
Rayhan berdiri mematung dibelakang Kinara yang hanya terpisah sebuah dinding kaca. "Kinara, kapan kau akan jujur kepadaku tentang Fahmi,? aku hanya ingin memastikan milik siapakah hatimu itu.? Aku memang telah dituliskan menjadi suamimu, menjadi pemilik seutuhnya jiwa ragamu, tapi aku tidak tau apa aku tertulis sebagai pemilik hatimu.?"
Di perhatinya Kinara yang tengah menjemur pakaian dibawah teriknya matahari, sesekali mata Kinara menyipit menghalau kilauan cahaya yang menusuk irishnya.
Setelah selesai menjemur pakaian, Kinara kembali disibukan dengan merapihkan tiap sudut ruangan yang ada dirumah sederhana tersebut. Setelah bagian dalam selesai, Kinara kembali disibukkan dengan merapihkan bagian halaman yang kini tengah ditatanya serapih mungkin, maklum jika rumah dua lantai ini terlihat sedikit berantakan dikarnakan keluarga Rahman baru beberapa minggu tinggal ditempat ini dan belum sempat mencari PRT, juga karena kesibukan masing-masing rumah ini jadi sedikit kurang teratur.
Kinara masih berputar mengatur setiap tataan rumah yang dua hari ini telah ditempatinya setelah sah diperistri lelaki tampan Sang Pemilik Rumah.
Aktivitas juga kesibukan Kinara tak lepas dari perhatian seorang Rayhan, meskipun terlihat cuek saat bertatapan langsung dengan Kinara, tetapi sebenarnya Rayhan sangat peduli kepada Kinara.
Seperti saat Kinara memangku beberapa barang yang terhitung berat, Rayhan tergerak untuk membantunya namun kembali urung saat melihat Kinara mampu melakukan hal tersebut sendirian.
"Apa yang tak bisa dilakukannya.?" Guman Rayhan ditengah memeperhatikan aktivitas Kinara.
Jam telah menunjukan pukul 15:15. Saat Kinara mengakhiri aktivitasnya. Bukan mengakhiri lebih tepatnya beralih, berhenti dari satu aktivitas menuju aktivitas selanjutnya.
Hari ini adalah hari terakhir Kinara melatih Faldi, besok tepatnya hari senin Faldi sudah mulai mengikuti seleksi dalam kompetisi kebanggaannya tersebut.
Kinara termenung didepan kamar Rayhan. Perasaan bingung cukup bergelayut difirannya, apa ia harus masuk kedalam kamar didepannya,? atau apa yang harus dia lakukan, ? entahlah Kinara tak tau harus berbuat apa, tapi mendengar penuturan Rayhan tadi sepertinya dia dituntut masuk kedalam ruangan ini.
Saat dibuka kamar ini tak jauh beda dari kamar yang sebelumnya yang ia tempati, hanya saja kamar ini terlihat begitu rapih, menggmbarkan Sang Penghuni gila kebersihan.
Setelah cukup memerhati kamar tersebut Kinara melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai membersihakan diri Kinara keluar dengan kimono panjang yang menutupi tubuh yang telah kembali segar, Rayhan sendiri kini tengah duduk menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur dengan mata yang terus mencuri pandang kepada Kinara.
Tanpa menoleh Rayhan Kinara mengambil pakaiannya dan akan berganti dikamara lain. Kinara terpaksa melakukan itu, karena dirinya merasa tidak mungkin berganti didepan Rayhan. Cukup malam itu saja, kali ini Kinara tidak ingin kembali menampakkan lekuk tubuhnya didepan Rayhan seperti saat itu.
Selesai mengenakan baju, Kinara melanjutkan mengikat rambut hitamnya, didepan cermin terlihat bayangan dirinya yang terpantul sederhana, setelah mengikat rambutnya Kinara beralih ke plester luka yang beberapa hari ini akan setia menempel dipelipisnya. Ya, kepalanya kini tak lagi dibalut kain kasa lukanya sudah cukup mengering jadi tidak harus Repot-Repot melilitkan kain kasa yang memebuatnya pegal setengah mati.
Selesai semua urusan terhadap dirinya pribadi, Kinara lantas menyamabar tas rangsel kecil yang selalu menemaninya saat berpergian, sebuah media untuk menaruh baju ganti dan handphone dan keperluan lainnya.
Saat Kinara tengah mengisi tas rangsel tersebut, Tiba-Tiba.
"Kinara.?" Panggil Rayhan setengah menekan.
Setelah sempat berfikir mengenai kejanggalan dari nada suara Rayhan, Kinara menjawab, "Ya.?"
"Ada yang kau perlukan.?" Tanya Kinara tanpa menoleh Rayhan.
"Jawab pertanyaanku dengan jujur.!" Ucapan itu terlontar penuh tekanan.
"Apa yang ingin kau tanyakan.?" Kinara memberanikan diri untuk berbalik dan mencerna raut wajah Rayhan.
"Sejauh mana hubungan mu dengan Fahmi.?"
Degggg..
