
"Kakak hanya tau sedikit tentang dia, kenapa ? apa dia datang menghubungi Kinara atau Kinara menemuinya?" Tanya Indra penasaran, saat Tiba-Tiba Rayhan menggungkit masa lalu Kinara.
"Bukan Kak, bukan begitu." Sangkal Rayhan.
"Lalu ?"
"Akhir-Akhir ini aku lihat seseorang selalu mengancam Kinara. Awalnya aku fikir dia Tergila-gila padaku. Tapi tadi, aku sadar ternyata bukan aku yang dia inginkan, dan bukan aku penyebab dia begitu membenci Kinara, tetapi Shan." Jelas Rayhan lemah, hatinya tak henti dilanda gelisah setelah Kinara mendapat ancaman dari Tamara.
"Siapa dia siapa yang mengancam Kinara.?" Tanya Indra. Indra tak menyangka jika selama ini ada orang yang selalu mengusik ketenangan adiknya hingga mengancamnya terus menerus.
"Tamara." Jawab Rayhan lirih.
"Tamara.?" Bentak Indra setengah tak percaya.
Beberapa saat Indra termenung penuh fikir untuk Mengingat-ingat nama yang baru saja disebut Rayhan.
"Tamara.? Apa Kinara mengenal Tamara lain selain sahabatnya.? Atau apa di kampus kalian ada beberapa orang yang memiliki nama yang sama,Tamara.?" Selidik Indra.
"Aku rasa tidak. Tapi tunggu ! Tamara sahabat Kinara ? bukankah mereka selalu berselisih ?" Tanya Rayhan setengah tak percaya akan ucapan Indra.
"Tamara adalah sahabat Kinara sejak SMA mereka begitu dekat, bahkan Kinara sering membawa Tamara kesini, mengerjakan tugas bersama bahkan Tamara sampai menginap Berhari-hari." Jelas Indra.
"Menginap Berhari-hari ?" Tanya Rayhan mengulangi ucapan Indra, Rayhan nampak terkejut mendengar Tamara dan Kinara yang pernah bersahabat.
"Ya, tapi sejak mereka lulus SMA Tamara tidak pernah lagi datang ke sini, mungkin dia kuliah di Luar Kota." Fikir Indra. Indra tidak tau kalau sebenarnya selama ini persahabatan mereka berubah jadi permusuhan.
"Tidak, dia ada disini." Sanggah Rayhan.
"Ada disini.?" Tanya Indra sambil menyernyit heran.
"Ya, tapi aku rasa persahabatan mereka hancur karena Shan. Aku fikir antara mereka berdua telah terjadi salah paham dan bisa jadi penyebabnya adalah Shan." Ungkap Rayhan.
"Shan ? yang aku tau Shan adalah kakak kelas mereka berdua. Jika benar itu terjadi, apa mungkin ada yang menyukai Shan dan yang lain dikecewakan ? karena ada kalanya sebuah persahabatan berakhir dengan cinta."
"Siapa yang mencintai ? dan siapa yang dikecewakan ? kalau mereka pernah bersahabat lalu kenapa sekarang Tamara selalu mengancam Kinara.?" Keluh Rayhan.
"Tapi apa itu benar Tamara.?" Tanya Indra ia masih Tak percaya penjelasan Rayhan yang mengatakan Tamara selalu mengancam Kinara.
"Ya, memang benar. Beberapa kejadian yang menimpa Kinara, Tamaralah pelakunya, termasuk kejadian di Villa itu." Jelas Rayhan meyakinkan Indra.
Indra terdiam tak percaya. "Jika itu benar Tamara sahabat Kinara lantas apa alasan dia melakukan ini semua.? Kakak tidak percaya Tamara melakukan ini." Indra Menggeleng-geleng tak yakin.
"Aku lebih tidak percaya pada persahabatan mereka, aku tidak percaya mereka pernah berteman dekat, untuk semua keributan yang Tamara lakukan, rasanya ini terlalu buruk untuk sebuah persahabatan."
Sejenak Rayhan terdiam penuh fikir, kejadian kejadian yang dialami Kinara sebab Tamara sangatlah buruk, semua perlakuan itu layaknya sebuah balas dendam. "Kemarin aku juga sempat dengar percakapan Tamara dengan Kinara, aku dengar tampaknya Tamara sedang mengancam Kinara, sepertinya Tamara tidak senang Kinara ikut kompetisi ini."
"Kompetisi.?" Sahut Indra.
