, tapi sekarang aku bersukur akhirnya sikepala batu itu tau kebenarannya." Yang Indra sebut dengan kepala batu itu adalah Kinara.
Safiq pun mengangguk dan menghela lega. "Ayah juga senang walau sempat tegang," tambah Safiq. Saat mengatakan itu Indra langsung menatap Ayahnya intens.
"Tapi menurut kondisi yang terjadi saat ini, sepertinya tak lama lagi kita akan segera punya ponakan baru," ucap Bayu yang diikuti Aman, mereka berdua tampak begitu kesenengan.
"Cucu ku OTW," timpal Safiq.
Melihat mereka yang sedang tertawa kesenengan Kinara kembali menoleh.
"Aneh sekali mereka malam ini," heran Kinara. "Kira-Kira apa yang mereka bahas,?" tanya Kinara.
Rayhan menggeleng tak tau.
"Ponakan baru ponakan baru," bisik Aman dan Bayu sama kesenengan.
Tak lama kemudian Indra pun mengikuti kekonyolan mereka, "Ponakan baru, ponakan baru," ucapnya setengah berbisik sambil Menepuk-nepuk kedua tangannya pelan.
"Tunggu !" pinta Bayu.
"Dibanding Kinara bukankah Bang Indra ini sudah lebih pantas memberi kami keponakan ya,?" celetuk Bayu seenaknya.
"Sudah malam tidak baik terus disini, nanti ganggu," ucap Indra mengalihkan topik pembicaraan. "Lebih baik kita segera pulang !" tambahnya sambil melenggang pergi.
"Om kapa...." Bayu melirik Safiq.
Secepat kilat Safiq memotong pertanyaan Bayu. "Jangan bertanya sama Om, Om tidak tau, kalau punya calon baik segera usulkan siapa tau berjodoh," sahut Safiq.
"Jangankan untuk Bang Indra untuk saya sendiri saja masih Remang-Remang," ujar Bayu bernada kesal.
"Sudah, sudah perempuan masih banyak nanti kita cari bersama, kalau bukan hari ini masih ada hari esok, kalau besok masih ada lusa, kalau bukan lusa masih ada minggu depan, bulan depan taun depan," papar Aman.
"Semoga saja jodoh kita nggak mati dalam kandungan ya Man," ucap Bayu sambil merangkul Aman Berpura-pura menyedihkan.
"Ikh duduk bersama kalian Om jadi ngerasa sedang nonton drama kisah sedih dan mengenaskan," tukas Safiq yang kemudian merapihkan pakaiannya.
Bayu melepaskan pelukannya dan ingin beralih memeluk Safiq.
"Tunggu ! Om gak mau ketularan, lebih baik Bayu mundur ! Om akan segera pulang Om tidak mau Ikut-Ikutan aneh kayak kalian" ucap Safiq sambil berdiri dari duduknya.
"Disini cuma loe yang aneh. Baiklah gue juga pulang dulu," sambung Aman sambil berjalan membuntuti Safiq.
"Man, Man," Bayu sedikit menoleh ke meja dibelakang yang masih berantakan.
"Ini siapa yang... hadeeehh, hei Man tanggung jawab," Bayu berdecak frustasi.
Bayu menggerutu kesal pasalnya teman semejanya sudah pada pergi dan sisa makanan dibelakang pasti dirinya yang harus beresin.
"Loe, loe, Man, Man" teriak Bayu saat Aman melenggang keluar dari ruangan Rayhan meninggalkan dirinya, tapi tentunya setelah pamit terlebih dahulu kepada Rayhan.
Iissshhhh... Desah Bayu kesal.
Dengan berat hati Bayu merapihkan sisa makanannya di meja.
"Bay, sudah biar gue aja," tutur Kinara sambil merengkuh dan merapihkan sisa sampah yang berserakan di meja.
"Sudah ! tidak Apa-Apa biar gue aja, nggak enak juga, gue yang makan orang lain yang beresin hiisss," desis Bayu tampak tak ikhlas.
"Yasudah sini biar gue bantu," ucap Kinara sambil mengambil tas sampah yang dipegang Bayu.
Setelah selesai Kinara kembali ke sisi Rayhan, disana Safiq masih duduk dan tengah berbicara dengan Rayhan.
"Kinar, Ayah pamit ya Nak, maaf nggak bisa nemenin kalian," tutur Safiq sedikit menyesal.
__ADS_1
"Tidak Apa-Apa, terima kasih udah datang Ayah," sambung Kinara sambil memeluk Safiq.
"Sama-Sama," ucap Safiq kemudian melepaskan pelukan Kinara.
Safiq melembai lembut kepala Rayhan. "Ray, Ayah pamit dulu, cepat sembuh ya !"