Meskipun terucap lirih, Kata-Kata itu cukup menusuk hati Kinara, ada kecewa dihatinya saat Rayhan menanyakan hal tersebut, disinilah saatnya ia memastikan bahwa Rayhan belum mempercayainya sepenuhnya.
"Apa aku perlu menjawab pertanyaan ini.?" Kinara mencoba tenang.
"Ya, tentu. Beri aku kepastian.!" Ucap Rayhan dengan nada menuntut.
Kinara menatap Rayhan tajam.
"Baiklah, Tapi aku tidak akan mengulangi penjelasan ini. Kuharap kau pahami baik-baik.!"
Mendapati ucapan Kinara seketika Rayhan merapatka bibirnya, diam mencoba mencerna.
"Aku tak pernah memiliki hubungan apapun dengan lelaki selain berteman, termasuk Fahmi." Tutur Kinara, mencoba menjelaskan hal tersebut setenang mungkin.
__ADS_1
"Kau bisa memastikan kata yang terucap itu berasal dari hati kecil mu, Kinara?" Tanya Rayhan ragu.
"Ya, tentu. Aku memang telah berteman lama dengannya tapi itu bukan berarti aku bisa dengan mudah mencintainya." Tambahnya memberi kepastian.
"Itu mustahil Kinara.!" Tiba-Tiba Rayhan meninggikan suaranya.
Kinara yang mendapati Rayhan tiba-tiba meninggikan suaranya mendongak dan menatapnya tajam.
"Apa maksudmu.?"
"Seorang perempuan dan seorang lelaki bertemu dan bersama setiap hari, menjalani aktivitas yang sama, menjalani hoby yang sama ! Dua tahun ! tidak cukup membuat kalian jatuh cinta.? Apa kalian yakin tidak memiliki perasaan lebih dari itu.?" Rayhan menggeleng dengan bibir menyiratkan senyum kecil tak percaya.
"Aku telah mengatakan yang sejujurnya, Rayhan."
"Aku rasa kau berbohong Kinara.!"
"Apa yang membuatmu berfikir bahwa aku tengah berbohong, Rayhan.?"
"Jelaskan ! kenapa kau selalu terlibat dengan Fahmi, kenapa dia selalu ada dimana kau berada.!"
"Kapan dan dimana.?"
"Aku tidak buta Kinara, aku bisa melihat semua aktivitas dan kebersamaan kalian. Dan aku dengar Fahmi pernah mengungkapka perasaannya kepadamu.!" Bentaknya.
"Apa karena hal tersebut kau menuntutku untuk mengungkap hubunganku dengan Fahmi,? yang kau lihat, yang kau dengar.? Kau menyimpulkan aku memiliki perasaan suka untuk Fahmi, ? perlu kau ketahui walaupun kami telah berteman cukup lama tapi perasaan suka itu tak pernah hadir untuk dia." Kinara mencoba menahan dirinya untuk tidak terpancing emosi atas ketidak percayaan Rayhan.
"Itu bohong Kinara, kau telah berbohong, kau sengaja menyembunyikan hubungan kalian.?"
"Hubungan apa yang kau maksud, Rayhan?"
"Hubungan yang kau jalani bersama Fahmi, Kau tau ? bukan hanya aku yang menyimpulkan ini, tapi orang lain pun sama Kinara, bukankah kedekatan kalian cukup tidak wajar.?"
"Tidak wajar.?" Kinara menyernyit tak mengerti akan maksud Rayhan.
"Oh ! jadi orang lain penyebab kau tidak pernah memepercayai ku,? kau lebih mempercayai ucapan orang lain Rayhan,? dan tak pernah mau mendengar penjelasanku.!? Kenapa Rayhan,? kenapa sulit sekali membuatmu percaya.?"
"Karena aku dan semua orang melihatnya, mereka semua tau hubungan kalian berdua itu tidak wajar, tapi kau masih mengelak.?"
"Ray.!? Kau tidak mempercayai ku.?"
Kinara menatap wajah lelaki didepannya untuk menelusuri kemungkinan tersimpan sedikit saja kepercayaan pada diri Rayhan.
Rayhan menggeleng.
Mendapat respon menyakitkan dari Rayhan lantas Kinara memalingkan wajahnya penuh kecewa.
Kinara mengangguk kecil, "Baiklah, itu terserah padamu. Aku tidak akan memaksamu mempercayaiku, aku telah berusaha semampuku untuk mengatakan ini kepadamu."
Kinara tersenyum penuh kecewa, "Tapi apa kau pernah mencoba mempercayai ku, Rayhan.?"
"Aku selalu mencoba mempercayaimu, mengenalimu, tapi kau selalu menghianati kepercayaanku.!"
"Bohong Rayhan, kau tak pernah benar-benar mempercayaiku, kau tak pernah Benar-Benar mencoba mengenaliku, jika benar itu semua kau lakukan lalu kenapa kau selalu menutup hatimu untuk mendengarkan langsung apa yang aku ucapkan, menerima langsung apa yang aku jelaskan.!" Kinar kembali menggeleng dan tersenyum kecewa, "Dibanding aku, bukankah kau lebih percaya ucapan Tamara, bukan.?"