"Ya kompetisi kecantikan yang biasa diadakan setiap satu tahun satu kali, kompetisi ini bekerja sama langsung dengan majalah ternama, siapa yang masuk kedalam tiga besar, mereka akan mendapat kontrak model secara langsung." Tutur Rayhan.
"Kontrak model ? bukankah Kinara tidak menyukai dunia ini? Kenapa dia Tiba-Tiba ikut kompetisi ini.?" Indra berkerut dahi semakin dibuat heran dan bingung.
"Ini bukan keinginan Kinara sepenuhnya, tapi Orang-Orang dibelakang Kinara, mereka tidak mau Kinara selalu dianggap remeh oleh Tamara, untuk itu tanpa sepengetahuan Kinara mereka mendaptarkannya dalam ajang ini." Beber Rayhan.
"Apa mereka ingin menunjukan bahwa Kinara biasa lolos dan memenangkan kompetisi ini.?" Ucap Indra.
"Ya, bahkan lebih dari itu. Mereka juga ingin menunjukan bahwa Kinara bisa lebih unggul dari Tamara, lebih bisa menjadi yang terbaik, mereka begitu yakin Kinara akan menang dan bisa mengalahkan Tamara yang angkuh dan sombong menurut mereka." Jelas Rayhan.
"Tapi Ngomong-Ngomong, apa kamu setuju Kinara menjadi model ?. Bukankah kamu tadi bilang yang menang dalam ajang ini akan mendapat kontrak eksklusif dari majalah ternama.?"
Rayhan terdiam sesaat.
"Aku sendiri tidak tau, tapi aku tidak boleh egois, mereka sudah mendaptarkan Kinara dan jika aku keberatan mungkin mereka akan kecewa kepada Kinara, soalnya mereka begitu yakin bahwa Kinara akan memenangkan kompetisi ini."
"Ray, kenapa setelah mendengar ini, aku merasa persaingan yang begitu mengerikan diantara mereka berdua. Ada apa ? kenapa sampai orang lain ikut campur dalam masalah Kinara.?" Ujar Indra.
__ADS_1
"Soal itu aku tidak tau, aku baru beberapa bulan kuliah disini, belum begitu mendalami masalah mereka berdua tapi yang pasti, akar masalah ini adalah Shan." Balas Rayhan.
Indra termenung, jemarinya Mengurut-urut dahi seraya berfikir dan mengingat siapa lelaki yang bernama Shan itu, nama itu tidak begitu familiar ditelinga Indra tapi Indra pernah mendengar Kinara menyebut nama itu walau cuma beberapa kali saja.
"Kinara masih saja seperti ini, menyembunyikan masalah dan tak serius menanggapi masalahnya. Ray, kamu jangan heran, dia memang seperti itu, tak pernah melibatkan orang lain dalam masalah pribadinya." Tutur Indra lemah.
"Ya, aku tau. Seperti saat di Villa sebenarnya dia sudah tau orang yang meneror kita, tapi Kinara bungkam dan tak memberi tau aku siapa orang itu, entah apa maksud Kinara aku juga tidak mengerti, hanya setelah mengetahui Kinara pernah bersahabat dengan Tamara aku sedikit mengerti mungkin persahabatan memberatkan Kinara untuk mengatakan yang sebenarnya." Beber Rayhan.
"Shan, Shan." Indra masih Mengingat-ingat wajah itu.
"Ia Shan aku ingat...
Belum Indra mengatakan tentang Shan Kinara keburu datang membawa beberapa cangkir tea dan juga camilan diatas nampan dan menghentikan ucapan Indra.
"Mm pantesan rumah sepi rupanya kalian disini," Ucap Kinara yang berjalan ditepi ujung kolam renang sambil tersenyum manis, senyum yang selalu meneduhkan hati Rayhan.
"Sayang," Seru Rayhan.
"Dik," Ujar Indra.
Kinara pun berjalan menuju dua lelaki yang amat ia cintai.
"Apa yang kalian bahas ?" Tanya Kinara setelah menaruh nampan dan kemudian duduk menyelai Rayhan dan Indra.
"Nggak ada." Jawab Rayhan.
"Kakak cuma nunjukin ini sama Rayhan." Tambah Indra sambil menunjuk laptop didepnnya. "Minggu depan Rayhan sudah bisa gabung dengan perusahaan kita."
Mendengar ucapan Indra mata Rayhan melotot lantaran terkejut dan tak mengira Indra akan mengatakan hal itu, walau Indra terlihat serius tapi Rayhan tidak bisa berbangga dulu sebab perusahan itu sungguh perusahaan yang tidak sepadan dengan kemampuan Rayhan.