Rayhan tersenyum, "Hati-Hati dijalan Ayah !" balas Rayhan.
"Ray, gue juga pamit ya cepat sembuh Bro !"
"Terima kasih udah jenguk gue," timpal Rayhan.
"Mari Kinara antar," pinta Kinara dan kemudian Safiq pun mengangguk setuju.
Tak lama setelah kepergian mereka Kinara kembali duduk disamping Rayhan.
"Ray," ucap Kinara sambil menunduk malu atas dirinya.
"Kenapa sayang,?" tanya Rayhan sambil mengangkat dagu Kinara.
"Aku minta maaf !" sahut Kinara menyesal.
Rayhan tersenyum. "Sudah aku maafkan sayang," ucap Rayhan setengah berbisik.
Kinara menggeleng, "Aku sungguh minta maaf, aku yang membuatmu begini Ray, aku yang menyebabkan mu masuk rumah sakit," sesal Kinara. Airmata penyesalannya mulai berlinang dipelupuk mata.
"Siapa bilang,?"
"Kalau saja waktu itu aku tidak egois mungkin kamu tidak akan menungguku dan berdiri ditengah derasnya air hujan, dan kamu tidak akan seperti ini." Kinara kembali menunduk menyesal.
"Kinara," panggil Rayhan, tapi Kinara masih menunduk menyesal.
Digenggamnaya jemari Kinara, "Sayang, kau tidak perlu bersedih seperti ini, aku yang ceroboh Kinara tak boleh menyalahkan diri sendiri, aku tidak Apa-Apa, sakit ini adalah takdir Kinara tak boleh menagis," tutur Rayhan sambil menyeka air mata Kinara.
"Tapi Ray,"
"Sudah, aku tidak Apa-Apa, sebentar lagi aku juga sembuh."
Sebentar Kinara terdiam.
"Ray,"
"Ia kenapa sayang,?" jawab Rayhan lembut.
"Aku minta maaf atas kesalah pahaman itu,"
"Kau sudah tau kebenarannya sayang,?" tanya Rayhan.
Kinara mengangguk.
Rayhan tersenyum bahagia, "Baguslah aku senang dengarnya."
"Apa kau mau memaafkanku Ray,?"
"Kemarilah," Rayhan membuka tangan dan merentangkannya.
Kinara yang masih Malu-Malu pun menuruti perintah Rayhan.
Didekapnya Kinara sekuat mungkin, "Aku hampir putus asa untuk membuatmu percaya, tapi sekarang aku lega karena kamu sudah tau kebenarannya dan sekarang kamu percaya aku kan,?" tanya Rayhan sambil menatap Kinara yang kini tengah bersedakap didalam pelukannya.
"Sedikit," ucap Kinara enteng.
"Tidak Apa-Apa sedikit yang penting ada kepercayaan kepadaku dihatimu," ujar Rayhan, sesekali dia mencium pucuk kepala yang memiliki aroma khas yang membuatnya selalu merindu.
Tak ada ranjang tidur, ranjang rawat pun jadi. Begitulah, Rayhan memeluk Kinara erat dan membiarkannya terus dalam dekapannya.
"Ray," panggil Kinara, matanya sayu hampir terpejam.
"Hmm," jawab Rayhan.
"Bolehkah aku tetap begini sebentar lagi,?"
"Tentu sayang, silahkan !"
"Terima kasih," ucap Kinara sekilas mendongak wajah dan saat bersamaan Rayhan mengecup keningnya.
Selepas Rayhan mengecup keningnya Kinara masih menatapnya sendu.
"Ada apa,?" tanya Rayhan sambil tersenyum gemas dan Kinara pun menggeleng sambil tersenyum bahagia, sangat manis.
Malam kian larut, sunyi membengkap ruangan VIP yang Rayhan tempati saat ini, disampingnya seorang perempuan cantik telah terlelap sejak satu jam yang lalu, sementara matanya masih enggan untuk terpejam.
"Kinara," ucap Rayhan pelan.
Rayhan tersenyum gemas saat menatap Kinara yang tengah tertidur lelap. Saat tertidur Kinara lebih terlihat imut, lebih feminim, ke tomboyannya pun sejenak hilang.
"Kinara, waktu berjalan begitu singkat, secepat itu kita bertemu dan kemudian menikah. Masih ku ingat saat dirimu memukulku diarea balapan, itulah kali pertama kita bertemu, saat itu kau hampir membuat wajah ku hancur. Dan secepat ini kau membuatku takut kehilanganmu Kinara." Dibelai dan disirnya rambut hitam Kinara. Lewat sentuhannya Rayhan seolah menumpahkan segala isi hatinya, segala rasa sayang, segala rasa cintanya untuk Kinara.
__ADS_1