"Sudahlah, aku lelah dengan sikap mu yang tak pernah adil dalam menjatuhkan penilaianmu." Kinara menyambar tas rangselnya kemudian berlalu pergi meninggalkan Rayhan.
Kinara mengambil langkah cepat meninggalkan Rayhan, Kinara tidak ingin terus berdebat dengan Rayhan yang tidak akan menemukan penghujung dan penyelesaian, jika Rayhan tetap menolak menerima semua yang Kinara ucapkan.
Tanpa mereka berdua ketahui ternyata Indra ada dirumah itu dan mendengar semua pertengkaran mereka, lalu setelah terdengar Kinara membuka pintu kamar Indra melangkah keluar.
"Kinara.?" Panggil Indra sontak menghentikan langkah Kinara yang baru keluar dari pintu utama.
__ADS_1
"Kak Indra.?" Kinara terkejut setengah mati mendapati kehadiran Indra berdiri dibelakangnya.
"Kakak, sejak kapan Kakak berdiri disitu.?"
"Kinara. Kenapa kau sembunyikan ini dari Kakak. ? Mari," Indra menarik pergelangan Kinara. "Kita pulang dan selesaikan ini, Kakak tidak rela Rayhan memperlakukanmu seperti ini.!"
Kinara melihat dengan jelas raut kecewa terpancar dari wajah Indra.
Kinara melepaskan pegangan Indra, "Tidak Kak, jangan lakukan itu.! Aku tidak ingin membuat semua orang kecewa, pada usia pernikahan kami yang masih sangat dini tidak mungkin aku akhiri secepat ini."
"Tapi Rayhan keterlaluan Kinara, Kakak tidak bisa membiarkan dia melakukan ini kepadamu."
"Beri dia waktu dan kesempatan."
"Sampai kapan.? Dan kapan Rayhan akan mulai mempercayaimu.? Kinara ! modal utama dalam pernikahan adalah saling percaya jika kalian tidak memiliki itu, apa kau yakin hubungan kalian akan baik-baik saja.?"
Kinara mengangguk mengerti, "Aku tau, tapi biarkan waktu yang menuntun kami, aku yakin disana akan dia temukan kepercayaan untukku."
"Dimana.? Kapan.? Sampai kapan kau akan menunggu itu.?"
"Sampai waktu lelah memberikan aku kesempatan." Kinara beranjak meninggalkan Indra.
Tapi Indra menahan Kinara. "Kinara, Ayah dan Om Rahman harus mengetahui ini.!"
Diremasnya jemari Indra, "Kak, aku mohon, jangan beritahu siapapun ! aku takut mengecewakan Om Rahman dan mengecewakan Ayah, untuk sementara berikan dia waktu, biarkan dia mengenaliku dengan caranya sendiri.!" Ucap Kinara lirih penuh permohonan.
"Baiklah, akan aku berikan dia kesempatan, tapi jika dia mengulangi kesalahnnya Kakak tidak Segan-Segan menarikmu secara paksa dari tangannya."
Kinara mengangguk setuju.
"Kalau begitu Kinara pergi dulu Kak, maaf bila kedatangan Kakak disambut dengan keadaan kurang menyenangkan ini." Ucapnya sedikit kecewa.
"Tidak Apa-Apa, pegilah ! maaf Kakak tidak bisa melakukan apapun untuk kamu."
Ditatapnya langkah Kinara yang menjauh darinya.
Setelah itu Indra pun memutuskan untuk kembali ke kantornya mengurungkan niatnya untuk bertamu dirumah Rayhan.
Tapi saat akan membuka pintu mobil Indra mendengar Rayhan memanggilnya dari belakang.
"Kakak Indra, tunggu.!"
Indra menghentikan aktivitasnya tanpa berbalik kearah suara.
"Aku minta maaf.!" Terdengar nada bersalah terucap dari bibir Rayhan.
Indra menutup kembali pintu mobil yang hampir berhasil dibukanya, "Bisakah kau pertanggung jawabkan janjimu itu.?" Ucap Indra datar.
"Kak, maaf karena aku gagal menepati janjiku untuk lebih mengenali Kinara."
"Apa yang membuatmu meragukan Kinara.?" Tanya Indra masih membelakangi Rayhan.
"Aku gagal memahami kedekatan Kinara dengan Fahmi."
Indra tersenyum kecil, "Kau cemburu padanya.?"
Kata-Kata Indra seolah menampar kesadaran Rayhan.
"Betulkah itu.? Apa benar aku mencemburui mereka.?" Batin Rayhan dibuat mengerti.
"Jika itu benar, jangan buat kesalahan yang membuat Kinara menjauhi mu. Aku tau betul seperti apa adik ku itu, meskipun memiliki banyak teman lelaki tapi sampai detik ini tak pernah aku mendengar dia menyukai seseorang, percayalah pada ucapannya.!
__ADS_1
Dan ingat jaga dia Baik-Baik ! jangan biarkan aku datang untuk menjemputnya pulang.!"
Mendengar ucapan Indra, perasaan Rayhan Tiba-Tiba tersentak seolah tak rela itu terjadi.