"Waahh." Deru Kinara, ia tampak bangga dan senang saat mengetahui Indra akan merekrut Rayhan diperusahaannya.
"Kinara.. " Ucap Indra dengan nada bicara serius.
Kinara yang tengan fokus kelayar laptop pun langsung menatap kearah Indra yang baru saja memanggil namanya.
Untuk menjawab pertanyaan Indra Kinara mengangguk pelan, seolah takut Indra tidak menyutujui itu.
"Tapi Kak ini bukan kemauan aku, Anak-Anak [junior] mendaptarkan aku, tanpa meminta persetujuan dulu, sekarang aku sudah terdaptar, tidak mungkin juga aku mengecewakan mereka dan menolak tanpa alasan."
"Ia Kakak tau, Kakak sudah tau semuanya dari Rayhan tapi Kinara, bukankah dunia model bukan dunia yang kamu sukai, lalau bagai mana kamu bisa menjadi yang terbaik sedangkan kamu menjalaninya dengan setengah hati. Kamu juga belum bertanya kepada Rayhan, apa dia akan setuju atau tidak."
Kinara pun beralih menatap Rayhan seolah menuntutnya untuk bicara.
"Sayang kalo boleh jujur, aku tidak setuju kamu jadi model, dunia model itu terlalu glamour. Dan jujur aku keberatan bila kamu harus memamerkan lekuk tubuhmu didepan kamera yang pastinya akan dilihat banyak orang." Jelas Rayhan.
Kinara menunduk bingung, mendengar keberatan Rayhan yang ucapkan sontak membuat hatinya menjadi sangat hampa.
"Baiklah, aku akan membatalkan pendaptaranku. Tapi, bagai mana dengan mereka yang telah mendukungku apa mereka tidak akan kecewa.?" Tanya Kinara bingung harus bagai mana. Disini ini Kinara harus mendengarkan keterberatan Suaminya sedangkan disisi lain Kinara tidak ingin mengecewakan Orang-Orang yang telah mendukungnya, bahkan sampai mengumpulkan dana untuk mendaptarkan dirinya.
Sesaat suasana menjadi hening, mereka terdiam dengan fikiran berjalan mencari jalan keluar.
"Atau begini saja Sayang, kamu boleh mengikuti kompetisi ini, tapi aku tidak akan mengijinkan kamu masuk ke dalam dunia model, kamu boleh mengikuti ajang ini tapi kamu tidak boleh menerima kontrak itu, bagai mana?" Ucap Rayhan.
Kinara terkejut, ia tak menyangka Rayhan akan mengizinkannya. "Benarkah ?" Tanya Kinara, saking terkejutnya ia sampai terlonjak berdiri dari duduknya.
"Ia, aku setuju tapi aku minta maaf aku nggak akan mengizinkan kamu menjadi model." Balas Rayhan.
"Tidak Apa-Apa itu tidak penting, yang penting aku tak mengecewakan mereka." Ucap Kinara setengah berteriak girang, saking senangnya Kinara sampai meloncat dan langsung memeluk Rayhan.
"Terima kasih, terima kasih." Ucap Kinara sambil menciumi pipi Rayhan kiri dan kanan dan Rayhan pun balas merangkul tengkuk Kinara sambil tersenyum manis.
"Ya, Sama-Sama." Balas Rayhan.
Sementara Kinara tampak begitu mesra dengan Rayhan, Indra berdiri lalu meninggalkan mereka karena dia merasa canggung dia duduk bukan ditempat yang tepat.
__ADS_1
Indra menggaruk pucuk lehernya yang tak gatal. "Mm Kakak ke dalam dulu ya." Ucap Indra sambil berlalu meninggalkan mereka berdua.
Sebelum itu Indra sempat berbalik, "Ray, yang Kakak ucapkan tadi itu serius." Tambah Indra dan kemudian berlalu pergi.
...
...
Pagi berganti, siang berlalu, sore berjalan, malam pun menyambut.
Indra duduk didepan meja kerjanya, laptop diatas meja kacamata bening membingkai kelopak bermanik coklat.
Sejak lima belas menit yang lalu Indra masih terduduk melamun diatas kursinya, fikirannya dipenuhi oleh Kinara. Kecemasan terus saja memenuhi hati saat mengingat adik semata wayangnya itu. Ada rasa tak percaya saat Rayhan mengatakan Tamara mengancam Kinara, tapi Indra juga tak bisa menyangkal kebenaran ucapan Rayhan.Tapi yang membuat Indra tak habis fikir adalah kenapa dia baru tau kalau yang mengusik Kinara itu Tamara, sahabatnya sendiri.
Kejadian itu mungkin telah terjadi sejak beberapa tahun yang lalu tapi Kinara berhasil menyembunyikan semuanya dari dirinya.
Tok tok tok..
Bunyi daun pintu yang diketuk beberapa Kali, seiring ketukan itu lamunan Indra membuyar, Indra kemudian menoleh kearah pintu dan nampaklah adik kesayangannya itu berdiri diambang sana.
"Kak makan malanya sudah siap." Ucap Kinara masih berdiri ditempatnya.
Beberapa saat Indra tak menyahuti Kinara ia hanya diam memerhatikan Kinara.
"Kinara boleh masuk sebentar.?!" Pinta Indra, dan Kinara pun berjalan mendatangi Indra.
"Ada apa Kak ? kelihatannya serius." Tanya Kinara dengan nada bercanda.
"Siapa Tamara.? Apa dia sahabatmu ? atau ada orang lain yang memiliki nama yang sama.?"Tanya Indra serius.
Kinara menunduk lemah. "Dia Tamara yang Kakak kenal," Ucapnya pasti.
"Ada apa Kinara ? kenapa Tamara sering mengancammu ? ada apa ? benarkah hubungan kalian tidak Baik-Baik saja, dan apa benar itu semua ada hubungannya dengan Shan.?" Pertanyaan demi pertanyaan terus Indra lontarkan seakan membubuhi otak Kinara.
"Apa Rayhan yang mengatakan ini kepada Kakak.?" Tanya Kinara, ia tampak tidak suka orang lain ikut campur dalam urusan pribadinya biarpun itu Rayhan, Suaminya.
Indra memanggut mengiakan pertanyaan Kinara.
Kinara yang kesal melenggang untuk mencari Rayhan.
"Kinara tunggu !" Cegah Indra.
Kinara yang telah melangkah pun berhenti.
"Kamu tidak perlu mencari Rayhan."
Kinara pun berbalik. "Aku ingin bertanya mengapa dia selalu melibatkan orang lain dalam masalah ku, jujur aku tidak suka." Ucap Kinara setengah berteriak kesal.
"Aku Kakak kamu Kinara bukan orang lain, Kakak berhak mengetahui apapun yang terjadi padamu, jika bukan karena Rayhan dari mana Kakak tau kalau kamu selalu terlibat masalah dengan Tamara." Sahut Indra.
"Tapi setidaknya Rayhan tidak boleh mengatakan ini begitu saja, tidak bisakah dia bertanya dulu kepadaku.?" Dengus Kinara.
"Jika Rayhan harus bertanya kepadamu, apa kamu akan setuju untuk mengatakan ini kepada Kakak.? Tidak'kan.?" Ucap Indra lirih. "Seberapa jauh hubunganmu dengan Tamara Kakak tidak pernah tau, Kakak tidak pernah tau kalau persahabatan kalian berubah jadi persaingan, jadi kebencian, sejak kapan kalian jadi bermusuhan Kakak juga tidak tau Kinara. Kalau Rayhan tidak mengatakan ini, kapan kamu akan berterus terang kepada Kakak Kinara.?" Ucap Indra setengah membentak.
"Orang lain tidak perlu terlibat dalam masalah aku, sekalipun itu Kakak atau pun Suamiku." Balas Kinara.
"Kenapa Kinara, kenapa kau selalu bersembunyi dibalik kemampuanmu, jangan bodoh Kinara ! kamu tidak akan bisa menyelesaikan maslah ini sendirian." Ucan Indra, ia terdengar marah atas itu.
"Aku bisa menyelesaikan ini sendirian, Kakak tak boleh ikut campur !" Tegas Kinara.
"Tapi kenapa Kinara ? beri Kakak alasan kenapa kau selalu menyimpan masalah mu sendirian.? Ingat Kinara sekarang dibelakangmu ada Rayhan, ada Kakak, kita berdua berhak tau dan kita juga berhak menyelesaikan masalah mu."
Indra berjalan kecil menuju Kinara yang mematung tak jauh dari tempatnya duduk.
"Aku tau, aku tau. Tapi ini hanya masalah kecil saja sudah jangan dibahas lagi, Kakak juga tidak perlu khawatir aku bisa menyelesaikan ini." Timpal Kinara.
__ADS_1
"Masalah kecil kamu bilang ?. Pengeroyokan, kejadian di Villa, peneroran, pengamcaman ini yang kamu bilang masalah kecil.?"